
Bagas menatap tubuhnya yang kini berbalut office boy uniform. Walau dia harus berkali-kali menahan nafasnya karena aroma dari seragam Edi yang dia pakai menimbulkan bau yang sangat menyengat. Sepertinya Edi sengaja menyemprotkan parfum terlebih dahulu ke seragam yang ingin dipakai olehnya itu.
Bagas lalu berjalan ke luar ruangannya untuk menemui Edi yang masih menunggu di depan ruangan kerjanya. Dia sudah memberi perintah pada office boy di kantornya itu untuk memboncengnya ke luar dari kantor mengunakan motor Edi, agar kepergiannya tidak dicurigai orang-orang yang sedang menguntitnya.
" Kita pergi sekarang, Ed!" perintah Bagas saat keluar dari pintu ruangannya.
" Baik, Pak." Edi yang menunggu di kursi tunggu langsung bangkit.
Sementara Ester terlihat terperanjat melihat bosnya memakai seragam office boy sama seperti Edi. Dia bingung kenapa bosnya itu sampai mengenakan pakaian seperti itu.
" Ester, jangan bilang pada siapapun apa yang kamu lihat saat ini. Apa kamu mengerti!?" Bagas meminta Ester untuk tutup mulut.
" I-iya, Pak. Bapak mau ke mana?" tanya Ester heran, Namun sebenarnya dia sedang menahan tawa melihat penampilan bosnya saat ini. Dia pikir penyamaran seperti ini hanya ada di film-film saja, ternyata di kenyataan ada juga, bahkan bosnya sendiri yang melakukan hal itu.
" Saya ada perlu, nanti malam saya pasti kembali!" Bagas berencana kembali ke kantor untuk mengambil mobilnya setelah selesai bicara dengan orang tua Rissa.
" Kalau sudah waktunya pulang, kamu pulang saja." ujar Bagas kemudian berjalan ke arah lift.
" Baik, Pak." Ester sempat menjawab ucapan bosnya itu, seraya menggelengkan kepala. Entah mengapa, Ester merasa jika bosnya itu bebarapa hari ini terlihat aneh gelagatnya. Tapi, tentu Ester tidak berani mengatakan apa yang membuat bosnya itu berubah seperti sekarang ini.
Bersama Edi, Bagas keluar dari pintu lift setelah sampai di basement. Tak berapa lama Bagas pun bisa keluar dengan aman berboncengan dengan Edi dari kantornya. Helm yang dia kenakan mampu menutupi wajahnya, sehingga orang yang menguntitnya tidak mengetahui jika dia berhasil kabur dari kantornya itu.
Sekitar satu kilometer dari kantornya, Bagas berhenti tepat di belakang sebuah mobil berwarna abu tua.
" Terima kasih, Ed." Bagas mengucapkan terima kasih atas bantuan Edi kepadanya seraya melepas helmet yang dia kenakan kepada Edi.
" Sama-sama, Pak. Apa nanti Bapak perlu saya jemput?" tanya Edi, menanyakan apakah dia harus menjemput Bagas kembali.
" Tidak usah, Ed! Terima kasih. Tolong rahasiakan saja soal ini!" Bagas meminta Edi untuk merahasiakan apa yang dilakukannya kepada siapa pun juga di kantor.
" Baik, Pak. Saya akan tutup mulut." Edi berjanji akan menutup mulut rapat-rapat soal kepergian sembunyi-sembunyi Bagas dari kantor.
" Ya sudah, kamu bisa pergi sekarang." Bagas mempersilahkan Edi untuk meninggalkannya.
" Baik, Pak. Saya permisi dulu." Edi melanjutkan mengendarai motornya, meninggalkan Bagas.
Sepeninggal Edi, Bagas lalu menghampiri mobil berwarna dark grey di depannya. Dia lalu membuka pintu mobil bagian tengah dan masuk ke dalam mobil itu.
" Selamat sore, Pak Bagas." sapa Hendrik yang sudah menunggu Bagas di balik kursi kemudi.
" Sore, Pak Hendrik." balas Bagas. Hendrik adalah anak buah Damar. Bagas memang sudah mengatur Damar untuk menyuruh orang mengantarnya ke butik milik Azkia untuk menjemput Indhira. Mobil yang digunakan Hendrik pun adalah mobil biasa, bukan mobil mewah agar tidak mengundang kecurigaan.
" Kita berangkat sekarang, Pak?" tanya Hendrik melirik ke arah spion.
" Iya, Pak Hendrik. Pak Hendrik tahu alamat butiknya, kan?" Bagas menanyakan apakah Damar sudah memberi informasi kepada Hendrik akan membawa dirinya ke mana.
" Pak Damar sudah memberi alamatnya kepada saya, Pak." jawab Hendrik, menjawab keraguan Bagas.
" Oh ya, Baju yang saya minta mana, Pak Hendrik?" tanya Bagas. Dia juga menyuruh Damar mencarikan pakaian untuk ganti, karena dia tidak mungkin menemui orang tua Rissa dengan pakaian seragam office boy yang saat ini dikenakannya.
" Oh, maaf, Pak." Hendrik lalu mengambil paper bag yang tadi diletakkan di jok samping kemudinya kemudian menyerahkannya kepada Bagas.
" Terima kasih, Pak Hendrik." Bagas mengambil paper bag berisi pakaian baru dari Hendrik, kemudian dia mengganti seragam office boy yang tadi dia pakai, lalu menggantinya dengan pakaian baru. Sementara Hendrik langsung menjalankan mobilnya menuju butik milik Azkia.
***
__ADS_1
Indhira terheran saat Bagas menjemputnya menggunakan mobil yang tidak biasa dipakai Bagas. Apalagi ada Hendrik yang menyetir mobilnya.
" Dia ini Pak Hendrik, Ra. Pak Hendrik yang akan mengantar kita ke rumah kamu." Bagas menjelaskan pada Indhira, saat Indhira melirik ke arah Hendrik. Bagas seakan mengerti apa yang ada dipikiran Indhira namun malu untuk ditanyakan oleh Indhira.
" Ini baju siapa, Bagas?" tanya Indhira mengambil seragam office boy yang diletakkan sembarang di jok sebelum dia duduk di mobil.
" Oh, itu punya OB di kantor," sahut Bagas enteng, mengambil baju itu dari tangan Indhira lalu melemparnya ke belakang.
" Kok, bisa ada di sini?" tanya Indhira heran, dia pun menoleh ke belakang, karena dia pikir ada orang lain selain mereka bertiga di dalam mobil itu.
" Tadi habis aku pakai," jawab Bagas tak ingin menjelaskan panjang lebar kenapa dia bisa memakai baju seragam office boy tadi.
" Kamu pakai? Untuk apa?" Indhira terkesiap mendengar jawaban Bagas. Memangnya untuk apa Bagas memakai pakaian office boy? Itu yang membuat Indhira semakin heran.
" Untuk kabur dari kantor." Bagas terkekeh menjawab pertanyaan Indhira.
" Kabur? Kamu kabur dari kantor? Memangnya kenapa kabur, Bagas?" Indhira makin bingung dengan perkataan kekasihnya itu. Dia tidak tahu, apakah Bagas serius dengan ucapannya atau hanya sekedar bercanda.
" Tidak apa-apa, Ra. Hanya iseng saja, kamu jangan khawatir." Bagas tidak ingin membuat Indhira cemas, sehingga dia harus berbohong, jika dia memang sengaja kabur agar tidak ada yang menguntitnya menjemput Indhira sampai ke rumah orang tua Rissa.
Indhira pun tidak bertanya lagi. Dia pun memilih diam, walaupun hatinya terus bertanya-tanya heran. Apalagi saat ini Bagas tidak menggunakan mobilnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah orang tua Rissa. Sementara Hendrik tetap menunggu di dalam mobil selama Bagas berbicara dengan orang tua Rissa.
" Assalamualaikum ..." Indhira masuk ke dalam rumah orang tua Rissa
" Waalaikumsalam ..." Ibu Lidya yang menyambut Indhira di depan pintu.
" Tante ..." Indhira menyalami dan mencium punggung tangan Ibu Lidya.
" Malam, Bagas. Ayo, silahkan masuk ..." Ibu Lidya mempersilahkan Bagas untuk masuk ke dalam rumahnya.
" Sebenarnya Tante panggilkan Om dulu, ya!?" Ibu Lidya segera masuk ke kamarnya untuk memanggilkan suaminya.
" Bahas, aku taruh tas aku dulu sebentar, ya!?" Indhira pun meminta Bagas menunggu karena dia ingin menaruh tas nya di kamar.
" Ya sudah, jangan lama-lama, Ra!" Bagas mengijinkan Ibdjuta lndhira yang ingin ke kamar.
Tak berapa lama Ibu Lidya dan Pak Edwin yang lebih dulu kembali ke ruang tamu.
" Selamat malam, Om ..." Bagas bangkit dan menyalami tangan Pak Edwin.
" Malam, Bagas. Silahkan duduk ..." Pak Edwin mempersilahkan Bagas untuk duduk kembali.
" Om ..." Indhira yang baru kembali ke ruang tamu mengalami dan mencium tangan Pak Edwin. Kemudian Indhira pun duduk bersebelahan dengan Bagas
" Indhira bilang, kamu ingin membicarakan soal pernikahan kalian Minggu depan. Apa itu benar, Bagas?" Saat mereka sudah menghadap keluarga Rissa, Pak Edwin langsung menanyakan niat Bagas yang menginginkan menikahi Indhira secepatnya.
Bagas menoleh ke arah Indhira. Wanita itu tidak memberitahu dirinya jika sudah mengatakan niatnya untuk menikah Indhira kepada Pak Edwin.
" Benar, Om. Saya memang berencana menikah dengan Indhira pertengahan Minggu depan. Karena itu saya ingin meminta ijin kepada Om dan Tante, karena selama ini Om dan Tante yang sudah merawat Indhira dan sudah Indhira anggap sebagai orang tua Indhira sendiri." Bagas membenarkan niatnya yang ingin menikahi Indhira.
" Kenapa begitu cepat sekali, Bagas? Apa orang tua kamu sudah menyetujui rencana pernikahan kalian?" tanya Ibu Lidya dengan cepat menanggapi apa yang disampaikan oleh Bagas.
" Soal orang tua saya, itu bisa saya tangani, Tante. Tante tidak usah khawatir." Tak ingin membuat Indhira dan kedua orang tua Rissa khawatir, Bagas mengatakan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal orang tuanya. Walaupun sebenarnya Adibrata menentang keras pernikahan mereka.
__ADS_1
" Indhira, apa kamu sudah siap untuk menikah dengan Bagas?" Pak Edwin kini menanyakan keinginan Indhira yang sesungguhnya. Karena Papa dari Rissa itu tentu tidak ingin Indhira mengalami penderitaan kembali setelah menikah dengan Bagas. Perbedaan status sosial kedua orang itu menurutnya tidak bisa diambaikan begitu saja. Pak Edwin sendiri belum yakin, apakah kedua orang tua Bagas bisa menerima Indhira dengan baik atau tidak.
" Saya ..." Indhira menoleh ke arah Bagas, menatap sang kekasih yang juga sedang menatapnya dengan menganggukkan kepala seolah meyakinkan Indhira untuk mantap dengan rencana pernikahan mereka berdua.
Indhira kini kembali menoleh pada Pak Edwin yang sedang menunggu jawaban darinya.
" Saya terserah Bagas saja, Om." tutur Indhira. Dia memang tidak punya pilihan lain, dan sebenarnya dia juga tidak ingin memilih pria lain dalam hidupnya. Hatinya seolah sudah terpaut pada Bagas dan sulit untuk berpaling pada pria lain.
" Lalu di mana kamu akan melaksanakan pernikahan kalian?" tanya Ibu Lidya kemudian.
" Kami berencana melakukan akad nikah di KUA saja, Tante." Bagas menjawab dengan cepat, tanpa membutuhkan waktu lama untuk berpikir.
" Kenapa tidak melakukan akad di sini saja? Di sini juga tidak apa-apa, kok! Kami sudah pernah menikahkan Rissa." Ibu Lidya menawarkan agar mereka menikah di rumahnya. Ibu Lidya percaya mitos, pantangan menggelar pernikahan untuk orang lain, jika belum menikahkan anaknya sendiri, karena ditakutkan akan mempersulit jodoh anak-anaknya sendiri. Namun, karena kedua anaknya sudah menikah, Ibu Lidya pun menawarkan mengadakan pernikahan Bagas dan Indhira di rumahnya.
" Maaf, Tante. Kami tidak enak terus merepotkan Tante dan Om, karena itu kami memutuskan untuk melaksanakan akad nikad di KUA." Bagas menyebut kata kami, padahal sebenarnya dia sendiri yang menentukan tempat untuk mereka melaksanakan akad nikah.
" Ya sudah, jika memang kamu sudah berniat untuk menikahi Indhira, Om dan Tante hanya dapat mendoakan, semoga ini adalah yang terbaik untuk kalian. Om hanya berpesan kepada kamu Bagas, tolong jaga Indhira baik-baik. Dia sudah banyak melewati penderitaan selama ini, jangan buat dia menderita lagi. Lindungi dia, sayangi dia. Berilah dia kebahagiaan yang selayaknya dia dapatkan. Indhira sudah tidak mempunyai orang tua. Kewajiban kamu nantinya untuk mengurus dan melindungi Indhira." Pak Edwin menasehati Bagas agar sungguh-sungguh dengan niatnya untuk membahagiakan Indhira.
" Baik, Om. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Indhira, Om." tegas Bagas, siap menyanggupi apa yang diminta oleh Pak Edwin.
" Lalu kalian akan melakukan resepsi di mana?" tanya Ibu Lidya kembali.
Bagas dan Indhira saling berpandangan. Mereka memang belum merencanakan akan mengandakan acara resepsi di mana. Karena Indhira sendiri tidak ingin mengadakan resepsi.
" Indhira tidak ingin mengadakan resepsi, Tante." sahut Bagas kemudian.
" Tapi syukuran setelah akad perlu juga, kan? Biar tetangga sekitar tahu kalau kalian sudah resmi suami istri. Jika kalian tidak keberatan, sebaiknya kalian mengadakan syukuran di rumah ini saja. Kamu 'kan sehari-harinya tinggal di sini, Ra. Biar tetangga sekitar sini tahu kalau kamu sudah menikah." Kembali Ibu Lidya menawarkan rumahnya untuk syukuran pernikahan Bagas dan Indhira.
" Apa itu tidak merepotkan Tante dan Om?" tanya Bagas, menanggapi tawaran Ibu Lidya kembali. Sebenarnya dia ingin menolak, tapi dia tidak enak jika semua tawaran orang tua Rissa itu ditolak. Karena mereka benar-benar menganggap Indhira seperti keluarganya sendiri.
" Tidak, kok, Bagas. Indhira sudah seperti anak kami sendiri, jadi kalau dia menikah, Tante juga harus menyambut pernikahan Indhira," sahut Ibu Lidya.
" Bagaimana, Ra?" Bagas bertanya kepada Indhira. Untuk kali ini, dia ingin Indhira yang mengambil keputusan.
" Aku terserah kamu saja, Bagas." Kembali Indhira menjawab dengan kalimat yang sama seperti sebelumnya.
" Ya sudah, Tante. Kalau Tante dan Om tidak keberatan, kami setuju dengan tawaran Tante untuk mengadakan acara syukuran pernikahan di rumah ini." Akhirnya Bagas menerima tawaran Ibu Lidya untuk mengadakan acara. syukuran dan juga pagajian jelang pernikahan Indhira di rumah orang tua Rissa.
Bagas lalu mengambil ponsel dari saku celananya.
" Apa saya bisa minta nomer rekening bank Om atau Tante? Saya ingin mentransfer uang untuk keperluan persiapan pernikahan nanti. Saya mau minta tolong Tante untuk membantu Indhira menyiapkan apa yang diperlukan untuk akad nikah nanti." Bagas ingin mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membeli perlengkapan pernikahan. Dia memercayakan semuanya kepada keluarga Rissa untuk mengaturnya.
" Ditransfer ke rekening Tante Lidya saja, Bagas." Pak Edwin menyuruh Bagas mentransfer uang ke rekening istrinya. Ia pun lalu menyebutkan nomer rekening bank milik istrinya kepada Bagas.
" Saya transfer seratus juta dulu ya, Tante. Nanti kalau kurang saya transfer lagi." Bagas menyebutkan uang yang akan dia transfer ke rekening Ibu Lidya. " Sudah saya transfer uangnya, Tante." lanjut Bagas menunjukkan bukti transfer uang di layar ponselnya.
Semua yang ada di ruangan tamu terbelalak mendengar Bagas menyebutkan nominal uang yang ditransfer ke rekening Ibu Lidya. Untuk ukuran mereka, jumlah uanga yang ditransfer sudah cukup untuk mengadakan pesta pernikahan besar dan mewah.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️