SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Parabotan Rumah Tangga


__ADS_3

Suara gaduh di luar rumah membuat Indhira yang berniat tidur siang merasa terganggu. Apalagi suara gaduh itu semakin jelas terdengar di teras rumah kontrakannya, membuat dirinya akhirnya memutuskan turun dari tempat tidur untuk melihat apa yang terjadi di luar rumah.


Tok tok tok


" Permisi ...!" suara sapaan seseorang terdengar dibarengi dengan suara ketukan pintu.


Indhira menyingkap gorden jendela melihat siapa yang datang berkunjung ke rumahnya Dia melihat dua orang pria berdiri di balik pintu rumah kontrakannya. Dia tidak mengenal siapa orang-orang itu. Dia juga melihat Ibu Zaenab, Bu Aswi dan Bu Odi juga beberapa anak-anak berkumpul di jalanan gang sempit depan rumahnya.


" Mereka itu siapa, ya?" Hati Indhira berdebar kencang. Dia takut jika orang itu adalah orang-orang suruhan Papa mertuanya yang akan datang untuk menyakitinya. Itulah pikiran buruk yang sekelebat hinggap di benaknya saat ini.


" Neng Indhira, ini ada tamu yang mau mengantar barang!" Terdengar suara Bu Aswi berseru saat melihat Indhira mengintip dari jendela, hingga akhirnya Indhira memberanikan diri untuk membuka pintu rumah itu.


" Ada apa, ya, Pak?" tanya Indhira ketika dia membuka pintu. Di belakang dua orang yang tak dikenalnya, warga di gang tempatnya tinggal mulai ramai berkumpul.


" Benar ini rumahnya Pak Bagaspati?" tanya salah satu orang itu kepada Indhira.


" Iya, benar, Pak. Saya istrinya. Ada apa, ya, Pak?" tanya Indhira masih bingung dengan orang-orang yang datang ke tempatnya. Apalagi kedatangan orang itu menyita perhatian warga sekitar.


" Mereka itu mau mengirim perabotan, Neng. Tuh, barang-barangnya masih di mobil! Banyak banget." Bu Zaebab menunjuk ke arah ujung gang.


" Bapak mau kirim barang ke saya?" tanya Indhira heran, karena dia atau Bagas pun tidak berkata apa-apa soal membeli perabotan.


" Benar, Mbak. Saya dari Lancar Jaya Elektronik." jawab pria yang ditanya Indhira tadi.


" Kalau saya dari Fortuna Meubel, Mbak. Kami ingin mengantar barang yang dikirim ke alamat ini," jawab satu orang lainnya.


" Tapi, saya tidak pesan apa-apa, Pak. Sebentar telepon suami saya dulu." Indira ingin masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya dan bertanya kepada Bagas, namun kedua orang itu menahan langkahnya.


" Mbak hanya tinggal terima saja, semua ini sudah dibayar, kok, Mbak." ujar karyawan toko elektronik.


" Sama, Mbak. Semua furniture yang saya kirim juga sudah lunas." Karyawan toko meubel pun mengatakan hal yang sama.


" Sudah dibayar? Memangnya siapa yang membayar, Pak? Kami tidak merasa membeli furniture atau elektronik, kok!" Indhira tetap keberatan menerima barang-barang yang dikirim ke tempatnya.


" Kalau fakturnya di sini tertulis pesanan atas nama Nyonya Angel dan disuruh ke alamat ini atas nama Pak Bagaspati," jelas karyawan toko elektronik.


" Mama?" Indhira terkesiap saat mengetahui Mama mertuanya lah yang membeli semua perabotan rumah tangga untuknya.


" Jadi bisa saya turunkan sekarang barang-barangnya, Mbak?" tanya karyawan toko meubel.


" Hmmm, i-iya sudah ... silahkan, Pak." Setelah mempersilahkan kedua orang karyawan dari dua toko berbeda itu menurunkan barang, Indhira masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya, karena dia merasa perlu menghubungi sang suami.


" Assalamuaikum, ada apa, Yank?" tanya Bagas saat sambungnya telepon mereka terhubung.


" Waalaikumsalam, Mas bisa pulang dulu, tidak?" tanya Indhira takut suaminya itu sedang repot.


" Lho, kenapa? Tadi 'kan aku baru pulang dari sana?" tanya Bagas heran. Karena waktu makan siang tadi dia pulang ke rumah, dan dia baru saja kembali sekitar setengah jam yang lalu ke kantornya.


" Mama beli perabotan furniture sama elektronik, Mas. Ini barang-barangnya diantar ke sini. Mas pulang lagi saja, aku tidak mengerti ini, Mas." Indhira memaksa sang suami untuk kembali ke rumah dan berkomunikasi langsung pada pegawai kedua toko itu.


" Ya sudah, aku pulang ke sana. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Indhira mengakhiri percakapannya via telepon dengan suaminya.

__ADS_1


" Bu, Sofanya tidak masuk ke dalam rumah. Pintu rumahnya terlalu kecil." Pegawai toko meubel dan beberapa anak buahnya tidak dapat memasukkan sofa karena terlalu sempit pintu rumah kontrakan Bagas.


" Mesti dilepas daun pintunya. Tapi, ini juga tidak tahu bisa masuk atau tidak," ujar karyawan toko meubel kembali.


" Mundur saja dulu, Bang. Biar kulkas ini yang masuk duluan." Karyawan toko elektronik meminta karyawan toko meubel untuk memberi jalan kepadanya terlebih dahulu. Meskipun di rumah Bagas sudah mempunyai kulkas, tetap saja Angel membelikan kulkas yang baru dan lebih besar ukurannya.


" Sabar, Bang. Mundur juga sudah mentok," jawab karyawan toko meubel.


" Lagian, rumah sempit, pakai beli barang-barang segede gaban," celetuk Bu Odi yang ikut menonton apa yang terjadi di rumah Bagas.


" Yeee, biarin saja, dong, Bu Odi! Yang penting beli cash, bukan kredit kayak Bu Odi. bayar mingguan, kadang juga nunggak!" sindir Bu Aswi terhadap tetangganya yang mulut usilnya cenderung dengki.


* Kredit juga saya tidak minta dibayarin situ!" Bu Odi langsung melenggang pergi.


" Yeee, bolehnya sirik!" sindir Bu Aswi kembali.


" Sudah jangan ribut, Bu Aswi! Malu dilihat yang lain!" tegur Bu Zaenab mengingatkan agar Bu Aswi tidak memancing keributan dengan tetangganya itu.


" Habisnya kesal kalau dengar dia bicara, Bu Zaebab. Sepertinya tidak senang lihat orang lain bahagia," ungkap Bu Aswi meyebutkan alasan yang membuatnya kesal.


" Mbak, Pak Bagasnya masih lama tidak? Karena kami harus kembali ke toko dan mengantar pesanan ke tempat lainnya," ujar karwayan meubeul itu.


" Sebentar, kok, Pak. Suami saya kerja di hotel depan itu." Indhira meminta pengertian orang-orang itu untuk menunggu beberapa menit saja.


Lima menit kemudian, Bagas tiba juga di rumahnya.


" Gimana, Pak? Saya Bagas, siapa yang membeli perabotan ini?" tanya Bagas saat berhadapan dengan kedua pegawai toko meubel dan toko elektronik itu.


" Di faktur ini atas nama Nyonya Angel, tapi diminta diantar di alamat ini, Mas." jawab salah satu karyawan itu.


" Ini sepertinya tidak masuk ke dalam ruangan, Pak. Terlalu sempit pintu ruangannya. Seandainya dilepas daun pintunya juga tidak bisa masuk," ujar karyawan meubel menerangkan kendala yang dihadapinya.


" Coba lihat dulu barang yang bisa masuk ke dalam apa saja?" Bagas ingin tahu barang-barang apa saja yang bisa masuk ke dalam rumahnya itu.


" Waduh, ini dikeluarkan lagi dari sini juga repot, Mas. Gerbangnya sempit, tadi saja sampai diangkat ke atas," keluh karyawan toko meubel itu.


" Waktu kami jadi terhambat, Mas. Pekerjaan saya di toko mengantar barang masih banyak. Sebaiknya kalau mau pesan barang lihat dulu kondisi rumahnya dululah, jadi tidak membuang waktu seperti ini." Karyawan toko meubel itu menggerutu sebab merasa pekerjaan mereka terhambat karena mengantar ke tempat Bagas belum selesai apalagi ada barang yang tidak dapat dimasukan ke dalam ruangan, dan itu dia perkirakan akan memakan banyak waktu.


" Maaf, Pak. Bukan saya yang pesan perabotan ini. Kalau memang Bapak merasa keberatan karena waktu Bapak terhambat, sebaiknya Bapak bawa pulang lagi saja dan bawa perabotan ini!" geram Bagas, merasa tersinggung dengan ucapan karyawan tadi.


" Mas ..." Indhira mencoba menenangkan suaminya dengan mengusap lengan Bagas.


" Berapa orang semuanya yang mengantar barang saya? Saya bisa kasih kalian uang satu orang satu juta sambil menunggu di mana barang-barang ini akan disimpan. Yang mau membantu saya silahkan menunggu, kalau tidak bersedia, silahkan angkut kembali perabotannya!" tegas Bagas mengambil dompet dari saku celananya.


Ucapan Bagas sontak membuat semua yang mendengar tercengang. Tentu saja tawaran Bagas yang menggiurkan yang menjadi penyebabnya.


Bukan hanya pegawai kedua toko itu yang kaget, para tetangga pun langsung berbisik mendengar Bagas akan membagi-bagikan uang jutaan rupiah pada pegawai toko meubel dan elektronik itu. Begitu juga dengan Indhira, dia hanya menggelengkan kepala melihat aksi sang suami yang menghamburkan uang dengan mudah. Tapi, dia tidak bisa memproses keputusan suaminya, karena saat ini Bagas terlihat sedang kesal dengan ucapan karyawan toko meubel tadi.


" Saya dua orang, Mas. Saya bersedia menunggu." Karyawan toko meubel menyetujui apa yang ditawarkan oleh Bagas. Tentu saja mendapat uang tip sejumlah satu juta rupiah yang akan diterima perorang sungguh sangat menggiurkan bagi mereka.


" Maafkan kata-kata saya tadi, Mas. Kalau memang Mas membutuhkan waktu untuk mencari tempat, kami bersedia menunggu, Mas. Saya semuanya tiga orang, Mas." Karyawan meubel juga langsung menyampaikan permintaan maafnya, dan bersedia mengikuti arahan Bagas.


Bagas langsung menghitung uang di dalam dompetnya, namun ternyata cuma ada tiga juta dua ratus ribu rupiah.

__ADS_1


" Ada yang punya rekening bank? Saya hanya punya tiga juta, yang punya rekening tabungan nanti saya transfer saja uangnya." Bagas tidak ingin susah payah mengambil kekurangannya di mesin ATM.


" Saya ada, Pak." Kedua karyawan toko berbeda itu menjawab serentak.


" Ya sudah, ini uang tiga juta, sisanya saya transfer setelah pekerjaan selesai." Bagas menyodorkan uang yang sudah dijanjikannya itu kepada karyawan toko meubel dan elektronik.


" Baik, Pak. Terima kasih ..." sahut kedua orang itu bersamaan.


" Ya ampun, Mas Bagas baik banget, bagi-bagi uang ke orang. Kami kebagian tidak, Mas?" celetuk Bu Zaenab seraya terkekeh.


" Wah, dompet saya sisa dua ratus ribu ini, Bu. Lain kali kalau ada rejeki saya bagi, ya, Bu!?" Bagas menyahuti seraya melebarkan senyuman.


Bagas masih bersikap seperti dulu, menganggap semua akan beres dengan uang. Dia lupa jika sekarang ini dia tidak semudah dulu untuk mendapatkan yang. Dulu isi dompetnya tebal dengan uang dan juga beberapa kartu debit berisi saldo ratusan milyar rupiah. Saat ini isi rekening saldonya hanya puluhan juta saja.


" Kami bercanda, kok, Mas. Tapi kalau beneran mau dikasih Alhamdulillah ..." Bu Zaenab kembali menyahuti.


" Silahkan Bapak-bapak atur saja mana yang bisa masuk ke dalam dulu." Setelah memberi perintah, orang-orang yang mengantar perabotan itu pun mulai memasukan satu persatu perabotan ke dalam rumah kontrakan Bagas. Sementara perabotan yang tidak masuk diletakan di luar, karena Bagas sudah minta bantuan Damar, untuk menyewa tempat untuk menaruh perabotannya itu.


***


Angel keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe berwarna matcha setelah selesai membersihkan tubuhnya, ketika tiba-tiba bunyi teleponnya berbunyi.


Ddrrtt ddrrtt


Angel segera menghampiri ponsel yang dia letakan di atas nakas dekat tempat tidurnya. Dia melihat nomer telepon Bagas yang muncul di layar teleponnya saat ini. Angel sengaja tidak menyimpan nomer HP Bagas yang baru di ponselnya, karena dia takut ketahuan sang suami. Namun, dia menyimpan nomer Bagas itu dalam ingatannya sehingga dia hapal nomer ponsel anaknya itu di luar kepala.


" Bagas?" Angel melirik ke arah jam dinding yang baru menunjukkan jam empat lebih lima belas menit. Dia tahu, saat ini belum masuk jadwal jam pulang suaminya dari kantor, sehingga dia merasa cukup aman berkomukasi dengan putranya saat ini.


" Halo, Bagas?" Dengan cepat Angel mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Ma, kenapa Mama membeli perabotan banyak-banyak dikirim ke tempatku? Rumah kontrakan aku ini kecil, banyak barang yang tidak masuk ke dalam rumah terpaksa aku ungsikan di tempat lain." Bagas mempermasalahkan Mamanya yang membeli banyak perabotan tanpa sepengetahuannya.


" Bagas, rumah kamu kosong tidak ada parabotan, memalukan saja! Kalau ada teman dari kantor kamu datang berkunjung bagaimana? Ruang tamu tidak ada sofa, tamu disuruh duduk di bawah, tidak menghargai tamu sama sekali." Angel menggerutu mengomentari tempat tinggal Bagas.


" Ma, kami tinggal di sini hanya sementara waktu. Paling dua bulanan lagi sampai renovasi rumah kami selesai juga kami akan pindah ke rumah baru. Kami tidak membeli barang karena tidak ingin repot saat pindah nanti." Bagas menjelaskan kenapa dia tidak ingin mengisi rumah kontrakannya dengan banyak perabotan.


" Ya sudah biarkan saja, nanti kalau kalian pindah rumah, tinggal dibawa saja perabotannya ke rumah baru. Sewa orang untuk angkut barangnya. Memangnya kamu tidak malu sama tetangga sekitar kamu? Kerja di hotel, punya jabatan enak tapi mengontrak di rumah bergang sempit. Sudah begitu tidak ada isinya lagi ..." keluh Angel masih tetap dengan pendapatnya.


" Ma, Bagas mengerti niat Mama baik, tapi Mama juga harus ingat kondisi Bagas saat ini tidak seperti dulu. Kami sedang belajar hidup prihatin, termasuk dalam mengatur keuangan rumah tangga kami. Mama tidak usah khawatir, meskipun kami belajar hidup prihatin tapi aku dan Indhira insya Allah tidak akan hidup sengsara, kok, Ma." Bagas mencoba meyakinkan sang Mama untuk tidak terus ikut campur dalam urusan rumah tangganya, meskipun hanya dengan membelikan beberapa perabotan rumah tangga.


" Bagas, Mama itu sayang sama kamu. Mama khawatir ...."


" Ma, percaya sama aku, walaupun aku dan Indhira di sini, tinggal di rumah sempit ini, tapi kami bahagia, tidak ada yang perlu Mama cemaskan. Dan aku tidak mempermasalahkan orang akan berkata apa tentang kondisi aku saat ini. Aku tidak meminta makan dari mereka, aku tidak menyusahkan mereka, untuk apa memperdulikan mulut-mulut orang yang usil?" sahut Bagas.


" Angel, kamu bicara dengan siapa?" Suara Adibrata tiba-tiba terdengar di dalam kamar, membuat Angel terkesiap menyadari kehadiran sang suami disaat dia sedang menerima telepon dari anaknya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2