
Ddrrtt ddrrtt
Bagas menoleh ponselnya yang berbunyi di meja kerjanya. Dia mendapati nama Dahlan yang saat ini menghubunginya. Bagas menghempas nafas cukup keras. Dia menduga jika apa yang akan disampaikan Dahlan, pasti ada hubungannya dengan tugas yang diberikan Papanya.
Sejauh ini, ancaman yang dia lakukan pada Dahlan masih efektif. Tapi, dirinya tidak tahu, apa Dahlan masih berada di belakangnya, mengingat Papanya semalam begitu sangat marah.
Bagas kemudian mengambil ponselnya yang berbunyi, untuk mengangkat panggilan masuk dari orang suruhan Papanya itu.
" Ada apa, Pak Dahlan?" tanya Bagas.
" Selamat siang, Mas Bagas. Maaf, kalau saya mengganggu aktivitas Mas Bagas," balas Dahlan dari seberang.
" Tidak apa-apa. Ada apa, Pak Dahlan? Apa Papaku menyuruh Pak Bagas menyelidiki Indhira?" Bagas dapat menebak, jika Papanya sudah memberi perintah kepada Dahlan untuk menyelidiki wanita yang Adibrata anggap telah mempengaruhi Bagas.
" Benar, Mas Bagas. Itu yang ingin saya sampaikan pada Mas Bagas. Saya tidak bisa terus menutupi hal ini dari Papa Mas Bagas. Jika kami terus menutupi, Papa Mas Bagas akan meragukan kinerja kami. Saya khawatir akan berimbas Tuan Adibrata akan menyuruh orang lain untuk melaksanakan tugas ini. Dan ini pasti akan lebih bahaya bagi Mas Bagas dan wanita itu." Dahlan menyampaikan alasannya, kenapa dia menghubungi Bagas saat ini.
" Saya mengerti, Pak Dahlan. Lalu apa yang akan Pak Dahlan lakukan?" Sebenarnya ini yang ditakutkan oleh Bagas dari sekedar pergi dari rumah atau meninggalkan pekerjaannya. Adibrata memang seorang yang licik. Apa pun akan dilakukan oleh Papanya itu agar semua berjalan sesuai dengan keinginan seorang Adibrata.
" Saya akan melaporkan apa yang Mas Bagas lakukan di luar kantor, termasuk jika Mas Bagas menemui wanita itu." Dahlan mengatakan jika dia akan melakukan sesuai yang diperintahkan Adibrata. " Karena itu, saya harap Mas Bagas lebih berhati-hati. Karena saya juga khawatir, Papa Mas Bagas sudah menyuruh orang lain untuk mengawasi Mas Bagas tanpa sepengetahuan kami. Sementara ini usahakan jangan temui Mbak Indhira lebih dulu. Terutama di tempat tinggal Mbak Indhira sekarang ini. Jika bisa, Mas Bagas mencari tempat yang aman untuk Mbak Indhira, karena Papa Mas Bagas sendiri yang akan turun tangan menghadapi Mbak Indhira jika beliau tahu di mana Mbak Indhira berada." Dahlan memperingatkan Bagas agar lebih bertindak hati-hati.
Bagas mendengus kasar, sejujurnya dia sangat kecewa bercampur rasa kesal dengan sikap keras kepala Papanya.
" Baiklah, Pak Dahlan. Lakukan saja apa yang diperintahkan oleh Papa. Tapi, saya minta tolong Pak Dahlan, usahakan agar Papa mendapat halangan jika ingin bertemu Indhira. Saya akan cari jalan agar Papa tidak sampai menemukan Indhira." Bagas berpesan kepada Dahlan agar tetap berada di pihaknya untuk menghadapi masalah ini.
" Baik, Mas Bagas." sahut Dahlan.
Setelah selesai berbicara dengan Dahlan, Bagas pun segera mengakhiri panggilan telepon tadi.
Bagas menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya dengan kepala menengadah ke atas. Dia harus berpikir keras untuk melindungi Indhira. Dahlan tadi menyebutkan agar tidak menemui Indhira dalam waktu dekat ini. Bagaimana bisa? Sedangkan dia sendiri mempunyai rencana bertemu dengan orang tua Rissa untuk membicarakan soal rencana pernikahannya malam ini.
Bagas kembali mengambil ponsel yang tadi dia letakan di meja kerjanya. Dia mencari nomer seseorang untuk dia hubungi. Setelah dia menemukan nomer tersebut, dia langsung menyambungkan panggilan telepon ke nomer orang itu.
" Selamat siang, Pak Bagas. Apa ada tugas yang harus saya kerjakan?" Suara Damar yang kini terdengar di ponsel Bagas. Damar adalah orang kepercayaan Bagas, dia mempunyai tugas yang sama seperti Dahlan ataupun Taufan. Hanya saja Damar bekerja untuknya, bukan pada Papanya. Dan juga keberadaan Damar tidak diketahui oleh Papanya maupun Dahlan dan Taufan.
" Pak Damar, saya minta tolong Pak Damar mengawasi Indhira. Papa saya sudah tahu soal Indhira, saya tidak ingin Papa dan orang-orang Papa saya sampai menyentuh Indhira." Bagas langsung memberi tugas kepada Damar untuk melindungi Indhira dari intimidasi Papanya.
" Baik, Pak Bagas. Saya akan menjalankan tugas yang Pak Bagas berikan kepada saya." Damar menyanggupi apa yang diperintahkan oleh Bagas.
" Usahakan jangan membuat Indhira curiga dan ketakutan karena Pak Damar mengawasi dia." Bagas berpesan agar tugas yang dia beri jangan sampai membuat Indhira justru ketakutan.
" Baik, Pak Bagas."
" Segera hubungi saya jika ada yang mencurigakan di sekitar Indhira. Saya percayakan tugas ini kepada Pak Damar." Bagas mengandalkan Damar untuk melindungi Indhira dari niat jahat Papanya.
" Siap, Pak Bagas."
Setelah memberikan tugas kepada Damar. Bagas mengakhiri sambungan teleponnya. Dia pun kemudian merapihkan meja kerjanya, karena dia ingin pergi menemui Raffasya di tempat kerja suami dari bos Indhira. Karena saat ini, hanya Raffasya yang bisa dia ajak bertukar pikiran.
***
Raff Studio FM & Caffee
" Mas Adam, Pak Raffasya ada?" Setelah diijin masuk security yang berjaga di depan untuk masuk ke dalam cafe, Bagas yang siang itu datang ke cafe Raffasya, berpapasan dengan Adam di dalam cafe.
" Bagas?" Adam bertemu dengan Bagas pertama kali saat Bagas datang ke cafe itu sebelum pergi ke Amerika kemarin.
" Apa Pak Raffasya sedang sibuk, Mas?" tanya Bagas kembali.
" Mas Raffa ada di ruangannya. Mari saya antar ..." Adam mengantar Bagas menemui Raffasya.
Tok tok tok
Setelah mengetuk pintu, Adam membuka pintu untuk memberitahu kedatangan Bagas pada Raffasya.
__ADS_1
" Mas Raffa, ada Bagas." Adam menyampaikan kehadiran kekasih Indhira di cafe milik Raffasya siang ini.
" Selamat siang, Pak Raffasya." Belum sempat Raffasya menjawab Adam, Bagas sudah lebih dahulu masuk dan menyapa Raffasya.
" Bagas? Ada apa?" Raffasya lalu bangkit dari kursinya dan menghampiri Bagas. " Kamu sengaja datang kemari?" tanyanya kemudian.
" Benar, Pak Raffa. Saya memang ada keperluan dengan Pak Raffa," sahut Bagas.
" Saya permisi, Mas Raffa." Adam berpamitan untuk memberi kesempatan kepada Bagas yang ingin bicara dengan Raffasya.
" Silahkan duduk, Bagas!" Raffasya mempersilahkan Bagas untuk duduk di sofa.
" Terima kasih, Pak." Bagas pun segera menghampiri sofa yang ditunjuk oleh Raffasya lalu mendudukinya.
" Ada masalah apa, Bagas?" Raffasya merasa kedatangan Bagas ke tempatnya saat ini karena sesuatu yang berkaitan dengan Indhira.
" Saya hanya ingin memberitahu Pak Raffa, jika saya berencana menikah dengan Indhira Minggu depan." Bagas menyampaikan. rencana yang sudah dia rancang untuk menikahi Indhira dalam waktu dekat.
Raffasya mengangkat alisnya ke atas menandakan dia terkejut dengan rencana pernikahan Bagas dengan Indhira. Bagas memang sudah pernah mengatakan ingin menikahi Indhira, namun dia tidak menduga jika pria itu akan melakukannya dalam waktu dekat ini.
" Minggu depan?" tanya Raffasya memastikan pendengarannya tidak salah menangkap perkataan Bagas.
" Benar, Pak Raffa." jawab Bagas dengan mantap.
" Apa orang tua kamu sudah mengetahui hal ini?" Seperti Raffasya dapat memprediksi jika orang tua Bagas tidak mudah menerima keputusan Bagas yang ingin menikahi Indhira.
Bagas mengela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Raffasya. Dan sesungguhnya, hal itulah yang paling mengganjal di hati Bagas saat ini.
" Saya sudah mengatakan kepada Papa saya tentang niat saya ini, Pak. Tapi, Papa saya memang menentang rencana kami ini." Bagas pun menjelaskan tentang penolakan Adibrata.
" Kalau Papamu menolak, kenapa kamu memaksakan pernikahan secepat ini? Apa itu tidak terlalu berbahaya bagi Indhira?" Raffasya mengkhawatirkan Indhira.
" Justru karena itu, saya ingin secepatnya menikahi Indhira, agar saya dapat melindungi Indhira dari intimidasi Papa saya, Pak." Bagas menjelaskan alasannya kenapa dia ingin secepatnya menikahi Indhira kepada Raffasya.
" Saat ini mata-mata Papa saya sedang mengawasi gerak-gerik saya. Mungkin saat ini, orang suruhan Papa saya sedang di luar cafe ini untuk mengawasi apa yang saya lakukan. Mereka juga ditugaskan mencari keberadaan Indhira. Padahal malam ini saya ada rencana berbicara dengan Om Edwin dan Tante Lidya, untuk membicarakan soal pernikahan saya ini," keluh Bagas, menjelaskan begitu berat rintangan yang akan dia dan Indhira lalui demi untuk bisa bersama.
Raffasya menghempas nafas panjang, dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Dan tentu saja yang dikhawatirkan oleh Raffasya adalah Indhira. Dia teringat bagaimana syok nya Indhira saat menghadapi kasus di cafe kemarin, yang membuat Indhira harus pergi dari La Grade caffe. Apalagi jika nanti Indhira akan berhadapan dengan Adibrata yang terkenal arogan, meskipun Raffasya belum pernah bertemu langsung dengan Adibrata secara langsung, namun dari cerita Bagas, dia dapat menilai seperti apa sosok Adibrata itu.
" Inilah yang saya khawatirkan, Bagas. Papa kamu pasti akan menyudutkan Indhira, karena menganggap telah merebut kamu daru tunangan kamu, padahal dia tidak bersalah dalam hal ini." Raffasya menyampaikan rasa khawatirnya.
" Tapi ini adalah yang terbaik untuk semuanya, Pak Raffa. Keputusan saya ini juga yang terbaik bagi Evelyn, agar dia bisa mendapatkan laki-laki pengganti saya yang lebih baik dan mencintai dia dengan tulus!" Bagas tetap berpendapat jika tindakan yang dia ambil adalah pilihan yang tepat, dan untuk menyelamatkan Evelyn.
" Baik untuk kalian, belum tentu baik untuk Papamu, Bagas. Saya belum bertemu langsung, tapi saya sudah dapat memperkirakan seperti apa sifat Papamu itu. Yang saya takutkan, jika Papamu sampai mendatangi Indhira dan melakukan intimidasi terhadap Indhira, Indhira pasti akan mengalami syok kembali. Dan hal itu tidak menutup kemungkinan Indhira akan meninggalkan kamu, karena dia merasa kehadirannya tidak diterima oleh keluarga kamu. Dan memaksakan pernikahan kalian hanya akan membuat penderitaan baru bagi Indhira, Bagas." Bahkan Raffasya sampai menyebut kemungkinan terburuk yang mungkin bisa terjadi, jika Indhira merasa putus asa.
" Saya tidak akan biarkan itu terjadi, Pak. Saya akan pasang badan untuk Indhira!" tegas Bagas
" Hanya sekedar kamu pasang badan saja, saya rasa tidak cukup, Bagas! Harus ada sosok kuat yang bisa melindungi Indhira dari tekanan Papamu." Raffasya menganggap perlu sosok yang berpengaruh kuat yang dapat melindungi Indhira dari serangan frontal Adibrata.
" Maksud Pak Raffa?" tanya Bagas mengerutkan keningnya.
" Nanti saya bicarakan dengan istri saya lebih dahulu. Saya harap kami bisa membantu kalian." Raffasya pun sudah menganggap Indhira seperti adik sendiri. Apalagi Indhira pernah menyelamatkan putranya dari kecelakaan.
" Saya tidak enak selalu merepotkan Pak Raffa dan Bu Azkia." Sebenarnya Bagas merasa tak enak hati karena selalu melibatkan bantuan orang lain untuk mengatasi masalah yang dia hadapi.
" Tidak usah canggung dengan kami, Bagas. Apalagi Indhira pernah menolong anak kami hingga terhindar dari kecelakaan, jadi sepantasnya kami juga akan membantu dia dari orang-orang yang berniat buruk kepadanya," tutur Raffasya, merasa tidak keberatan membantu Indhira dan Bagas, tujuannya hanya satu, membuat Indhira bahagia.
" Baiklah, Pak Raffa. Terima kasih atas bantuan, Pak Raffa dan Bu Azkia. Saya bersyukur selama jauh dari saya, Indhira berada dalam lingkungan orang-orang yang baik seperti Pak Raffa dan Bu Azkia." Bagas merasa haru, orang lain dapat mengerti dirinya, sementara orang tuanya sendiri tidak memperdulikan kebahagiaannya sama sekali dan lebih mementingkan gengsi.
***
Bagas memperhatikan kaca spion mobilnya. Sejak dia keluar dari kantornya menuju cafe Raffasya, hingga dia kini kembali ke dalam kantornya, dia melihat sebuah mobil terus mengikutinya. Namun, mobil itu bukan mobil yang biasa dipakai oleh Dahlan dan Taufan. Bagas sendiri sampai membatalkan menjemput Indhira untuk makan siang.
Bagas segera turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya itu kembali di basement kantornya.
__ADS_1
" Selamat siang, Pak." Seorang petugas office boy menyapa Bagas sambil sedikit membungkukkan badannya saat Bagas berjalan ke arah lift.
Bagas memutar kembali tubuhnya setelah dia berjalan melintasi office boy tersebut.
" Tunggu sebentar!" Bagas memanggil office boy tadi.
" Saya, Pak?" Office boy tadi terkejut karena Bagas memanggilnya.
" Iya, kamu! Ikut saya!" Bagas menyuruh office boy itu untuk mengikuti langkahnya, membuat office boy itu kaget dan tentu saja ketakutan, dia takut telah membuat kesalahan sehingga dipanggil oleh Bagas.
Selama berada di dalam lift khusus, Office boy itu menundukkan kepalanya, karena Bagas terus saja memperhatikan dirinya tanpa berkata sepatah kata pun.
Ting
Pintu lift terbuka, Bagas pun keluar dari lift, masih diikuti oleh office boy tadi hingga ke dalam ruangannya. Kehadiran office boy yang mengikuti Bagas pun membuat heran sekretaris Bagas, namun Ester pun tidak berani bertanya apa-apa.
" Nama kamu Edi?" Bagas melihat name tag di baju yang dipakai office boy itu yang mempunyai perawakan hampir mirip dengannya.
" Benar, Pak." sahut Edi.
Bagas lalu mengambil dompet di saku celananya, dan mengambil lembaran uang seratus ribuan sekitar satu juta rupiah dari dompetnya, kemudian menyerahkan uang itu kepada Edi.
" Ini buat kamu!"
Edi terbelalak saat Bagas menyodorkan uang itu kepadanya.
" Buat saya, Pak?' Edi menatap tak percaya dan dengan penuh kebingungan.
" Benar, tapi saya minta kamu melakukan sesuatu untuk saya." Bagas meminta Edi berbuat sesuatu untuk membantunya.
" Minta tolong apa, Pak? Kalau saya sanggup, saya akan melaksanakan tugas yang Bapak berikan pada saya," jawab Edi.
" Saya butuh pakaian yang kamu pakai itu untuk keluar dari kantor ini sore nanti." Bagas mengatakan apa yang ingin Edi lakukan untuknya.
Edi tercengang beberapa detik mendengar permintaan Bagas.
" Maaf, maksud Pak Bagas pakaian yang ini?" Edi semakin dibuat bingung dengan tugas yang diberikan Bagas kepadanya. Bukan tugas yang susah, justru suatu pekerjaan yang sangat mudah, tanpa mengeluarkan keringat dan tidak membuatnya lelah. Tapi masalahnya, untuk apa Bagas meminta pakaiannya
" Iya, Ed. Kau pakaianlah uang itu untuk membeli baju ganti kamu, karena saya akan memakai seragam OB yang kamu pakai itu." Bagas berniat keluar dari kantornya tanpa diketahui orang yang ada di mobil yang mengawasinya.
" Tapi, Pak. Pakaian saya bau keringat." Edi mengendus badannya sendiri, aroma dari tubuhnya bagai langit dan bumi dengan aroma tubuh Bagas.
" Tidak masalah, yang penting ukurannya cukup dengan badan saya." Bagas tidak memperdulikan perbedaan aroma tubuhnya dengan tubuh Edi, asalkan dia bisa keluar dan menjemput Indhira lalu menemui keluarga orang tua Rissa dengan aman dan tanpa diketahui oleh penguntitnya.
" Kalau begitu, saya ambil seragam yang bersih di rumah saya saja ya, Pak. Setidaknya bajunya sudah dicuci dan tidak bau keringat." Edi mengusulkan agar Bagas memakai pakaian seragam Edi yang bersih yang ada di rumahnya.
" Apa rumah kamu jauh?" Bagas melirik arlojinya, saat ini waktu sudah menunjukkan pu kul 14:15 menit.
" Sekitar satu kilo meter dari sini, Pak." jawab Edi.
" Ya, sudah. Cepat kamu ambil pakaian kamu sekarang juga, karena jam empat saya harus keluar dari kantor ini." Bagas meminta Edi segera mengambil seragam untuknya.
" Baik, Pak."
" Dan ingat! Rahasiakan ini dari siapa pun juga! Kamu paham!?"
" Saya mengerti, Pak. Saya permisi dulu kalau begitu, Pak." Edi pun kemudian keluar dari ruangannya setelah berpamitan pada Bagas.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
.Happy Reading❤️