
Tak lebih dari satu jam mobil ojek online yang membawa Bagas dan Indhira sampai di depan cafe milik Raffasya. Lebih lambat lima belas menit dari waktu yang diperkirakan.
" Aku deg-degan, Mas." Saat berjalan masuk ke cafe, Indhira mengatakan rasa hatinya yang merasa tidak tenang karena harus bertemu dengan teman-temannya saat dia bekerja di cafe dulu, terutama mereka yang tahu kejadian beberapa waktu lalu di cafe itu yang menghebohkan.
" Deg-degan tanda berdetak normal itu, Yank." Bagas mencoba menenangkan Indhira. Tangannya lalu merangkul ke pundak Indhira seakan memberi perlindungan pada istrinya itu.
Indhira melihat kondisi cafe yang terlihat ramai dengan para pengunjung. Tidak aneh melihat pemandangan seperti ini ketika dia masih bekerja di sana.
" Apa Odie sudah datang, Mas?" tanya Indhira menanyakan sahabat suaminya yang mempunyai janji dengan mereka.
" Sudah, dia bilang ada di lantai atas sebelah tangga." Bagas mendengakkan kepaka mencari keberadaan Odie. Namun lampu yang temaram membuat pandangan matanya tidak dapat menangkap jelas jika melihat dari bawah.
" Kita ke atas saja, yuk!" Bagas mengajak Indhira untuk menaiki anak tangga.
" Indhira?" Saat Bagas dan Indhira berjalan ke arah tangga, seseorang menyapa Indhira, membuat sepasang suami istri itu menoleh ke arah suara berasal.
" Mbak Nena?" Indhira melihat rekannya dulu di cafe itu berjalan mendekat ke arahnya.
" Hai, Ra. Kamu apa kabar?" Nena berpelukan dengan Indhira. Karena saat Indhira bekerja di La Grande, mereka berdua sangat dekat.
" Alhamdulillah, aku baik, Mbak." sahut Indhira.
Nena lalu menoleh ke arah Bagas yang datang bersama Indhira.
" Aku dengar katanya kamu sudah menikah, ini suami kamu itu, Ra?" Nena memperhatikan Bagas dengan memicingkan matanya. Rasanya wajah tampan pria yang bersama Indhira itu pernah dia lihat sebelumnya. Namun, dia tidak ingat di mana.
" Oh, iya, Mbak. Ini suami aku, Mas Bagas. Mas, ini Mbak Nena, Mbak Nena ini rekan kerja yang paling dekat dengan aku di sini, Mas." Indhira memperkenalkan Nena pada Bagas, begitu juga sebaliknya.
" Oh, hai ... senang bisa bertemu teman Indhira." Bagas menyapa Nena seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan Nena.
" Nena." Nena sedikit grogi bersalaman dengan Bagas, apalagi saat merasakan telapak tangan Bagas terasa halus, bahkan dia yang wanita saja tidak sehalus itu.
" Kok, kamu tidak mengundang aku, sih, Ra?" Nena menyesalkan, karena Indhira tidak mengundang dirinya di acara pernikahan Indhira dengan Bagas.
" Maaf, Mbak. Kami hanya akad saja, tidak ada resepsi." Indhira meminta maaf dan menjelaskan jika acara pernikahannya dengan Bagas hanya akad nikah saja.
" Kalian sengaja kemari? Mau duduk di mana?" tanya Nena kemudian.
" Aku mau bertemu teman suamiku, Mbak. Katanya ada di lantai atas dekat tangga." Indhira mengatakan tujuan dia datang ke La Grade Caffe bersama sang suami.
" Oh, ya sudah, silahkan. Aku mau lanjut melayani tamu dulu, Ra." Nena berpamitan kepada Indhira dan Bagas karena tamu cafe yang berkunjung semakin banyak. Bahkan cafe hampir penuh pengunjung.
" Oke, Mbak." Setelah Nena melanjutkan aktivitasnya, mereka berdua pun menaiki anak tangga mencari meja yang sudah dipesan oleh Odie. Sampai akhirnya, mereka tiba di lantai atas dan melihat Odie yang sudah berada di sana.
" Hai, Gas!" Odie langsung menyapa Bagas saat Bagas dan Indhira menghampiri dirinya. Matanya kini memperhatikan sosok wanita cantik yang wajahnya tidak asing lagi. Seketika Odie menoleh kembali kepada Bagas.
__ADS_1
" Gas, ini, kan ...."
" Masih ingat siapa dia?" Dengan terkekeh, Bagas bertanya pada Odie.
" Dia cewekmu dulu 'kan, Gas?" Odie tentu saja mengingat Indhira, apalagi wajah Indhira yang tetap imut dan awet muda seperti saat masih SMA dulu.
" Istri aku sekarang, Di." Bagas memberitahu Odie tentang status Indhira saat ini baginya.
" Istri? Kamu sudah menikah, Gas? Tidak mmmengundang aku?" Sama seperti Nena, Odie pun sama terkejut ketika mengetahui Bagas dan Indhira telah menikah.
" Iya, kami baru saja menikah, Di. Telat kita ketemunya." Bagas kembali tertawa kecil menanggapi.
" Tapi, kok, kalian bisa bersama? Bukannya dulu kalian sudah berpisah bahkan dia menghilang tidak ada kabarnya?" Odie masih tidak percaya dengan pernikahan Bagas bersama Indhira. Karena kala itu dia merasa jika Bagas dan Indhira tidak akan bisa bersama kembali.
" Itu yang namanya jodoh, Di." jawab Bagas mengembangkan senyuman.
" Duduk, Yank!" Bagas menarik kursi untuk istrinya duduk. Setelah Indhira duduk, Bagas duduk di samping Indhira.
Odie memperhatikan perlakuan Bagas terhadap Indhira masih sama seperti saat kedua orang itu masih pacaran dulu.
" Kamu mau makan apa, Yank? Menu favorit di cafe ini apa?" Bagas mengambil buku menu yang tersedia di atas meja.
" Mas maunya apa? Nasi goreng di sini enak, steak nya juga enak, beef steak sama chicken steak." Indhira menyebutkan beberapa menu favorit di cafe bernama La Grande itu.
" Beef steak boleh, deh, Yank." Bagas memilih makanan olahan daging sapi.
" Mbak Hanna!" Indhira melambaikan tangannya saat melihat Hanna.
" Hai, Ra. Kamu ada di sini? Dengan siapa?" Hanna bergantian memandang Bagas dan Odie. Terasa aneh baginya. Karena selama mengenal Indhira, mantan pegawai di La Grande itu hampir jarang 'tersentuh' laki-laki. Bahkan setiap ada tamu pria yang tertarik pada Indhira, wanita itu seperti ketakutan.
" Iya, Mbak. Aku sama suami aku dan teman suami." Indhira memperkenalkan Hanna pada Bagas dan Odie.
" Kamu sudah nikah, Ra? Kok, aku tidak diundang?" Hanna terkejut mengetahui Indhira telah menikah. Bagaimana wanita seperti ini yang selalu menghindar dari pria tiba-tiba sudah menikah? Apalagi suami dari Indhira terlihat tampan, bahkan kalau dilihat dari penampilan, terlihat jika pria yang diakui oleh Indhira sebagai suami bukanlah orang biasa.
" Kami hanya akad di KUA saja, Mbak. Tidak pakai acara rame-rame." Entah harus berapa kali memberikan jawaban seperti itu jika ada orang yang bertanya padanya soal pernikahannya dengan Bagas yang tergesa-gesa dan tidak banyak mengundang tamu kecuali tetangga sekitar rumah orang tua Rissa.
" Oh, ya sudah, tidak apa-apa. Hanya kaget saja dengar kamu menikah. Selamat, ya, Ra. Semoga Samawa." Hanna memberikan ucapan selamat kepada Indhira. " Kamu mau pesan makanan?" tanyanya.
" Aamiin, makasih, Mbak. Iya, kami mau pesan makanan," sahut Indhira tak membuka buku daftar makanan, karena dia sudah hapal menu makanan favorit di cafe itu.
" Sebentar, Ra." Hanna mengapit baki di lengannya kemudian mengambil nota custom serta pulpen dari saku apronnya. " Mau pesan apa, Ra?" tanya Hanna siap menulis pesanan Indhira.
" Aku minta beef steak satu porsi, Chicken steak satu porsi, sama air mineral dua." Indhira melirik ke arah Odie yang terus saja memperhatikannya. Sepertinya teman suaminya itu masih belum percaya jika Bagas dan Indhira benar-benar sudah berstatus suami istri.
" Kamu mau pesan apa, Odie?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
" A-aku spaghetti bolognese sama Thai tea saja." Ogie terkesiap, karena dia seperti sedang tertegun melihat Indhira yang semakin cantik dengan suaranya yang masih terdengar lembut.
" Tambah Spaghetti bolognese sama Thai tea nya, Mbak." Indhira mengulang pesanan Odie.
" Oke, Ra. Aku ulang lagi. Satu porsi beef steak, satu porsi Chicken steak, Spaghetti bolognese, dua air mineral sama thai tea. Ada tambahan lainnya?" Untuk mengkonfirmasi agar tidak ada pesanan yang terlewat, Hanna menyebutkan lagi pesanan yang akan diorder di meja Indhira.
" Sudah itu saja, Mbak. Makasih," jawab Indhira.
" Oke, Ra. Ditunggu sebentar, ya!?" Hanna kemudian meninggalkan, Indhira, Bagas dan Odie.
" Gas, aku masih penasaran bagaimana kalian bisa menikah? Bukankah waktu itu kau dikirim ke Amerika dan Indhira menghilang?" tanya Odie penasaran.
" Kau benar, Di. Dulu kami terpisah jarak, sekarang malah tak terpisahnya." Tak perduli temannya yang penasaran, Bagas justru melingkarkan tangan ke pundak dan memberikan kecupan di pipi mulus Indhira kembali.
" Mas! Jangan kebiasaan, deh!" teguran dan protes langsung dilancarkan Indhira karena suaminya lagi dan lagi bersikap mesra di depan umum tanpa memperdulikan ada orang lain yang melihat aksi mereka.
" Astaga, Gas! Kebiasaan kau ini tidak pernah hilang-hilang, cium cewek di depan orang!" celetuk Odie menanggapi kelakuan sahabatnya itu yang tidak pernah berubah.
Sementara di pantry cafe, Nena dan Hanna yang sedang menunggu makanan di siapkan oleh chef terlihat sedang berbincang.
" Nen, ada indhira di atas, lho!" Hanna memberitahu Nena yang dia tahu sangat dekat dengan Indira.
" Iya, aku tadi sudah sempat ketemu, Han. Dia sama suaminya, kan?" Nena menyahuti apa yang dikatakam oleh Hanna.
" Iya, aku kaget tiba-tiba saja dia sudah menikah. Mana suaminya ganteng banget lagi. Pak bos kita ada saingan, nih!" kelakar Hanna.
" Siapa? Pak Fero?" Nena justru menyebut nama Fero.
" Pak Raffa lah, Nen! Pak Raffa itu 'kan tingkat ketampanannya di atas rata-rata. Sama kayak suaminya Indhira. Ganteng, tinggi, kulitnya putih bersih. Sempurna banget kelihatannya." Hanna mengagumi sosok Bagas.
" Tangannya juga halus banget, tadi aku sempat bersalaman," sahut Nena. " Tapi, perasaan aku kayak pernah lihat suami Indhira itu sebelumnya, Han." Nena masih penasaran dan coba mengingat di mana pernah melihat Bagas.
" Memang kamu pernah lihat di mana?" tanya Hanna.
" Aku lupa ..." Nena menyeringai.
" Ah, dasar kamu ini, Nen." sahut Hanna mendengar jawaban Nena. " Aku mau antar pesanan dulu." Hanna lalu mengambil baki berisi makanan dan minuman yang sudah siap untuk disajikan pada pemesannya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Baca juga novelku CINTA PALSU SANG MAFIA ( A Perfect Lie ) di PF Orange ya, nama pena Rez zha29
Happy Reading❤️