SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Perhatian Angel


__ADS_3

Pagi ini, seperti biasa, Indhira menjalankan aktivitas rutinnya berangkat bekerja di butik milik Azkia. Namun, ini adalah hari terakhirnya bekerja karena dia sudah memutuskan untuk resign seperti yang diinginkan oleh suaminya.


" Jadi, kamu beneran resign, Ra?" tanya Azkia saat mereka berada dalam mobil menuju arah butik yang dikendarai oleh Azkia.


" Iya, Bu. Maaf, suami saya melarang saya bekerja." Indhira meminta maaf karena harus berhenti bekerja.


" Ya sudah, tidak apa-apa. Aku juga mengerti, kok. Suami aku juga begitu, apalagi anak pertama. Dulu saja aku dilarang bekerja di butik. Kita maklumi saja, para suami pasti tidak ingin kita kelelahan saat bekerja karena itu akan berbahaya untuk si janin," ucap Azkia memahami.


" Nanti siapa yang akan membantu ibu kalau saya berhenti bekerja, Bu?" tanya Indhira khawatir pada Azkia.


" Kamu tidak usah pusing mikirin itu, Ra. Ada Mbak Wanda, lagipula ini bukan pertama kali aku hamil dan harus sibuk dengan aktivitas, jadi kamu tenang saja,"; jelas Azkia.


" Terima kasih, selama ini Ibu dan Pak Raffa sudah baik menerima saya bekerja di cafe dan juga di butik. Bukan dalam pekerjaan saja, tapi juga banyak hal yang sudah ibu dan Pak Raffa bantu terhadap saya dan suami saya, Bu." Entah bagaimana Indhira dapat membalas kebaikan keluarga besar Azkia.


" Sama-sama, Ra. Aku juga senang bisa membantu kamu sampai kamu menikah dengan Bagas. Kamu sudah mendapatkan kebahagiaan yang selayaknya kamu dapatkan. Walaupun, Pak Adibrata masih belum bisa membuat pintu hatinya untuk menerima kamu, setidaknya Mama mertua kamu sudah mulai terbuka. Berusaha saja terus, aku yakin dengan berjalannya waktu, semua akan indah yang akan kamu dapatkan nanti, Ra." Azkia selalu menyemangati dan mendoakan Indhira.


" Saya beruntung bertemu dengan Bu Kia." Tanpa sanggup menutupi rasa harunya, Indhira terisak karena kebaikan yang dia terima dari Azkia.


" Sudah jangan menangis." Azkia mengusap pundak Indhira, layaknya seorang kakak kepada sang adik.


***


Bagas baru selesai memantau ballroom yang akan disewa untuk mengadakan acara tender proyek pembangunan KPR bersubsidi yang akan diikuti oleh seratus lebih perusahaan properti yang tersebar di wilayah pulau Jawa. Dan Richard Fams Hotel yang dipimpinnya mendapat kehormatan menjadi tempat untuk acara teder itu berlansung.


Ddrrtt ddrrtt


Bagas mengambil ponsel dari saku blazernya. Nama sang Mama yang terlihat di layar ponselnya yang saat ini berbunyi. Bagas dengan segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Halo, ada apa, Ma?" tanya Bagas.


" Bagas, Apa kamu ada di kantor?" Angel menanyakan keberadaan posisi anaknya sekarang ini.


" Iya, ada apa, Ma?' tanya Bagas kembali.


" Mama sama adikmu mau ke sana, makanya Mama tanya. Kalau kamu tidak ada di sana, untuk apa Mama capek-capek ke sana!?" Angel menjelaskan kenapa dia ingin tahu keberadaan Bagas.


" Mama sama Kartika akan ke sini?" Bagas terkesiap mendengar Mama dan adiknya itu akan datang ke hotel tempatnya bekerja.

__ADS_1


" Iya, Bagas. Mumpung Papa kamu hari ini terbang ke Hong Kong. Jadi Mama bisa bebas bertemu kamu," ujar Angel.


" Papa ke Hong Kong? Tumben Mama tudak ikut?" Bagas sangat hapal kebiasaan sang Mamanya yang selalu mengikuti Papanya jika tugas ke luar negeri.


" Papa memang mengajak Mama, tapi Mama menolak, karena Mama ingin bertemu dengan kamu lagi, Bagas." Angel menyebutkan alasannya tidak mengikuti sang suami pergi.


Kalimat yang diucapkan oleh Angel terasa teduh di telinga Bagas saat ini. Bahkan, dia tidak menyangka jika Mamanya sampai melepas kesempatan menikmati jalan-jalannya ke luar negeri hanya karena ingin bertemu dengannya. Karena biasanya, Angel lebih mementingkan kesenangannya sendiri daripada menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.


" Aku ada di hotel, Ma. Posisi Mama sekarang di mana? Kalau Mama ingin kemari, nanti aku akan kasih tahu orang di depan untuk mengantar Mama ke ruanganku," ujar Bagas kemudian. Sebenarnya Bagas ingin berterima kasih karena Mamanya itu lebih memilih bersama anak-anaknya daripada menikmati melakukan kesenangannya menghabiskan waktu untuk healing di luar negeri. Ini adalah kejadian langka bagi Mamanya, sepatutnya dia mengucapkan rasa terima kasih, namun dia ingin mengucapkannya nanti saat berhadapan langsung dengan sang Mama.


" Mama baru saja jemput adikmu di sekolah. Ya sudah, Mama akan ke sana sekarang. Kita bertemu di sana." Angel langsung mematikan panggilan teleponnya itu.


Saat sambungan telepon berakhir, Bagas bergegas keluar dari ruangannya kembali, karena dia ingin menjemput Indhira. Dia ingin Indhira ada bersamanya ketika Mama dan adiknya itu datang ke sana.


Tak membutuhkan waktu lama, sekitar lima belas menit kemudian, Bagas sudah berhasil membawa Indhira ke hotel. Mereka berdua kini sedang menunggu kedatangan Angel dan Kartika.


Sepuluh menit kemudian orang yang mereka tunggu tiba juga di ruangan Bagas. Dan saat melihat keberadaan Indhira di sana, Kartika langsung berlari memeluk Indhira.


" Kak Indi ..." Kartika selalu antusias setiap bertemu dengan Kakak iparnya itu.


" Bu ..." Indhira menghampiri Angel lalu mencium punggung tangan Mama mertuanya itu.


" Istri kamu kok' ada di sini, Bagas? Bukannya dia itu bekerja?" tanya Angel pada Bagas, karena setahunya Indhira bekerja di butik.


" Indhira sudah resign dari pekerjaannya, Ma." jawab Bagas menjelaskan.


" Memang seharusnya dia itu berhenti bekerja. Dia itu istri bos, memangnya gaji yang kamu dapat di sini masih kurang sampai dia harus bekerja? Harus melayani bosnya, bisa bikin malu kamu kalau dia terus bekerja," gerutu Angel menganggap pekerjaan yang dijalani oleh Indhira saat ini tidak layak untuk seorang istri Bagas.


Indhira hanya diam mendengar ucapan Angel yang terkesan meremehkan pekerjaannya. Namun, dia tidak berani membantahnya. Untuk saat ini dan entah sampai kapan, dia hanya sanggup mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mama mertuanya itu.


" Ma, jangan bicara begitu sama Kak Indi, dong!" protes Kartika, mengingatkan sang Mama untuk tidak menghina pekerjaan Indhira.


" Sebenarnya bukan itu alasan Indhira aku larang bekerja, Ma. Ada alasan yang lebih penting dari hal itu," sahut Bagas. " Aku mempertimbangkan janin di perut Indhira, aku tidak ingin Indhira kelelahan karena bekerja," jelasnya kemudian.


" Janin?" Angel membelalakkan matanya mendengar Bagas membicarakan soal janin.


" Kak Indi hamil, Kak? Alhamdulilah ... selamat, ya, Kak." Kartika yang terlihat lebih antusias, bahkan langsung memeluk tubuh sang kakak ipar. Sedangkan Angel masih terpaku mengetahui istri dari anaknya kini sedang mengandung, artinya dia sebentar lagi akan menjadi Nenek.

__ADS_1


" Iya, Kartika. Alhamdulillah ..." Indhira terharu adik iparnya menyambut bahagia kehamilannya.


" Istri kamu hamil, Bagas?" Tidak bertanya kepada Indhira langsung, Angel memilih bertanya kepada Bagas.


"Iya, benar, Ma." sahut Bagas dengan melebarkan senyumannya.


" Apa sudah periksa ke dokter kandungan?" tanya Angel lagi.


" Sudah, Ma. Baru masuk Minggu ke empat sekarang ini," jelas Bagas.


" Periksa ke dokter mana? Kamu harus bawa istri kamu ini ke dokter kandungan yang bagus, Bagas." ujar Angel kembali. Dia ingin Bagas membawa Indhira periksa ke dokter kandungan terbaik. Karena dia pun ingin calon bayi dari anaknya itu ditangani dengan dokter kandungan pilihan.


" Indhira kemarin periksa ke dokter kandungan bosnya, Ma. Sudah pasti itu juga bagus." Bagas menjelaskan jika istrinya sudah ditangani dokter kandungan terbaik.


Kini Angel manatap ke arah Indhira. Dia berpikir, pantas Bagas begitu memuja wanita muda di hadapannya kini, karena wanita itu sanggup memberikan apa yang Bagas inginkan.


" Kamu harus menjaga janin di perut kamu dengan baik. Jika suami kamu melarang kamu kerja, jangan membantah! Makannya jangan jo rok, jangan hanya cari yang enak di perut kamu, tapi cari yang banyak nutrisi untuk janin di perut kamu itu!" Secara tidak langsung Angel memperlihatkan keperduliannya pada kehamilan Indhira.


" Iya, Ma." Meskipun diucapkan dalam nada tegas dan sedikit ketus, tapi Indhira dapat merasakan jika Mama mertuanya itu begitu perhatian terhadap kehamilannya.


" Aku senang banget akan punya keponakan, Kak. Nanti keponakanku baby girl saja ya, kak!?" tawar Kartika menyeringai.


" Mana bisa ditawar-tawar, Dek!" Bagas mengacak rambut adiknya. " Lagipula, anak pertama itu bagusnya laki-laki, jadi bisa jaga adiknya kayak kakak ke kamu," imbuh Bagas terkekeh.


" Mama setuju dengan kakak kamu, Kartika. Anak pertama laki-laki itu lebih bagus." Angel menyetujui pendapat Bagas.


" Perempuan atau laki-laki yang penting bayi dan Ibunya sehat, Ma." Kini Bagas merangkulkan tangannya di pundak Indhira. Rasanya kebahagiaannya makin berlipat-lipat dapat berkumpul bersama Mama dan juga adiknya seperti saat ini.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2