SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Hanya Ingin Melindungi


__ADS_3

Indhira masih berharap Azkia tidak melaksanakan niatnya melaporkan Elma kepada Gavin, sehingga Elma tidak sampai dipecat seperti yang diancamkan oleh Azkia tadi. Dia tidak ingin ada dengan di atas dendam lainnya hingga masalah mereka tidak akan selesai-selesai.


" Bu, saya mohon maafkan Mbak ini. Bagi saya yang terpenting Ibu bisa menerima saya dengan baik, dan tidak mempermasalahkan masa lalu saya, bagi saya itu sudah cukup, Bu." Indhira membujuk dan memohon pada Azkia, karena dia tahu jika bosnya itu sangat tegas dalam bersikap.


" Uncle, nanti Kia hubungi Uncle lagi, ya! Assalamualaikum, Uncle." Azkia memilih mengakhiri percakapan via telepon dengan Gavin karena dia harus berdiskusi dengan Indhira yang melarang dirinya melaporkan perbuatan Elma pada Gavin.


" Waalaikumsalam, ya sudah, nanti segera hubungi Uncle lagi, ya!" Setelah Gavin membalas, Azkia segera mengakhiri panggilan telepon dengan kakak sepupu Mamanya itu.


" Ra, kamu harus bersikap tegas sama orang yang berniat jahat sama kamu! Biar dia jera tidak berani macam-macam lagi sama kamu!" Azkia mencoba mempengaruhi Indhira agar tidak bersikap lemah menghadapi orang yang mendzolimi Indhira, sehingga mereka bisa seenaknya merendahkan dan mengintimidasi Indhira.


" Tapi saya tidak ingin masalah ini berkelanjutan, Bu. Kalau Mbak ini dipecat, saya rasa itu tidak menyelesaikan masalah dia terhadap saya. Pasti akan ada dendam yang berkelanjutan, dan saya tidak ingin itu sampai terjadi, Bu." Indhira menjelaskan kenapa dia bersikap melunak terhadap Elma.


Azkia mendengus kasar mendengar keputusan Indhira yang memilih memaafkan perbuatan Elma. Dia menyayangkan kelemahan Indhira yang terlalu mudah memaafkan orang lain padahal orang itu sudah sangat merugikan Indhira. Kini tatapannya tajam ke arah Elma yang langsung menurunkan pandangannya.


" Kau lihat sendiri, kan!? Apa kamu tidak malu mendengar apa yang dikatakan Indhira tadi?Baru jadi pacar diputusin saja dendamnya sudah kesumat! Kamu lihat Indhira, wanita yang secara sengaja ingin kamu permalukan. Kalau saya yang jadi Indhira, sudah saya ten dang kamu jauh-jauh!" Azkia melampiaskan kekesalannya karena perbuatan Elma.


" Saya ... saya hanya kesal dengan tindakan Bagas yang sudah membuat saya dimutasi dari posisi saya di hotel itu, Bu." Elma masih mencoba melakukan pembelaan atas tindakannya tersebut. Dia merasa tidak terima dia keluar dari hotel tempat kerjanya terdahulu setelah Bagas menjabat sebagai General Manager di hotel tersebut.


Indhira seketika terkesiap karena Elma membawa nama suaminya, bukan karena soal Bagas memutuskan hubungan asmara mereka, tapi soal Bagas yang membuat Elma dimutasi. Apa suaminya itu sudah bertemu dengan Elma sebelumnya? Kenapa Bagas tidak bercerita hal ini sebelumnya kepada dirinya? Indhira mulai bertanya-tanya.


Sedangkan Azkia mengerutkan keningnya mendengar alasan Elma. Dia teringat jabatan di salah satu hotel milik Uncle nya itu, Executive Assistant, sementara Bagas menjabat sebagai General Manager. Azkia menduga jika Bagas dan Elma ditempatkan di hotel yang sama. Sudah pasti Bagas akan sering berinteraksi dengan Elma, jika mengingat posisi mereka masing-masing. Dan Azkia pun memahami apa maksud dari tindakan yang dilakukan Bagas dengan memindahkan Elma dari hotel tempat mereka bekerja.


" Bagas itu sudah menikah. Tentu dia tidak akan merasa nyaman satu tempat kerja dengan kamu. Bagas berusaha menjaga agar rumah tangganya tentram tanpa ada pengganggu. Dan saya rasa tindakan Bagas itu sudah tepat, karena terbukti, kan? Kamu itu wanita licik!" geram Azkia yang terbawa emosi. Dia lalu menghubungi Wanda melalui wireless intercom di mejanya.

__ADS_1


" Mbak Wanda, tolong hubungi Bu Kartrina, aku mau bikin surat pernyataan yang perlu disaksikan oleh notaris. Ditunggu secepatnya, Mbak!" Setelah berbicara melalui perantara wireless intercom dengan Wanda, Azkia lalu kembali bicara pada Elma dengan nada tegas.


" Atas pertimbangan kemurahan hati Indhira, saya tarik rencana melaporkan kamu ke Uncle Gavin. Tapi, kamu harus buat surat pernyataan jika kamu tidak akan mengusik hidup Indhira lagi di hadapan notaris. Kalau kamu sampai ingkar janji dan ketahuan kamu masih melakukan kelicikan, saya tidak akan segan-segan mengirim kamu ke penjara! Paham, kamu!?"


Elma langsung menelan salivanya dengan bola mata membulat. Ancaman Azkia kali ini lebih menyeramkan daripada sekedar pemecatan. Seandainya dipecat, dia masih bisa mencari pekerjaan lain, meskipun tidak bisa langsung mendapatkan jabatan enak seperti yang dia dapat di hotel milik Gavin. Tapi ancaman dijebloskan ke penjara karena kejahatan, itu adalah hal memalukan dan sangat menyeramkan dalam hidupnya.


Indhira pun tak kalah kaget dengan ancaman Azkia berikutnya. Ditengah kesedihan karena masih saja ada orang yang sengaja mengusik masa lalunya, dia merasa tenang, karena pembelaan yang dilakukan oleh Azkia kepadanya. Dia merasakan bosnya itu total dalam menolongnya. Dia merasa beruntung dan rasanya tidak menyesal dipertemukan dengan keluarga besar Azkia.


***


Bagas memperhatikan Indhira yang sejak dia jemput tadi lebih banyak terdiam. Bahkan istrinya itu tidak memeluk pinggangnya saat berboncengan motor. Tidak seperti biasanya, Indhira membisu seperti ini, menjawab hanya seperlunya saja, membuat dirinya terheran.


" Kamu kenapa, Yank? Sakit?" Akhirnya Bagas menanyakan hal yang membuat Indhira tidak banyak bicara.


" Tidak ada apa-apa," sahut Indhira mengambil pakaiannya karena dia ingin mandi membersihkan tubuhnya.


Indhira mendengus kasar mendengar ucapan suami, seolah suaminya itu tidak menyembunyikan sesuatu padanya.


" Apa Mas sendiri sudah jujur sama aku? Apa Mas sendiri tidak menyembunyikan sesuatu dariku!?" Indhira membalas ucapan Bagas dengan sindiran. " Kenapa Mas menyembunyikan pertemuan Mas dengan Elma? Kenapa Mas tidak bercerita padaku jika Mas bekerja satu hotel dengan mantan pacar Mas itu!?" Bola mata Indhira seketika mengembun, karena merasa Bagas telah membohonginya.


Bagas terkesiap saat Indhira menyinggung soal Elma. Dia tidak mengira jika istrinya akan tahu soal Elma. Tapi, dari mana Indhira tahu soal Elma? Apa jangan-jangan ... Bagas sudah mulai berpikiran buruk.


" Apa yang Elma lakukan, Ra? Kamu bertemu Elma? Di mana?" Bagas menyentuh kedua pundak Indhira. Melihat kesedihan di mata Indhira, dia menduga jika Indhira sudah bertemu Elma dan Elma pasti berbuat yang tidak-tidak pada Indhira.

__ADS_1


" Kenapa Mas menyembunyikan hal itu dari aku?" Air mata Indhira sudah jatuh menetes di pipinya.


" Maafkan aku, Ra. Aku tidak mengatakan hal ini kepadamu bukan bermaksud menyakiti kamu atau aku berniat macam-macam. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir saat mengetahui aku sekantor dengan Elma. Sumpah demi Allah, Ra. Aku melakukan hal itu karena aku ingin menjaga keharmonisan dan ketenangan rumah tangga kita." Bagas kini menggengam tangan Indhira lalu mendekatkan ke dadanya.


" Tapi kamu tidak usah khawatir, Ra. Aku sudah meminta Pak Gavin untuk memindah tugaskan Elma dari hotel yang aku kelola." Bagas mencoba memberi pengertian kepada Indhira agar tidak salah paham dengan keputusannya menyembunyikan pertemuannya dengan Elma pada Indhira.


" Di mana kamu ketemu Elma? Apa yang sudah dia lakukan padamu?" Bagas penasaran apa yang sudah dilakukan oleh Elma. Dia sendiri merasa geram dengan tindakan Elma yang berani mengusik istrinya.


" Dia datang ke butik dan menemui Ibu Kia. Dia menceritakan tentang masa lalu aku soal video itu, dengan harapan Bu Kia memecat aku dari butik. Kenapa hal itu masih saja menjadi permasalahan sampai sekarang, Mas? Kenapa orang tidak suka melihat kita hidup tenang?" Indhira mulai terisak. Dia merasa peristiwa masa lalunya tidak akan mungkin hilang begitu saja, dan akan menghantui seumur hidupnya jika bertemu orang-orang yang berhubungan dengan masa lalunya itu.


Bagas langsung merengkuh tubuh Indhira dan menenggelamkan dalam pelukannyan. Dia sungguh merasa bersalah, karena hasil perbuatannya dulu terus saja menjadi beban bagi istrinya.


" Maafkan aku, Sayang. Aku janji aku akan menjaga kamu dari orang-orang yang akan mengusik kebahagiaan kita." Bagas menghujani kecupan di pucuk kepada Indhira. " Aku akan buat perhitungan dengan Elma." Bagas bertekad untuk membalas perbuatan Elma.


" Jangan, Mas. Bu Kia sudah mengancam Elma dengan membuat surat pernyataan. Kita tidak usah bersinggungan dengan dia lagi!" Indhira melarang suaminya yang mempunyai rencana membalas Elma dengan mengatakan Elma sudah ditangani oleh Azkia.


" Ra, kamu harus percaya sama aku, ya!? Apa pun yang aku lakukan itu hanya karena aku ingin melindungi kamu. Tidak ada maksud buruk dari setiap tindakanku. Aku sangat mencintai kamu, aku akan melindungi kamu sebaik mungkin." Bagas semakin mengeratkan pelukan pada tubuh ramping istrinya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2