SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Bukan Wanita Nakal


__ADS_3

Bagas menatap sosok wanita cantik yang berdiri di sampingnya. Wanita cantik itu tersenyum, menyapanya. Dengan mengulurkan tangan ke arahnya, wanita cantik itu memperkenalkan namanya dengan suara yang terdengar sangat lembut.


" Evelyn."


Itu nama yang diperkenalkan oleh wanita cantik yang merupakan anak dari teman Papanya.


" Bagas, kenapa kamu malah diam saja? Evelyn menyapamu itu!" Melihat putranya hanya diam tak merespon perkenalan yang dilakukan oleh Evelyn, Adibrata menegur putranya itu.


" Bagas ..." Bagas terkesiap dan segera menyambut uluran tangan Evelyn, karena dia tidak ingin dianggap tidak sopan di hadapan teman Papanya itu. Walaupun sejujurnya dia sudah tidak berminat berkenalan dengan wanita lagi.


" Sepertinya anakku ini terpesona dengan putrimu, El. Sampai hanya bisa terpaku menatap kecantikan Evelyn." Adibrata menyamarkan sikap Bagas tadi.


" Kau terlalu memuji putriku, Di." Nathael mengibas tangan ke udara menganggap pujian Adibrata kepada putrinya terlalu berlebihan.


" Evelyn, Bagas ini sekarang menetap di New Jersey, karena dia kuliah di salah satu universitas di sana. Tahun ini dia akan mencapai gelar magister nya. Selama dia masih berada di Amerika mungkin kalian bisa berteman." Adibrata memperkenalkan sosok putranya kepada Evelyn.


" Sayang sekali kau baru memperkenalkan putramu itu kepada kami, Di. Coba sejak lama, jadi Eva bisa kenal Bagas dari dulu." Nathael kembali menyayangkan pertemuan Evelyn dan Bagas yang baru terjadi sekarang, padahal Bagas sudah menetap di Amerika hampir enam tahun.


Bagas melirik ke arah Adibrata, dia sudah dapat mengendus motif di balik rencana Papanya itu mengajaknya ikut makan malam di rumah Nathael.


" Putrimu cantik seperti ini. Kau harus hati-hati memilih calon menantu, El." Adibrata mulai menyinggung soal perjodohan.


" Benar, Di. Aku harus mencari calon menantu yang mau menikah dengan putriku karena menyayangi dia, bukan hanya karena dia adalah salah satu pewarisku," ucap Nathael penuh harap.


" Apa kamu sudah mempunyai calon, Evelyn?" Adibrata bertanya langsung kepada Evelyn.


" Belum, Om." Evelyn tersipu malu menjawab pertanyaan Adibrata.


" Rasanya tidak mungkin, wanita secantik kamu belum mempunyai pendamping, Evelyn. Atau, mungkin mereka-mereka itu pria bo doh yang tidak dapat melihat ada bidadari secatik kamu, di hadapan mereka, Evelyn." Adibrata berseloroh membuat Evelyn tersipu malu.


" Ah, Om bisa saja." Kalimat pujian yang diucapkan Adibrata justru semakin membuat wajah Evelyn merona.


Sementara Bagas hanya memejamkan mata dan menarik nafas mendengar kalimat rayuan yang diucapkan Papanya itu. Dia menyadari, mungkin keahliannya dalam meluluhkan hati wanita memang ditularkan oleh Papanya. Kalimat yang manis jika didengar oleh orang yang dituju. Namun, terdengar sangat memuakan untuk orang yang berpikir normal.


" Hahaha, Kau sejak dulu memang pandai dalam menaklukkan hati wanita, Di. Apa hal itu kau turunkan pada putramu, Di? Jangan sampai anakku mendapatkan pria yang senang bermain cinta." Nathael tentu tidak ingin anaknya hanya menjadi permainan pria yang senang berganti pasangan.


" Selama hampir enam tahun di sini, anakku ini tidak punya kekasih, El. Dia lebih fokus dengan kuliahnya." Apa yang dikatakan Adibrata memang benar. Bagas yang selama ini menjadi Don Juan kala SMA dulu, justru sama sekali tak tersentuh oleh wanita sejak pindah ke Amerika.


" Berarti jika menemukan wanita tambatan hatinya, putramu akan setia pada wanita itu, Di. Beruntung sekali wanita yang kelak mendapatkan cinta putramu ini, Di." Percakapan yang terjadi di ruangan tamu mansion milik Nathael itu banyak didominasi oleh Nathael dan Adibrata. Sementara yang lain yang menjadi pendengar setia mendengarkan alur obrolan mereka.


***


" Menurutmu, bagaimana Evelyn itu, Bagas? Dia cantik, kan?" Dalam perjalanan pulang kembali ke hotel tempatnya menginap, Adibrata menanyakan pendapat Bagas soal Evelyn.


" Apa Papa berencana ingin menjodohkan aku dengan dia?" tanya Bagas, menyampaikan kecurigaan jika Papanya itu ingin menjodohkan dia dengan Evelyn.


" Tidak ada salahnya, kan? Evelyn cantik, berpendidikan, punya latar belakang yang jelas dan dari keluarga terpandang. Apa yang kurang dari dia?" Adibrata menyebutkan kelebihan yang dimiliki Evelyn.

__ADS_1


" Kalau kamu setuju, Papa ingin secepatnya mengikat Evelyn, Bagas." ucap Adibrata menyampaikan rencananya yang sudah dia bicarakan dengan Nathael.


" Pa, untuk hal itu, biarkan Bagas menentukan pilihanku sendiri. Selama ini, Bagas sudah menuruti kemauan Papa." Bagas memberanikan diri menentang Papanya.


" Papa tidak ingin kamu salah jalan sampai bikin malu nama baik keluarga lagi, Bagas!" Adibrata tidak setuju Bagas menentang keputusannya. Dia masih ingin terus mengatur Bagas sesuai dengan keinginannya.


" Pa, sekarang ini Bagas sudah dewasa! Aku tidak ingin Papa mendikte hidupku terus, Pa!" Bagas kembali menegaskan jika dia tidak ingin terus berada dalam kekangan Papanya.


" Papa mendiktemu? Apa yang Papa lakukan selama ini, itu semua demi kebaikanmu, Bagas!" Adibrata terpancing emosi mendengar perkataan putranya yang mengatakan jika selama ini dirinya mendikte hidup Bagas.


" Papa berusaha menutupi kelakuan burukmu dulu, itu bukan hanya untuk menjaga nama baik keluarga, tapi juga untuk melindungi kamu!"


" Kamu bisa hidup nyaman, dapat menjalani kuliah dengan tenang, itu semua karena siapa? Kalau bukan karena campur tangan Papa! Sekarang kamu berani bilang kalau Papa mendikte kamu!?" Adibrata terus memarahi Bagas dan menganggap Bagas sama sekali tidak menghargai jerih usahanya.


Bagas hanya bisa diam. Dia merasa percuma berdebat dengan Papanya saat ini. Papanya tidak akan mau mendengarkan apa yang dia inginkan. Mungkin saat dia kembali ke Jakarta dan mulai mengambil alih perusahaan Papanya, baru dia bisa bertindak dan menentukan sikapnya yang tidak ingin terus dikekang oleh sang Papa.


***


Indhira merasakan waktu yang dia jalani terasa lama tiap harinya. Menunju dua Minggu kemudian setelah pengajuan resign nya disetujui, terasa bagaikan setahun. Bagaimana tidak? Setiap hari. Indhira dilanda kecemasan, takut Chrystal mengungkap rahasianya kepada rekan-rekan di salonnya.


Sampai akhirnya hari yang ditunggu tiba juga. Hari ini adalah hari terakhir Indhira berada di salon itu. Dia sudah mengajari rekannya yang kini menempati posisi yang akan ditinggalkannya itu.


" Ini uang gajimu untuk bulan ini. Aku tidak bisa memberikan pesangon pada kamu, karena salon ini baru jadi milikku baru satu bulan ini." Chrystal menyodorkan amplop berisi uang gaji Indhira tanpa memberikan pesangon.


" Tidak apa-apa, terima kasih." Indhira tidak mempermasalahkan uang pesangon yang tidak dia terima. Baginya bisa keluar dari salon itu tanpa cela saja, dia sudah bersyukur.


Dulu Indhira pernah berpikir jika dia akan selamanya mengabdi di tempat usaha milik Tante Sandra, sampai akhirnya dia bertemu dengan jodohnya dan menikah. Teringat soal jodoh dan menikah, seketika hatinya menjadi pilu. Masih adakah pria yang dapat menerima dan mencintai dirinya jika pria itu tahu soal masa lalunya dan dirinya yang sudah kehilangan mahkotanya.


Dua hari kemudian, Indhira memutuskan kembali ke Jakarta. Ada rasa senang, namun ada rasa takut juga yang menderanya. Rasa senang karena dia bisa kembali berziarah ke makam orang tuanya, setelah sekian tahun 'dilarang' oleh Rissa ke Jakarta. Namun, ada trauma akan masa lalunya dan juga ketakutan akan bertemu teman SMA nya juga keluarga dari Tante Marta.


Sesampainya di Jakarta, Indhira dijemput oleh Rissa, karena hari weekend Rissa tidak bekerja sehingga sahabat Indhira sejak SMA bisa menjemput Indhira di stasiun.


" Welcome back to Jekardah, Baby." Rissa memeluk saat menyambut kedatangan Indhira setelah sampai di stasiun.


" Makasih ya, Ris. Kamu sudah menyempatkan waktu menjemputku." Rissa seperti teman rasa saudara baginya. Karena selama ini tak pernah henti Rissa mendukung dan menyemangatinya untuk terus menjalani kehidupannya walau pernah didera masalah berat.


" Ck, kamu ini kayak dengan siapa saja!" Indhira mengibaskan tangannya ke udara.


" Oh ya, Ra. Kenalkan ini, Mas Adam." Rissa memperkenalkan tunangannya kepada Indhira.


" Hai, Indhira. Senang akhirnya bisa bertemu. Rissa banyak cerita tentang kamu." Adam menyapa Indhira.


Indhira sontak melirik ke arah Rissa saat mendengar Adam mengatakan jika Rissa banyak cerita tentang dirinya. Apakah termasuk soal skandal video itu? Seketika Indhira merasa gusar. Malu rasanya jika aibnya itu diketahui calon suami dari Rissa.


" Tenang saja, Ra. Aman ..." Menyadari raut wajah Indhira yang berubah, Rissa langsung berbisik di telinga Indhira, membuat Indhira dapat bernafas lega hingga dia pun membalas uluran tangan Adam.


" Halo, Mas." Indhira pun akhirnya menyapa Adam.

__ADS_1


" Sini saya bantu bawakan koper kamu, Indhira!" Adam menawarkan jasa membawakan dua koper yang dibawa oleh Indhira.


" Tidak usah, Mas. Biar saya bawa sendiri saja." Indhira menolak halus tawaran Adam.


" Biarkan saja Mas Adam yang bawa, Ra! Dia 'kan laki-laki. Biar suruh bawa yang berat-berat!" Rissa menyuruh Indhira menerima tawaran Adam seraya menyeringai melirik tunangannya itu. Dia lalu menarik tangan Indhira untuk mengikutinya.


" Ris, kamu tega menyuruh calon suami kamu itu membawa koperku!?"


" Biarkan saja! Kamu tidak usah sungkan dengan Mas Adam, Ra. Mas Adam baik kok, orangnya!" Rissa yang sudah mengenal sifat Adam merasa tidak masalah menyuruh tunangannya itu membawakan koper Indhira.


" Kamu pasti belum sarapan 'kan, Ra? Kita cari makan dulu, yuk!" Karena kereta yang membawa Indhira sampai di Jakarta sekitar jam 08.30 menit, sehingga dia menduga jika Indhira belum sempat mengisi perutnya dengan makanan.


" Terserah kamu saja, Ris." Indhira memang tidak dapat menolak ajakan Rissa yang ingin membawa dirinya sarapan karena dia sendiri memang belum sempat menyentuh makanan pagi ini.


***


" Kamu rencana mau kerja di mana, Ra? Di kantoran atau di tempat lain seperti kayak salon gitu lagi?" tanya Rissa saat mereka menikmati sarapan pagi di kedai bubur ayam.


" Di mana saja, Ris. Selama aku bisa menjalankan pekerjaan itu dengan baik." Indhira memang tidak pernah berharap muluk untuk pekerjaannya. Selama itu halal dan dapat dikerjakan olehnya, akan dia lakukan.


" Mas, coba Mas Adam bantu mencarikan kerja untuk Indhira di tempat bos Mas Adam. Bos Mas Adam 'kan punya banyak cafe. Siapa tahu Indhira bisa kerja di sana." Rissa minta bantuan Adam untuk mencarikan Indhira pekerjaan di tempat Adam bekerja, karena Adam adalah orang kepercayaan bos cafe itu.


" Nanti Mas coba tanyakan. Tapi, Mas tidak bisa menjanjikan. Soalnya kalau untuk memasukan karyawan wanita apalagi masih muda dan cantik, Mas masih belum berani, Ris. Istri bos Mas itu cemburuan kalau ada karyawan wanita cantiknya melebihi standar." Adam terkekeh seraya berseloroh.


" Pasti bos Mas Adam itu genit, ya!? Sampai istrinya itu cemburuan?" Rissa tidak menggubris pujian yang diucapkan Adam kepada Indhira. Karena dia menyadari jika Indhira memiliki wajah cantik di atas rata-rata ditambah kulitnya yang putih bersih.


" Bos Mas itu tidak genit, kok! Justru tipe suami yang setia, Ris." tepis Adam.


" Kalau memang tipe setia kenapa harus dicemburui?"


" Kamu belum lihat bos Mas, sih! Kalau lihat, pasti kamu akan mengagumi dia." Adam kembali terkekeh. Rissa memang belum pernah bertemu langsung dengan bos dari tunangannya itu.


" Bos Mas itu emang ganteng orangnya. Sudah begitu baik juga, makanya banyak cewek yang baper. Nah, yang seperti itu yang tidak disukai oleh istri bos." Adam menceritakan bagaimana istri bosnya tidak suka ada karyawan wanita yang cantiknya di atas rata-rata bekerja di cafe milik sang suami.


" Tapi, Indhira 'kan orangnya tidak pernah aneh-aneh, Mas! Tidak mungkin Indhira akan berbuat seperti itu!" tepis Rissa karena dia sangat mengenal Indhira. Meskipun Indhira sampai terkena skandal yang memalukan. Namun, itu bukan karena Indhira wanita nakal.


" Kalau orang cemburuan itu tidak ada tapi-tapian, Ris! Nanti Mas coba bantu carikan di tempat lain, siapa tahu ada yang membutuhkan karyawan." Adam berjanji akan membantu mencarikan pekerjaan untuk Indhira.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2