SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Ancaman Angel


__ADS_3

Adibrata dibuat tersentak dengan permintaan yang diajukan oleh istrinya sebagai syarat untuk mendapatkan maaf dari Angel dan agar Angel mau kembali pulang.


Bayangkan saja, sembilan puluh sembilan persen dari keseluruhan hartanya akan diserahkan kepada anak istrinya, dan hanya menyisakan satu persen saja untuknya. Dia bisa miskin seketika jika memang syarat yang diminta oleh istrinya itu dipenuhi.


Bukan hanya Adibrata yang kaget dengan syarat yang disebutkan oleh Angel tadi, Indhira yang sedang mencuri dengar pembicaraan kedua mertuanya dari dalam kamar pun tersentak kaget. Tak pernah terlintas di benaknya jika Mama mertuanya sampai berani mengajukan persyaratan itu.


" Ma, apa kamu serius dengan permintaan Mama itu?" Adibrata mencoba meyakinkan pendengarannya.


" Kenapa? Papa merasa keberatan, kan? Ya, sudah. Papa temui saja ja lang Papa itu, dan habiskan harta Papa dengan dia! Lagipula Bagas sudah terbiasa tidak menikmati uang Papa. Mama juga yakin Kartika juga akan terbiasa, Biar nanti Kartika Mama saja yang urus! Dan Mama tidak akan ijinkan Papa bertemu dengan anak-anak Papa lagi!" Angel mengancam Adibrata dengan mengatakan akan mengambil Kartika dan tidak memberi kesempatan Adibrata menemui anak-anaknya lagi.


Tentu saja pilihan Angel yang terakhir dirasa Adibrata lebih memberatkan daripada hanya mendapat satu persen dari total hartanya. Dia tidak hanya akan kehilangan Angel, tapi juga anak-anaknya.


" Ma, jangan seperti itu! Mama tega melihat Papa dijauhi anak-anak!?" protes Adibrata.


" Papa dijauhi anak-anak memangnya ulah siapa? Papa sendiri yang memilih seperti itu! Papa menentang Bagas dan Indhira, yang membuat Bagas pergi dari rumah! Mama kabur juga karena perbuatan Papa yang berselingkuh dengan wanita ja lang! Sebentar lagi juga Kartika akan menyusul meninggalkan Papa!" Angel mengatakan jika apa yang menimpa Adibrata karena ulah pria itu sendiri.


Adibrata mendengus keras dan mengusap kasar wajahnya. Dia menatap sang istri yang memalingkan wajah tak ingin menatapnya.


" Baiklah, jika Mama menginginkan hal itu. Asalkan Mama mau memaafkan Papa dan Mama mau pulang kembali ke rumah, Papa akan penuhi permintaan Mama tadi." Tak ada pilihan lain bagi Adibrata selain menuruti apa yang diminta oleh Angel.


Bola mata Angel membulat seketika saat suaminya itu mengatakan menyanggupi apa yang diminta olehnya. Sungguh dia tidak menduga suaminya itu rela menyerahkan apa yang diminta olehnya secepat itu, tanpa membutuhkan waktu lama untuk berpikir.


" Ya sudah, sekarang Papa pulang, dan siapkan pengacara untuk memproses pelimpahan harta Papa untuk Mama dan anak-anak." Angel mendorong punggung suaminya hingga keluar dari apartemen.


" Tapi, Ma ...."


" Sudah, jangan banyak protes! Cepat urus saja pelimpahan harga Papa untuk kami! Jangan mengulur waktu sebelum Mama berubah pikiran!" Setelah berhasil membawa Adibrata sampai keluar apartemen, Angel lalu menutup pintu apartemen, tak memperdulikan Adibrata yang terus memanggil namanya.


Sementara di dalam kamarnya, Indhira masih belum berani keluar dari kamar. Dia masih terkejut dengan permintaan Mama mertuanya tadi yang dia anggap di luar nalarnya.


" Ra, Indhira ...!" Suara Angel memanggil Indhira sehingga membuat Indhira terkesiap dan bergegas keluar dari kamar.


" Iya, Ma." sahut Indhira. " Papa mana, Ma?" tanya Indhira seolah dia tidak tahu apa yang terjadi di luar tadi.


" Papa mertuamu sudah pulang," sahut Angel santai. " Ra, kalau ada tamu yang datang ke sini, kamu intip dulu dari kaca lubang intip yang ada di pintu itu. Jangan sembarangan kasih masuk orang ke dalam apartemen ini." Angel menasehati Indhira agar lebih teliti dalam menerima tamu.


" Iya, Ma." Indhira tak berani membantah, walaupun dia tidak mungkin menolak jika yang datang adalah Papa mertuanya itu.


" Ya sudah, coba kamu cek, sudah di mana ojol yang antar makanan pesanan kita itu." Setelah memberi perintah kepada Indhira, Angel kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Malam harinya setelah suaminya pulang kerja, Indhira menceritakan tentang kedatangan Adibrata, termasuk permintaan pengalihan harta Adibrata kepada Angel.


" Mama minta sembilan puluh sembilan persen harta Papa?" Seperti Indhira dan Adibrata, Bagas pun juga tercengang mengetahui syarat yang Mamanya minta untuk berdamai.


" Iya, Mas. Mas kaget, kan?" tanya Indhira.


" Iya, Yank. Dari mana Mama punya ide seperti itu, ya, Yank?" Bagas sungguh bingung dengan permintaan Mamanya.


" Aku juga tidak tahu, Mas." jawab Indhira.


" Lalu, apa jawaban Papa?" tanya Bagas kembali.


" Papa sepertinya setuju atas permintaan Mama itu. Tapi, Mas pura-pura tidak tahu saja, ya!? Soalnya tadi aku mencuri dengar kesepakan Papa dan Mama itu dari dalam kamar." Indhira terkikik dengan menutup mulut dengan telapak tangan dan minta suaminya untuk pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi siang tadi di apartemen itu.


" Jadi kamu menguping pembicaraan Papa dan Mama mertuamu?" Bagas menjewer tanpa tenaga telinga sang istri.


" Hehe, aku penasaran, Mas." Indhira menyeringai. " Jangan bilang-bilang, ya, Mas!? Aku malu ketahuan Mama menguping." Indhira memohon.


Tok tok tok


" Ra, Bagas, Ayo kita makan ...!" Dari arah pintu kamar, Angel muncul.


" Mas, Mama tadi dengar aku bicara tidak, ya?" bisik Indhira khawatir sang Mama mertuanya mendengar ucapan tadi.


" Coba saja tanya ..." Bagas justru meledek sang istri membuat bibir Indhira mengerucut.


Ketika menyantap makan malam bersama, Bagas mencoba mengkonfirmasikan kedatangan Papanya tadi kepada Angel.


" Indhira bilang tadi Papa ke sini. Benar, Ma?" tanya Bagas membuka pembicaraan di meja makan.


Angel mendengus seraya melirik ke arah Indhira, membuat menantunya itu tertunduk.


" Iya," sahut Angel yang terkesan malas membahas masalah suaminya.


" Lalu, Papa bicara apa?" Sesuai permintaan istrinya, Bagas berpura-pura tidak mengetahui.


" Papamu masih berusaha membujuk Mama untuk memaafkannya," sahut Angel.


" Lalu?" Bagas berpura-pura penasaran.

__ADS_1


" Mama kasih syarat yang berat ke Papamu itu kalau mau mendapatkan maaf dari Mama," jelas Angel.


" Syarat berat apa, Ma?" Bagas memasang wajah serius. Pria itu begitu pintar melakonkan sandiwaranya.


" Mama minta sembilan puluh sembilan persen harta Papa untuk Mama, kamu, istrimu dan adikmu." Angel membeberkan apa yang dia minta dari suaminya itu.


Bagas membulatkan bola matanya, seolah dia terkejut dengan syarat yang diminta Mamanya, dia pun menjatuhkan sendok dan garpu di tangannya. Indhira saja sampai menahan ketawa melihat akting suaminya itu.


" Mama serius?" Nada bicara Bagas dibuat seolah tak percaya.


" Seriuslah ... biar Papamu itu kapok! Tidak berani lagi macam-macam!" Angel menyebutkan alasannya meminta syarat itu.


" Papa bisa mendadak miskin, dong, Ma?" Bagas kini justru menyeringai.


Indhira mendelik ke arah Bagas karena suaminya itu terkesan mensyukuri apa yang terjadi pada Adibrata.


" Daripada harta Papa jatuh ke tangan ja lang itu, mending juga buat keluarga dan darah daging Papa sendiri," ucap Angel. " Kalian tenang saja, nanti Mama akan kasih juga hak untuk kalian," lanjutnya.


" Ma, aku dan Indhira tidak mengharapkan itu, kok! Aku dan Indhira sudah bahagia dengan apa yang kami jalankan selama ini." Sejak memutuskan keluar dari rumah orang tuanya, Bagas memang sudah tidak mengharapkan harta sang Papa yang menjadi haknya.


" Kamu mengharapkan atau tidak, kamu tetap berhak atas harga Papa!" tegas Angel yang tidak ingin pilih kasih dan menguasai harta milik suaminya itu sendiri.


" Memangnya Papa setuju dengan syarat Mama ini?" tanya Bagas menanyakan reaksi Papanya soal syarat yang diminta itu.


" Silahkan saja kalau Papamu menolak, tapi resikonya Mama akan ambil Kartika untuk tinggal bersama kita di sini." Angel yakin, jika suaminya itu tidak akan mau dijauhi oleh dirinya dan kedua anak mereka.


*


*


*


Bersambung ...


Readers yang belum mampir di kisahnya Gagah & Airin, bantu ramaikan di sana, ya. Makasih 🙏



Happy Reading,❤️

__ADS_1


__ADS_2