
Sebelum waktu makan siang, Bagas sudah membawa Indhira kembali pulang ke hotel. Saat ini Bagas berusaha mencari tempat tinggal yang layak untuk Mama dan Indhira agar mereka berdua dapat beristirahat dengan tenang. Meskipun di kamar hotel tempat Mamanya menginap terasa nyaman dengan fasitas lengkap, tapi lebih nyaman tinggal dalam lingkungan rumah.
Ddrrtt ddrrtt
Ketika Bagas sedang mencari informasi rumah yang akan dia sewa untuk tempat tinggal sementara dirinya, Indhira juga Angel dari internet, tiba-tiba bunyi telepon terdengar dari ponselnya.
" Halo, Pa?" Bagas segera mengangkat panggilan telepon itu karena dia melihat Adibrata lah yang menghubunginya saat ini.
" Bagas, apa istrimu masih di rumah sakit?" tanya Adibrata dari ponsel Bagas.
" Indhira sudah pulang, Pa. Tadi sebelum makan siang," sahut Bagas.
" Lalu, kalian di mana sekarang ini?" tanya Adibrata kembali, dia sudah menyuruh Hamid untuk tidak mengawasi istrinya lagi sehingga dia tidak tahu apakah istrinya itu masih menemani Indhira di rumah sakit atau tidak.
" Kami kembali ke hotel, Pa." sahut Bagas, karena memang tidak memungkinkan membawa Indhira dan Angel ke rumah kontrakannya.
" Apa kalian selama ini di hotel selama Mamamu di sana?" tanya Adibrata.
" Iya, Pa. Rumah kontrakanku sangat kecil dan sempit, tidak ada AC nya juga, mana betah Mama tinggal di sana," sahut Bagas terkekeh.
Adibrata terdiam tak langsung menjawab ucapan Bagas, hingga keheningan terjadi beberapa saat.
" Bagas, bagaimana kalau kalian pulang saja ke rumah? Rumah kita besar dan banyak kamar, daripada kalian menginap di hotel terus." Adibrata memberikan tawaran untuk Bagas kembali pulang ke rumahnya.
Perkataan Adibrata membuat Bagas tertegun. Sama sekali dirinya tidak menyangka jika sang Papa memintanya pulang kembali ke rumah keluarganya itu. Tapi, apakah Papanya itu dapat menerima Indhira? Sebab dulu Papanya itu memintanya meninggalkan rumah karena dirinya bersikeras mempertahankan hubungan dengan Indhira.
" Bagaimana Bagas? Apa kamu mau? Kamar kamu masih kosong, sayang jika tidak ditempati." Adibrata berharap Bagas mau tinggal kembali di rumahnya.
" Aku tidak mungkin meninggalkan istriku, Pa." Bagas masih khawatir Papanya masih belum bisa menerima Indhira, sehingga dia menolak tawaran Papanya itu.
" Kamu bisa membawa dia kemari, Bagas." Adibrata bereaksi cepat atas penolakan Bagas.
Bagas bahkan hampir tidak mempercayai pendengarannya. Sang Papa yang dulu menolak Indhira kini mengijinkan Indhira tinggal di rumah itu. Jika saja saat ini Adibrata ada di hadapannya, mungkin dirinya akan langsung memeluk Papanya. Bukan karena mengijinkan dia kembali ke rumah itu, tapi karena sikap Papanya yang sudah mulai melunak terhadap Indhira.
Bagas seolah tidak sanggup berkata-kata karena rasa bahagia yang seketika menyeruak di hatinya merasakan perubahan dari sikap Papanya saat ini.
__ADS_1
" Kapan kamu akan pulang? Nanti Papa suruh Zul menjemput ke sana." Adibrata siap memberi perintah pada Zul untuk menjemput istri, anak dan menantunya.
" Nanti aku bicarakan hal ini dengan Mama dulu ya, Pa!? Aku takut Mama tidak setuju dengan permintaan Papa ini, karena ... Papa tahu sendiri Mama masih marah pada Papa." Bagas juga merasa perlu berdiskusi dengan Mamanya soal keinginan Adibrata yang meminta dirinya dan Angel kembali ke rumah keluarga mereka, bersama dengan Indhira tentunya.
" Ya sudah, kamu pelan-palan saja bicara dengan Mamamu agar Mamamu mau menurut. Papa yakin, kalau kamu mau kembali ke rumah, Mamamu juga pasti akan kau kembali ke rumah." Adibrata menyadari, dia harus meruntuhkan sikap arogannya demi keutuhan rumah tangganya, termasuk mau menerima menantunya itu.
" Iya, Pa." sahut Bagas.
" Papa tutup dulu teleponnya, Papa ada rapat yang harus Papa hadiri." Adibrata berpamitan mengakhiri sambungan telepon mereka.
" Iya, Pa." sahut Bagas lalu menutup panggilan telepon mereka.
Bagas menghela nafas panjang. Tak diduga konflik yang terjadi pada orang tuanya justru membawa hikmah bagi hubungannya dengan sang Papa. Bahkan Papanya kini sudah mulai menerima posisi Indhira sebagai istrinya.
Bagas melengkungkan senyum bahagia di sudut bibirnya. Kesabarannya selama ini ditambah dengan doa yang selalu dia dan Indhira panjatkan agar sang Papa dapat membuka pintu hatinya terjawab sudah, meskipun ada pengorbanan yang harus dibayar mahal untuk mendapatkan hal itu.
Bagas kemudian bangkit dan berjalan menuju arah kamar tempat Mamanya dan Indhira berada.
***
" Aku kaget waktu Papa tiba-tiba mengangkat tubuhku, Mas. Padahal saat itu aku takut sekali sama Papa." Indhira mengungkapkan perasaannya terhadap perlakuan Adibrata terhadapnya.
" Aku tidak menyangka Papa akan berbuat seperti itu, Mas. Papa terlihat khawatir aku kenapa-kenapa dan terjadi sesuatu dengan janinku," cerita Indhira bersemangat. Sudah pasti sikap Adibrata yang berbeda membuat hatinya senang.
" Kamu senang sekali Papa menolong kamu kemarin, Yank." Bagas pun melihat raut bahagia terpancar dari wajah dan istri.
" Senang pasti, Mas. Karena aku selama ini takut berhadapan dengan Papa Mas," aku Indhira jujur.
" Kalau kamu disuruh tinggal di rumah Papa, kamu mau tidak?" Bagas sengaja memancing reaksi sang istri.
Indhira bengong mendengar pertanyaan Bagas padanya.
" Kalau, Yank. Kalau ..." Bagas meledek Indhira yang memasang wajah bingung.
" Aku tidak mau, Mas." jawab Indhira menolak jika disuruh tinggal di rumah Adibrata, karena rasa takut itu masih ada meskipun Adibrata sudah menolongnya kemarin.
__ADS_1
" Lho, kenapa? Kamu bilang Papa sudah bersikap baik sama kamu?" tanya Bagas, walaupun dia sudah menduga jawaban istrinya pasti akan menolak tinggal di rumah Adibrata.
" Aku masih takut, Mas. Lagipula, tidak mungkin juga aku disuruh tinggal di sana." Indhira tidak ingin terlalu berharap terlalu tinggi.
" Tapi, memang benar, kok, Yank." ucap Bagas.
" Benar apanya, Mas?" tanya Indhira bingung.
" Papa menyuruh kita tinggal di rumah Papa," jawab Bagas dengan senyuman di bibirnya.
" Hahh?" Bola mata Indhira membulat dengan mulut terbuka.
" Papa tadi telepon aku, meminta kita, aku, Mama dan kamu pulang ke rumah Papa." Bagas menjelaskan.
" Maksudnya, jika akan tinggal di rumah orang tua Mas?" tanya Indhira ragu.
" Di rumah orang tua kita, Yank. Orang tuaku, orang tuamu juga." Bagas mengusap wajah Indhira yang masih menampakkan keterkejutannya dengan kabar yang dia sampaikan.
" Tapi, Mas ...."
" Aku akan bicara dengan Mama, aku rasa Mama tidak akan mudah untuk kembali ke rumah itu karena Mama masih sakit hati pada Papa. Jadi, kita harus mengalah, Yank. Kalau kita mau tinggal di sana, aku yakin Mama juga akan mau pulang kembali ke rumah Papa, karena Mama pasti tidak ingin jauh dariku dan dari menantu kesayangannya ini." Bagas mengungkapkan alasan kenapa dirinya menerima tawaran Papanya, semua itu hanya agar sang Mama bisa kembali ke rumah Papanya.
" Memangnya Mas sudah bilang sama Mama?" tanya Indhira, meskipun dia masih ragu, namun dia tidak dapat menolak keinginan sang suami, apalagi dia yakin, Mama mertuanya akan melindunginya.
" Belum, Yank. Nanti aku bicarakan dulu dengan Mama," jawab Bagas kemudian.
" Bicara apa?" Suara Angel tiba-tiba sudah terdengar di belakang Indhira dan Bagas.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️