SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Jangan Sampai Terendus Orang Suruhan Papa!


__ADS_3

" Di sini, Mas?"


Setelah beberapa menit keluar dari kantornya, mobil yang membawa Bagas akhirnya sampai di depan Klinik Sehat Selalu, alamat yang dituju dalam pemesanan di aplikasi.


Bagas melirik arlojinya, saat ini baru menunjukkan pu kul 17:00 masih tersisa satu jam lagi menunggu Indhira pulang dari butik. Bagas lalu mengambil dompet di saku celananya. Dia lalu mengambil uang seratus ribuan sebanyak dua puluh lembar untuk dia serahkan kepada driver ojol yang mengantarnya.


" Berapa ongkosnya, Pak?" tanya Bagas kemudian.


" Empat puluh delapan ribu lima ratus rupiah, Mas." jawab driver ojol.


" Saya masih harus menunggu sekitar satu jam lagi, Pak. Setelah itu saya ingin menjemput calon istri saya pulang ke tempat tinggalnya sekitar setengah jam dari sini, lalu kembali ke kantor saya tadi." Bagas lalu menyodorkan uang senilai dua juta rupiah itu kepada driver ojol.


" Ini buat Bapak, Apa Bapak bisa membantu saya? Saya sewa Bapak untuk mengatar saya ke tempat yang saya sebutkan tadi." Bagas meminta bantuan driver ojol itu untuk membantu mengantarnya menemani Indhira pulang, sampai dia kembali ke kantornya.


Driver ojol tercengang disodorkan uang sebanyak itu dari penumpangnya. Driver itu lalu memandang ke arah Bagas seakan tak percaya.


" Itu untuk saya, Mas?" tanyanya masih terbengong, namun dengan tangan menerima uang yang diserahkan Bagas kepadanya. Tentu saja mendapatkan rezeki tak terduga seperti saat ini adalah hal yang jangan terjadi bagi driver tersebut.


" Iya, Pak. Tapi saya minta tolong Bapak antar saya. kurang lebih sekitar dua atau dua jam setengah." Bagas mengiyakan jika uang yang dia sodorkan sengaja dia berikan untuk driver ojol itu, dengan syarat harus membantu mengantar ke tempat yang dia tuju. Bagas benar-benar membutuhkan bantuan Driver, agar rencananya bisa berhasil.


" Sekitar satu atau satu setengah jam waktu yang diperlukan dari sini mengantar calon istri saya pulang lalu kembali ke kantor saya tadi. Tapi, calon istri saya baru keluar jam enam nanti. Apa Bapak bisa bantu saya?" Bagas kembali meminta kesediaan dari driver ojol untuk membantunya. Dia sampai mengeluarkan banyak uang hanya untuk membayar ongkos ojek online, sudah pasti dia tidak main-main dengan niatnya itu.


" Baik, Mas. Saya bisa, kok, membantu Mas nya." Driver ojol itu menyetujui membantu Bagas. " Terima kasih banyak, Mas. Alhamdulillah, rezeki." Dengan senang hati Driver itu menerima uang yang disodorkan oleh Bagas untuknya. Kapan lagi dia menerima rezeki nomplok seperti ini.


Satu jam berselang, setelah Indhira keluar dari butik. Bagas meminta driver ojol menjalankan mobilnya dan menjemput Indhira di depan Alexa Boutique.


" Pak, di butik itu, nanti masuk saja, kita jemput calon istri saya dulu di sana."


" Baik, Mas." Setelah mengiyakan apa yang diperintah oleh Bagas, driver ojek online itu langsung menjalankan mobilnya ke tempat yang dituju oleh Bagas.


***


Indhira keluar dari butik setelah mobil Azkia keluar dari butik itu. Indhira menunggu Bagas menjemputnya, karena Bagas tadi sudah memberi kabar jika dia sudah sampai di dekat butik milik Azkia.


" Menunggu dijemput pacarnya, ya, Mbak Indi?" tanya Pak Didit, security yang berjaga di depan saat melihat Indhira berdiri di depan teras butik. Beberapa kali melihat Bagas menjemput Indhira, membuatnya tahu jika saat ini Indhira sedang menunggu jemputan dari sang kekasih.


" Iya, Pak." Indhira menjawab dengan tersipu malu pertanyaan Pak Didit tadi. Sementara pandangannya terarah pada sebuah mobil yang masuk ke pekarangan butik tempatnya bekerja, membuatnya mengerutkan keningnya. Dia tidak mengenali mobil itu hingga membuatnya bertanya-tanya, siapa orang di dalam mobil itu, karena butik sudah tutup? Tidak mungkin jika pelanggan yang datang.

__ADS_1


Mobil itu lalu berhenti tepat di depan Indhira yang sedang menunggu ditemani security yang berjaga.


" Assalamualaikum, cantik." saat pintu mobil bagian tengah terbuka, sebuah sapaan terdengar dibarengi dengan sosok Bagas yang terlihat di dalam mobil.


" Waalaikumsalam ... Bagas?" Indhira terkejut saat mengetahui orang yang berada di dalam mobil adalah Bagas, karena kali ini Bagas memakai mobil yang berbeda dengan yang kemarin menjemputnya. Supir yang mengatar pun bukan Pak Hendrik.


" Ayo, masuk, Ra!" Bagas menyuruh Indhira yang masih tercengang untuk cepat masuk ke dalam mobilnya.


Walau masih dengan bertanya-tanya, Indhira mengikuti apa yang diminta Bagas.


" Pak, saya duluan ..." Indhira berpamitan kepada Pak Didit. " Assalamualaikum ..." Indhira mengucap salam kepada Pak Didit sebelum masuk ke dalam mobil.


" Iya, Mbak. Waalaikumsalam ... hati-hati." sahut Pak Didit.


" Pak, saya permisi dulu." Dari dalam mobil, Bagas berpamitan kepada .Pak Didit dengan mengangkat satu tangannya ke atas sejajar dengan kepalanya.


" Iya, Mas. Hati-hati." Suara Pak Didit masih sempat terdengar sebelum pintu mobil ditutup oleh Indhira.


" Kita pergi sekarang, Mas?" tanya driver ojol kepada Bagas.


" Iya, Pak. Ke alamat yang saya kasih tahu tadi!" jawab Bagas.


" Ini mobil ojek online," sahut Bagas menyeringai.


" Memangnya kenapa tidak pakai mobil kamu sendiri?" tanya Indhira. Bukan karena Indhira ingin dijemput memakai mobil mewah, tapi karena dia heran, tiga hari ini Bagas menjemputnya menggunakan mobil yang berbeda-beda.


" Biar tidak terlalu menyita perhatian orang kalau aku pakai mobilku untuk menjemputmu, Ra." Bagas beralasan, dia tidak menggunakan mobilnya agar tidak terlalu menimbulkan pertanyaan, terutama di lingkungan perumahan orang tua Rissa.


" Lalu mobil yang dipakai Pak Hendrik kemarin kenapa?" Indhira sependapat dengan alasan Bagas tidak memakai mobil mewah Bagas. Dia juga merasa jengah jika harus menimbulkan banyak pertanyaan tetangga sekitar komplek jika terlihat selalu diantar oleh Bagas yang menggunakan mobil yang harganya milyaran rupiah. Tapi mobil yang dipakai oleh Pak Hendrik menjemputnya kemarin adalah mobil yang umum. Tidak akan menjadi pergunjingan jika Bagas mengantarnya memakai mobil yang standar dipakai kebanyakan orang seperti yang dibawa Pak Hendrik kemarin.


" Mobilnya sedang dipakai." Bagas memberi alasan sekenanya. Dia tidak ingin Indhira tahu, jika dirinya harus kucing-kucingan untuk bertemu dengan Indhira. Bagas tidak ingin membuat Indhira cemas jika sampai tahu alasan sebenarnya dirinya sampai sembunyi-sembunyi saat keluar dari kantornya.


Indhira tidak terus bertanya, karena jawaban yang diberikan Bagas sudah cukup diterima olehnya.


" Dokumen persyaratan untuk pengantar nikah sudah beres semua ' kan, Ra? Besok Pak Darma akan mendaftarkan ke KUA." tanya Bagas kemudian.


" Sudah diurus sama Tante Lidya," sahut Indhira.

__ADS_1


" Nanti ingatkan aku, ya!? Dokumennya mau aku bawa, karena besok Pak Darma akan mendaftarkan pernikahan ke KUA." Bagas membelai lembut kepala Indhira.


Indhira terkesiap saat Bagas membelainya dengan penuh kasih sayang. Dia pun lalu melirik ke arah driver ojol. Untung saja driver itu sedang fokus dengan jalanan di depannya. Karena dia malu kalau sampai dilihat driver ojol dengan sikap Bagas tadi.


Indhira buru-buru menyingkirkan tangan Bagas dari kepalanya, agar tidak menimbulkan pemikiran negatif driver ojol.


" Kenapa?" Bagas mempertanyakan sikap Indhira yang menepis tangannya di kepala wanita itu.


Indhira lalu menggerakkan bola matanya ke arah driver ojol seolah memberitahu Bagas untuk tidak bersikap berlebihan.


Bagas hanya tersenyum menanggapi protes kekasihnya itu. Padahal mereka sebentar lagi akan menikah. Hanya hitungan hari saja, tapi Indhira masih saja bersikap malu-malu jika dia melakukan sentuhan fisik, walaupun hanya membelai kepala Indhira.


***


Setelah mengantar Indhira sampai ke rumah Pak Edwin dan mengambil arsip milik Indhira, Bagas kemudian kembali ke kantornya. Namun, sebelumnya, dia menghubungi Damar terlebih dahulu untuk menyerahkan dokumen milik Indhira kepada Damar untuk diurus ke KUA.


Setengah perjalanan menuju kantor, Bagas menyuruh driver ojol untuk menghentikan mobilnya di sebuah kedai nasi goreng, di mana Damar sudah menunggu di sana.


" Nanti berhenti sebentar di depan penjual nasi goreng di depan ya, Pak!?"


" Baik, Pak." sahut driver ojek online yang mengantarnya sejak keluar dari kantornya sore tadi.


Setelah mobil ojek online berhenti. Terlihat Damar menghampiri mobil yang ditumpangi oleh Bagas.


" Selamat malam, Pak Bagas." Damar menyapa Bagas saat pintu mobil dibuka dari dalam mobil.


" Ini dokumen syarat untuk pendaftaran pernikahan saya dengan Indhira, Pak Damar." Bagas menyerahkan map berisi surat-surat yang sudah diurus oleh Ibu Lidya sebelumnya.


" Secepatnya tolong diurus ke KUA. Dan tolong minta bantuan agar rencana pernikahan kami yang akan didaftarkan jangan sampai terendus oleh suruhan Papa saya, Pak Darma! Minta tolong agar mereka bisa merahasiakan soal pernikahan ini. Karena pagi tadi Papa sudah bergerak menyuruh orang suruhannya mengecek ke KUA." Bagas memberi arahan kepada Damar agar mengatur supaya rencana pernikahannya dengan Indhira tetap aman tanpa diganggu atau malah dihalangi oleh orang tuanya itu.


" Baik, Pak Bagas." sahut Damar. " Saya akan berusaha agar pernikahan Pak Bagas dengan Mbak Indhira bisa tetap dilaksanakan!" Damar bahkan sudah menyanggupi membantu agar pernihanan Bagas dengan Indhira bisa terlaksana.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2