SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Bertemu Kembali Dengan Sang Penolong


__ADS_3

Dua tahun kemudian


Sejak kedatangan Bagas kala itu ke rumah Rissa dan tak mendapatkan informasi yang diinginkan oleh pria itu, Bagas tidak pernah lagi datang ke rumah Rissa. Bagas juga memutuskan berhenti berharap akan menemukan Indhira. Baginya Indhira bak ditelan bumi, menghilang tanpa kabar.


Bagas kini benar-benar memfokuskan diri mengelola perusahaan milik Papanya, hingga dalam kurun waktu dua tahun, perusahaan milik Adibrata itu semakin maju dan berkembang pesat.


Di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, tuntutan untuk segera berumah tangga terus gencar dilakukan oleh Adibrata dan juga Angel. Hingga akhirnya kedua orang tua Bagas itu memutuskan untuk menggelar perjodohan antara Bagas dan Evelyn.


Awalnya Bagas keberatan dengan keputusan kedua orang tuanya itu karena dia merasa belum siap untuk membuka hati untuk wanita lain, meskipun wanita lain itu adalah Evelyn, orang yang dia kenal baik. Namun, karena kedua orang tuanya terus mendesak dan Bagas pun merasa percuma menunggu keajaiban dapat bertemu kembali dengan Indhira kembali, akhirnya Bagas pun menerima keputusan perjodohan itu.


Hari ini acara pertunangan Bagas dan Evelyn digelar di sebuah ballroom hotel bintang lima di Jakarta. Acara pertunangan itu berjalan sangat meriah dan mewah, tentu saja karena acara itu digelar oleh dua orang pengusaha kaya raya dan sangat terkenal. Tak hanya para eksekutif yang hadir dalam acara pertunangan itu. Para petinggi-petinggi negara dan beberapa selebriti pun banyak yang hadir memenuhi undangan Adibrata dan juga Nathael. Karena Angel banyak mempunyai kenalan orang-orang entertainment.


Adibrata tentu saja senang, selama delapan tahun berhasil mengendalikan Bagas sesuai dengan keinginannya. Ketakutannya Bagas akan jatuh ke tangan wanita yang salah yang hanya menginginkan mengeruk kekayaan milik miliknya tidak sampai terjadi.


Raut bahagia terpancar di wajah Evelyn. Tentu saja dia merasa bahagia, karena akhirnya Bagas bisa menerima perjodohan dengan dirinya hingga acara pertunangan ini terlaksana. Di antara pria-pria yang dia sukai, Bagas adalah pria yang sulit ditaklukan walaupun mudah dia dekati. Evelyn bersyukur, kesabarannya dalam menghadapi sikap Bagas berbuah manis dengan diadakannya pesta pertunangan mereka.


Sepanjang acara tak henti Evelyn melebarkan senyuman, berbeda dengan Bagas yang terlihat datar. Bagas terpaksa menerima pertunangan itu hanya karena dia frustasi tak juga menemukan informasi soal Indhira, sehingga akhirnya memutuskan menutup kisah masa lalunya itu, dan mencoba menjalani hidup baru meskipun tak sesuai dengan keinginannya.


Bagas tahu, sejak awal Evelyn menyukainya, dan wanita itu tak pernah lelah berusaha mendekatinya. Bahkan rahasia yang merupakan aib masa lalunya pun tidak melunturkan usaha Evelyn untuk dapat masuk ke dalam kehidupannya. Sehingga Bagas berpikir tidak ada salahnya dia menerima keputusan Adibrata, karena dia tidak ingin lagi menyakiti hati wanita dengan menolak Evelyn.


" Aku senang, Bagas. Akhirnya acara pertunangan kita berjalan lancar." Evelyn duduk melepas heels nya. Beberapa jam dia berdiri dan berkeliling menghampiri para tamu membuat kakinya terasa pegal. Namun, karena rasa bahagia karena pertunangannya bersama Bagas seolah menutupi rasa pegal dan lelahnya.


" Kenapa kakimu?" tanya Bagas melihat Evelyn memijat betisnya.


" Rasanya pegal sekali sejak tadi berdiri memakai heels." Evelyn menyebutkan alasannya memijat kakinya.


" Mana sini kulihat!?" Bagas menarik kursi dan duduk di depan Evelyn lalu mengangkat kaki Evelyn lalu meletakkan di pangkuannya. Perlahan Bagas melakukan pijatan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh Evelyn. Meskipun dia belum bisa mencintai Evelyn dan sejak tadi memasang wajah datar, bukan berarti dia tidak perduli kepada orang lain termasuk Evelyn.


" Pelab-pelan saja pijatnya, Bagas!" protes Evelyn sedikit meringis.


" Kalau pelan bukan dipijat namanya, tapi dibelai!" sindir Bagas menanggapi protes dari Evelyn.


Evelyn terkekeh mendengar jawaban Bagas. Dia terus menatap wajah Bagas yang terlihat serius memijat betisnya. Dia tidak menyangka jika pria itu selangkah lagi akan menjadi miliknya.


" Kamu kenapa, Evelyn?" tanya Adibrata yang menghampiri Bagas dan Evelyn.


" Kakiku pegal, Om. Gara-gara berdiri terlalu lama menggunakan heels." Evelyn menyebutkan alasan kenapa Bagas memijat kakinya.


" Hati-hati memijatnya, Bagas! Jangan sampai kamu membuat kaki Evelyn semakin sakit!" Adibrata memperingatkan Bagas agar tidak menyakiti kaki Evelyn.


" Tidak kok, Om! Ini agak enakan kakiku karena dipijat oleh Bagas." Evelyn yang menjawab ucapan Adibrata.


" Ada apa ini? Kenapa kakimu, Eva?" Kali ini Nathael yang mendekat dan bertanya.


" Bagas memijat kaki Eva yang pegal, Dad." Evelyn kini menjelaskan kepada Daddy nya apa yang dilakukan Bagas terhadapnya.


" Wah, beruntung sekali kamu mendapatkan calon suami seperti Bagas, Eva. Dia begitu perhatian merawatmu." Nathael menyanjung sikap Bagas terhadap putrinya.


" Tentu saja, El. Dia anakku! Tidak salah aku menjodohkan dia dengan anakmu, kan?" Mendengar sanjungan dari sahabatnya terhadap Bagas, dengan cepat Adibrata merespon dengan bangga.


" Hahaha, kau benar, Di. Kalau begini aku benar-benar tenang, karena Eva mendapatkan pria yang tepat untuknya." Nathael melingkarkan tangannya menepuk pundak Adibrata seraya tertawa kecil yang disambut tawa Adibrata dan senyum tersipu Evelyn.


Hanya Bagas yang tidak melakukan hal yang sama dengan ketiga orang di dekatnya itu. Bagas kini melirik Papa dan sahabat Papanya yang terlihat tertawa senang. Setelah itu dia melirik ke arah Evelyn yang wajahnya kini merona. Mungkin di antara mereka hanya dia saja yang perasaan hatinya sangat berbeda.


" Tuan Adibrata, Tuan Nathael, sekali lagi selamat atas pertunangan putra putri kalian." Seorang pria seumuran Adibrata dan Nathael tiba-tiba menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.


" Oh, Tuan Gavin. Terima kasih banyak." Adibrata menyahuti perkataan Gavin lalu menerima jabat tangan Gavin.


" Semoga pelayanan hotel kami di acara engagement party tadi tidak mengecewakan Anda, Tuan." Gavin selaku pemilik hotel tempat dilaksanakannya pesta pertunangan Bagas dan Evelyn berharap semua pelayanan yang diberikan oleh staf di hotelnya tidak mengecewakan pihak keluarga Adibrata dan Nathael.


" Oh, tidak, Tuan Gavin. Kami justru sangat puas dengan pelayanan di sini. Semoga wedding party nanti juga kami bisa adakan di tempat ini lagi." Adibrata merencanakan tempat yang sama untuk menggelar acara pernikahan Bagas dan Evelyn nanti.


" Silahkan, Tuan. Dengan senang hati saya menerima. Saya akan memberikan harga istimewa untuk Anda sebagai pelanggan setia hotel saya ini, Tuan Adibrata." sahut Gavin menanggapi rencana Adibrata yang akan menggelar acara pernikahan di hotelnya nanti.

__ADS_1


Sementara di La Grande, Indhira pun mulai menikmati pekerjaan selama dua tahun ini. Semakin banyak pengunjung yang tertarik bahkan menjadi sering datang ke cafe itu karena kehadiran waitress secantik Indhira yang lebih cocok berprofesi sebagai model. Bahkan pernah juga ada orang dari agen modelling yang menawari Indhira untuk menjadi modelnya. Namun, tentu saja Indhira tolak, karena dia tidak ingin orang lain mengenalinya sebagai pelaku di video yang pernah viral itu. Meski begitu Indhira tetap ramah melayani para tamu yang datang menyapanya, walau dia juga harus menjaga sikap agar mereka tidak sampai merendahkan pekerjaannya.


***


Hari ini La Grande punya acara. Bos mereka akan merayakan wedding anniversary nya yang ke sepuluh di cafe itu. Tentu saja para pegawai cafe sibuk mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan nanti malam.


Indhira yang hari ini kebagian kerja sift pagi pasti akan pulang agak malam karena semua karyawan akan berkumpul untuk ikut merayakan ulang tahun pernikahan Raffasya dan Azkia.


Pengunjung cafe hari ini pun sejak pagi cukup membludak, karena cafe memberikan discount lima puluh persen di hari spesial ulang tahun pernikahan Raffasya dan Azkia kali ini.


" Huft ..." Indhira menghempas nafas seraya duduk di kursi dapur. Dia lalu meneguk air mineral yang tadi diambilnya dari dispenser.


" Hari ini sibuk banget ya, Ra!?" Hanna, salah satu rekan Indhira di cafe itu berkata kepada Indhira.


" Iya, Mbak Hanna. Lumayan bikin pegal bolak-balik melayani tamu." Indhira menyahuti seraya mengerakkan badannya ke kanan dan ke kiri.


" Untung harga discount hanya sampai jam lima saja. Kalau sampai malam, bisa-bisa loyo kita. Padahal nanti malam ada acaranya pak bos!" keluh Hanna yang merasakan kesibukan yang sama seperti Indhira.


" Tapi ini weekend, Mbak. Tanpa spesial price juga cafe tetap ramai, kok!" La Grande Caffe memang selalu ramai dikunjungi orang yang ingin makan atau bersantai menghabiskan waktu di sana.


Beberapa jam kemudian acara wedding anniversary Raffasya dan Azkia digelar. Didampingi putra dan putri mereka yang lucu-lucu mereka sibuk menerima ucapan selamat dari kerabat dan para karyawan.


" Pak Raffa, Bu Kia, Happy Wedding Anniversary. Semoga selalu langgeng dan ditambah lagi momongannya." Indhira mendoakan kedua bos nya yang baik hati itu, seraya tertawa kecil saat mendoakan agar bosnya itu dikarunia anak ke empat.


" Aamiin ..." Raffasya dan Azkia menjawab bersamaan.


" Papa meng-aamiin-kan tambah momongan lagi?" Azkia menoleh ke arah suaminya.


" Memang kenapa? Mama memang tidak mau tambah lagi?" Raffasya balik bertanya.


" Gimana tidak mau?? Orang sudah jadi, kok!" Azkia tersenyum kini menoleh ke arah Indhira yang masih berdiri di depannya.


" Makasih, Indhira." ucapnya kemudian.


" Iya!" sahut Azkia.


" Alhamdulillah, Mama kok tidak memberitahu Papa kalau sedang hamil lagi?!" Raffasya lalu memeluk dan memberi kecupan bertubi-tubi di pipi Azkia.


Indhira terbelalak melihat respon spontan Raffasya kepada Azkia. Pria itu menunjukkan rasa bahagianya dengan memberikan sentuhan kepada sang istri. Hal itu membuat Indhira yang ada di hadapan mereka menjadi salah tingkah.


" Hmmm, selamat atas kehamilannya juga ya, Bu." Walau dia sadar apa yang dia lakukan sangat mengganggu, tapi tidak mungkin Indhira pergi meninggalkan Azkia dan Raffasya begitu saja, tanpa memberikan ucapan selamat atas kehamilan Azkia, karena dia juga ikut mendengar berita gembira yang disampaikan Azkia tadi


" Oh, makasih, Indhira." Azkia yang menyadari Indhira masih di depannya, mencoba menjauhkan tubuhnya dari sang suami.


Setelah mengucapkan selamat, Indhira pun berjalan menjauh, ikut bergabung dengan rekan-rekannya yang lain untuk ikut melayani tamu undangan yang datang.


" Ayo Aisha, kasih salim dulu sama Tante Kia." Seorang wanita paruh baya mengenakan pakaian muslimah dengan hijab panjang berjalan melintas di hadapan Indhira. Di belakangnya seorang pria paruh baya namun masih memiliki tubuh tinggi tegap mengikuti wanita tadi.


Indhira mengerutkan keningnya saat kedua orang itu melintas di hadapannya. Walaupun pencahayaan di outdoor party itu tidak terlalu terang. Namun, Indhira masih dapat melihat wajah kedua orang yang dia duga pasangan suami istri.


Kedua orang itu bersama seorang bocah kecil perempuan mendekat ke arah Raffasya dan Azkia yang kini sedang menghampiri meja keluarganya. Kedua orang itu terlihat memberi selamat dan memeluk Azkia,


Indhira membulatkan bola matanya saat dia teringat jika mereka berdua itu adalah orang yang pernah menolongnya ketika dia ingin dijual oleh Om Ferry. Seketika bola matanya digenangi cairan bening. Dia senang bisa bertemu kembali dengan kedua orang yang menyelamatkannya dulu.


Indhira ingin mendekat dan menyapa kedua orang itu. Namun dua orang yang tak lain adalah Gavin dan Azzahra itu kini duduk di kursi meja dekat keluarga Azkia dan Raffasya berkumpul. Mereka bahkan akrab berbincang dengan keluarga Azkia.


" Apa mereka itu keluarga Ibu Kia, ya? Om dan Tante itu terlihat akrab sekali," gumam Indhira. Dia sungguh ingin mendekat namun dia tidak berani dan merasa rendah diri.


" Han, tolong bawakan makanan ini ke meja itu!" Fero memerintah Hanna untuk menyiapkan makanan di meja Gavin dan Azzahra.


" Saya saja yang bawa, Pak Fero!" Melihat Fero menunjuk arah meja Gavin dan Azzahra, seketika Indhira bangkit dan menawarkan diri untuk melakukan pekerjaan yang Fero perintahkan kepada Hanna.


" Ya sudah cepat dilayani, Ra! Mereka itu Om dan Tantenya ibu bos," ujar Fero.

__ADS_1


" Iya, Pak." Dengan penuh semangat Indhira menyiapkan makanan yang ingin dihidangkan di meja Gavin dan Azzahra.


" Permisi, Om, Tante." sapa Indhira kepada Gavin dan Azzahra saat sampai di meja mereka lalu menyediakan beberapa makanan di atas meja.


Gavin dan Azzahra sontak menoleh ke arah Indhira karena Indhira memanggil mereka Om dan Tante seolah Indhira mengenai mereka.


" Om, Tante, apa kabar? Saya senang bisa berjumpa dengan Om dan Tante kembali." Setelah menyelesaikan tugasnya, Indhira kembali menyapa Gavin dan Azzahra.


" Alhamdulillah, kami baik." sahut Gavin. " Kamu ini siapa, ya?" tanya Gavin bingung karena tak ingat siapa Indhira.


" Saya Indhira, Om. Om dan Tante pernah menolong saya waktu saya masuk dan sembunyi di mobil Om, saat saya dikejar oleh Om saya." Indhira menyebutkan siapa dirinya kepada Gavin.


" Masya Allah, kamu gadis yang waktu itu mau dijual Om kamu dulu?" Azzahra terkesiap saat mengetahui jika wanita muda di hadapannya itu adalah wanita yang pernah di tolongnya sampai mengantar ke rumah sahabat Indhira..


" Benar, Tante." sahut Indhira. Indhira senang karena Azzahra masih mengenalinya.


" Kamu bekerja di sini?" tanya Gavin kemudian.


" Iya, Om. Saya sudah dua tahun ini bekerja di sini," ujar Indhira kembali.


" Lho, Uncle sama Auntie kenal sama Indhira?" Azkia yang ada di meja sebelah bertanya karena melihat interaksi yang akrab antara Indhira dengan Gavin dan Azzahra.


" Iya, Kia. Dulu kami pernah bertemu. Sudah lama sekali tapinya..." Azzahra menjawab pertanyaan Azkia.


" Oh ya? Wah, kebetulan sekali. Memang Auntie kenal di mana?" tanya Azkia kembali dengan penasaran.


" Di hotel tempat Daddy nya Rayya," sahut Azzahra kemudian.


" Oh ..." sahut Azkia singkat.


" Saya ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan Om dan Tante waktu itu. Jika tidak ada Om dan Tante menolong saya, saya tidak tahu bagaimana nasib saya sekarang ini." Indhira tidak akan lupa kebaikan Gavin dan Azzahra.


" Sama-sama, Indhira. Kebetulan kami ada di sana dan dapat membantu kamu di saat yang tepat," jawab Gavin.


" Kia, Kak Raffa. Maaf kami telat datang." Saat mereka berbincang tiba-tiba, seorang wanita cantik berhijab bersama seorang pria dan seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun muncul di antara mereka.


" Tidak apa-apa, Ray. Yang penting kalian datang," sahut Azkia pada Rayya, putri pertama Gavin dan Azzahra.


" Om, Tante, saya permisi dulu." Melihat banyak keluarga yang datang dan berkumpul membuat Indhira tidak enak terlalu lama berbincang dengan Gavin dan Azzahra.


" Oh iya, Indhira." sahut Gavin dan istrinya bersamaan.


" Siapa dia, Mom?" tanya Rayya kemudian duduk setelah Ramadhan, sang suami menarik kursi untuknya duduk.


" Itu pegawai cafe sini, Ray. Tapi katanya pernah ditolong Daddy sama Mommy kamu ..." Azkia menjawab pertanyaan Rayya.


" Oh ..." sahut Rayya kemudian.


" Oh ya, Kia ada kabar bahagia untuk semua." Azkia berniat memberitahu perihal kehamilannya kepada seluruh anggota keluarganya.


" Berita apa, Kia?" Rayya lebih cepat menyahuti.


" Aku hamil lagi ..." Azkia menyampaikan berita gembira itu kepada anggota keluarganya yang lain yang langsung disambut bahagia oleh mereka semua.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2