
Ibu Tika ingin mengantar Indhira sampai di gerbang sekolah, karena dia khawatir jika Indhira akan menerima hinaan dari beberapa murid yang melihat kehadiran Indhira di sekolah itu. Jika dia ada di samping Indhira, setidaknya itu bisa meredam ucapan-ucapan bernada ejekan dari para murid lainnya saat mereka melihat keberadaannya di samping Indhira.
" Ra ...!" Terdengar teriakan Rissa berlari mendekat ke arah Indhira dan Ibu Tika.
" Ra, kamu tidak apa-apa?" Rissa langsung merengkuh tubuh Indhira sehingga membuat Indhira kembali menangis.
" Rissa, kamu bawa motor?" tanya Ibu Tika pada sahabat dari Indhira itu. Ibu Tika tidak ingin Indhira berlama-lama di sekolah karena takut diketahui oleh murid lain kedatangan Indhira di sekolah mereka
" Bawa, Bu." Rissa mengurai pelukannya. Namun, tangan dia tetap merangkul di pundak Indhira.
" Ibu minta tolong antarkan Indhira pulang. Ibu khawatir kalau dia menggunakan kendaraan umum." Tak segan Ibu Tika meminta bantuan Rissa untuk mengantar Indhira pulang.
" Setelah ini kamu pelajaran siapa? Nanti ibu yang akan minta ijin ke guru yang akan mengajar kamu selanjutnya." Sebagai guru yang bertugas memberikan bimbingan konseling, Ibu Tika berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Setidaknya tingkat kepedulian dirinya sangat tinggi kepada Indhira yang mengalami tekanan cukup berat dengan masalah yang kini dihadapinya.
" Pelajarannya Pak Yudi, Bu." jawab Rissa.
" Ya sudah, nanti Ibu akan bilang kalau kamu tidak bisa mengikuti pelajarannya karena Ibu suruh mengantar Indhira. Nanti Ibu minta Pak Yudi menjelaskan materi yang akan dijelaskan. di kelas kepada kamu di grup sekolah.
" Baik, Bu.". Rissa tidak keberatan diminta Ibu Tika untuk mengantar Indhira. Karena dia sendiri pun merasa perlu bicara dengan Indhira setelah kemarin dia dihalangi oleh Tante Marta saat datang ke rumah Indhira untuk bertemu sahabatnya itu.
" Ra, kamu diantar sama Rissa saja, ya!? Kamu harus tetap tenang dan jangan putus asa. Jalan kamu masih panjang. Jangan jadikan masalah ini membuat kamu terpuruk. Kamu harus semangat, Ibu yakin akan ada jalan untuk semua masalah yang kamu hadapi jika kamu berserah diri dan minta pertolongan dari Allah SWT." Penuh dengan kesabaran Ibu Tika memberikan wejangannya kepada Indhira. Memang itulah yang seharusnya dia berikan kepada Indhira. Memompa dan memberi motivasi agar Indhira tidak terus berlarut dengan kesedihannya.
" Masalah sekolah paket C, nanti Ibu bantu daftarkan untuk kamu, kalau kamu sudah merasa siap," lanjutnya kemudian.
" Baik, Bu. Terima kasih atas kebaikan Ibu Tika kepada saya." Indhira merasa terharu karena Ibu Tika dan juga Pak Marcel sama sekali tidak memarahi apalagi mencacinya. Bahkan bersedia membantu membiayai sekolah non formal yang akan diikuti oleh Indhira.
" Sekolah paket C? Maksud Ibu, Indhira dikeluarkan dari sini, Bu? Rissa terperanjat saat mengetahui Indhira diminta mengikuti sekolah paket C, yang artinya Indhira tidak akan sekolah lagi di sekolah ini.
" Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, Rissa. Semua itu menjadi kewenangan pihak sekolah dan yayasan." Ibu Tika menjelaskan kepada Rissa
Rissa mendengus kasar. Tentu dia merasa kecewa atas hukuman yang diterima Indhira. Harus dikeluarkan saat sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian kenaikan kelas.
" Apa Bagas juga dikeluarkan dari sini, Bu?" Rissa sangat penasaran dengan hukuman yang akan diterapkan pihak sekolah kepada Bagas. Meskipun dia yakin, hal itu tidak mungkin akan terjadi mengingat orang tua Bagas adakah orang yang berperan penting mendanai yayasan yang menaungi sekolah mereka.
" Hmmm, untuk Itu Ibu masih belum tahu, Rissa. Masih dibahas lebih lanjut oleh Pak Marcel dengan Pak Leo," ujar Ibu Tika bingung ingin menjawab walaupun sebenarnya dia sudah tahu keputusan pihak sekolah dan yayasan yang tidak berani mengeluarkan Bagas dari sekolah.
Kalau Bagas tidak mendapatkan hukuman seperti Indhira atau mungkin tidak mendapatkan sanksi apa-apa, ini benar-benar tidak adil namanya, Bu. Indhira ini 'kan korban, Bu! Bagas justru yang paling bersalah dalam hal ini!" Dari ucapannya, Rissa menampakkan kekecewaannya atas sikap pihak sekolah yang berat sebelah bagi Indhira.
" Ris, aku tidak apa-apa, kok! Itu memang kesalahan aku." lirih Indhira mencoba untuk tegar, walaupun sesungguhnya hatinya merasa pilu.
" Tapi, Ra ...."
" Rissa, sebaiknya kamu cepat membawa Indhira pergi. Ibu takut teman-temanmu di sekolah mengetahui kedatangan Indhira di sini." Ibu Tika kembali ke topik pembicaraan awal yang meminta Rissa membawa Indhira pulang.
" Baik, Bu." Walau rasa hati kecewa, akan tetapi Rissa tidak dapat menuntut keadilan bagi Indhira di sekolah mereka. " Saya ambil motornya dulu." Rissa bergegas ke halaman parkir sekolah untuk mengambil motornya yang akan dia pakai untuk mengantar Indhira pulang
" Saya permisi, Bu" Indhira menyalami dan memeluk Ibu Tika,
" Kamu harus menumbuhkan rasa percaya diri kamu, Ra. Kamu harus semangat, ya!? Ibu doakan, semoga kamu akan dapat mengatasi permasalahan kamu dan kelak kamu bisa menjadi orang yang berasil dan terbebas dari penderitaan kamu sekarang ini." Ibu Tika mengusap punggung Indhira.
" Iya, Bu." sahut Indhira menyeka air matanya.
__ADS_1
" Ra, ayo!" Rissa yang sudah mengambil motor memanggil Indhira untuk menghampirinya.
" Saya pamit, Bu. Assalamualaikum ..." Indhira mengucap salam kepada Ibu Tika.
" Waalaikumsalam, hati-hati! Jangan mengebut!!." Ibu Tika menyuruh Rissa hati-hati membawa motornya
" Beres, Bu. Aku antar Indhira dulu ya, Bu!?" Rissa juga berpamitan setelah Indhira duduk di jok belakang. Rissa pun mulai mengendarai motornya keluar dari bangunan sekolah yang dua setengah tahun dipakai Indhira dan Rissa menuntut ilmu. Sayangnya Rissa masih bisa meneruskan sekolah sampai kelulusan nanti. Sementara Indhira harus menghentikan sekolahnya saat itu juga.
" Ra, kita ngobrol dulu sebentar, ya?!" Saat keluar gerbang sekolah, Rissa meminta waktu pada Indhira untuk berbicara sebentar, karena dia sangat penasaran dengan kasus yang menimpa Indhira saat ini.
" Iya, Ris." Indhira menyetujui karena dia pun butuh seseorang untuk bertukar pikiran atau sekedar menceritakan yang dia rasa saat ini.
" Kita mengobrol sambil makan bakso saja nanti di depan." Rissa berniat mengajak Indhira berbincang di kedai bakso yang tidak jauh dari sekolah SMA Satu Nusa Satu Bangsa.
" Jangan, Ris. Jangan yang dekat sekolah, Sebentar lagi bubaran sekolah, aku takut ada murid yang nanti makan di sana juga." Indhira menolak tempat yang direkomendasikan oleh Rissa.
" Oke, oke, kita cari tempat lain saja kalau begitu." Rissa memaklumi kecemasan Indhira, hingga dia pun menyetujui mencari tempat lain untuk berbincang.
Sekitar lima belas menit kemudian, Rissa sudah sampai di rumahnya. Rissa memilih membawa Indhira ke rumah Rissa karena dia rasa lebih nyaman berbincang di rumah daripada di kedai bakso. Apalagi kalau sampai Indhira atau dirinya menangis. Akan menarik perhatian pengunjung kedai bakso itu.
" Ra, ceritakan padaku, kenapa ini bisa terjadi?" Sesampainya di rumah, Rissa membawa Indhira berbincang di kamarnya.
" Aku juga tidak tahu, Ris. Aku merasa sangat bo doh, karena bisa terkena masalah seperti ini." Baru mulai bercerita, bola mata Indhira sudah dipenuhi cairan bening.
" Kenapa waktu terakhir berangkat sekolah kamu tidak menceritakan hal ini kepadaku sih, Ra?" tanya Rissa kecewa tidak mendengar peristiwa itu langsung dari Indhira. Padahal saat terakhir berangkat sekolah, Indhira terlihat lesu dengan memperlihatkan wajah sedih.
" Aku malu, Ris. Dan aku juga tidak menyangka kalau apa yang kami lakukan terekam cctv," ungkap Indhira kenapa tidak menceritakan hal tersebut kepada Rissa.
" Breng sek tuh, si Bagas! Kepingin aku ton jok mukanya kalau ketemu! Aku dari awal sudah curiga sama dia mendekati kamu, Ra! Makanya aku selalu melarang kamu pacaran sama dia! Kenyataan yang terjadi justru melebihi dari yang aku takutkan, Ra. Entah berapa banyak wanita yang dia perlakukan seperti itu? Dan justru kena apesnya waktu melakukan hal itu sama kamu." Rissa selama ini takut Bagas hanya mempermainkan perasaan Indhira saja. Setelah Indhira jatuh cinta dan Bagas mulai bosan, Bagas akan meninggalkan Indhira. Sama sekali tidak terpikirkan di benak Rissa kalau Indhira sampai harus kehilangan kesuciannya, apalagi sampai terekam cctv dan videonya beredar luas di masyarakat.
" Mimpi apa kamu, Ra? Sampai harus mengalami seperti ini ..." Rissa merangkul pundak Indhira dan menyandarkan kepalanya di pundak Indhira.
" Aku tidak tahu, Ris. Hiks ..." Akhirnya tangis Indhira pecah dibarengi lelehan air mata yang jatuh membasahi wajah cantiknya.
" Kamu yang sabar, Ra. Aku doakan kamu bisa mengatasi masalah ini." Rissa mengusap punggung Indhira memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu.
" Oh ya, Ra. Kamu tinggal di mana sekarang? Kemarin aku ke rumahmu, tapi Tante kamu bilang kalau kamu sudah dia usir. Benar itu, Ra?" tanya Rissa teringat soal pengusiran Indhira oleh Tante Marta.
" Iya, Ris. Tante memang menyuruh aku pergi dari rumah, tapi aku menolak. Aku rela dihukum apa saja asal tidak diusir dari rumah. Aku harus tinggal di mana kalau aku pergi meninggalkan rumah?" Dengan nada sedih, Indhira menceritakan semua perlakuan yang diterima olehnya dari sang Tante, termasuk ide gi la Tante Marta yang meminta uang ganti rugi senilai satu milyar pada keluar Bagas
" Hahhh? Satu milyar??" Rissa seketika tercengang dengan nominal yang diminta Tante Marta dari keluarga Bagas.
" Benar-benar sa rap Tante kamu itu, Ra! Keponakan menderita masih sempat-sempatnya mengambil keuntungan dari penderitaan kamu!" geram Rissa mendengar cerita Indhira.
" Aku juga tidak mengerti kenapa Tanteku itu bisa setega itu sama aku, Ris!?" Tentu Indhira merasa kecewa, karena keluarga yang semestinya bisa dia jadikan tempat berlindung dan bertukar pikiran justru tidak perduli bahkan mencari keuntungan atas masalah berat yang sedang dia hadapi sekarang ini.
" Dan Bagas menyetujuinya?" tanya Rissa kembali.
" Bagas bilang akan mengusahakan bicara pada orang tuanya.
" Astaga! Jangan sampai keluarga Bagas memberikan uang itu, Ra! Aku yakin uang itu akan dimanfaatkan oleh Tante dan Om kamu untuk kesenangannya sendiri, bukan untuk kamu." Rissa bisa mengendus rencana licik Tante Marta dan suaminya.
__ADS_1
" Aku harap juga seperti itu, Ris. Aku tidak ingin keluarga Bagas menuduh kalau keluargaku memeras keluarga Bagas karena kasus ini," ujar Indhira.
" Aku harus bicara sama Bagas, Ra. Keluarga Bagas itu orang kaya. Kalau mereka menganggap keluarga kamu memeras mereka dan mereka tidak terima lalu melaporkan keluarga kamu atas tuduhan pemerasan, ini bisa bahaya, Ra!" Rissa segera mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Bagas.
" Jangan bilang aku ada di sini, Ris!" Walau dirinya tidak ingin Bagas tahu jika dirinya ada di rumah Rissa. Namun, dia juga takut apa yang dikatakan Rissa menjadi kenyataan. Dia takut keluarga Bagas melaporkan keluarganya atas dugaan pemerasan. Jika itu sampai terjadi, pasti Tantenya akan terjerat kasus hukum. Dan Indhira tidak ingin hal itu sampai terjadi. Seburuk apapun perlakukan Tante Marta terhadapnya, beliau tetaplah tantenya, adik dari Papanya.
Bagas menatap langit-langit kamarnya. Dia sangat mencemaskan Indhira, Tapi, dia tidak dapat berbuat apa-apa. Sementara otaknya terus berpikir mencari cara agar dirinya dapat kabur dari rumah itu. Namun, dia rasa itu tidaklah mudah untuk dapat dia lakukan.
Ddrrtt ddrrtt
Suara ponsel Bagas bergetar. Dengan cepat pemuda tampan itu meraih ponselnya. Dan saat melihat nama Rissa yang menghubungi saat ini, Bagas langsung mengangkat panggilan telepon tersebut. Karena dia tadi menyuruh Benny untuk menemui Rissa. Dan dia yakin jika tujuan Rissa menghubunginya adalah untuk mengabari soal Indhira.
" Halo, Ris?"
" Sembunyi di mana kau, breng sek!!" Umpatan bernada kencang terdengar di telinga Bagas sampai membuat Bagas menjauhkan ponselnya dari telinga karena saking kencang nada bicara Rissa.
" Aku di rumah, Ris. Aku tidak bisa keluar. Orang tuaku menyewa dua orang bodyguard berbadan besar. Mereka melarangku datang ke sekolah tadi. Makanya aku suruh Benny menemui kamu untuk menemani Indhira. Sungguh, Ris. Aku juga perduli sama Indhira. Aku merasa bersalah dan menyesal. Aku berusaha semampuku untuk melindungi dia." Bagas mencoba meyakinkan Rissa, sahabat Indhira yang dia kenal galak, jika dirinya pun terus berusaha menolong Indhira.
" Semampu kamu? Termasuk berniat memberi uang satu milyar dan cuci tangan atas masalah ini!?" Rissa masih menuding Bagas ingin lepas tanggung jawab dari penderitaan yang dialami Indhira.
" Tidak, Ris! Sumpah, aku tidak punya pikiran licik seperti itu!" sanggah Bagas dengan penuh penekanan. Dia tidak ingin dituduh tidak ambil pusing dengan masalah yang dialami oleh Indhira, karena dia sebenarnya pusing tujuh keliling mencari cara agar membebaskan Indhira dari penderitaan atas perbuatannya.
" Tujuan aku menerima permintaan Tante Marta, agar Tante Marta tidak memperlakukan Indhira seperti pembantu di rumahnya sendiri. Aku juga memberi syarat agar Tante Marta tidak mengusir Indhira dari rumahnya. Sama sekali aku tidak memikirkan ingin lepas tanggung jawab dari masalah ini, Ris." Bagas berusaha merubah pandangan negatif Rissa terhadap dirinya.
" Dan kamu percaya saja kalau uang satu milyar itu akan menghapus semua akal bulus Tantenya Indhira? Kamu pikir dengan menerima uang segitu Tantenya Indhira akan berubah menjadi peri yang baik hati, begitu!? Asal kamu tahu, Bagas! Tante Marta itu tidak akan perduli dengan penderitaan Indhira! Yang ada dia itu akan foya-foya untuk kesenangannya sendiri bersama suami dan anaknya! Tadi saja Tante Marta keberatan datang ke sekolah karena malu bertemu dengan kepala sekolah dan menyuruh Indhira yang datang menghadap. Kamu pikir orang seperti itu bisa membiarkan Indhira hidup tenang? Yang ada mereka akan memanfaatkan Indhira untuk mendapat keuntungan untuk mereka!" Rissa berusaha membuka cara berpikir Bagas yang memang tidak dapat berpikir jernih saat ini.
" Kamu ada di mana sekarang, Ris? Apa Indhira sedang bersama kamu sekarang? Aku pakai video call, ya!?" Bagas ingin merubah panggilan teleponnya karena dia ingin sekali melihat keadaan Indhira. Dia yakin, wajah kesedihan itu tidak berubah dari Indhira saat ini. Dia juga ingin tahu apa yang tadi dialami oleh Indhira di sekolah.
" Indhira tidak ingin bicara denganmu!"
Namun, Bagas tidak memperdulikan ucapan Rissa, dia tetap menghubungi nomer telepon Rissa dengan panggilan video.
Cukup lama menunggu sampai akhirnya panggilan videonya itu diangkat oleh Rissa.
" Mana Indhira, Ris?" tanya Bagas saat melihat wajah Rissa di layar ponselnya.
" Kamu tahu, sekarang ini Indhira dikeluarkan dari sekolah, kau puas itu, hahh!?" aura kemarahan terlihat jelas di wajah Rissa saat ini.
" Ya Tuhan ..." Bagas mengusap kasar wajahnya. Dia tidak menyangka Papanya benar-benar tega membuat kepala sekolah mengeluarkan Indhira dari sekolah.
" Puas kamu sekarang, hahh!? Kamu itu manusia tidak punya hati, Bagas! Kamu sudah menghancurkan hidup Indhira! Kamu sudah menghancurkan masa depan Indhira!! Sebaiknya mati saja kau! Dan jangan pernah muncul lagi di dalam kehidupan Indhira!!"
Tut Tut Tut
Sambungan video call terputus. Rissa terlihat sangat murka sampai mengeluarkan kalimat kasar, karena dia tetap merasa apa yang terjadi pada Indhira saat ini semua karena perbuatan Bagas.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️