SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Ancaman Bagas


__ADS_3

Indhira baru masuk kembali ke kamar setelah selesai diajak Angel melihat setiap sudut rumah mertuanya yang sangat besar itu. Indhira tidak pernah menduga jika dirinya akan menjadi anggota keluarga besar Adibrata Mahesa. Ibaratnya dia adalah istri dari sang putra mahkota, anak pertama dan anak laki-laki satu-satunya yang akan mengambil alih bisnis milik Adibrata itu. Namun, Indhira tidak berpikir sampai sejauh itu. Baginya yang terpenting rumah tangganya bersama Bagas selalu harmonis dan dijauhkan dari masalah yang akan mengganggu keutuhan rumah tangganya. Soal dia bisa diterima di rumah itu, itu adalah bonus dari kesabarannya selama ini.


Indhira tergesa-gesa mengambil ponsel di atas nakas yang berbunyi ketika dia masuk tadi. Nama Rissa yang saat ini muncul di layar ponselnya. Dengan antusias Indhira mengangkat panggilan telepon masuk dari sahabatnya itu.


" Assalamualaikum, Ris. Apa kabar? Kamu tidak kerja, Ris?" sapa Indhira saat sambungan telepon mereka terhubung.


" Waalaikumsalam, aku sedang cuti, Ra. Gimana? Kamu jadi pindah ke rumah mertua kamu?" Indhira masih rutin berkomunikasi dengan Rissa, meskipun mereka jarang berjumpa.


" Jadi, Ris. Kemarin siang kami pindah ke rumah orang tua Mas Bagas," sahut Indhira.


" Papa mertua kamu gimana, Ra? Apa dia baik?" tanya Rissa kembali.


" Alhamdulillah, Papa mertuaku tidak marah-marah seperti dulu, meskipun kami tidak banyak bicara, Ris." cerita Indhira. Adibrata memang tidak banyak berbicara kepadanya, bahkan hampir jarang berbicara padanya. Namun, Indhira tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia memaklumi jika antara Adibrata dan dirinya masih sama-sama merasa canggung.


" Syukurlah kalau Papa mertuamu itu sudah sadar kalau pandangannya tentang kamu itu salah, Ra." Tentu Rissa pun ikut merasa lega saat Indhira bisa diterima baik di rumah keluarga orang tua Bagas.


" Alhamdulillah, Ris. Mungkin ini jawaban dari doa-doa aku dan Mas Bagas selama ini," sahut Indhira.


" Sekarang ini aku makin susah bertemu dengan kamu, dong, Ra. Secara, kamu sekarang ini sudah jadi Nyonya di rumah gedongan itu," sindir Rissa meledek Indhira sambil tertawa.


" Jangan ngaco kamu, Ris! Aku itu tetap Indhita yang dulu, tidak ada Nyonya-Nyonya apa lah itu namanya!? Nyonya di rumah ini cuma Mama mertuaku saja." Indhira menegaskan jika dirinya tetaplah seperti dulu, tak berbeda meskipun dia tinggal di rumah mewah suaminya.


" Oh ya, Ra. Kamu ngapain saja di rumah mertuamu itu?" tanya Rissa penasaran dengan aktivitas Indhira selama berada di rumah mertuanya. " Pasti enak tinggal di rumah mewah kayak gitu, seperti putri raja," lanjut Rissa membayangkan betapa bahagianya Indhira bisa merasakan tinggal di rumah mewah yang bisa jadi mungkin akan menjadi milik Indhira juga, karena suaminya adalah pewaris kekayaan Adibrata.


" Aku baru saja diajak Mama mertuanya melihat-liat isi rumah ini, Ris. Luas banget ternyata ..." cerita Indhira.


" Lho, memang waktu pertama kali diajak ke rumah Bagas, kamu tidak ajak keliling, Ra?" Rissa kembali meledek seraya terkekeh. Tentu saja maksud perkataannya adalah saat SMA dulu.


" Jangan menyindir soal itu, deh, Ris!" tegur Indhira merasa tak nyaman membicarakan soal yang menyangkut skandalnya dengan Bagas.

__ADS_1


" Maaf, maaf, Ra. Hehe ... Oh ya, Ra. Kalau aku mau main ke sana bertemu dengan kamu diijinkan tidak aku masuk ke rumah mertuamu itu?" tanya Rissa.


" Pasti diterima, dong, Ris! Masa ditolak!?" Indhira yakin jika dia diijinkan menerima tamu oleh Angel, apalagi Rissa adalah salah seorang yang berjaga kepadanya.


" Kapan kamu mau main ke sini, Ris?" tanya Indhira kemudian.


" Aku hanya bercanda, Ra." ujar Rissa tidak serius.


" Kok bercanda, Ris? Aku justru berharap kamu benar-benar main ke sini." Indhira sangat berharap kunjungan dari sahabatnya itu.


" Nanti aku bilang sama Mas Bagas kalau kamu mau main kemari, deh. Pasti Mas Bagas mengijinkan." Indhira sangat antusias.


" Nanti tunggu aku libur kerja saja, deh, Ra." Karena saat ini Rissa masih aktif bekerja, sehingga dia harus mencari waktu senggang untuk bisa berkunjung ke tempat tinggal Indhira saat ini.


" Oke, Ris. Aku tunggu, ya!? Oh ya, kapan kamu tasyakuran tujuh bulanan, Ris?" tanya Indhira, karena temannya itu juga sedang hamil.


" Dua Minggu lagi, Ra. Insya Allah ...."


" Insya Allah, Ra. Kamu sendiri, bagaimana kehamilan kamu? Aku tidak menyangka kita bisa sama-sama hamil, lho, Ra. Anak pertama lagi ..." Rissa senang dia dan Indhira akan sama-sama memiliki anak.


" Iya, Ris. Aku happy banget rasanya, Nanti anak kita bisa melanjutkan pertemanan kita, ya, Ris." ungkap Indhira senang terkekeh bahagia.


***


Indhira menatap sang suami yang sedang mengontrol pekerjaan dari laptop di pangkuannya dengan duduk bersandar di headboard spring bednya


" Mas ..." Indhira mencoba bicara dengan suaminya itu.


" Ada apa, Yank?" Bagas menoleh sepintas ke arah Indhira, lalu kembali fokus dengan laptopnya.

__ADS_1


" Sibuk banget, ya?" Indhira duduk di tepi tempat tidur.


" Kenapa memangnya?" Bagas merangkul pundak Indhira.


" Tadi siang Rissa telepon aku, Mas. Kalau dia mau main ke sini, boleh apa tidak?" Indhira meminta ijin karena dia merasa rumah tempat tinggalnya sekarang bukanlah rumah miliknya.


" Rissa mau main ke sini? Kapan? Boleh saja kalau dia mau kemari. Dia 'kan sahabat kamu, pasti kamu senang bisa ketemu dia, kan?" Bagas mengijinkan.


" Makasih, ya, Mas." Kini Indhira yang melingkarkan tangannya memeluk sang suami.


" Tadi siang kamu ngapain saja di rumah sama Mama?" tanya Bagas menanyakan aktivitas sang istri selama dia tinggal di rumah orang tuanya.


" Mama mengajak aku berkeliling rumah ini, Mas." sahut Indhira. " Rumah orang tua Mas Bagas besar banget, deh. Kayaknya buat tinggal orang satu RT masuk, ya, Mas?" Indhira terkekeh membayangkan rumah besar Adibrata akan cukup jika dihuni orang satu kampung.


" Hahaha, aku bilangin ke Mama, lho!" ancam Bagas mengakhiri tawanya.


" Ya ampun, Mas. Aku hanya bercanda, jangan bilang ke Mama, dong!" Hati Indhira langsung menciut dengan ancaman Bagas, dia menganggap jika dirinya telah salah bicara.


" Oke, aku tidak akan bilang ke Mama. Paling, aku bilang ke Papa saja, deh." Ancaman Bagas ini justru lebih menakutkan dari ancaman pertama tadi.


" Mas ..." Indhira merengek karena suaminya itu terus saja menggodanya dengan ancaman.


" Kasih cium dulu kalau mau selamat." Bagas lalu menyodorkan pipinya minta diberi kecupan sang istri.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2