
Ting
Pintu lift yang membawa Bagas dan Indhira ke lantai paling atas Richard Fams Hotel terbuka. Bagas lalu menggenggam tangan Indhira dan membawa wanita itu keluar dari lift menuju cafe rooftop. Warna wajah Indhira saat itu terlihat memerah, karena selama di dalam lift yang membawa dirinya dan Bagas hingga lantai paling atas, Bagas tidak berhenti mencumbunya. Untung saja tadi tidak ada orang yang masuk menggunakan lift yang mereka pakai. Jika sampai ada orang yang mengetahui aksi mereka, tidak dapat dibayangkan bagaimana malunya Indhira tadi.
Saat memasuki cafe, alunan instrumental saxophone terdengar mendendangkan sebuah lagu Tonight, I Celebrate My Love For You. Bahkan semua pengunjung cafe langsung memberikan tepuk tangan hangat menyambut kedatangan mereka berdua. Hal itu tentu saja membuat Indhira terkejut karena semua yang ada di dalam cafe itu seolah sedang mengarahkan pandangan kepadanya.
" Mas, kenapa orang pada tepuk tangan dan menoleh ke arah kita?" Indhira berbisik di telinga Bagas, saat menyadari saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di cafe itu.
" Selamat malam, Pak, Bu." Belum sempat Bagas menjawab pertanyaan Indhira, tiba-tiba seorang pria menyapa Bagas dan Indhira.
" Mari silahkan, Pak, Bu." Pria tadi membawa Bagas dan Indhira ke meja yang telah disiapkan.
Bola mata Indhira membulat sempurna melihat sebuah buket bunga berisi red roses dan baby"s breath berukuran besar di meja yang disiapkan oleh pelayan cafe tadi.
Indhira menatap heran suaminya yang hanya mengulum senyumnya lalu menarik kursi mempersilahkan Indhira untuk duduk di kursi itu.
" Mas, ini apa-apaan?" Grace mengambil buket berukuran besar berisi lebih dari seratus kuntum bunga mawar merah dan baby's breath.
" Selamat satu bulan pernikahan," bisik Bagas membungkukkan tubuhnya sebelum dia kemudian menarik kursi untuk dia duduki sendiri.
Indhira terkesiap saat suaminya itu mengucapkan selamat memasuki usia satu bulan pernikahan. Dia sendiri bahkan tidak mengingat jika hari ini usia pernikahan mereka sudah memasuki usia satu bulan. Mungkin dia akan mengingatnya jika pernikahan mereka sudah berjalan selama satu tahun.
Indhira menatap Bagas yang sedang tersenyum dan juga menetap lembut padanya. Sungguh dia tidak menyangka jika Bagas akan memberikan kejutan seperti ini. Mungkin terkesan berlebihan, namun tak dapat dipungkiri jika dia merasakan keharuan dengan sikap Bagas ini.
" Mas ..." Bola mata Indhira sudah dipenuhi cairan bening. Sungguh dia merasakan bahagia dapat dicintai oleh pria seperti Bagas.
" Gitu saja nangis!" Namun, Bagas justru meledek Indhira yang hampir saja meneteskan air mata.
" Mas ..." Indhira mencebikkan bibirnya ketika Bagas justru meledeknya. Karena suasana romantis yang tercipta seolah luntur karena ledekan suaminya tadi.
Bagas terkekeh melihat bibir mengerucut Indhira. Dia kembali iseng berkata, " Kenapa bibirnya begitu? Masih kurang di lift tadi? Apa mau diulang sekarang di sini?" Tanyanya berseloroh.
" Mas! Astagfirullahal adzim!" Dengan melotot, Indhira menegur sang suami, karena sekarang ini semakin menjadi kalau membahas soal beradegan in tim.
" Tidak apa-apa, Yank. Sekarang ini kita 'kan suami istri." Bagas tak memperdulikan teguran sang istri.
" Mas kenapa jadi me sum gini, sih?" Protes Indhira kembali, mengecilkan suaranya saat menyebut kata me sum.
" Bukannya dari dulu aku sudah seperti ini, Yank?" Bagas menyerigai. " Tapi hanya sama kamu saja, Yank." Bagas langsung mengklarifikasi ucapannya, agar Indhira tidak salah paham dengan ucapannya tadi.
" Sudah, ah! Jangan bicarakan itu lagi!" Indhira menolak membicarakan hal itu lagi.
" Permisi, Pak, Bu." Pelayan cafe datang menyajikan makanan untuk Bagas dan Indhira.
" Terima kasih," sahut Indhira dan Bagas bersamaan.
Bagas langsung bangkit dari duduknya. Dia lalu menyapa para tamu yang ada di cafe itu yang terlihat ramai.
__ADS_1
" Selamat malam semuanya, terima kasih atas kunjungan saudara-saudara sekalian di cafe hotel kami. Untuk malam ini, setiap makan dan minuman yang saudara-saudara pesan semuanya gratis. Saudara-saudara bisa menyantap sepuasnya makanan yang ada di cafe ini."
Seketika suara gaduh dengan tepuk tangan langsung terdengar ketika Bagas mengatakan akan membayar semua makanan yang dipesan oleh tamu cafe malam itu. Sementara Indhira langsung membulatkan bola matanya mengetahui Bagas akan mentraktir semua tamu hadir. Bukan Indhira bersikap pelit atau perhitungan. Namun, dia harus mengukur kemampuan mereka saat ini. Bagas tidak mempunyai fasilitas seperti dulu lagi. Dia juga tahu harga makanan di cafe itu cukuplah mahal. Indhira tidak ingin suaminya memanfaatkan jabatannya sebagai General Manager di hotel itu lalu seenaknya mentraktir para tamu.
" Hari ini tepat satu bulan pernikahan saya dengan istri saya, anggap saja ini perayaan satu bukan kami mengarungi bahtera rumah tangga." Bahkan Bagas kini menyebutkan alasannya kenapa membebaskan semua para tamu menikmati makanan dan minuman seputasnya tanpa membayar. Bagas lalu mengulurkan tangan kepada sang istri untuk kembali bangkit. Pria itu lalu memberi kecupan di kening, pipi dan bibir Indhira.
" Huuuuww ..." Suara riuh dan tepuk tangan kembali membahana di cafe itu.
Rona merah di wajah putih Indhira seketika membias karena perlakuan romantis Bagas di depan pelayan dan tamu cafe itu
" Silahkan saudara-saudara kembali menikmati sajian yang dihidangkan dari cafe ini. Semoga kehadiran kami di sini tidak mengganggu semua pengunjung cafe malam ini." Pungkas Bagas kemudian kembali duduk yang dibalas dengan tepuk tangan.
" Bagaimana, Yank? Kamu suka tidak kejutannya?" tanya Bagas setelah mereka kembali duduk dan bersiap menyantap makanan yang terhidang di atas meja.
" Mas, kita baru satu bulan, untuk apa pakai perayaan kayak gini segala? Mas dapat uang dari mana coba?" Indhira mengkritik Bagas yang dia anggap terlalu boros.
" Kamu tenang saja, Yank. Semua budget sudah aku perhitungankan. Anggap saja ini dari jatah gaji pertamaku." Bagas menyerigai tak perduli keluhan sang istri yang memprotes soal pengeluarannya. " Anggap saja ini sebagai pengganti resepsi pernikahan kita kemarin yang belum banyak diketahui oleh publik, Yank," lanjutnya kemudian.
Indhira hanya bisa menerima keputusan sang suami walaupun dia sendiri kurang setuju dengan apa yang dilakukan Bagas sekarang ini.
***
Sebuah kantor perusahaan properti ternama Angkasa Raya Group kedatangan seorang konglomerat terkenal yang sekarang ini menguasai bisnis retail di Amerika Serikat
Nathael, si pengusaha bisnis retail itu kini berniat memperluas jaringan usaha miliknya di dalam negeri, dan dia memilih perusahaan yang sudah sangat bonafit untuk mengerjakan proyek pembangunan bisnis retailnya.
" Selamat datang di perusahaan saya, Tuan Nathael. Mari silahkan duduk." Dirga mempersilahkan Nathael duduk. Dirga adalah pemilik perusahaan properti yang merupakan mertua dari salah satu saudara laki-laki Azkia. Karena putri pertama Dirga, yang bernama Falisha menikah dengan saudara laki-laki bos dari Indhira itu.
" Suatu kehormatan bagi saya karena Anda menyempatkan diri datang ke kantor saya ini, Tuan Nathael." Dirga membuka pembicaraan setelah mereka berdua kini duduk di sofa mewah di ruangan kerja Dirga.
" Anda terlalu berlebihan, Tuan Dirga. Saya yang merasa tersanjung bisa diundang kemari." Nathael merendah.
Dirga lalu menatap wanita cantik di samping Nathael. " Apa ini putri Anda, Tuan Nathael?" Tanyanya kemudian.
" Benar, Tuan Dirga. Ini Evelyn, putri bungsu saya." Nathael memperkenalkan putrinya kepada Dirga.
" Apa putri Anda juga ikut mengelola usaha Anda, Tuan Nathael?" Tanya Dirga, karena terlihat Evelyn masih sangat muda.
" Dia sedang saya coba arahkan ke sana, Tuan Dirga. Karena selama ini dia terlihat tidak tertarik mengurus bisnis Papanya. Jadi saya harus membimbing agar dia memiliki minat untuk bergelut dengan pekerjaan Papa dan kakak-kakaknya." Sejak berpisah dengan Bagas, Evelyn memang terlihat murung, karena itu Nathael mencoba membawa serta Evelyn ke setiap kunjungan kerja sambil mengajarkan Evelyn untuk mengurus salah satu bisnis perusahaannya, agar Evelyn punya kesibukan dan tidak terus berlarut dengan kesedihannya berpisah dari Bagas.
" Kebanyakan anak wanita itu sulit jika diminta mengurus perusahaan, seperti anak sulung saya juga seperti itu, Tuan Nathael. Dia enggan meneruskan pekerjaan Papanya, malah memilih menikah dan menjadi ibu rumah tangga saja." Dirga terkekeh, karena putrinya pun enggan membantu usahanya.
" Tuan Dirga ini punya berapa anak?" Tanya Nathael.
" Anak saya dua, yang pertama perempuan dan yang kedua laki-laki. Anak bungsu saya lah yang sekarang membantu saya di sini, Tuan Nathael." Dirga menjelaskan pada Nathael.
" Oh ya, bicara soal kunjungan Anda kemari. Apa Anda serius ingin memberikan proyek pembangunan bisnis retail kepada perusahan kami, Tuan Nathael?" Dirga mulai serius membicarakan topik utama yang merupakan tujuan Nathael datang ke perusahaannya.
" Benar sekali, Tuan Dirga. Karena berdasarkan rekomedasi yang saya terima, perusahaan Anda ini mempunyai kinerja yang baik, karena itulah saya ingin menggunakan jasa perusahaan Anda untuk pembangunan bisnis retail saya di sini." Nathael membenarkan apa yang dikatakan oleh Dirga.
__ADS_1
" Rencananya akan dibangun di mana saja, Tuan Nathael?" Tanya Dirga kembali.
" Untuk awal saya berencana membangun di tiga kota besar dulu. Jakarta, Bandung dan Surabaya. Selebihnya mungkin lihat ke depannya bagaimana respon dari masyarakat terhadap usaha saya ini," jawaban Nathael.
" Baiklah, Tuan Nathael. Saya akan berusaha mengerjakan sebaik mungkin apa yang Anda minta, jika Anda memang sudah mempercayakan pada perusahaan kami." Dirga menyambut baik proyek besar yang dia dapat dari pengusaha ternama itu.
" Pa, ini surat ini sudah aku pelajari..." Tiba-tiba dari pintu ruangan Dirga muncul seorang pria muda yang berbicara dengan membawa beberapa lembar kertas di tangannya. " Oh, maaf. Papa sedang ada tamu?" Pria yang tak lain adalah Daffa menyadari jika ada orang lain di ruangan Papanya itu.
" Daffa, kenalkan ini Tuan Nathael. Tuan Nathael ini berniat menyerahkan proyek pembangunan bisnis retailnya di beberapa kota kepada kita." Dirga mengenalkan Daffa, putranya kepada Nathael.
" Oh, hallo, Tuan Nathael. Terima kasih atas kepercayaan yang Tuan berikan kepada Angkasa Raya Group untuk membangun proyek besar Tuan." Daffa lalu menyalami Nathael dengan sangat santun.
" Terima kasih, Nak. Justru saya lah yang senang dapat bekerja sama dengan perusahaan bonafit seperti perusahaan ini," sahut Nathael membalas uluran tangan Daffa.
Ekor mata Daffa kini melirik ke arah Evelyn yang duduk di samping Nathael.
" Ini, putri bungsu Tuan Nathael, Daffa. Namanya Evelyn." Menyadari anaknya memperhatikan Evelyn, Dirga lalu mengenalkan Evelyn kepada Daffa.
" Oh, hai, Nona Evelyn. Saya Daffa. Senang berjumpa dengan Anda." Daffa lalu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman wanita yang wajahnya terlihat sendu itu.
*
*
*
Bersambung ...
Readers REZ Zha yuk mampir di novel baru JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG, masukin ke favorit, kasih like & komennya, makasih🙏
Entah, salah apa Airin selama ini? Padahal dia selalu bersikap baik terhadap semua orang, patuh kepada orang tua dan selalu menghindari larangan, baik yang berkaitan dengan norma maupun agama. Namun, ternyata kenyataan pahit dalam rumah tangga harus dia terima.
Airin Humairah, harus menjadi janda saat memasuki usia dua puluh tujuh tahun karena merasa lelah diselingkuhi oleh sang suami. Dia rela menjadi single parent untuk anaknya yang berusia tiga tahun. Tanpa diduga Airin, sang suami sudah mulai selingkuh di belakangnya sejak awal pernikahan mereka.
Tiga bulan setelah perceraiannya dengan sang suami, Airin bertemu dengan seorang pria bernama Gagah Prasetyo, yang beberapa kali gagal menikah karena sifat perfeksionisnya. Lelaki yang menginginkan kesempurnaan pasangan itu tiba-tiba saja tertarik pada sosok Airin.
Sikap Airin yang terlihat acuh kepada Gagah meskipun banyak wanita mencoba mendekati pria itu, membuat Gagah penasaran, sehingga dia berkeinginan menaklukkan Airin yang masih trauma dengan pria karena pengkhianatan yang suami.
Lalu bagaimana usaha Gagah menaklukkan Airin, wanita biasa dan berstatus janda yang jauh dari tipe wanita idamannya?
...❤️❤️❤️...
Happy Reading❤️
__ADS_1