SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Menemukan Indhira


__ADS_3

Bagas memandang foto masa lalu Indhira yang dijadikan foto profil aplikasi chatting wanita itu. Sejak tadi dia mencoba menghubungi Indhira, namun panggilan teleponnya tidak juga diangkat oleh Indhira.


" Kenapa tidak dia angkat? Apa dia hapal nomer teleponku, jadi dia tidak mau mengangkatnya?" Bagas mengira jika Indhira sudah hapal nomernya yang kemarin menghubungi Indhira tanpa berbicara.


Bagas tersenyum seraya mengusap foto masa kecil Indhira. " Aku sungguh merindukanmu, Ra." ucapnya kemudian.


Ddrrtt ddrrtt


Bagas tekesiap saat ponsel yang dia pegang tiba-tiba berbunyi. Dan nama Evelyn lah yang muncul di layar ponselnya saat ini.


" Halo?" Bagas lalu mengangkat panggilan telepon Evelyn padanya.


" Halo, Bagas. Besok aku kembali dari Seoul. Apa kita bertemu besok?" Evelyn mengabarkan jika akan pulang ke Jakarta, dan sepertinya Evelyn tidak sabar ingin bertemu dengannya.


" Baiklah, nanti kabari saja jika kamu sudah sampai di Jakarta, Evelyn." sahut Bagas.


" Apa kamu akan menjemputku di bandara?" tanya Evelyn kemudian.


" Jam berapa kamu akan tiba di Jakarta?" tanya Bagas kemudian.


" Sekitar jam delapan malam. Belum terlalu malam untuk kita bertemu, kan?" tanya Evelyn.


" Sebaiknya nanti saja, Evelyn. Kamu pasti akan lelah tujuh jam lebih melakukan perjalanan udara. Sebaiknya kamu istirahat saja. Lusa sore saja kita bertemu." Menyadari apa yang ingin dibicarakan bukan hal yang menyenangkan bagi Evelyn, Bagas menolak permintaan Evelyn yang memintanya bertemu besok.


" Kamu tidak ingin menjemput calon istrimu, Bagas?" Nada bicara Evelyn terdengar kecewa.


Bagas diam beberapa saat. Jika bertemu dengan Evelyn, wanita itu pasti akan mendesak dirinya untuk mengatakan apa yang ingin disampaikannya kepada Evelyn.


" Memangnya kamu tidak bersama ipar kamu kembali ke Jakarta?" Bagas berpikir ada saudara ipar yang menemani Evelyn kembali ke Jakarta, jadi dia merasa tidak masalah jika tidak menjemput Evelyn.


" Aku pulang sendirian, Bagas. Saudara iparku besok langsung kembali ke Amerika." Evelyn mejelaskan jika dia tidak ditemani siapa-siapa pulang ke Jakarta.


" Ya sudah, nanti aku jemput kamu." Akhirnya Bagas menyetujui menjemput Evelyn, karena dia merasa tidak tega membiarkan Evelyn pulang sendirian dari bandara.


" Terima kasih, Bagas." Nada bicara Evelyn kali ini terdengar lebih ceria dibandingkan sebelumnya.


" Apa kamu tidak merindukanku, Bagas?" tanya Evelyn kemudian.


Bagas melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pu kul 22.24 menit. Beda waktu dua jam lebih cepat di Seoul, dia menduga saat ini di sana sudah menunjukkan waktu jam 00.24 dini hari.


" Sebaiknya kamu istirahat, Evelyn. Di sana sekarang sudah dini hari, kan?" Bagas menyuruh Evelyn segera istirahat agar wanita itu tidak menanyakan perasaan yang dia rasakan kepada Evelyn.


" Tapi aku belum mengantuk, Bagas. Makanya aku menelepon kamu." Beralaskan susah tidur, Evelyn menjawab pertanyaan Bagas.


" Besok kamu akan melakukan perjalanan jauh, Evelyn, sebaiknya kamu beristirahat!" Bagas memaksa Evelyn untuk beristirahat agar dia segera mengakhiri percakapan telepon dengan Evelyn secepatnya.


" Iya, iya, aku tidur. Kita jumpa besok malam, ya! Bye ...."


Setelah Evelyn memutuskan sambungan teleponnya, Bagas pun segera meletakkan ponselnya itu di atas nakas. Dia lalu merebahkan tubuhnya dengan satu tangan melipat menjadi bantalan kepalanya dan satu tangannya lagi melipat di atas perutnya.


Sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk segera mengakhiri ikatan pertunangan dengan Evelyn secepatnya dan segera menemukan Indhira. Bagas sudah menyuruh seseorang untuk melacak keberaan Indhira saat ini. Karena dia tidak sabar jika harus menunggu sampai satu bulan ke depan saat Indhira berziarah kembali ke makam orang tua wanita itu.


***


Sementara itu di La Grande Caffe saat Caffe akan tutup. Fero mengumpulkan para pegawai cafe itu sebelum mereka pulang, atas permintaan Raffasya dan Azkia.


" Saya hanya menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Pak Raffa dan juga Ibu Kia. Agar kalian tidak membicarakan atau memperbesar masalah yang terjadi pada Indhira tadi." Fero yakin pegawainya pasti bertanya-tanya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Indhira, termasuk penyebabnya. Karena itu Raffasya dan Azkia menyuruhnya untuk menghandle situasi di cafe, agar masalah ini tidak sampai berlarut-larut dan menjadi gosip yang berkembang di La Grande yang ujungnya akan menyudutkan Indhira.


" Mungkin sebagian kalian sudah mendengar apa yang terjadi dengan Indhira tadi. Namun, kalian tidak mengetahui masalah yang sebenarnya itu seperti apa!? Karena itu atas permintaan Pak bos dan Ibu bos kalian. Sebaiknya kalian tidak mengunjingkan hal ini dengan sesama rekan kerja. Dan jangan mengungkit tentang hal ini lagi di depan Indhira." Fero menyampaikan keinginan bosnya itu.


" Masalah yang terjadi tadi cukup hanya diketahui oleh kalian yang bertugas di sift malam. Usahakan hal ini tidak didengar oleh rekan kalian yang bertugas di sfit pagi! Karena akan ada sanksi tegas bagi kalian yang melanggar. Apa kalian mengerti?!" Fero pun memperingatkan agar para pegawainya menutup mulut rapat-rapat dan tidak menyebarkan hal ini sebagai gosip.


" Mengerti, Pak!" sahut pegawai cafe serentak.

__ADS_1


" Jangan hanya karena kalian merasa kepo, lalu kalian melupakan jika Indhira adalah salah satu karyawan yang selalu bekerja baik di sini dan senang menolong sesama rekannya." Fero pun mengingatkan agar rekan-rekan Indhira ingat jika Indhira adalah pegawai yang senang membantu rekannya tanpa pernah mengeluh.


" Iya, Pak!" sahut pegawai cafe lagi tanpa ada protes.


Kedekatan Indhira dengan keluarga Raffasya dan Azkia memang bukan rahasia umum di antara pegawai cafe itu. Bahkan, riwayat Indhira sampai bisa bekerja di cafe pun mereka tahu. Namun, karena sikap Indhira yang selalu ringan tangan dan rendah hati, dan tidak memanfaatkan keakrabannya dengan keluarga bos mereka, membuat pegawai yang lain memaklumi dan tidak sampai menimbulkan rasa iri apalagi dengki.


***


Indhira mengerjapkan mata saat terdegar alunan adzan shubuh berkumandang di telinganya. Namun, Indhira merasakan jika kelopak matanya terasa sulit untuk dibuka. Mungkin itu karena semalaman dia terlalu lama menangis.


Indhira juga berusaha mengangkat tubuhnya bangkit dari tempat tidur. Akan tetapi kepalanya terasa berat. Bahkan, dia merasakan apa yang ada di sekitarnya berputar-putar, sehingga membuat Indhira menghempaskan kembali tubuhnya di atas tempat tidur dengan memijat pelipisnya.


Menunggu sampai lima belas menit kemudian, dia merasakan sakit kelapanya tak juga mereda. Tubuhnya pun merasa tidak karuan. Namun, dia sadar jika dia harus tetap melaksanakan ibadahnya. Sehingga Indhira memaksakan diri untuk keluar dari kamar yang ditempatinya dengan berjalan perlahan dan berpegangan pada dinding, agar dia bisa bersandar jika dia tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya.


" Indhira, kamu sudah bangun? Kamu mau ke mana?" Ibu Lidya yang baru keluar dari kamarnya langsung menghampiri Indhira yang berjalan tertatih berpegangan pada teralis tangga.


" Kamu mau ke mana, Indhira?" tanya Ibu Lidya kembali. Membantu Indhira turun dari tangga.


" Badan kamu panas, Indhira. Kalau tidak enak badan sebaiknya kamu istirahat saja di kamar." Saat tangannya menyentuh lengan Indhira, dia merasakan suhu tubuh Indhira menghangat.


" Saya mau ambil air wudhu, Tante. Ini hanya sedikit pusing saja," sahut Indhira dengan suara parau.


" Ya sudah, ayo Tante antar ke kamar mandi." Ibu Lidya menuntun Indhira turun menuju kamar mandi.


" Terima kasih, Tante. Maaf saya selalu merepotkan Tante." Entah bagaimana Indhira bisa membalas kebaikan Tante Lidya dan Om Edwin yang sudah sejak lama dia rasakan.


" Jangan sungkan-sungkan sama Tante, Indhira. Tante sudah menganggap kamu seperti keluarga sendiri," sahut Ibu Lidya yang selalu bersikap baik kepada Indhira karena wanita paruh baya itu merasa prihatin atas penderitaan yang dirasakan Indhira selama ini.


Setelah melaksanakan ibadah dua rakaatnya, Indhira memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Beberapa jam kemudian ...


" Ra, kamu tidak apa-apa?"


" Rissa?" Indhira mencoba bangit mengangkat tubuhnya dan terduduk. Seketika itu juga Rissa langsung memeluk tubuh Indhira..


" Ya Allah, Ra." Rissa prihatin melihat wajah sedih Indhira dengan mata sembabnya karena semalaman terus menangis.


" Ris, kenapa mereka tega melakukan hal itu kepadaku, Ris?" Dalam pelukan Rissa, Indhira kembali menangis seraya mengeluhkan perbuatan orang-orang yang mengusiknya.


" Aku tidak pernah mengganggu mereka. Aku juga tidak mengenal siapa mereka. Tapi kenapa mereka berbuat seperti itu kepadaku, Ris? Apa karena kesalahan di masa laluku, aku tidak berhak hidup tenang, Ris? Hiks ...."


" Kamu yang sabar ya, Ra! Kamu jangan berkecil hati! Banyak orang yang sayang kamu. Mas Adam juga bilang kalau Pak Raffa sama Ibu Kia tidak menyalahkan kamu." Rissa mencoba menyemangati Indhira agar tidak berkecil hati dan rendah diri.


" Aku tidak tahu, Ris. Aku malu bertemu teman-teman di sana." Indhira terus menangis jika mengingat kejadian semalam.


Rissa mengusap punggung Indhira. Dia memang tidak bisa menjamin rekan-rekan Indhira di cafe tidak akan membicarakan masalah yang dihadapi Indhira. Apalagi hal itu merupakan aib yang sangat memalukan. Rissa memang belum tahu jika Raffasya dan Azkia sudah bertindak cepat untuk melindungi Indhira.


" Kamu Bismillah saja, Ra. Kamu rajin beribadah, aku yakin Allah SWT pasti akan melindungi kamu. Yang penting selama ini kamu sudah berusaha menjalani hidup sebaik mungkin dan berbuat baik kepada orang lain." Mungkin hanya nasehat dan dukungan yang bisa Rissa berikan untuk menaikkan rasa percaya diri Indhira yang saat ini benar-benar sedang terpuruk.


" Mas Adam bilang, sementara waktu kamu istirahat di rumah saja dulu untuk menenangkan hati dan pikiran kamu, Ra." Rissa menjelaskan apa yang diputuskan oleh Raffasya sebagai pemilik La Grande Caffe.


" Apa aku dipecat dari sana, Ris?" Indhira menanyakan nasibnya di cafe itu.


" Tidak, Ra! Mas Adam cerita ke aku, kalau Pak Raffa sama Bu Kia tidak akan memecat kamu. Kamu masih akan tetap bekerja di sana, kok!" Rissa menjelaskan agar Indhira tidak cemas dan merasa takut akan diberhentikan dari pekerjaannya saat ini.


" Tapi aku malu bertemu mereka, Ris." cemas Indhira. Dia tidak tahu apakah dia sanggup bertemu dengan kedua bosnya itu.


" Ra, mereka memahami apa yang sedang kamu alami.." Rissa menjelaskan bagaimana respon Raffasya dan Azkia terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh Indhira. " Sekarang ini yang terpenting kamu mennenangkan pikiran saja dulu, Ra. Jangan terlalu dipikirkan orang yang berbuat jahat terhadapmu. Biarkan mereka-mereka itu nanti akan mendapatkan balasan atas apa yang mereka perbuat terhadap kamu." Rissa juga menyarankan Indhira untuk tidak memikirkan orang-orang yang berniat menjatuhkan mental Indhira


***


Atas janjinya kepada Evelyn, malam ini Bagas menjemput Evelyn di bandara. Tepat jam delapan malam, mobil Bagas yang menjemput Evelyn sudah meninggalkan bandara Soekarno - Hatta.

__ADS_1


" Sebaiknya kita mampir ke coffee shop dulu, Bagas. Kamu bilang, kamu ingin bicara denganku, kan?" Evelyn tidak sabar ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh Bagas kepadanya.


" Kamu pasti lelah, Evelyn. Sebaiknya nanti saja." Bagas tidak tega menyampaikan niatnya kepada Evelyn sekarang, karena Evelyn masih merasa lelah sehabis pulang dari Korea.


" Aku tidak apa-apa kok, Bagas. Lagipula aku di pesawat tadi sudah cukup istirahat, kok!" Evelyn tetap memaksa Bagas untuk berkunjung ke coffee shop dan membicarakan apa yang ingin disampaikan Bagas.


Bagas mendengus, dia tidak dapat menolak permintaan Evelyn yang memaksanya untuk pergi ke cafe.


" Ya sudah, tapi tidak lama, ya!?" Akhirnya Bagas pun menyetujui permintaan Evelyn.


" Kita ke cafe itu saja, Bagas!" Evelyn menunjuk La Grande Caffe yang berada di sebelah kiri jalan yang mereka lintasi.


Bagas pun akhirnya memarkirkan mobilnya di cafe yang menjadi tempat Indhira bekerja belakangan ini.


" Selamat malam, Mas, Mbak. Silahkan ..." Nena saat itu melihat kehadiran Bagas dan Evelyn langsung menghampiri dan menyerahkan daftar menu pada kedua tamu cafe itu.


" Aku pesan buttermilk waffle sama caramel macchiato, Mbak." Evelyn menyebutkan menu makanan yang dia pesan. " Kamu pesan apa, Bagas?" tanya Evelyn kemudian.


" Aku caffee latte saja." Bagas hanya memesan minuman saja.


" Kamu tidak pesan makanan?" tanya Evelyn karena Bagas hanya memesan menu beverages saja.


" Aku masih kenyang," sahut Bagas.


" Itu saja pesanannya, Mbak." Setelah mendengar jawaban Bagas, Evelyn berkata pada waitress yang melayaninya.


" Baik, Mbak. Saya ulang pesanannya, ya!? Satu porsi buttermilk waffle, satu caramel macchiato sama satu Cafffe latte. Ada tambahan lain?" tanya Nena untuk memastikan pesanannya tidak ada yang terlewat.


" Sudah itu saja cukup," jawab Evelyn.


" Baik, Mbak. Mohon ditunggu sebentar. Permisi ..." Setelah selesai mencatat menu pesanan Evelyn dan Bagas, Nena langsung meninggalkan mereka berdua.


" Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan, Bagas?" Evelyn menanyakan perihal yang ingin dibicarakan Bagas dengannya sejak sehari yang lalu.


Bagas menatap manik mata indah Evelyn. Dia ragu jika Evelyn akan baik-baik saja dan menerima keputusannya.


" Apa yang ingin aku sampaikan bukan hal yang menggembirakan untuk kamu, Evelyn. Aku rasa tidak tepat mengatakan hal ini sekarang di saat tubuhmu masih penat setelah perjalanan jauh," ujar Bagas kemudian.


" Sebenarnya ada apa, Bagas? Kau membuatku penasaran saja." Kata-kata Bagas membuat Evelyn semakin penasaran. Apalagi Bagas menyebutkan jika yang akan dikatakan bukan hal menyenangkan. Tentu saja dia semakin penasaran.


Bagas tidak langsung menjawab. Dia membayangkan jika Evelyn tiba-tiba akan menangis setelah dia sampaikan niatnya ingin mengakhiri pertunangan mereka.


" Bagas, ayolah! Jangan membuatku mati penasaran seperti ini!" Evelyn memaksa Bagas untuk segera mengatakan hal yang tidak menyenangkan itu secepatnya.


" Apa kamu yakin siap menerima hal pahit yang ingin aku katakan?" tanya Bagas memastikan.


" Ayolah, Bagas!" Evelyn bahkan mengguncang lengan Bagas agar pria itu mau mengatakan sejujurnya.


" Aku sudah menemukan Indhira," ungkap Bagas.


Evelyn tersentak bahkan sampai menjauhkan tangannya dari tangan Bagas saat mendengar perkataan Bagas yang membuatnya benar-benar terkejut.


" Kamu sudah menemukan Indhira?" Evelyn merubah peryataan Bagas tadi menjadi kalimat pertanyaan yang ditujukan kepada Bagas untuk meyakinkan jika pendengarannya tidaklah salah.


Bagas menghempas nafas perlahan sebelum menjawab dengan kata, " Iya."


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2