
Indhira mencubit pinggang suamiya, karena Bagas justru meledek orang tuanya sendiri. Bisa dibilang Bagas sengaja memanas-manasi dengan melakukan kein timan di hadapan Adibrata dan Angel yang masih berkonflik.
"Mas, jangan seperti itu!" tegur Indhira malu.
"Biar Papa Mama akur, Yank!" bisik Bagas beralasan seraya terkekeh.
"Indhira, kamu lapar, ya? Sudah makan belum? Mau makan apa? Nanti Mama bangunkan Bibi untuk menyiapkan kamu makanan." Demi menghindari Adibrata, Angel memilih menghampiri Indhira dan Bagas.
"Saya sudah makan tadi, Ma." jawab Indhira melirik kepada Adibrata karena dia tadi terkena teguran Adibrata karena mengkonsumi mie instan.
"Kamu ini bagaimana, sih, Bagas? Harusnya kamu meladeni istri kamu kalau Indhira lapar tengah malam. Dia lapar itu karena pengaruh kehamilan dia." Setelah menunjukkan perhatiannya pada Indhira, kini Angel menegur Bagas.
"Iya, maaf, Ma." Bagas tak berniat melakukan pembelaan diri. Dia rela ditegur sang Mama ataupun Papanya, karena hal itu menunjukkan kedua orang tuanya memperhatikan dan perduli pada Indhira. Hal itu tentu membuat Bagas merasa sangat bahagia.
"Kami mau kembali ke kamar, Ma." pamit Bagas pada Angel.
"Ya sudah," sahut Angel.
"Mama jangan terlalu keras sama Papa, kasihan Papa tidak dapat-dapat jatah dari Mama," bisik Bagas menyeringai menggoda Angel.
Angel sontak mendelik ke arah Bagas yang sengaja menggodanya. Namun, tatapan tajam Angel justru dibalas kerlingan mata oleh Bagas.
Bagas melangkah menuju kamar bersama Indhira. Saat dia melintasi Adibrata, Bagas menepuk pundak sang Papa lalu berkata, "Maju terus, pantang mundur, Pa! Serang terus, jangan kasih kendor, lama-lama juga Mama akan luluh." Bagas menyemangati Papanya agar tetap sabar menghadapi sikap Angel.
"Kalau kayak gini terus, kasihan Papa, ya, Mas?" Saat mereka sampai di kamar, Indhira menyampaikan keprihatinnya terhadap Adibrata karena masih diacuhkan oleh Angel.
"Salah sendiri Papa berani selingkuh di belakang Mama." Bagas kembali menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur, ingin melanjutkan lagi tidurnya.
__ADS_1
"Papa 'kan sudah menuruti keinginan Mama, Mas. Sudah menyerahkan semua harta Papa pada Mama, Mas Bagas dan Kartika." Indhira tetap merasa kasihan pada Papa mertuanya.
"Hei, kamu pikir, kami ini tega membuat Papa menderita dengan membuat bangkrut Papa!?" Bagas menjewer pelan telinga Indhira, karena Indhira berpikir jika Bagas dan Angel terlalu kejam pada Adibrata.
"Ampun, Mas." Indhira terkekeh, meminta Bagas untuk berhenti menjewernya.
"Kami, khususnya aku, aku tidak akan mungkin membuat Papa menderita. Aku justru akan membuat Papa juga Mama bahagia, Yank. Apalagi aku juga beruntung mempunyai pasangan hidup seperti kamu yang sangat perduli terhadap keluargaku. Karena sosok seorang istri sangat berpengaruh besar terhadap sikap seorang suami kepada orang tuanya." Bagas mengungkapkan betapa beruntungnya dia memperistri Indhira.
"Aku sudah tidak punya Papa dan Mama, tentu saja aku pasti akan perduli pada Papa dan Mama Mas. Aku seperti mendapatkan orang tua kembali. Itu hal yang sangat membahagiakan buat aku, Mas." Indhira memang haus akan kasih sayang orang tua, sehingga dia berusaha menyayangi kedua orang tua suaminya, walaupun Adibrata masih bersikap kaku terhadapnya.
Sementara itu, setelah Bagas masuk ke dalam kamarnya bersama Indhira, Angel pun masuk ke dalam kamar diikuti oleh Adibrata.
Angel kembali membaringkan tubuhnya di atas tidur, sementara Adibrata masih berdiri menatap tubuh Angel yang tertutup selimut. Dia tidak mendekat, namun tidak juga kembali ke sofa. Dia masih bingung, harus bagaimana lagi meluluhkan hati istrinya itu agar mau memaafkannya.
"Papa ngapain berdiri saja? Sudah kembali tidur di sofa sana!" Dari pantulan kaca bufet, Angel dapat melihat suaminya masih saja berdiri terpaku.
"Tidak usah lebay, deh, Pa! Kalau di sofa kurang nyaman, Papa tidur saja ke kamar tamu!" ketus Angel malah menyuruh Adibrata berpindah kamar.
"Mama tega sekali sama Papa ..." keluh Adibrata.
Angel langsung memutar kembali posisi tidurnya yang semula membelakangi Adibrata, lalu berkata penuh emosi, "Mama tega? Lalu Papa sendiri bagaimana? Papa selingkuh, bercinta dengan wanita murahan! Apa Papa pikir, Mama tidak sakit hati? Kalau Papa pikir dengan memberi harta Papa kemarin Mama bisa melupakan kesalahan Papa, berapa banyak harta yang Papa limpahkan ke Mama, tidak mungkin bisa mengobati rasa sakit hati Mama, Pa." Tiba-tiba saja Angel menangis. Rasanya penghianatan Adibrata benar-benar telah menyakiti hatinya.
Adibrata tertegun melihat Angel menangis dengan tersedu. Dia memang banyak bersalah terhadap keluarganya, bukan hanya pada istrinya saja, tapi pada anaknya juga.
Adibrata berjalan perlahan ke arah Angel, berusaha untuk mendekat. Dia ingin memeluk Angel, menenangkan dan menyampaikan permohonan maafnya kembali kepada Angel. Apa pun yang ingin Angel inginkan, akan dia penuhi agar Angel senang dan bisa memaafkan dirinya.
"Ma, Papa minta maaf. Papa benar-benar menyesal." Adibrata duduk perlahan di tepi tempat tidur karena takut mendapatkan penolakan dari Angel. Namun, saat dirasanya Angel tidak mengusirnya, Adibrata memberanikan diri menyentuh pundak Angel. Tak juga mendapatkan penolakan sang istri, Adibrata kemudian mengusap hingga akhirnya memeluk tubuh Angel, membuat Angel semakin menangis kencang.
__ADS_1
"Maafkan, Papa, Ma. Papa berjanji, Papa tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tolong maafkan, Papa. Papa ingin berubah menjadi suami yang baik untuk Mama dan menjadi Papa yang baik untuk Bagas dan juga Kartika." Adibrata bertekad ingin menjadi pribadi yang lebih balik. Berkaca pada kesalahan-kesalahannya, dia ingin menjadi seorang suami dan Papa yang tidak hanya disegani namun juga disayang dan dicintai anggota keluarganya.
"Sebentar lagi kita akan menjadi Opa dan Oma, Papa juga ingin menjadi Opa yang baik untuk cucu pertama kita," ungkap Adibrata menegaskan jika dia akan menerima anak pertama Bagas dan Indhira sebagai anggota keluarga besarnya.
Angel menjeda tangisnya, lalu menoleh ke arah sang suami.
"Papa menerima Indhira bukan karena terpaksa, kan?" Angel curiga jika suaminya mau menerima Indhira hanya karena syarat yang diajukan dirinya mau pulang ke rumah Adibrata.
"Tidak, Ma. Papa tidak berpikir seperti itu." Adibrata senang Angel tidak mempermasalahkan saat ini dia sedang merangkul Angel.
"Papa melihat Bagas menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab serta sayang terhadap keluarga. Papa rasa itu pasti karena pengaruh dari istrinya." Adibrata mulai merasakan perubahan pada sikap dan cara berpikir Bagas setelah menikahi Indhira.
"Memang Indhira itu membawa pengaruh positif untuk Bagas, Papa saja yang terlalu buta, sehingga tidak bisa melihat kebaikan Indhira!" sindir Angel.
Angel kembali melirik ke arah suaminya, dia sepertinya baru menyadari jika saat ini dirinya saling bersentuhan fisik.
"Kenapa Papa peluk-peluk Mama? Papa curi-curi kesempatan, ya!?" Angel segera menepis tangan Adibrata yang merangkul pundaknya saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1