
Indhira tercengang bahkan tidak menyangka dengan perkataan yang ucapkan oleh Tante Marta. Tante Marta tidak malu mengatakan jika keluarga Bagas harus memberikan ganti rugi. Memangnya ganti rugi apa yang bisa mengembalikan kesuciannya? Ganti rugi apa yang bisa menghilangkan rasa malunya karena video in timnya tersebar di publik? Indhira sungguh kecewa dengan sikap tantenya itu.
" Tante, kenapa Tante bicara begitu? Tante ingin minta ganti rugi apa, Tan?" Indhira menggelengkan kepalanya, berharap jangan sampai Tante Marta menyebut jika rupiahlah yang diinginkan tantenya itu.
" Kamu itu sudah dirugikan sama dia, Indhira! Kamu jangan diam saja! Harga kesucian itu mahal, harga diri juga mahal! Sudah sepantasnya mereka memberikan kompensasi terhadap kamu atas penderitaan yang disebabkan oleh anaknya!" Tante Marta tanpa ragu menyebutkan soal ganti rugi itu.
" Tante ingin saya memberikan ganti rugi uang pada Indhira??" Bagas pun sampai tak percaya pada pendengarannya. Begitu tega Tante Marta terhadap keponakannya sendiri.
" Kamu tahu, menjadi wanita penghibur saja dibayar mahal. Masa Indhira sampai menyerahkan kesuciannya harus cuma-cuma?!"
" Astaghfirullahal adzim, Tante!" Indhira tak tahan untuk tidak menangis. Ucapan Tantenya lebih tajam dari belati terasa sakit menusuk hatinya. Betapa tega Tante Marta menyamakannya dengan wanita penghibur, membuat Indhira sedih.
" Kita itu harus berpikir realistis, Indhira! Kalau kamu nanti dikeluarkan dari sekolah itu, gimana kamu mau mencari kerja kalau kamu tidak punya ijasah SMA? Kalau mereka memberikan ganti rugi yang cukup, tidak terlalu membebani masa depan kamu jika kamu putus sekolah nanti!" Tante Indhira memanfaatkan kondisi Indhira untuk mereguk keuntungan sendiri.
" Baiklah kalau itu yang Tante inginkan. Saya akan bicarakan hal ini pada orang tua saya!" Bagas seakan membalas tantangan yang diberikan Tante Marta.
" Bagas ...!" Indhira menggelengkan kepala, dia semakin kecewa jika Bagas menyetujui apa yang diminta oleh Tante Indhira. Membayar ganti rugi berupa uang sama saja dengan dia menjual dirinya.
" Tapi, ada syarat yang harus Tante penuhi jika Tante menginginkan ganti rugi dari saya!" Bagas tentu tidak ingin semudah itu memenuhi apa yang diminta oleh Tante Marta.
" Syarat apa?" tanya Tante Indhira.
" Tante tidak akan mengusir Indhira dari rumah ini dan jangan memperlakukan Indhira seperti pembantu di rumahnya sendiri!" Bagas meminta Tante Marta tidak berlaku buruk terhadap Indhira.
Tante Marta terperanjat mendengar ucapan Bagas. Dia menoleh ke arah Indhira, dia curiga jika Indhira mengadukan sikapnya terhadap Indhira selama ini. Lalu dia beralih menoleh ke arah Bagas.
" Baiklah, Tante setuju asalkan orang tua kamu memberikan uang satu milyar kepada kami!" Tante Marta menyebutkan nilai fantastis yang membuat Indhira tercengang.
" Astaghfirullah adzim, Tante!" Indhira beristigfar mendengar nominal yang disebutkan oleh Tante Marta.
" Oke, Tante. Saya akan bicarakan dengan orang tua saya!" tegas Bagas tak gentar dengan nominal yang disebut oleh Tante Marta.
__ADS_1
" Bagas ...!" Indhira kembali menangis.
" Ra, jangan berpikiran aku memberikan ganti rugi karena aku ingin cuci tangan dengan masalah ini. Aku juga tidak bermaksud membeli kesucian kamu dengan ganti rugi itu. Aku hanya tidak ingin kamu terus disakit oleh Tante Marta dan keluarganya." Bagas menjelaskan kepada Indhira maksud dia menyetujui keinginan Tante Marta.
" Tapi kamu tidak perlu memberikan uang itu, Bagas! Uang itu banyak sekali jumlahnya. Aku tidak mau orang tua kamu berpikir kalau keluargaku memeras kamu." Indhira tetap menolak walaupun tujuan Bagas menyanggupi keinginan Tante Marta untuk menolongnya.
" Tidak masalah uang segitu, Ra. Yang penting kamu tidak terus menderita," ujar Bagas.
" Tapi, Bagas ...."
" Kamu tenang saja. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan kamu, Ra." Bagas mencoba meyakinkan dan membuktikan kepada Indhira jika dia serius akan bertanggungjawab atas kesalahan yang diperbuatnya.
***
Tok tok tok
Bagas mengetuk pintu ruangan kerja Papanya di rumah. Dia ingin meminta bantuan Papanya untuk menolong Indhira. Sejak kabar itu beredar, Bagas memang belum bertemu langsung dengan Papanya, tapi sudah sempat berkomunikasi dengan Papanya lewat telepon dan Papanya memintanya untuk menghadap malam ini di rumah. Sementara Mamanya sedang dalam perjalanan pulang dari Paris.
" Masuk, Bagas!" Nada suara Adibrata terdengar sangat menyeramkan terdengar di telinga Bagas.
Bagas langsung menundukkan kepalanya seraya menjalan dan duduk di kursi di sebelah sofa yang diduduki Adibrata.
" Kamu tahu apa yang sudah kamu perbuat, Bagas? Kamu sudah mempermalukan nama baik keluarga!" Adibrata mulai menceramahi putranya.
" Papa tidak habis pikir, kenapa kamu sampai melakukan hal memalukan seperti itu!?" semprot Adibrata memarahi Bagas yang sama sekali tidak berani menatap Papanya.
" Kenapa kamu bergaul dengan wanita tidak baik seperti dia!? Ini pasti karena kamu terbawa dengan wanita itu sampai kamu melakukan kesalahan fatal seperti ini!" Adibrata mulai menyinggung soal Indhira.
Bagas tercengang ketika Papanya justru menyalahkan Indhira dalam hal ini.
" Tidak, Pa. Papa jangan menyalahkan Indhira. Bagas yang salah dalam hal ini, Pa." Bagas mencoba membela Indhira dari tuduhan Papanya.
__ADS_1
" Tidak usah membela wanita nakal itu! Jelas-jelas dia yang sudah membuat kamu terkena masalah ini!" Adibrata tidak menerima sanggahan yang diberikan Bagas kepadanya.
" Tapi Indhira memang tidak salah, Pa! Bagas yang salah. Bagas yang pantas disalahkan atas kasus ini, bukan Indhira! Indhira justru yang menjadi korban atas perbuatan Bagas itu, Pa!" Bagas masih berusaha membela nama baik Indhira.
" Sudah berapa wanita yang pernah kamu ajak melakukan hubungan badan seperti itu, Bagas?!" Pertanyaan Adibrata yang penuh intimidasi membuat Bagas tersentak. Dia tidak menyangka Papanya akan menanyakan hal itu.
" Bagas tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, Pa." sahut Bagas.
" Jawab yang jujur, Bagas! Sudah berapa wanita yang kamu ajak tidur?" Adibrata mengulang pertanyaannya. Dia mengintrogasi Bagas sudah seperti terdakwa yang melakukan kejahatan berat.
" Bagas hanya melakukannya dengan Indhira, Pa." Bagas masih berpegang teguh dengan jawabannya.
" Berarti dugaan Papa benar, kan!? Wanita itu yang membawa pengaruh buruk terhadap kamu! Sudah berapa banyak kamu dekat dengan wanita? Nyatanya tidak ada yang membawa kamu sampai melakukan perbuatan zi nah seperti itu!" Adibrata pun semakin yakin jika Indhira lah yang pantas disalahkan dalam hal ini.
" Tapi, Pa ...."
" Kamu tidak perlu membela wanita itu, Bagas" Adibrata tidak suka Bagas masih saja menentangnya.
" Tadi siang Papa Pak Marcel dan Pak Leo menemui Papa di kantor. Papa sudah menyuruh orang untuk menurunkan berita itu agar tidak lagi beredar di masyarakat. Dan kamu juga bisa tetap sekolah di sana dengan catatan, wanita itu harus segera di keluarkan dari sekolah! Jika sekolah tidak mau mengeluarkan wanita itu, Papa akan memindahkan kamu sekolah di luar negeri dan Papa akan menghentikan aliran dana ke yayasan itu! Papa tidak ingin kamu terus berhubungan dengan wanita itu! Wanita nakal itu racun yang akan membawa penyakit dalam kehidupanmu, Bagas!"
Kata-kata Adibrata kali ini kembali membuat Bagas terperanjat. Dia berharap Papanya dapat membantu Indhira terbebas dari ancaman dikeluarkan dari sekolah. Tapi, justru Papanya lah yang mengancam pihak sekolah agar mengeluarkan Indhira dari sekolah jika pihak yayasan masih ingin mendapatkan bantuan dana dari Adibrata.
Hati Bagas seketika mencelos. Berharap Papanya bisa membantu Andhira dengan memberikan uang ganti rugi, justru harapan itu seakan musbah seketika.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️