SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Ya Tuhan, Dia Memang Indhira


__ADS_3

Entah mengapa jantung Indhira terasa berdebar-debar, seolah memberikan suatu isyarat jika dia akan mengalami sesuatu, namun dia sendiri tidak tahu itu apa.


Indhira memejamkan mata sejenak sambil berdoa supaya hatinya kembali tenang dan tidak merasakan hal aneh yang tiba-tiba menyeruak di hatinya.


" Kamu kenapa, Indhira?" tanya Azkia mendapati Indhira memejamkan mata dan tangan memegangi dada.


" Ah, tidak ada apa-apa, Bu." Indhira mencoba menepis pertanyaan Azkia yang mengira dirinya sedang merasakan sesuatu.


" Kamu yakin tidak apa-apa?" Seperti Azkia dapat merasakan jika Indhira sedang menutupi sesuatu.


" Tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja jantung saya berdebar-debar sangat kencang." Akhirnya Indhira mengaku jujur.


" Berdebar-debar kayak kepingin ketemu pacar, gitu?" Azkia justru menggoda Indhira seraya terkekeh.


Indhira hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Azkia yang menggodanya.


" Kamu tidak alergi makanan ini, kan?" tanya Azkia menunjuk menu ikan yang mereka santap.


" Tidak kok, Bu." sanggah Indhira kemudian.


" Oh, mungkin karena kita tadi membicarakan soal mantan kekasih kamu jadi bikin jantung kamu berdebar kencang." Azkia terkikik santai menggoda Indhira. Azkia seakan menganggap Indhira seperti sahabatnya sendiri.


Indhira kembali hanya tersipu. Dia senang melihat Azkia tertawa. Bukan senang karena Azkia menyinggung soal mantan kekasih dirinya. Tapi, karena Azkia bersikap akrab terhadapnya. Sama sekali tidak membedakan jika dia adalah seorang bos dan dirinya adalah pegawainya.


" Oh ya, Indhira. Apa kamu bisa mengendarai mobil?" tanya Azkia kemudian.


" Tidak, Bu. Saya hanya bisa mengendarai motor saja," sahut Indhira. Saat masih di Semarang, Tante Sandra sempat membelikan Indhira motor untuk menunjang dirinya beraktivitas bekerja dan kuliah. Itulah sebabnya dia begitu banyak berhutang budi pada Tante Sandra.


" Nanti di waktu senggang kamu belajar mengendarai mobil, ya!? Biar kalau kita pergi seperti ini, kamu yang membawa mobilnya." Azkia menyarankan Indhira untuk belajar mengendarai mobil sendiri.


" Hmmm ..." Indhira terlihat ragu ketika disuruh Azkia belajar mengendarai kendaraan roda empat.


" Nanti kamu kursus saja, saya yang bayar," sambung Azkia ketika melihat Indhira terlihat ragu dengan permintaannya.


" Maaf, Bu. Apa syarat menjadi asisten pribadi ibu harus bisa dapat mengendarai mobil?" tanya Indhira kemudian.


" Tidak juga, sih! Tapi, kalau kamu punya keahlian mengendarai mobil, itu lebih bagus,. Soalnya sekarang ini 'kan aku lagi hamil. Suami aku itu suka takut kalau aku bawa mobil sendiri," sahut Azkia memberi alasan kenapa dia menyuruh Indhira untuk belajar mengendarai mobil.


" Tapi saya takut, Bu. Apalagi kalau bawa ibu yang sedang hamil," ujar Indhira.


" Ya sudah, sekarang yang penting kamu belajar saja dulu, urusan nanti yang bawa mobil siapa, kita dipikirkan nanti saja," ujar Azkia seakan memaksa Indhira untuk mengikuti perintahnya.


Sementara di sudut restoran bagian lain, Bagas masih melanjutkan perbincangan dengan Benny, setelah memesan menu makanan yang mereka pilih.


" Jadi, kamu sudah bicara dengan Evelyn kalau kamu ingin kembali pada Indhira?" Benny terkejut saat Bagas memberitahu jika pria itu sudah menyampaikan rencana mengakhiri pertunangannya dengan Evelyn.


" Iya, dua hari lalu," sahut Bagas.


" Dan dia setuju?" tanya Benny penasaran.


" Dia setuju mengakhiri hubungan, asalkan aku bertemu langsung dengan Indhira, dan Indhira mau memaafkan juga menerimaku kembali," sahut Bagas menceritakan syarat yang diajukan oleh Evelyn.


" Lalu, jika Indhira tidak mau memaafkan dan menerimamu, artinya pertunanganmu tetap akan berjalan sampai kalian menikah?" Benny mencoba memahami maksud ucapan Evelyn yang disampaikan oleh Bagas tadi.


Bagas menghela nafas sejenak sebelum memberi jawaban kepada Benny.


" Aku harus bisa mendapatkan maaf dari Indhira dan membuat Indhira menerimaku kembali, Ben!" tekad Bagas. Entah mengapa, saat itu tiba-tiba saja Bagas merasakan hatinya berdebar-debar.


" Apa Papamu belum mencium rencanamu ini, Gas?" Benny membayangkan jika sampai Adibrata mengetahui rencana Bagas terhadap Evelyn, dia pastikan kiamat akan menimpa sahabatnya itu.


" Sepertinya Evelyn memang belum bercerita kepada Papaku, Ben. Kalau dia sudah mengadu kepada Papaku, saat itu juga Papa pasti akan menegurku," sahut Bagas dengan mendengus, lalu melempar pandangan ke arah luar ruangan restoran hingga matanya menangkap sosok wanita cantik yang berjalan di halaman parkir restoran khas Sunda itu.

__ADS_1



Bagas memicingkan matanya menatap wanita tinggi ramping mengenakan kaos putih dengan celana denim yang masuk ke dalam sebuah mobil mewah. Wajah wanita itu sangat familiar di mata, hati dan pikirannya.


" Indhira ..." Tanpa sadar bibirnya langsung mengucap nama yang selama ini memenuhi relung hati dan pikirannya. Bagas pun seketika bangkit, dan mencoba mengejar ke luar.


" Gas, kau mau apa?" Benny yang melihat Bagas bersikap aneh bahkan bergegas meninggalnya seketika merasa bingung, hingga dia ikut mengejar Bagas yang berlari ke halaman parkir.


" Indhira ...!" teriak Bagas. Namun sayang, saat dirinya sampai ke halaman parkir, mobil milik Azkia yang membawa Indhira pergi sudah lebih dahulu keluar dari area restoran.


Melihat mobil itu pergi, Bagas segera berlari ke arah mobilnya. Dia berniat mengejar mobil yang dikendarai Azkia tadi.


" Gas, kau kenapa? Kau mau ke mana?" tanya Benny masih bingung dengan sikap Bagas.


" Tadi aku lihat Indhira, Ben!" Bagas membuka pintu mobil dan dengan tergesa masuk ke dalam lalu menyalakan mesin mobilnya.


" Indhira? Di mana?" tanya Benny terkejut mencari orang yang dimaksud oleh Bagas tadi.


" Tadi aku lihat dia masuk ke dalam mobil," jawab Bagas.


" Terus kau mau ke mana sekarang?" tanya Benny masih berdiri di luar mobil Bagas.


" Aku mau mengejar dia, Ben!" sahut Bagas mulai mengeluarkan mobilnya dari parkiran.


" Lalu pesanan makanannya bagaimana, Gas?" tanya Benny karena mereka sudah memesan makanan.


" Nanti aku balik kemari, kau tenang saja!" Sekejap kemudian mobil yang dikendarai Bagas sudah bergerak ke luar halaman parkir restoran dengan laju cukup kencang.


Bagas mengedar pandangannya ke arah jalan, mencari keberadaan mobil yang ditumpangi oleh Indhira tadi.


" Ke mana tadi mobilnya?" Setelah menempuh jarak satu kilometer, Bagas tidak juga menemukan mobil yang membawa Indhira. Apalagi dia harus berhadapan dengan perempatan jalan, dan dia tidak tahu ke mana arah mobil Azkia tadi meluncur.


" Aaarrgghh, si al!!" Bagas sampai memukul kemudinya karena dia gagal mendapatkan mobil yang membawa sosok yang dia duga adalah Indhira.


Sedangkan di dalam mobil Azkia. Ketika mobil itu meninggalkan restoran, Indhira merasakan seperti ada seseorang yang memanggil namanya hingga dia menolehkan pandangan ke arah belakang untuk memastikan jika pendengarannya memang benar. Namun, dia tidak melihat siapa pun di sana selain tukang parkir.


" Ada apa, Indhira?" tanya Azkia saat melihat Indhira tampak gelisah.


" Mungkin hanya perasaan saya saja, Bu. Tapi, tadi seperti ada yang memanggil nama saya," aku Indhira jujur. Indhira memilih jujur mengatakan apa yang dia alami daripada Azkia akan mengetahui jika dia berkata dia bohong.


" Masa, sih?" Azkia mengecek dari spionnya. Tapi, dia pun tidak menemukan apa-apa di belakang mobilnya.


" Mungkin itu hanya perasaan saya saja, Bu." Indhira menegaskan jika apa yang terjadi hanya halusinasi dia saja.


" Ya sudah lupakan saja," ujar Azkia. " Sekarang ini, kamu mau langsung pulang ke rumah atau kembali ke butik?" tanya Azkia kemudian.


" Saya terserah Ibu saja," sahut Indhira.


" Kalau begitu, aku antar pulang saja, ya!? Kamu mulai bekerja besok." Azkia akhirnya memilih mengantar Indhira kembali ke rumahnya.


" Baik, Bu." sahut Indhira, namun matanya melirik ke arah spion, berharap menemukan jawaban atas perasaannya tadi.


***


Benny nampak gelisah menengok ke arah halaman parkir restoran dari meja yang dia tempati tadi bersama Bagas. Sementara makanan yang mereka pesan sudah tersaji di hadapannya saat ini.


Benny tidak menyangka Bagas akan senekat itu mengejar orang yang dianggap mirip Indhira, padahal belum tentu orang itu benar-benar Indhira.


Tak berapa lama, Bagas pun kembali ke restoran setelah gagal menemukan mobil Azkia dan membawa Indhira pergi.


" Gimana, Gas? Ketemu? Benar itu Indhira?" tanya Benny penasaran saat melihat kehadiran Bagas kembali di restoran.

__ADS_1


" Tidak, Ben." Bagas menggelengkan kepala karena dia kehilangan jejak mobil Azkia.


" Apa kau yakin itu Indhira, Gas? Siapa tahu itu hanya kebetulan orang yang mirip saja dengan Indhira." Benny masih kurang percaya dengan penglihatan Bagas yang mengatakan melihat Indhira.


" Aku yakin, Ben! Itu pasti Indhira!" tegas Bagas merasa yakin. " Berarti dia ada di restoran ini tadi, Ben." Bagas mengedar pandangan ke seluruh sudut restoran. Dia melihat beberapa cctv yang terpasang di sana.


Bagas kemudian berjalan mendekat ke salah satu pelayan di rumah makan itu.


" Kau mau ke mana lagi, Gas?" tanya Benny kembali. Namun Bagas tidak menjawab pertanyaan Benny. Dia terus melangkah mendekat ke pelayan restoran.


" Permisi, Mas. Apa saya bisa bertemu pemilik restoran ini atau manager di sini?" tanya Bagas kepada pelayan restoran.


" Ada masalah apa ya, Pak?" tanya pelayan toko itu memperhatikan penampilan Bagas.


" Saya ingin melihat rekaman cctv di sini, karena tadi saya melihat orang yang sedang saya cari ada di restoran ini." Bagas menjelaskan maksud dan tujuannya mencari manager atau pemilik restoran tersebut.


" Ada apa, Bud?" tanya seseorang menghampiri pegawainya saat melihat pegawainya itu berbincang dengan Bagas.


" Oh, ini, Pak. Ada orang yang mencari Bapak, katanya ingin mencari orang yang tadi ada di sekitar restoran ini." Budi, pelayan restoran itu menjelaskan kepada manager restoran soal Bagas.


Pria itu memperhatikan Bagas saat pegawainya itu menjelaskan tujuan Bagas mencarinya. Dari penampilan Bagas, pria itu dapat menduga jika Bagas bukan orang sembarang.


" Saya Nurdin, manager di restoran ini. Mari silahkan ke ruangan saya, Pak." Pria bernama Nurdin mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya sebagai manager di restoran itu, lalu mempersilahkan Bagas untuk ikut bersamanya menuju ruangan kerjanya.


" Maaf, kalau boleh saya tahu. Bapak ini siapa?" tanya Manager itu bertanya santun kepada Bagas, setelah sampai di ruangan kerjanya.


" Saya Bagaspati Mahesa. Saya sedang mencari orang, dan tadi saya lihat orang itu keluar dari restoran ini. Apa saya bisa melihat rekaman cctv di sini," Bagas meminta ijin untuk mengecek rekaman cctv di restoran dalam kurun waktu satu jam ke terakhir.


" Jika Anda bisa memberikan rekaman itu kepada saya, saya akan memberikan imbalan untuk Anda, Pak Nurdin." Bagas lalu menyodorkan kartu nama dari dalam dompetnya kepada Nurdin dan kembali berucap, " Di sana ada nomer ponsel saya. Silahkan kirimkan nomer rekening Pak Nurdin, nanti saya akan transfer uangnya." Bagas bahkan menjadikan bonus kepada Nurdin agar Nurdin mau memberikan informasi dari rekaman cctv restoran itu.


Setelah Nurdin membaca jabatan Bagas di kartu nama Bagas, tentu saja dia pun menyetujui permintaan Bagas untuk memberikan rekaman cctv dari dalam restoran dan halaman parkir restoran tempatnya bekerja.


" Baik, Pak. Saya akan berikan yang Pak Bagas minta. Mohon tunggu sebentar, Pak." Nurdin lalu mengutak-atik layar monitor yang tersambung di beberapa tempat cctv terpasang.


" Tolong fokus dulu di halaman parkir, Pak. Mobil warna putih." Bagas menyebutkan jenis mobil mewah yang digunakan orang yang membawa Indhira.


" Baik, Pak." Setelah mencari-cari, akhirnya Nurdin menemukan mobil yang dimaksud Bagas. " Apa mobil ini, Pak?" tanya Nurdin menunjukkan sebuah mobil mewah berwarna putih keluar dari halaman parkir sekitar setengah jam lalu.


" Tolong diputar sebelum ini! Saya ingin lihat orang yang masuk ke dalam mobil itu. Dan tolong dicatat plat nomer mobilnya." Bagas meminta Nurdin untuk mengulang dari awal saat orang yang dia anggap Indhira itu masuk ke dalam mobil.


" Ini, Pak?" tanya Nurdin saat melihat dua orang wanita berjalan mendekati mobil mewah itu.


Bagas memperhatikan dua orang wanita di rekaman cctv itu. Pandangan Bagas terpusat pada sosok yang dia duga adalah Indhira.


" Tolong diperbesar di bagian wajah orang yang pakai kaos putih ini dan di pause, Pak." perintah Bagas kembali.


" Baik, Pak." Nurdin pun menuruti apa yang diminta oleh Bagas. " Ini cukup, Pak?" tanyanya kemudian.


Hati Bagas kembali berdebar saat dia melihat jelas wajah wanita yang dia perkirakan Indhira memang sangat mirip dengan wajah Indhira yang dia kenal saat SMA dulu. Wajah wanita itu tidak berubah sedikit pun meskipun terlihat semakin cantik. Wajah Indhira masih tampak imut dan awet muda, sama seperti ketika SMA.


" Dia memang Indhira. Ya Tuhan, dia benar-benar Indhira." gumam Bagas dengan debaran di hatinya yang semakin kencang.


" Ini nomer mobilnya, Pak. Sudah saya catat." Nurdin lalu menyerahkan nomer mobil yang membawa Indhira pergi.


" Terima kasih, Pak. Kalau boleh saya minta rekaman cctv yang ada wanita itu baik yang di dalam ruangan juga di parkiran tadi. Tolong kirim ke nomer handphone saya itu. Nanti saya alam kirimkan bonus untuk Bapak." ucap Bagas kemudian.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ..


Happy Reading❤️


__ADS_2