SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Fitting Baju Pengantin


__ADS_3

Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya Azkia dan Indhira sampai di salon milik Ci Lily, salah satu salon langganan Azkia dan orang tuanya. Indhira mengikut di belakang Azkia karena dia merasa asing dengan tempat itu, meskipun sebelumnya dia pernah bekerja di salon. Sementara matanya mencari mobil Bagas di parkiran salon itu. Dia tidak menemukan mobil milik Bagas di sana. Namun dia mengenali mobil ojek online yang kemarin digunakan Bagas untuk menjemputnya ada terparkir di sana.


" Apa Bagas menggunakan mobil ojek online lagi?" Indhira bertanya-tanya. Sebenarnya kenapa akhir-akhir ini Bagas senang sekali mengenakan mobil ojek online? Itu yang membuat dirinya bertanya-tanya. Apalagi pasti Bagas akan kembali ke kantornya untuk mengambil mobil miliknya. Apa itu tidak membuang waktu.


" Halo, Bu bos ..."


Suara pegawai yang menyambut Azkia saat Azkia dan Indhira masuk ke dalam salon, membuat Indhira yang sedang termenung terkesiap. Sepertinya pegawai itu sudah sangat hapal pada Azkia yang selalu rutin datang melakukan perawatan di salon itu.


" Hai, Din. Ci Lily ada, kan? Oh, ya, orang yang menunggu saya sudah bertemu dengan Ci Lily belum?" tanya Azkia kepada Dini.


" Sudah, Bu. Mas itu sedang menunggu di depan ruangan Ci Lily sekarang," sahut Dini menjelaskan di mana posisi Bagas berada sekarang.


" Oke." Azkia lalu menarik tangan Indhira untuk mengikuti langkahnya ke ruangan Ci Lily.


Indhira hanya pasrah mengikuti apa yang diinginkan oleh Azkia, hingga mereka sampai di lantai dua dan Indhira melihat Bagas yang sedang duduk sofa dengan ponsel di tangannya.


" Bagas ..." Indhira memanggil nama Bagas yang tidak menyadari kehadirannya di sana.


" Ra?" Bagas langsung bangkit dan menghampiri Indhira sementara Azkia masuk ke dalam ruangan Ci Lily.


" Aku mengganggu waktu kerja kamu, Bagas?" Indhira bertanya, karena dia takut permintaannya menyuruh Bagas ke salon itu mengganggu pekerjaan Bagas.


" Tidak, kok, Ra. Aku juga sudah selesai pekerjaannya," jawab Bagas lalu mengajak Indhira duduk di sofa.


" Kamu ke sini dengan ojek online lagi, Bagas?" Indhira yang penasaran kembali menanyakan soal mobil ojek online yang dia lihat di halaman parkir butik.


" Iya, Ra." jawab Bagas singkat, karena dia tidak ingin Indhira banyak bertanya soal mobil yang dia pakai saat ini


" Kamu hari ini 'kan tidak mengantar aku pulang, Bagas. Kenapa tidak menggunakan mobil sendiri saja? Nanti kamu pasti akan kembali ke kantor untuk mengambil mobil, kan? Memangnya kamu tidak mempunyai mobil yang biasa saja, biar kamu tidak repot harus bolak-balik ke kantor?" Indhira merasa heran, dan dia juga merasa kasihan, Bagas menyik sa diri harus kembali dulu ke kantornya untuk mengambil mobilnya.


" Aku nanti yang akan antar kamu pulang ke rumah Mama mertua Bu Kia. Karena setelah dari sini, kita akan cari cincin pernikahan untuk kita." Bagas menjelaskan kenapa dia masih tidak memakai mobilnya sendiri. " Kamu mau kita pergi ke banyak tempat menggunakan mobilku? Bukannya kamu tidak nyaman kalau harus naik turun pakai mobil mewah?' Bagas memberi alasan yang dipercaya oleh Indhira tentunya. Karena wanita itu memang pernah mengatakan tidak nyaman diantar dan dijemput kerja menggunakan mobil mewah Bagas. Dan sepertinya Indhira dapat menerima alasan yang dia gunakan itu.


" Kita beli cincin sekarang?" Indhira terkejut dengan niat Bagas itu. Bagas sepertinya berhasil mengalihkan perhatian Indhira dari mobil ojek online.


" Iya, waktu kita mendesak. Jadi kita harus cepat bertindak, " sahut Bagas menyeringai.


" Tapi aku belum minta ijin ke Bu Kia dan Ibu Lusi, Bagas. Aku tidak enak dengan mereka." Indhira tidak enak harus pulang telat, apalagi dia pergi bersama pria. Kalau pada Azkia, mungkin dia sudah terbiasa, namun dengan Lusiana, Mama mertua bosnya, ini adalah hari pertama dia ikut tinggal di rumah Lusiana.


" Nanti aku yang akan bilang pada Bu Kia, Ra. Kamu tidak usah cemas seperti itu. Mereka pasti akan mengerti karena kamu akan menikah." Bagas mencoba memberi pengertian kepada Indhira, agar Indhira tidak terus merasa bersalah.


" Aku tidak enak selalu merepotkan Bu Kia, Bagas. Kita selalu meminta pengertian dari Bu Kia. Rasanya kita ini orang-orang yang tidak tahu diri. Sudah dikasih kerja dibantu kemudahan, sekarang malah kita banyak menuntut lagi." Indhira menyampaikan rasa tidak enak hati kepada keluarga Azkia yang sudah banyak dibuat repot oleh masalahnya.

__ADS_1


" Kamu tahu? Pak Raffa bilang, mereka ingin membantu kamu sampai kamu mendapatkan kebahagiaan. Jadi aku rasa mereka sudah cukup mengerti itu, Ra." Bagas lebih santai, lagipula menyiapkan cincin pernikahan juga sangat penting untuk mereka berdua. Jadi tidak ada salahnya mereka pergi sebentar dan pulang telat karena menyiapkan untuk keperluan akad nikah mereka.


***


Indhira menatap pantulan tubuh rampingnya yang berbalut kebaya berwarna broken white. Hatinya bergetar melihat dirinya sendiri mengenakan kebaya yang akan dia kenakan untuk akad pernikahannya pertengahan Minggu depan, karena dia tidak menyangka jika dirinya akan melewati moment istimewa itu sebentar lagi. Moment yang tidak dia duga akan dia alami secara nyata, bukan hanya sekedar angan-angan semata. Karena sejak peristiwa yang dia lakukan bersama Bagas, apalagi sampai video itu tersebar, dia tidak pernah berani membayangkan dirinya akan bisa menikah, apalagi dengan pria yang dia cintai.


" Kebaya itu cocok untuk kamu, Ra." Azkia memberikan pendapatnya soal kebaya yang dipakai oleh Indhira.


" Cuma agak kebesaran saja, ya!? Nanti Cici kecilkan lagi." Ci Lily lalu melipat bagian kebaya yang nampak kebesaran di tubuh Indhira.


" Segini cukup? Nyaman tidak rasanya dikecilkan segini?" tanya Ci Lily pada Indhira.


" Iya sudah cukup, Bu." sahut Indhira.


" Oke, sip! Tinggal lihat untuk mempelai prianya. Mau pakai jas modern atau pakai beskap?" tanya Ci Lily kemudian.


" Sebentar saya tanya dulu, Bu." Indhira lalu memanggil Bagas yang menunggu di ruang fitting di salon itu. " Bagas!" Indhira segera melambaikan tangannya memanggil kekasihnya itu.


" Ada apa, Ra?" Bagas lalu mendekati Indhira seraya menatap Indhira yang terlihat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih tulang.


" Masya Allah, kamu cantik sekali, Ra. Seperti bidadari turun ke hatiku." Bagas memuji kecantikan Indhira diakhiri dengan cadaan yang membuat pipi Indhira bersemu.


" Ini Ibu Lily mau tanya sesuatu." Indhira menyerahkan kepada Ci Lily yang akan menjelaskan kepada Bagas.


" Ada apa, Bu?" tanya Bagas kini pada Ci Lily.


" Untuk Mas Bagas, mau pakai jas modern atau beskap?" tanya Ci Lily sambil menunjukkan dua buah pakaian berwarna senada dengan brokat kebaya yang akan dipakai oleh Indhira.


" Menurut Ibu lebih bagus yang mana?" hanya Bagas minta pendapat kepada Ci Lily sebagai pemilik salon yang mungkin tahu apa yang pantas dipakai olehnya.


" Kalian akan akad di KUA, ya? Pakai jas modern saja, ya? Bagaimana?" tanya Ci Lily menawarkan pakaian yang terlihat simple untuk mengadakan akad di KUA., apalagi mereka hanya akan mengadakan syukuran sederhana saja.


" Lagipula Mas Bagas ini sudah ganteng, tubuhnya juga tinggi, gagah pakai apa saja pasti terlihat ganteng." Tanpa malu-malu Ci Lily memuji ketampanan Bagas.


" Ya sudah, saya mengikuti apa yang menurut Ibu baik." Bagas menyahuti dan menurut apa yang disarankan oleh Ci Lily. " Tapi untuk kemejanya apa saya boleh pakai punya sendiri?" tanya Bagas kemudian.


" Oh, boleh saja kalau Mas Bagas pakai punya sendiri." Ci Lily tidak mempermasalahkan permintaan Bagas yang menginginkan menggunakan kemeja putih milik sendiri.


" Baik, Bu. Terima kasih," sahut Bagas.


" Oh ya, acaranya Kamis pagi, kan?" tanya Ci Lily memastikan lagi waktu akad nikah Bagas dan Indhira agar tidak terlupa.

__ADS_1


" Benar, Bu." Indhira dan Bagas menjawab bersamaan.


" Kompak, ya!? Mentang-mentang calon suami istri." Ci Lily mengomentari seraya terkekeh.


" Nanti kamu harus banyak belajar sama Kia, Indhira. Biar ketularan punya banyak anak," lanjut Ci Lily berkelakar menunjuk ke arah Azkia yang terlihat asyik membalas chat suaminya.


" Banyak anak banyak rejeki, Ci." Azkia menyahuti dengan tertawa kecil.


" Iya benar, banyak anak semakin ramai, ya?" Ci Lily menimpali.


" Oh ya, Ci. Nanti semua aku yang handle pembayarannya." Azkia lalu bangkit mendekati mereka bertiga. " Tidak apa-apa, kan, Bagas?" Azkia meminta ijin kepada Bagas untuk membiayai salon pernikahan Bagas dan Indhira.


" Apa tidak merepotkan Bu Kia?" tanya Bagas, menanggapi permintaan Azkia yang ingin membiayai salon pernikahannya.


" Tentu saja tidak! Indhira itu sudah aku anggap seperti adik sendiri, bukan orang lain lagi, kok!" Azkia menegaskan jika dirinya sudah menganggap Indhira bagian dari keluarganya.


" Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih karena kebaikan Bu Kia terutama pada Indhira." Bagas menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Azkia, karena kebaikan Azkia selama ini kepada Indhira.


" It's oke, Bagas." Indhira mengibaskan tangannya ke udara seolah ingin mengatakan jika dirinya tidak masalah dengan semua perhatiannya kepada Indhira.


" Maaf, Bu Kia. Saya berencana membawa Indhira mencari cincin untuk pernikahan kami, jadi nanti biar Indhira saya yang bawa pulang ke rumah Ibu Lusi."


Setelah fitting baju untuk akad, Bagas lalu meminta ijin kepada Azkia untuk membawa Indhira memilih cincin untuk pernikahan. Dia juga berjanji akan mengantar Indhira pulang ke rumah Lusiana.


" Oh ya sudah, tidak apa-apa. Tapi jangan terlalu malam, nanti Mama mertuaku ngomel-ngomel kalau pulangnya terlalu malam. Terus, kamu juga jangan macam-macam sama Indhira, ya!?" Azkia memberi ancaman kepada Bagas agar Bagas menjaga Indhira dan jangan sampai terjadi kembali kejadian masa muda mereka dulu.


" Siap, Bu! Itu tidak akan terjadi lagi, kecuali jika kami sudah menikah." Bagas menyeringai sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Benar begitu, kan, Ra?" tanyanya kini kepada Indhira.


Pertanyaan Bagas sontak membuat bola mata Indhira membulat. Terkadang dia kesal dengan ucapan dan sikap Bagas yang tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Bahkan dengan entengnya Bagas membicarakan hal tabu di hadapan Azkia, tanpa merasa jengah.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2