
Wajah Indhira seketika memucat saat dia melihat kemunculan Adibrata di hadapannya saat ini. Dia masih merasa trauma akan perlakuan Adibrata kepadanya dulu. Dan juga takut hal itu akan terulang kembali saat ini, apalagi saat ini dirinya berada di tempat umum, tidak dapat dibayangkan jika Adibrata kembali akan berkata kasar dan menghinanya seperti dulu lagi.
" Papa sedang apa di sini?" tanya Angel dengan ketus. Dia tidak menduga jika akan bertemu dengan suaminya.
" Ma, Papa butuh bicara dengan Mama," ujar Adibrata. Dia tidak memperdulikan keberadaan Indhira saat ini yang bersama Angel, karena yang dia butuhkan adalah berbicara dengan istrinya.
" Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!" tegas Angel. " Ayo, Ra!" Angel lalu menarik tangan Indhira untuk berjalan cepat menjauh dari suaminya. Angel sampai melupakan jika menantunya itu sedang hamil.
" Angel, tunggu dulu!" Adibrata melangkah lebar menyusul Angel yang berjalan cepat menghindarinya.
" Angel, jangan cepat-cepat! Kasihan dia sedang hamil!" Tiba-tiba Adibrata memperdulikan Indhira yang terlihat berjalan memegangi perutnya.
" Ssshhh ..." Indhira tiba-tiba meringis memegangi perutnya dan menahan langkahnya.
" Astaga, kamu tidak apa-apa, Ra?" Angel tersadar jika dia sudah menarik paksa Indhira berjalan cepat padahal menantunya itu sedang dalam kondisi hamil muda.
" Ssshhh ... perut aku sakit, Ma." keluh Indhira dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
" Aduh, gimana ini?" Angel kebingungan dan merasa bersalah karena telah membawa paksa Indhira demi menghindari suaminya. Dia lalu melingkarkan tangan Indhira di pundaknya.
" Papa jangan diam saja, dong! Ini semua gara-gara Papa!" Angel langsung memarahi Adibrata yang hanya berdiri mematung melihat Indhira yang kesakitan. Angel tidak memperdulikan orang-orang sudah mulai memperhatikan mereka.
" Cepat bawa ke rumah sakit! Kalau terjadi sesuatu dengan cucu Mama ini, Papa lah penyebabnya!" Bahkan Angel menyalahkan Adibrata sebagai penyebab apa yang dialami oleh Indhira saat ini.
Adibrata melihat wajah Indhira yang terlihat memucat menahan rasa sakit. Dia bingung harus melakukan apa? Namun saat istrinya itu terus menyalahkan dirinya, akhirnya Adibrata mendekat ke arah Indhira lalu kedua tanganganya mengangkat tubuh Indhira.
" Mama hubungi Agus, suruh dia menunggu di depan lobby, kita ke rumah sakit sekarang!" Dengan langkah lebar Adibrata berjalan ke arah lobby utama Mall, sedangkan Angel berlari kecil menyusul langkah Adibrata yang berjalan sangat cepat di depannya.
***
Indhira tidak tahu apa yang terjadi pada perutnya saat ini. Tiba-tiba saja perutnya merasa perih saat dibawa jalan cepat oleh mertuanya tadi.
Dan Indhira benar-benar dibuat. terkejut dengan sikap Adibrata yang tanpa diduga mengangkat tubuhnya hingga kini berada di kedua lengan Papa mertuanya itu.
Seketika bola mata Indhira mengembun. Bukan karena rasa sakit yang saat ini sedang dia rasakan, tapi karena sikap Adibrata yang hendak membawanya ke rumah sakit.
Air mata tak tertahankan akhirnya meleleh di pipi Indhira. Sikap yang ditunjukkan Adibrata saat ini sangat berbanding dengan sikap Adibrata saat dia temui di rumah mertua Azkia dulu. Dan hal tersebut membuatnya dirinya merasa terharu. Di tengah ketakutannya atas penolakan dan kemarahan Adibrata, Adibrata justru memperlihatkan keperdulian kepadanya, walaupun mungkin janin yang ada di perutnya lah yang membuat sikap Adibrata berubah, namun Indhira tidak menpermasalahkan hal itu.
Sesampainya di lobby, Adibrata lalu meletakkan Indhira di kursi tengah. Dia menyuruh Angel menemani Indhira, sementara dia duduk di depan bersama Agus.
" Kita ke rumah sakit mana, Tuan?" tanya Agus saat mobil yang dia kendarai keluar dari area Mall tersebut.
" Rumah sakit langganan saya, Gus. Agak cepat jalannya, tapi tetap hati-hati!" Adibrata memberi perintah pada Agus untuk segera mengikuti arahannya.
" Baik, Tuan." sahut Agus.
" Ra, sakit banget, ya?" Angel mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Indhira. Dia benar-benar merasa khawatir jika tindakannya tadi akan menyebabkan janin dalam perut Indhira bermasalah.
" Maafkan Mama, ya, Ra? Mama seharusnya tidak menarik paksa kamu." Angel bahkan kini ikut menangis karena merasa jika dia lah penyebab Indhira mengalami masalah dengan perutnya sekarang ini.
" Ma, sudah jangan menangis." Adibrata mencoba menenangkan istrinya itu. Dia sungguh tak menyangka jika istrinya itu begitu sangat perhatian pada istri Bagas.
" Ini semua gara-gara Papa! Coba Papa tadi tidak muncul!" Angel kembali melimpahkan kesalahan pada Adibrata yang dia anggap sebagai penyebab perut Indhira kesakitan.
" Lho, Mama kenapa pergi? Papa 'kan ingin bicara baik-baik dengan Mama." Adibrata tidak ingin disalahkan oleh Angel.
__ADS_1
" Mama sudah bilang, sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi di antara kita!" tegas Angel masih dengan nada ketus.
Adibrata mendengus kasar, dia tidak ingin berdebat dengan istrinya di hadapan Indhira apalagi Agus.
" Cepat Papa kasih tahu Bagas! Suruh dia menyusul ke rumah sakit!" Angel menyuruh Adibrata untuk menghubungi Bagas agar Bagas dapat menyusul mereka di rumah sakit yang mereka tuju.
***
Bagas sedang menerima tamu orang yang ingin menyewa ballroom di hotel Richard Fams untuk acara wedding party putri salah seorang pejabat tinggi, saat ponselnya berbunyi.
" Permisi sebentar, Pak Jakaria." Bagas meminta ijin mengangkat panggilan masuk dari Adibrata di ponselnya, saat melihat Papanya itu menghubunginya.
" Silahkan, Pak Bagas." sahut Jakaria.
" Halo, ada apa, Pa?" sapa Bagas saat dia mengangkat panggilan telepon dari sang Papa.
" Bagas, cepat kamu ke rumah sakit langganan kita. Istrimu perutnya kesakitan." Adibrata langsung memberitahu apa yang terjadi pada Indhira.
" Apa?? Perut Indhira kenapa, Pa?" Bagas terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Papanya. Dia pun curiga jika Papanya lah yang membuat Indhira mengalami masalah dengan perutnya. Bagaimana mungkin Papanya bisa bersama Indhira. Dia curiga jika Papanya mengikuti kepergian Angel dan Indhira dari hotel. Artinya ada orang suruhan Papanya di sekitar hotel yang dia handle. " Apa yang sudah Papa lakukan terhadap istriku!?" geram Bagas.
" Papa tidak berbuat apa-apa, Bagas!" sanggah Adibrata. " Sebaiknya kamu segera ke rumah sakit sekarang juga, kami juga sedang dalam perjalanan ke sana." Adibrata langsung mematikan sambungan telepon mereka.
" Halo, Pa? Halo?" Bagas memandang layar ponselnya karena sambungan telepon dengan Adibrata tadi sudah terputus.
" Pak Josep, tolong temani Pak Jakaria dulu. Saya mau ke rumah sakit sekarang. Istri saya ada masalah dengan kehamilannya." Bagas meminta Josep menggantikannya menemani Jakaria.
" Baik, Pak Bagas." Josep menyahuti.
" Pak Jakaria saya permisi dulu. Nanti Pak Josep yang akan menemani Pak Jakaria." Bagas berpamitan pada Jakaria.
" Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu ..." Setelah berjabatan tangan dengan Jakaria, Bagas bergegas meninggalkan hotel menuju rumah sakit yang menjadi langganan keluarganya jika ada anggota keluarga yang dirawat.
Setengah jam kemudian, Bagas sudah sampai di rumah sakit. Setelah turun dari mobil, Bagas berlari menyusuri koridor ke ruangan di mana Indhira saat ini sedang dirawat.
" Indhira, Sayang, kamu tidak apa-apa?" Saat masuk ke dalam ruang rawat Indhira, Bagas langsung menghampiri istrinya yang sedang berbaring di atas brankar. Dia lalu menciumi wajah Indhira dan menggenggam tangan sang istri karena dia merasa cemas.
" Indhira tidak apa-apa, Bagas. Tadi kami baru selesai makan langsung diajak jalan cepat. Tapi, dokter bilang tidak ada masalah dengan kandungan Indhira." Angel menepuk pundak Bagas.
" Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, Yank. Tadi aku khawatir sekali waktu Papa kasih tahu kamu dibawa ke rumah sakit." Bagas bernafas lega saat mengetahui calon bayinya di perut sang istri tidak bermasalah, begitu juga dengan istrinya.
Teringat soal Adibrata, sontak Bagas menoleh ke arah Papanya yang ada ruangan rawat. Tentu saja dia merasa penasaran kenapa Papanya bisa ada bersama Indhira dan Angel.
" Papa kenapa bisa ada sama Mama dan istriku?" tanyanya khawatir Adibrata akan menyakiti Indhira lagi.
" Pasti Papamu ini memata-matai Mama!" tuding Angel melirik sinis pada suaminya. Rasa kesal karena perselingkuhan yang dilakukan sang suami masih belum dapat dia maafkan.
Adibrata dibuat salah tingkah karena ketahuan memata-matai Angel, padahal pekerjaan itu sudah sering dia perintahkan pada anak buahnya.
" Gara-gara Papa kamu juga Indhira jadi seperti ini." Angel masih saja menyalahkan Adibrata.
" Papa hanya ingin bicara dengan Mamamu ini, Bagas. Papa tidak bermaksud menyakiti dia!" Adibrata membantah dan mencoba melakukan pembelaan diri.
" Kalau Papa tidak ngotot mengikuti Mama, tidak akan jadi seperti ini, kan!?" Angel terlihat emosi.
" Lagipula, apa lagi yang mau dibicarakan? Papa itu sudah jelas-jelas salah! Apa Papa tidak malu pada Bagas, pada Indhira!? Dulu Papa menghukum mereka karena kesalahan yang sudah mereka lakukan. Lalu yang Papa lakukan dengan ja lang itu apa, hahh!? Papa itu punya keluarga, punya istri, punya anak, punya kewajiban dan tanggung jawab terhadap keluarga! Tapi Papa malah senang-senang dengan wanita lain tanpa sepengetahuan kami. Apa Papa pikir hati Mama tidak sakit dengan perlakuan Papa ini?" Tangis Angel seketika pecah, padahal beberapa hari ini dia merasa tenang bersama Bagas dan Indhira.
__ADS_1
" Ma, sudahlah ... kita sedang berada di rumah sakit, malu kalau sampai terdengar orang lain masalah rumah tangga Papa dan Mama ini." Bagas mendekati Angel lalu memeluknya mencoba menenangkan Mamanya yang sedang dibalut emosi.
" Mama ingin cerai saja, Bagas. Mama tidak mau tinggal dengan Papa kamu lagi, Mama ingin ikut kamu saja. Hiks ..." Angel menangis dalam dekapan Bagas.
Adibrata menelan salivanya. Sungguh penyesalan lah yang dia rasakan saat ini. Dia melihat Angel saat ini merasa nyaman bersama anak dan menantu mereka daripada bersamanya. Dan bukan tidak mungkin Kartika pun akan menyusul bersama mereka. Dan jika itu benar terjadi, dunianya akan terasa sepi karena jauh dari anak dan istri.
" Mama tenang dulu, jangan bertindak karena emosi." Bagas membawa Angel duduk di sofa. Dia menoleh ke arah Indhira yang kini bola matanya mulai mengembun. Dia tahu istrinya itu sangat sensitif. Melihat Angel menangis, itu akan mempengaruhi emosional istrinya.
" Yank, aku temani Mama dulu."
Indhira langsung menganggukkan kepala seraya mengusap cairan bening di sudut matanya.
" Pa, sebaiknya Papa pergi dulu dari sini." Bagas minta pengertian Papanya agar meninggalkan Mamanya.
" Tapi, Bagas ...."
" Pa, nanti aku yang akan bicara pada Mama. Kalau Papa bersikeras bicara dengan Mama, aku yakin tidak akan ada titik temunya. Yang ada perdebatan dan perdebatan terus, tidak akan selesai-selesai." Bagas berharap Papanya itu dapat mengerti.
" Aku, Indhira, Kartika, kami semua menyanyangi Papa. Bagaimanapun sikap Papa terhadap kami selama ini, tak mengurangi rasa sayang kami terhadap Papa. Kami ingin melihat Papa dan Mama selamanya hidup bersama. Sekarang ini Mama sedang emosi. Mama hanya butuh waktu untuk berpikir panjang, Pa. Mama mencintai Papa, begitu juga sebaliknya. Percayalah, aku akan berusaha keras mempertahankan keutuhan rumah tangga Papa dan Mama." Bagas berjanji pada Papanya agar Papanya tidak tergesa-gesa ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, karena dia menyadari akan butuh waktu bagi Angel untuk mengobati luka di hati atas penghianatan Adibrata.
Adibrata mendengus kasar. Sebenarnya dia enggan untuk meninggalkan istrinya, namun dia tidak bisa memaksa, karena Angel benar-benar sangat marah padanya. Tetap bertahan di ruangan itu pun dia rasa tidak akan merubah keadaan.
" Ya sudah, Papa pergi dulu. Aku pamit, Angel." Dengan berat hati, Adibrata berjalan ke luar ruang rawat Indhira.
***
Indhira sudah terlelap di atas brankar di dalam kamar rawatnya. Meskipun dokter mengatakan jika kondisi kandungan Indhira tidak bermasalah, namun Bagas dan Angel khawatir rasa sakit di perut Indhira akan kambuh, sehingga mereka memutuskan untuk merawat Indhira di rumah sakit satu malam saja.
Setelah Indhira terlelap, Bagas memutuskan bicara empat mata dengan sang Mama, membahas kembali keinginan Angel yang bersikeras memilih berpisah dari suaminya.
" Ma, sebaiknya Mama urungkan keinginan Mama untuk berpisah dari Papa." Bagas mulai menasehati Mamanya.
" Bagas, Papa kamu itu sudah berkhianat! Kenapa kamu masih membela Papa kamu itu, sih!?" Dengan melipat tangan di dada, Angel menyesalkan sikap Bagas yang dia anggap berpihak kepada Adibrata.
" Aku tidak bermaksud membela Papa, Ma. Aku bukan hanya sayang Mama, tapi juga sayang Papa. Sebentar lagi Mama dan Papa akan mempunyai cucu. Kalau anak aku lahir dan tumbuh besar lalu menanyakan kenapa Opa Omanya tidak bersama, aku harus bilang apa pada anakku itu, Ma?" Bagas menggenggam tangan Mamanya. Dia sampai turun ke bawah duduk berlutut di depan Angel duduk.
" Ma, selama ini Papa itu sedang berada di jalan yang salah karena sikap arogannya. Kalau Mama memutuskan untuk bercerai, itu akan semakin menghancurkan Papa, Ma. Dan aku tidak ingin itu terjadi pada Papa. Papa bisa semakin kacau jika Mama tidak dapat memaafkan Papa. Atau, mungkin bisa saja Papa kembali pada wanita itu karena merasa frustasi Mama tidak dapat memaafkan Papa. Aku tidak ingin Papa semakin terjerambab semakin dalam ke lembah penuh dosa. Selagi aku bisa membantu Papa untuk bertobat, aku akan melakukannya, Ma." Bagas menatap Mamanya dengan bola mata mulai digenangi cairan bening.
" Ma, tolong maafkan Papa, bukan demi Papa, tapi demi aku, demi Kartika, demi Indhira dan demi calon cucu Mama." Tanpa terasa cairan bening itu menitik di pipi Bagas.
" Bagas ..." Angel pun ikut menangis, namun tangannya justru menghapus air mata putranya bukan air matanya.
" Mama boleh ikut dengan aku sementara waktu ini, terserah Mama ingin tetap di hotel atau kita mengontrak rumah untuk Mama tinggal jika Mama belum siap kembali ke rumah Papa, asalkan tidak ada perceraian di antara Papa dan Mama." Bagas menyampaikan harapannya kepada sang Mama, karena sejujurnya dia ingin orang tuanya tetap bersama.
" Bagas, kamu benar-benar sudah dewasa, Nak. Mama bangga terhadap kamu." Angel membelai wajah anaknya. Sungguh dia tak menyangka anaknya bisa berpikiran dewasa seperti saat ini. " Maafkan Mama, Bagas. Maafkan, Mama. Karena selama ini waktu Mama tidak pernah penuh memperhatikan kalian. Mama terlalu asyik dengan kesenangan Mama sendiri." Angel menangis penuh penyesalan karena dia telah melewatkan waktu yang seharusnya dia habiskan bersama anak-anaknya selama ini.
Bagas bangkit dan memeluk Mamanya. Mereka kini seperti dua orang yang melepaskan rindu karena sudah lama tidak bertemu. Mungkin itulah yang mereka rasakan, karena kedekatan mereka sebelumnya terasa hambar akibat Angel tidak pernah fokus memperhatikan perkembangan dan pergaulan anak-anaknya selama ini sehingga Bagas merasa jauh dengan orang tuanya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy reading❤️