
Selepas kepergian Gavin dan Azzahra, Rissa mengajak masuk Indhira ke kamarnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Indhira. Melihat kondisi Indhira yang sangat syok, tentu Rissa merasa prihatin.
" Ra, apa yang terjadi? Dan kenapa kamu bisa sampai bertemu dengan Om dan Tante tadi?" tanya Rissa menanyakan peristiwa sebenarnya.
" Om Ferry ingin menjual aku, Ra. Om membawa aku ke hotel. Lalu aku kabur waktu Om ku sedang menelepon orang itu dan aku bersembunyi di mobil Om dan Tante tadi." Indhira menceritakan pada Rissa apa yang menimpanya.
" Om sama Tantemu itu jahat banget sumpah, Ra!" Rissa dibuat kesal dengan sikap Om Ferry dan Tante Marta. " Untung saja kamu bisa selamat dan bertemu dengan orang baik seperti Om dan Tante itu, Ra." lanjutnya.
" Iya, Ris. Aku juga bersyukur bisa bertemu dengan Om dan Tante tadi. Mereka tidak hanya memberi aku tumpangan dan mengantar aku ke sini. Mereka juga kasih aku uang ini, Ris." Indhira mengeluarkan uang yang dia terima dari Azzahra.
" Masya Allah, baik sekali Om sama Tante itu." Rissa ikut merasa terharu dengan perlakuan baik yang diterima Indhira dari Azzahra dan Gavin.
" Iya, Ris. Aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan mereka." Indhira sendiri tidak menduga jika akan diberikan pertolongan begitu cepat ketika dia sedang dalam kesulitan. Mungkin itu adalah jawaban atas doa-doanya.
" Itu karena kamu sabar menghadapi cobaan yang sedang kamu hadapi, Ra. Makanya kamu jangan berkecil hati. Pasti akan ada yang membantu jika kamu ikhlas menjalani. Meskipun itu bantuan dari orang yang tidak terduga seperti Om dan Tante itu " Rissa berusaha membangkitkan kembali semangat Indhira yang sempat down.
" Lalu apa rencana kamu sekarang ini, Ra? kamu tidak mungkin kembali ke rumah kamu, kan?" tanya Rissa kemudian.
" Aku tidak tahu, Ris. Aku juga bingung. Tapi, aku memang tidak mungkin kembali ke rumahku. Aku takut, Om dan Tanteku pasti akan marah karena tadi aku kabur. Dan mungkin Om aku akan berusaha menjualku lagi," lirih Indhira.
" Ya sudah, sementara waktu kamu tinggal di rumahku saja dulu. Sambil nanti dipikirkan lagi bagaimana rencana ke depannya." Rissa tidak tega melihat Indhira harus terlantar di tempat yang tidak jelas. Karena itu dia meminta Indhira sementara tinggal di rumahnya sambil memikirkan apa yang akan dilakukan Indhira selanjutnya.
" Aku tidak mau merepotkan kamu, Ris. Besok aku akan mencoba mencari pekerjaan saja. Mungkin ada yang butuh tenaga aku di toko atau pekerjaan rumah tangga. Yang penting halal dan aku dapat tempat untuk tinggal, Ris." Indhira tidak memikirkan soal gengsi. Baginya bisa bertahan hidup, jauh dari tekanan keluarga Tante Marta dan tidak melakukan kesalahan lagi, itu yang dia inginkan saat ini.
" Kamu mau bekerja seperti itu, Ra?" Rissa menyayangkan jika Indhira melakukan pekerjaan yang disebutkan oleh Indhira tadi. Dia tahu jika Indhira adalah salah satu anak yang pandai, sangat disayangkan jika tidak meneruskan sekolah dan tidak mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan kemampuan otaknya.
" Memangnya aku mesti kerja di mana, Ris? SMA aku tidak lulus. Ijasah SMP pun aku tinggal di rumah. Bagaimana aku mendapat pekerjaan lain selain pekerjaan itu? Aku juga tidak punya keahlian apa-apa, Ris." ucap Indhira pesimis akan mendapatkan pekerjaan seperti yang diharapkan oleh Rissa.
" Bu Tika bilang beliau akan bantu kamu ikut belajar paket C, Ra. Kenapa kamu tidak ambil saja? Sayang-sayang otak kamu, Ra. Kamu salah satu pelajar yang berprestasi dalam bidang akademik." Rissa mengingatkan soal Tawaran Ibu Tika yang akan membantu Indhira agar dapat mengikuti sekolah paket C, supaya Indhira mempunyai ijazah yang dapat digunakan melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi atau untuk melamar pekerjaan di tempat yang layak dengan prestasi Indhira di bidang pendidikan.
" Ibu Tika pasti akan membiayai pakai uang pribadi, Ris. Aku tidak enak merepotkan Ibu Tika terus." sahut Indhira ragu menerima tawaran baik Ibu Tika.
Tok tok tok
" Ris, Mama sama Papa mau bicara sebentar." Suara Ibu Lidya terdengar dari pintu seiring dengan pintu kamar Rissa terbuka. Ibu Lidya menatap ke arah Indhira dengan pandangan tidak biasa membuat Indhira menundukkan kepalanya.
" Iya, Ma. Sebentar ..." Rissa lalu bangkit. " Ra, aku tinggal dulu, ya! Kamu kalau lelah tiduran saja di spring bed tidak apa-apa." Rissa lalu keluar kamarnya mengikuti langkah Mamanya yang sudah pergi mendahului.
Indhira mendesah. Dia sepertinya bisa meraba apa yang akan dibicarakan orang tua Rissa pada Rissa. Pasti itu menyangkut keberadaan dirinya di rumah Rissa saat ini. Indhira menyadari tidak akan mudah menerima kehadirannya setelah kesalahan yang telah dilakukannya kemarin bersama Bagas.
***
" Ada apa, Pa, Ma?" tanya Rissa saat masuk ke kamar orang tuanya. Karena Papa Mamanya mengajaknya bicara di kamar orang tuanya itu.
" Rissa, Papa sama Mama sudah berdiskusi soal teman kamu itu. Kami bukannya tidak mengerti kondisi dia saat ini. Tapi, saat ini Indhira sedang berkasus dan viral. Papa tidak ingin tetangga di sekitar kita tahu apa yang sudah dilakukan oleh dia. Dan mereka tahu jika dia ada di rumah kita." Pak Edwin memberi pengertian kepada Rissa agar anaknya itu tidak dalam paham.
" Maksud Papa, Papa ingin mengusir Indhira juga?" Rissa sudah terlanjur salah paham dengan perayaan Papanya tadi.
" Kami bukan bermaksud mengusir, Rissa. Tapi, kita harus memikirkan nama baik keluarga kita. Jangan sampai tetangga sini tahu jika orang yang berada di dalam video itu teman kamu dan ada di sini." Ibu Lidya menjelaskan maksud perkataan suaminya.
" Ma, Pa, Indhira itu sedang dalam kesulitan! Dia diperlakukan buruk oleh keluarganya! Dibo dohi oleh pacarnya! Dikeluarkan dari sekolah! Sekarang Papa sama Mama tega ikut bersikap jahat kepada Indhira juga?!" Rissa tidak menduga jika orang tuanya sampai tega ingin mengusir Indhira dari rumah mereka.
" Indhira itu sedang dalam kesulitan, Pa, Ma! Seharusnya kita bantu dia, kita rangkul dia, kita carikan jalan keluar untuk masalahnya, bukan malah mengasingkan dia dan terus memberi tekanan kepadanya!" Rissa sampai tidak dapat meredam emosinya mengetahui Papa dan Mamanya seakan tutup mata terhadap masalah yang sedang menimpa sahabatnya itu.
" Rissa sangat kecewa terhadap sikap Papa dan Mama!" Rissa kemudian pergi meninggalkan kamar orang tuanya karena merasa orang tuanya tidak terketuk sama sekali hatinya melihat penderitaan Indhira.
__ADS_1
" Papa lihat, kan? Rissa jadi malah salah paham ke kita!" Ibu Lidya mendengus melihat sikap keras yang ditunjukkan Rissa kepada mereka.
" Mama juga pakai bilang menjaga nama baik keluarga kita, jadi Rissa tersinggung." Pak Edwin tidak ingin disalahkan sepenuhnya oleh sang istri.
" Jadi bagaimana sekarang?" tanya Ibu Lidya.
" Sebaiknya Mama bicara dulu saja dengan Sandra. Mama ceritakan apa yang terjadi. Dan bisa tidak dia membantu Indhira?! Kalau Sandra sudah positif bisa membantu, nanti kita bicara lagi dengan Rissa agar Rissa tidak salah paham dengan maksud baik kita ini." Sebenarnya kedua orang tua Rissa mempunyai rencana untuk membantu Indhira. Namun, Rissa sudah terlanjur merajuk tanpa mendengar dulu apa yang mereka rencanakan.
***
Tante Marta memperhatikan wajah suaminya yang lebam karena terkena pu kulan. Setelah Indhira berhasil kabur, Om Ferry langsung didatangi orang suruhan Gavin yang memberikan hadiah di wajah suami dari Tante Marta itu.
" Pa, siapa orang yang sudah mengani aya Papa sampai begini, sih?" tanya Tante Marta heran.
" Aku tidak tahu, Ma. Tiba-tiba saja ada orang yang mendekati Papa terus membawa Papa masuk ke dalam hotel itu lalu mengintrogasi Papa. Menanyakan apa yang sedang Papa lakukan di hotel itu. Orang-orang itu tahu kalau Papa berencana menjual Indhira dan menanyakan siapa orang yang bertransaksi dengan Papa, Ma." Om Ferry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat dia mencari Indhira yang kabur.
" Dari mana orang itu tahu apa yang Papa lakukan di sana, Pa?" tanya Tante Marta heran
" Papa juga tidak mengerti bagaimana rencana kita ini bisa bocor? Dan siapa orang yang menyuruh memu kul Papa?!" Sama dengan Istrinya, Om Ferry pun merasa bingung karena rencananya menjual keponakan istrinya itu terendus orang lain.
" Apa Papa mau melaporkan pengani ayaan ini ke polisi, Pa?" tanya Tante Marta kembali. Karena apa yang dialami oleh suaminya dapat termasuk tindakan keke rasan.
" Dan polisi akan tahu kita ingin menjual Indhira?? Itu sama saja bunuh diri, Ma!"
" Iya juga, ya!? Apa jangan-jangan mereka itu orang suruhan keluarga Bagas, Pa?" Tante Marta mengira jika yang melakukan hal tersebut adalah orang-orang keluarga Adibrata.
" Mungkin saja, Ma. Tapi, apa untungnya buat mereka?" tanya Om Ferry masih berpikir keras menduga-duga siapa yang menggagalkan rencananya itu.
" Lalu bagaimana dengan Bos Papa? Apa dia marah?"
" Apa jangan-jangan Bos Papa itu yang sebenarnya ingin menjebak Papa? Jangan-jangan bos Papa itu yang menyuruh orang mukul Papa. Siapa tahu saat ini justru Indhira sudah bersama dia dan dia sedang bersenang-senang dengan Indhira." Tante Marta mencurigai ada yang tidak beres dengan bos dari suaminya itu.
***
Seperti biasa, sebelum Shubuh Indhira sudah terbangun. Dia melihat Rissa yang masih terlelap bergelung selimut. Semalam Rissa tidak bercerita padanya tentang apa yang dibicarakan dengan orang tua Rissa. Namun, dia yakin jika Rissa menyembunyikan sesuatu darinya.
Indhira sebenarnya ingin ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tapi dia tidak enak karena ini bukanlah rumahnya, sehingga dia memutuskan untuk menunggu Rissa bangun, baru akan keluar kamar.
Sepuluh menit kemudian setelah jam sudah menunjukkan setengah lima pagi dan Rissa terbangun, akhirnya Indhira bisa ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena dia akan melaksanakan sholat Shubuh.
Indhira melihat Ibu Lidya di dapur saat dia melewati dapur hendak ke kamar mandi yang letaknya di belakang dapur.
" Pagi, Tante." sapa Indhira melihat Mama dari Rissa yang sedang menatapnya.
" Pagi," balas Ibu Lidya kini menatap ke arah Rissa yang terlihat ketus.
" Sedang menyiapkan untuk sarapan ya, Tan? Ada yang bisa saya bantu tidak, Tan?" Indhira termasuk anak yang dapat menempatkan diri di mana pun dia berada, serta ringan tangan membantu pekerjaan tanpa diminta.
" Ra, katanya mau wudhu!? Cepat, gantian!" Rissa tidak membiarkan Indhira berbincang lama dengan Mamanya, karena dia takut perkataan Mamanya akan menyinggung Indhira.
" I-iya, Ris." jawab Indhira. " Saya ambil air wudhu dulu ya, Tante." Indhira berpamitan karena ingin melaksanakan kewajibannya dulu. Namun, dia berniat ingin membantu Ibu Lidya menyiapkan menu makanan untuk sarapan setelah selesai sholat.
" Kamu mau ke mana, Ra?" tanya Rissa saat melihat Indhira hendak keluar kamar setelah melaksanakan sekolah shubuh.
" Aku ingin membantu Mamamu menyiapkan makanan untuk sarapan, Ris." ucap Indhira.
__ADS_1
" Sudah tidak usah! Biar kamu di sini saja!" Rissa melarang Indhira yang berniat membantu di dapur.
" Tidak enak, Ris. Masa aku berdiam diri saja! Lagian hanya membantu menyiapkan menu makanan sudah biasa aku lakukan di rumah, kok!" Indhira bersikeras ingin membangun Mama dari Rissa.
" Tidak usah, Ra!" larang Rissa dengan sedikit menyentak.
" Memangnya kenapa, Ris? Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku, kan?" tanya Indhira merasakan ada hal yang ditutupi oleh Rissa darinya. Apalagi dia juga melihat sikap Rissa yang terlihat ketus kepada Mamanya sendiri.
Rissa menghela nafas panjang karena pertanyaan Indhira terasa berat untuk dijawab.
" Ra, aku minta maaf, ya!? Papa Mama aku kurang setuju kamu ada di sini." Dengan berat hati Rissa mengatakan apa yang dikatakan orang tuanya.
Indhira merasakan pasokan udara yang masuk ke rongga pernafasannya seakan berat untuk dihirupnya. Dia sudah menduga hal itu sejak Ibu Lidya mengajak Rissa berbincang.
" Tidak apa-apa, Ris. Aku justru merasa tidak enak sudah merepotkan keluarga kamu di sini." Indhira masih mencoba untuk tersenyum walaupun hatinya merasa kecewa omendapatkan penolakan dari orang tua Rissa.
" Aku minta maaf ya, Ra!?" Rissa langsung memeluk tubuh Indhira dan menangis. Sebagai sahabat dia merasa tidak berguna karena tidak dapat membantu Indhira.
" Kamu tidak udah merasa bersalah seperti ini, Ris. Aku mengerti, kok!" Indhira mencoba tegar agar Rissa tidak terus merasa bersalah walaupun hati Indhira menangis.
" Lalu kamu akan ke mana, Ra? Kamu tidak punya sanak keluarga di sini." Rissa sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
" Seperti yang aku katakan semalam, Ris. Aku mungkin akan mencari pekerjaan. Apa saja yang penting halal. Mungkin uang pemberian Tante baik hati kemarin bisa aku belikan pakaian dan cari kost untuk satu bulan ini. Semoga secepatnya aku bisa dapat kerja. Syukur-syukur pekerjaan yang aku dapat mengharuskan aku tinggal di sana, jadi uang untuk kost nya bisa aku simpan untuk keperluan lain." Indhira berharap ada orang yang memberikan pekerjaan kepadanya agar dia dapat bertahan hidup tanpa bantuan keluarganya.
" Maafkan aku ya, Ra!?" Rissa kembali memeluk dan menangis hingga Indhira pun tak kuat untuk tidak meneteskan air matanya. Dan mereka berdua saling menangis sambil berpelukan.
Ceklek
" Ya ampun, kenapa kalian pada nangis-nangisan begini?" Ibu Lidya tiba-tiba membuka pintu kamar Rissa dan terkejut melihat putrinya dan sahabat putrinya itu sama-sama menangis.
" Indhira, katanya kamu mau bantu Tante menyiapkan menu untuk sarapan. Tante sudah tunggu-tunggu dari tadi kok malah kalian sedang asyik menangis di sini?"
Perkataan Ibu Lidya dengan nada halus membuat Indhira dan Rissa tercengang.
" Pasti Rissa yang melarang kamu membantu Tante, kan? Kamu jangan tiru dia, Indhira! Rissa itu pemalas, tidak pernah mau masuk dapur untuk membantu Tante memasak! Ayo kamu bantu Tante sekarang! Nanti keburu siang." Ibu Lidya mengajak Indhira untuk membantunya di dapur. Tentu saja hal itu membuat kening Indhira dan Rissa sama-sama saling berkerut.
" Ayo, Indhira!" Melihat Indhira tak juga beranjak, Ibu Lidya kembali mengajak Indhira untuk segera bergabung di dapur.
" I-iya, Tante." Walau masih bingung, namun Indhira langsung bangkit dan mengikuti langkah Mama dari Rissa keluar dari kamar Rissa. Apa yang dikatakan Rissa tadi sampai membuat mereka menangis ternyata tidak terbukti. Ibu Lidya masih terlihat baik dan tidak sedikit pun menunjukkan kebencian kepadanya.
" Ma, Mama mengurungkan niat Mama dan Papa, kan?" Rissa pun ikut berlari menyusul Mamanya. Dia ingin memastikan jika Mamanya tidak jadi mengusir Indhira dari rumah mereka.
" Niat Mama yang mana sih, Ris?" tanya Ibu Lidya.
" Semalam bukannya Mama sama Papa ingin menyuruh Indhira pergi dari sini?" tanya Rissa.
" Itu kan pemikiran kamu, Rissa. Yang ingin mengusir Indhira itu siapa? Kamunya saja yang salah paham, belum apa-apa kamu sudah merajuk dan meninggalkan kamar Mama padahal kami belum menjelaskan tuntas apa yang Papa dan Mama rencanakan," ujar Ibu Lidya menyindir sikap putrinya yang terlalu cepat mengambil kesimpulan.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️