
Hampir dua jam Indhira menhabiskan waktu di rumah Rissa. Bersama Rissa, Indhira memang terlihat lebih nyaman. Sahabatnya sejak dia masuk SMA dan selalu duduk di satu meja yang sama itu menjadi pendengar yang baik untuk setiap masalah yang sedang dihadapi oleh Indhira.
Walau hanya sedikit, namun Indhira merasakan lebih lega karena sudah bercerita pada Rissa. Dan Rissa pun menyemangati Indhira agar tidak patah semangat.
" Aku tidak berani lihat video itu, Ra. Tapi, yang aku dengar dari anak-anak, wajah kamu di video itu tidak terlihat jelas. Jadi kalau orang tidak mengenal kamu, akan sulit mengenali jika orang yang ada di video itu adalah kamu."
Kalimat yang diucapkan oleh Rissa, membuat Indhira merasa jika Tuhan masih menyayanginya, karena wajahnya yang tidak terlihat jelas di video itu, membuatnya tidak mudah dikenali orang asing kecuali teman-teman di sekolahnya dulu.
Setelah sampai di rumahnya, Indhira bergegas masuk ke dalam rumah, karena dia melihat beberapa ibu-ibu tetangga rumahnya sedang berkumpul di warung di sebelah rumah orang tuanya itu. Indhira takut jika dia akan menjadi bahan omongan tetangga di sekitar lingkungan rumahnya.
" Assalamualaikum ..." Tak lupa, saat masuk ke dalam rumahnya, Indhira mengusapkan salam terlebih dahulu. Namun, tak ada yang menyahuti ucapan salamnya tadi.
Indhira berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian seragamnya. Ini adalah hari terakhir dia mengenakan seragam sekolah SMA Satu Nusa Satu Bangsa, karena mulai besok, dia tidak akan pernah pergi ke sekolah itu lagi untuk menuntut ilmu.
Indhira mendesah. Hatinya masih terasa sakit mengingat apa yang telah dia alami saat ini. Dia juga bingung apa yang akan dia kerjakan setelah ini. Walaupun Pak Marcel dan Ibu Tika sudah menyanggupi membantu membiayai sekolah paket C. Namun, dia tidak yakin jika Tantenya akan membiarkan dirinya dapat mengikuti pelajaran di sekolah Non formal itu.
Ceklek
" Kamu sudah pulang? Bagaimana hasilnya? Apa yang dikatakan kepala sekolah kamu?" Tanya Tante Marta yang tiba-tiba muncul membuka pintu kamarnya.
Indhira mende sah, rasanya sesak untuk mengatakan jika dia dikeluarkan dari sekolah.
" Aku dikelurkan dari sekolah, Tante." lirih Indhira dengan mata berkaca-kaca. Dia menduga jika Tante Marta akan memarahinya habis-habisan.
" Dikeluarkan dari sekolah? Baguslah kalau begitu. Itu bisa jadi alasan yang tepat agar keluarga Bagas mau bertanggung jawab!" Tante Marta tersenyum licik menanggapi ucapan Indhira.
" Oh ya, apa sudah dapat kabar dari Bagas? Kapan orang tuanya mau memberikan ganti rugi itu pada kita?" Tak memperdulikan kesedihan Indhira saat ini karena putus sekolah, Tante Marta justru memikirkan soal uang ganti rugi.
" Tante, sebaiknya Tante batalkan meminta ganti rugi pada keluarga Bagas, Tante." Tidak ingin keluarganya bermasalah dan terjerat masalah hukum, Indhira minta Tante Marta membatalkan niatnya mendapatkan uang dari keluarga Bagas.
" Apa kamu bilang? Enak saja kamu bilang minta dibatalkan!" Tante Marta seketika berkacak pinggang. " Mereka itu sepatutnya bertanggung jawab atas kamu! Apalagi kamu sekarang dikeluarkan dari sekolah! Itu suatu kerugian besar bagi kamu! Kamu tidak tamat sekolah dan tidak mendapatkan ijasah! Bagaimana kamu mau mendapatkan pekerjaan jika ijasah SMA saja tidak punya, hahh?!" Tante Marta terlihat murka karena Indhira melarangnya memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan dari masalah yang dialami oleh Indhira.
" Tapi, aku tidak ingin Tante terkena masalah. Bagaimana jika keluarga Bagas memperkarakan masalah ini dan menganggap jika keluarga kita memeras mereka, Tan?" Indhira memikirkan apa yang dikatakan oleh Rissa soal kemungkinan keluarga Bagas akan melaporkan ke pihak berwajib soal tindakan pemerasan yang dilakukan Tante Marta, sehingga dia meminta Tantenya menarik rencananya untuk minta uang ganti rugi.
Tante Marta terbelalak mendengar perkataan Indhira. Dia yang tidak paham dengan hukum, tentu saja tidak berpikiran sejauh itu. Menurut pendapatnya, Indhira telah mengalami kerugian yang disebabkan oleh Bagas, jadi wajar jika dia meminta ganti rugi.
" Kamu mau menakut-menakuti Tante, hahh!?" Tante Marta justru menuding jika Indhira lah yang berusaha menakuti-nakuti dirinya.
" Astaghfirullahal adzim! Kenapa Tante berpikiran buruk tentang aku? Aku justru tidak ingin Tante mengalami masalah." Indhira menepis tudingan Tantenya itu.
" Oh, kamu mau jadi pahlawan, begitu?! Heh, asal kamu tahu, ya!? Sikap kamu itu tidak ada yang bermanfaat buat Tante!" Kembali Tante Marta menuduh sikap Indhira kali ini hanya ingin mencari muka terhadapnya.
Indhira menggelengkan kepalanya melihat respon negatif yang tunjukkan Tante Marta atas sikapnya yang perduli terhadap keselamatan Tantenya itu.
" Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, Tante." Indhira membantah tuduhan Tante Marta terhadapnya.
" Alasan saja! Sudah sana, angkat pakaian dan cepat setrika!!" Tante Marta kemudian meninggalkan kamar Indhira setelah menyuruhku Indhira memberi tugas rumah.yang harus segera dikerjakan oleh Indhira.
***
Bagas mengecek saldo di bank melalu internet bankingnya. Dia usianya sekarang, Bagas sudah dapat mempergunakan fasilitas internet banking untuk rekening tabungannya sendiri.
^^^Rp. 101.765.257,-^^^
Itu nominal yang terlihat di layar ponselnya saat dia mengecek sisa saldo di rekeningnya. Nilai itu adalah sisa uang jajan yang diberikan orang tuanya yang selama ini dia kumpulkan. Juga honor yang dia dapatkan jika dia dan band nya tampil di event-event yang diikutinya.
__ADS_1
Dia juga sebenarnya mempunyai uang tabungan lain. Namun uang itu tidak mungkin bisa dia ambil karena rekening itu dalam pengawasan orang tuanya dan dipegang langsung oleh orang tuanya.
" Semoga uang ini bisa membantu Indhira." Bagas lalu mencoba menghubungi Ibu Tika. Dia memilih Ibu Tika karena dia percaya jika Ibu Tika bisa membantu menyerahkan uang itu kepada Indhira.
" Halo, Assalamualaikum, Bu. Maaf, Bu. Apa Ibu sedang sibuk?" tanya Bagas saat panggilan teleponnya terhubung dengan nomer Ibu Tika.
" Waalaikumsalam,. ada apa, Bagas?" sahut Ibu Tika dari seberang.
" Bu, saya mau minta bantuan Ibu. Saya tidak bisa keluar rumah sekarang ini, Bu. Karena Papa saya menyuruh orang untuk mengawasi dan menghalangi saya pergi ke mana-mana," keluh Bagas menceritakan bagaimana kondisinya saat ini.
" Lho, memangnya kenapa, Bagas? Kenapa kamu dilarang pergi-pergi?" suara Ibu Tika terdengar kaget. " Apa Papamu takut jika kamu berbuat masalah lagi?" tanya Ibu Tika menduga-duga. Namun, jika melihat karakter Bagas sebagai anak baik selama ini. Dia yakin jika tujuan orang tua Bagas melarang Bagas pergi bukan karena hal tersebut.
" Saya tidak tahu, Bu. Tadi saat Benny memberitahu jika Indhira datang ke sekolah, sebenarnya saya mau datang menyusul Indhira. Tapi ketika saya keluar ternyata ada dua orang yang menghadang saya di depan gerbang," tutur Bagas mengeluhkan keadaan yang menimpanya.
" Apa jangan-jangan, Orang tua kamu menyuruh orang mengawasi kamu itu karena mereka tidak ingin kamu berhubungan dengan Indhira lagi, Bagas?" Ibu Tika sudah sampai kepada pemikiran jika Orang tua Bagas tidak ingin Bagas kembali menemui Indhira. Seperti yang diceritakan Pak Marcel kepadanya jika Adibrata mengancam akan menghentikan dana yang selama ini disumbangkan ke yayasan jika Indhira masih bersekolah di sekolah itu. Sepertinya itulah alasan yang tepat kenapa saat ini Adibrata mengekang anak sulungnya itu.
" Mungkin saja, Bu. Papa memang menyalahkan Indhira karena kejadian ini, Bu." Bagas pun teringat saat Papanya itu menuding jika Indhira lah yang sudah membawa pengaruh buruk kepada Bagas sampai terjadi kasus seperti saat ini.
" Sekarang kamu tahu penderitaan yang dirasakan Indhira karena perubahan kamu, kan?!" Ibu Tika masih belum bisa menutupi kekecewaannya terhadap Bagas. Apalagi setelah mendengar jika orang tua Bagas justru menyalahkan Indhira karena masalah ini. Padahal jelas-jelas, Indhira lah yang paling dirugikan.
" Iya, Bu! Saya sungguh-sungguh menyesal. Saya sudah membuat masalah. Tapi, saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk memperbaiki keadaan," sesal Bagas merasa tidak berguna.
Hening beberapa saat. Tak terjadi percakapan antara Bagas dan juga Ibu Tika, hanya suara dengusan nafas Ibu Tika saja yang terdengar.
" Lalu, bantuan apa yang kamu butuhkan dari Ibu?" Ibu Tika menayakan soal tujuan Bagas menghubunginya.
" Saya mau minta tolong pada Ibu. Tolong berikan uang kepada Indhira. Saya tahu ini tidak akan merubah keadaan. Tapi, saya harap uang ini bisa Indhira pakai untuk pegangan dia, Bu." Bagas memang sangat mengkhawatirkan kondisi Indhira. Apalagi saat dia tidak dapat menuruti permintaan Tante Marta untuk membayar uang ganti rugi. Namun, setelah mendengar penjelasan Rissa kemungkinan Tante Marta akan berfoya-foya dengan uang ganti rugi, Bagas berniat menyerahkan uang tabungannya itu untuk Indhira.
" Ibu jangan berpikiran jika saya lakukan hal ini karena saya ingin cuci tangan. Ini hanya tindakan sementara yang bisa saya lakukan untuk menolong Indhira, Bu." Bagas meyakinkan Ibu Tika jika dia tetap bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Indhira, termasuk harus menikahi Indhira jika ternyata nantinya Indhira hamil karena perbuatannya itu.
" Terima kasih, Bu. Saya bisa minta nomer rekening bank punya Ibu? Nanti saya akan transfer uang seratus juta. Saya minta tolong Ibu berikan uang itu untuk Indhira ya, Bu! Jangan diberikan ke Tantenya." Bagas sudah mewanti-wanti jangan sampai uang itu jatuh ke tangan Tante Marta.
" Seratus juta??" Ibu Tika terperanjat mendengar nominal yang ingin diberikan Bagas untuk Indhira. " Kamu mau kasih uang seratus juta?" tanyanya masih belum percaya.
" Iya, Bu. Saya tahu nominal itu tidak dapat merubah keadaan. Tapi, setidaknya uang ini dapat digunakan Indhira untuk keperluan Indhira. Mungkin Indhira bisa ikut kursus atau apa saja yang bermanfaat untuk dia ke depannya." ujar Bagas menjelaskan kenapa dia memberikan uang kepada Indhira. Mungkin jika Indhira bisa mengikuti kursus dan mempunyai keahlian, hal itu justru dapat bermanfaat bagi Indhira.
" Apa Indhira tidak punya rekening bank, Bagas? Uang seratus juta kalau diberikan tunai kepada Indhira, itu sangat berbahaya. Apalagi kamu bilang uang ini jangan sampai jatuh ke tangan Tantenya Indhira." Ibu Tika khawatir jika uang senilai seratus juta itu diserahkan tunai kepada Indhira terlalu besar resikonya.
" Indhira tidak punya rekening bank, Bu."
" Tapi terlalu bahaya menyerahkan uang sebanyak itu, Bagas." Ibu Tika tetap tidak setuju uang yang akan diberikan kepada Indhira berbentuk tunai.
" Lalu saya harus bagaimana, Bu? Kalau saya bisa keluar rumah saja, saya ingin kasih ATM saya ini untuk dia pegang. Jadi jika sewaktu-waktu Indhira membutuhkan uang itu, dia bisa ambil uang itu di mesin ATM."
" Hmmm, begini saja. Nanti ibu akan mengunjungi kamu di rumah. Kamu bisa titipkan ATM kamu kepada Ibu, setelah itu Ibu akan berikan ATM dan nomer PIN nya. Bagaimana?" Ibu Tika memberikan opsi yang dapat membantu Bagas.
" Baiklah, Bu. Saya setuju dengan usulan Ibu." Bagas pun menyetujui rencana yang disarankan oleh Ibu Tika.
" Ya sudah, besok siang Ibu akan datang ke rumah kamu, Bagas. Semoga Ibu diijinkan bertemu dengan kamu." Karena mengetahui jika gerak-gerik Bagas kini diawasi, Ibu Tika berharap rencananya bisa berjalan dengan lancar.
" Ibu kabari saya saja jika sudah sampai rumah saya, Bu."
" Baiklah, nanti Ibu hubungi kamu jika Ibu kesulitan masuk."
" Terima kasih atas bantuannya ya, Bu. Saya tidak tahu harus minta tolong siapa lagi!?"
__ADS_1
" Sama-sama, Bagas. Ibu juga tidak tega melihat Indhira."
" Kalau begitu, saya tutup dulu teleponnya ya, Bu. Assalamualaikum ..." Bagas berniat mengakhiri percakapan teleponnya dengan Ibu Tika.
" Waalaikumsalam ..." Setelah Ibu Tika menjawab, panggilan telepon tersebut ditutup oleh Bagas.
***
Om Ferry baru menutup telepon dari Tante Marta yang melaporkan jika Indhira sudah dikeluarkan dari sekolah, juga soal uang ganti rugi yang kemungkinan besar gagal mereka terima. Tentu saja hal tersebut membuat Om Ferry harus segera melaksanakan aksinya untuk menjual Indhira ke bos tempat Om Ferry bekerja.
Om Ferry menengok ke kanan dan ke kiri, memantau apakah ada istri dari bosnya di sekitar ruangan kerja bosnya itu. Karena usaha tempatnya adalah sebuah show room dan juga bengkel motor. Istri bosnya pun ikut membantu mengurus usaha milik suaminya itu.
" Permisi, Pak Bos." Dirasa olehnya sudah aman, Om Ferry masuk ke dalam ruang kerja bosnya.
" Ada apa, Fer?" tanya Pak Harta terkejut saat melihat Ferry masuk ke dalam ruangannya.
" Nyonya ada di mana, Pak Bos?" tanya Ferry takut jika istri bosnya itu ada di dalam ruangan Pak Harta.
" Sedang menemani Sharon belanja. Ada apa?" tanya Pak Harta kembali.
" Begini, Pak Bos. Istri saya punya keponakan perempuan. Masih muda. Baru genap delapan belas tahun. Tapi, dia sudah tidak perawan. Barangkali Pak Bos berminat." Om Ferry secara terang-terangan menawarkan Indhira kepada Pak Harta. Dia lalu menunjukkan foto Indhira di ponselnya yang dikirim dari ponsel Tante Marta.
" Sudah tidak perawan?" Pak Harta mengerutkan keningnya karena melihat wajah Indhira yang terlihat lugu.
" Dia ditipu pacarnya, Pak Bos. Dia bukan anak nakal, kok!" Om Ferry mencoba mempengaruhi Pak Harta agar termakan bujuk rayunya.
" Cantik memang ..." Bagi pria hidung belang seperti Pak Harta, tentu tidak akan tahan jika disodorkan wanita apalagi masih muda dan cantik seperti Indhira.
" Bos suka?" Om Ferry yakin jika Bosnya itu akan tertarik pada Indhira.
Pak Harta menatap Om Ferry, dia mengerti apa tujuan Om Ferry menyodorkan keponakannya sendiri untuk lelaki hidung belang seperti dirinya.
" Oke, nanti saya transfer uang ke kamu, Fer. Kapan saya bisa pakai ponakan kamu itu?" Pak Harta dengan cepat menyetujui tawaran Om Ferry.
" Terserah kapan Pak Bos mau?" Om Ferry menyerahkan waktu kepada Pak Harta.
" Nanti malam bisa?" tanya Pak Harta.
" Bisa, Pak Bos." sahut Om Ferry cepat menyahuti.
" Ya sudah, nanti malam saja. Nanti tempatnya saya kabari menyusul." Pak Harta langsung mengambil dompet dan mengambil uang senilai satu juta lima ratus ribu rupiah dan menyerahkannya kepada Om Ferry. " Ini, nanti sisanya saya transfer kalau sudah saya pakai," lanjutnya kemudian.
" Terima kasih banyak, Pak Bos." Dengan sigap Om Ferry mengambil uang yang disodorkan oleh Pak Harta kepadanya.
" Tapi ingat, Fer! Jangan sampai istri saya tahu soal ini! Kau paham, kan!?" Pak Harta memperingatkan Om Ferry agar menyimpan rahasia ini dari istrinya. Tentu dia tidak ingin istri tahu jika dia senang bermain dengan wanita hanya untuk menyalurkan kesenangannya berganti-ganti pasangan kencan.
" Siap, Pak Bos! Saya pasti akan jaga rahasia ini." Sudah pasti Om Ferry akan merahasiakan apa yang dilakukan oleh bosnya itu, karena dia akan mengambil keuntungan dari hobi sang bos dengan menjual keponakan istrinya sendiri.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️