SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Tempat Berkeluh Kesah


__ADS_3

Selepas Rissa pergi, Tante Marta bergegas masuk ke kamar Indhira. Kemarahannya kepada Indhira, ditambah lagi sikap Rissa yang dianggapnya kurang sopan membuat kebenciannya kepada Indhira semakin membuncah.


" Hei, kenapa kamu masih duduk dan terus menangis?! Kenapa tidak cepat kau kemasi barangmu dan segera keluar dari rumah ini?!" Saat mendapati Indhira sedang duduk di lantai dengan menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur, Tante Marta semakin murka.


" Tante, saya akan ke mana kalau Tante mengusir saya dari sini?" Dengan suara parau Indhira bertanya, mohon belas kasih dari adik dari Papanya itu agar tidak dihukum diusir dari rumahnya.


" Kamu mau pergi ke mana pun juga itu bukan urusan Tante! Kamu mau tidur di kolong jembatan! Mau jadi wanita ja lang juga bukan urusan Tante lagi!" Tante Marta benar-benar sudah dibutakan pintu hatinya sehingga tidak terketuk dengan permohonan Indhira.


" Tan, aku ini keponakan Tante. Kenapa Tante tega sekali sama Indie?" Indhira terisak karena perlakuan tidak adil yang dia terima dari Tantenya itu.


" Jangan mengaku-ngaku keponakan! Keponakan Tante bukan wanita murahan seperti kamu!! Keponakan Tante tidak akan menyerahkan kesuciannya pada pria tanpa ikatan pernikahan!" Tante Marta tidak akan perduli meskipun Indhira menangis berdarah-darah.


" Tante, aku mohon, jangan usir aku, Tan. Tante boleh hukum Indhira apa saja, tapi tolong jangan suruh aku keluar dari rumah ini, Tan. Hiks ... hiks ..." Indhira bersimpuh di kaki Tante Marta berharap hati Tantenya itu akan melunak hatinya.


Teettt


Suara bel terdengar berbunyi berbarengan dengan tangis Indhira.


" Mau apa lagi teman kamu yang kurang a jar itu!?" Tante Marta bergegas keluar ingin melabrak Rissa yang dia duga kembali datang ke rumah itu.


" Mau apa lagi kemari, hahh!?" hardik Tante Marta dengan kasar saat pintu rumah dia buka.


Suara Tante Marta yang menyentak dibarengi wajah yang diselimuti emosi membuat tamu yang datang ke rumah Indhira seketika terperanjat.


" Assalamualaikum, Bu." Ibu Tika yang merupakan guru di sekolah Indhira menyapa Tante Marta masih dengan keterkejutannya.


" Eh, maaf, Bu. Saya kira anak kurang a jar yang tadi marah-marah di sini." Tante Marta malu karena dia telah salah orang.


" Ibu ini wali muridnya Indhira?" tanya Bu Tika.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan tamunya itu membuat Tante Marta menduga jika orang di hadapannya itu adalah guru dari Indhira.


" I-iya, Bu. Ibu ini gurunya Indhira?" tanya Tante Marta merasa curiga jika kedatangan guru Indhira terkait masalah yang menimpa Indira saat ini.


" Benar, Bu. Saya guru BP di sekolah Indhira. Apa Indhira nya ada, Bu? Saya ingin bertemu dengan Indhira dan juga berbincang dengan Ibu selalu wali murid." Ibu Tika menjelaskan tujuannya datang ke rumah Indhira.


" Hmmm ... oh, silahkan masuk dulu, Bu." Seandainya yang datang bukan guru dari Indhira, mungkin Tante Marta akan mengusir orang itu. Namun, tentu dia tidak mungkin melakukannya pada Ibu Tika saat ini.


" Hmmm, apa kedatangan Ibu kemari ini terkait masalah video viral yang menyangkut Indhira, Bu?" tanya Tante Marta.


Ibu Tika menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Tante Marta.


" Benar sekali, Bu. Sejujurnya saya sendiri tidak menyangka jika Indhira dan Bagas terlibat dalam masalah ini. Hari ini Bagas sudah menghadap ke kepala sekolah. Sedangkan Indhira tidak masuk sekolah. Saya ingin bertemu dan berbicara dengan Indhira. Apa Indhira bisa dipanggil kemari, Bu?" tanya Ibu Tika.


" Indhira ... hmmm, sepertinya dia sedang tidur siang, Bu." Tante Marta berbohong. Tentu dia tidak ingin guru dari Indhira melihat kondisi Indhira yang menagis dengan wajah memerah dan mata sembab.


" Tidur? Apa Indhira tidak tahu soal berita yang beredar?" Ibu Tika mengerutkan keningnya. Sudah pasti dia merasa heran, kenapa Indhira bisa menikmati tidur siang sementara saat ini masalah serius sedang menimpanya. Tapi, tentu Ibu Tika tidak begitu saja percaya dengan ucapan Tante dari Indhira.


" Selama belajar di sekolah kami, Indhira itu sebenarnya anak yang baik. Dia juga salah satu anak yang berprestasi dalam nilai pelajaraan di sekolah. Karena itu saya cukup kaget dengan kasus ini." Ibu Tika mengeluarkan amplop berisi surat panggilan untuk wali murid Indhira. " Saya juga datang kemari untuk menyampaikan ini. Ibu sebagai wali murid diminta kehadirannya di sekolah besok untuk menghadap kepada Pak Marcel selalu kepala sekolah," lanjutnya.


" Saya disuruh datang ke sekolah, Bu?" Tentu saja Tante Marta keberatan disuruh datang ke sekolah Indhira. Tidak dapat dibayangkan jika orang-orang di sekolah Indhira akan mencemoohnya karena kelakuan Indhira yang sangat memalukan.


" Benar, Bu. Sebagai perwakilan Indhira, Ibu diminta datang untuk mendiskusikan masalah ini. Karena, kemungkinan Indhira tidak diijinkan berangkat ke sekolah terlebih dahulu untuk sementara waktu sampai masalah ini selesai," Ibu Tika menjelaskan.


" Apa Indhira akan dikeluarkan dari sekolah, Bu?" tanya Tante Marta.


" Untuk masalah itu akan dibicarakan besok dengan kepala sekolah, Bu. Saya sebenarnya datang kemari ingin berbicara empat mata dengan Indhira menanyakan apa yang sebenarnya terjadi."


" Bu ..." Suara serak dan terdengar pelan terdengar dari arah pintu ruang tengah yang menghubung ke arah ruangan tamu.

__ADS_1


" Indhira?" Ibu Tika terperanjat melihat kondisi Indhira yang terlihat pucat dengan sembab yang hampir menutupi bola matanya.


***


" Siapa yang datang? Apa Bagas datang kemari?" batin Indhira bertanya saat Tante Marta mengatakan jika temannya yang kurang a jar datang kembali. Siapa yang dimaksud Tantenya itu? Itulah yang menjadi pertanyaan Indhira.


Indhira mencoba bangkit untuk mengetahui siapa yang sebenarnya datang ke rumahnya saat itu. Dengan langkah berat dan perlahan, Indhira keluar dari kamarnya.


" Apa Indhira akan dikeluarkan dari sekolah, Bu?"


Indhira menghentikan langkahnya saat dia mendengar sang Tante mengatakan soal dirinya akan dikeluarkan dari sekolah. Jantungnya seakan tertusuk sembilu menyadari kenyataan pahit tentang ancaman yang akan diberikan kepadanya karena kesalahan yang telah dia perbuat.


Air mata Indhira kembali berderai, dia benar-benar merasa hancur. Indhira lalu membuka Gordyn yang membatasi ruangan tamu dan ruang tengah rumahnya untuk menemui gurunya itu. Walaupun sebenarnya dia merasa malu, tapi dia merasa butuh seseorang untuk tempat berkeluh kesah.


" Bu ... hiks ..." Indhira seakan tidak mampu menahan kesedihannya hingga dia menangis tanpa merasa malu di hadapan gurunya itu.


" Indhira ..." Ibu Tika seketika bangkit dan menghampiri Indhira yang menangis. Bahkan dia membiarkan saat Indhira memeluk tubuhnya. Sehingga Ibu Tika bisa merasakan beban berat yang sedang dialami oleh Indhira saat ini.


" Kamu duduk dulu, kamu bisa cerita sama Ibu, apa yang sebenarnya terjadi, Indhira." Ibu Tika menuntun Indhira untuk duduk di sofa.


Sementara Tante Marta langsung memasang wajah kesal karena kemunculan Indhira di ruang tamu saat ini. Padahal dia berharap Indhira tidak usah muncul dengan wajah menyedihkan seperti itu. Apalagi tadi dia sempat berbohong dengan mengatakan jika Indhira sedang tertidur.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2