
Semalaman Adibrata berpikir sampai larut atas syarat yang diminta oleh Angel. Terasa berat memang untuknya menerima permintaan Angel. Dia seperti mengalami pergolakan batin. Namun setelah lama mencerna, akhirnya dia memutuskan untuk menjalankan apa yang diminta oleh istrinya itu.
Adibrata menyadari, selama ini Angel tidak pernah menduakan cintanya meskipun saat muda dulu banyak pria tampan dan kaya yang menginginkan Angel untuk menjadi pendamping mereka. Angel juga selama ini sudah setia mendampinginya. Walaupun Angel senang dengan gaya hidup mewah, namun dia yakin Angel tidak akan berfoya-foya dengan harta yang diberikannya nanti. Faktor Bagas lah yang membuatnya cukup tenang karena dia sangat yakin putranya akan mengelola dengan baik harta yang akan dia limpahkan kepadanya.
Keesokan harinya ...
Di ruang kerjanya, saat ini Adibrata sedang berbincang serius dengan pengacara dan konsultan keuangannya. Adibrata menyampaikan niatnya untuk melimpahkan harta miliknya kepada istri dan anaknya.
Sebelumnya, Adibrata sudah berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengacara dan juga konsultan keuangannya. Mereka sempat terkejut dengan keputusan Adibrata yang sangat mendadak itu.
" Apa Tuan Adibrata yakin dengan keputusan ini?" tanya Pak Felix sebagai pengacara, tentu saja dia akan menasehati agar kliennya tidak salah dalam mengambil keputusan.
" Saya sudah yakin dengan keputusan saya ini, Pak Felix." sahut Adibrata meyakinkan jika keputusannya sudah bulat.
" Maaf sekali lagi, Tuan. Apa ada suatu tekanan atau ada paksaan terhadap Anda dalam mengambil keputusan ini, Tuan Adibrata?" tanya Sean, konsultan keuangan Adibrata. Karena tentu saja, melimpahkan hampir seluruh harga yang bernilai trilyun dalam keadaan segar bugar dan sehat alfiat membuat Sean merasa aneh.
" Tidak, Sean. Semua keputusan saya ambil dengan kesadaran yang penuh dan tanpa ada paksaan dari siapa pun." Adibrata membantah jika keputusannya didasari atas desakan pihak lain yang memaksa Adibrata mengambil keputusan besar itu.
Sean menoleh ke arah Pak Felix, mereka berdua masih bingung dengan keputusan yang diambil oleh Adibrata. Mereka melihat jika Adibrata saat ini masih dalam sehat alfiat. Kenapa melimpahkan hampir seluruh harta pada istri dan anak-anaknya, sementara Adibrata hanya mendapatkan sisa satu persen dari harganya tersebut.
" Saya minta kalian untuk segera memproses peralihan itu," perintah Adibrata kepada kedua orang yang siang ini berkumpul di ruang kerjanya itu.
" Baik, Tuan. Kami akan segera memproses permintaan Tuan secepatnya," ucap Pak Felix dengan cepat.
Sementara di luar halaman parkir kartor Adibrata, Bagas memarkirkan mobil inventaris hotel yang memang disediakan untuknya, namun jarang sekali sekali digunakan olehnya. Bagas memang tidak terlalu suka menggunakan fasilitas yang diperoleh karena jabatannya. Dia lebih senang menggunakan motor matic milik istrinya untuk berpergian terkecuali jika dia ingin pergi ke kantor Papanya. Dia tidak ingin mempermalukan Papanya dengan penampilan yang akan dianggap karyawan Adibrata sangat memprihatinkan jika menggunakan motor.
Bagas sengaja ke kantor sang Papa untuk membicarakan permintaan Angel. Dia tidak ingin Papanya tertekan dengan syarat yang diminta oleh Mamanya dan agar tidak mengabulkan semua permintaan Angel. Karena dia khawatir sang Mama tidak dapat mengelola harta yang akan diterima nanti.
__ADS_1
" Papa saya ada, Mbak?" tanya Bagas pada Diana saat dia sampai di depan ruang Adibrata.
" Siang, Mas Bagas. Bapak sedang ada tamu Pak Felix dan Pak Sean, Mas." ujar Diana.
" Pak Felix dan Pak Sean?" Bagas mengangkat alisnya ke atas. Dia tahu siapa kedua orang yang sedang bersama Papanya saat ini. Dia yakin Papanya sepertinya memang serius ingin memenuhi permintaan Mamanya.
" Benar, Mas." jawab Diana.
" Oh, oke. Terima kasih Mbak." Bagas berjalan menghampiri ruang kerja Papanya.
Tok tok tok
" Siang, Pa." sapa Bagas saat masuk ke dalam ruang kerja Papanya.
Ketika orang yang sedang berbincang di sofa langsung mengarahkan pandangan pada Bagas yang baru muncul dari pintu.
" Selamat siang, Mas Bagas." Pak Felix dan Sean pun menyapa Bagas.
" Aku tidak tahu jika ada Pak Felix dan Pak Sean di sini," ujar Bagas setelah mengikuti perintah Adibrata duduk di samping Papanya itu.
" Papa sengaja memanggil Pak Felix dan Sean kemari untuk membahas peralihan harta kepemilikan Papa untuk Mamamu, kamu dan adikmu." Adibrata menjelaskan kepada Bagas apa yang dilakukan kedua orang yang sedang berbincang dengannya.
Bagas menatap Adibrata. Dia tidak menyangka jika sang Papa benar-benar sudah bulat mengambil keputusan untuk melimpahkan harta yang diminta Mamanya.
" Kami tadi memastikan apakah Tuan Adibrata benar-benar serius ingin melakukan pelimpahan harta kepada Nyonya dan anggota keluarga lainnya Mas Bagas." Pak Felix pun menyampaikan keraguannya atas keputusan Adibrata tadi.
" Pak Felix benar, Pa. Sebaiknya Papa pertimbangan lagi untuk menjalankan keputusan tersebut." Meskipun dia sangat diuntungkan dengan keputusan sang Papa. Namun, dia tidak ingin Adibrata melakukannya dengan keterpaksaan dan tidak ikhlas.
__ADS_1
" Tidak, Bagas! Papa sudah sangat yakin dengan keputusan Papa ini. Lagipula harta Papa memang selayaknya untuk kalian. Mengenai jumlahnya, Papa rasa keluarga lebih berharga dari semua materi yang Papa punyai." Tak ada rasa kecewa dan penyesalan dari kalimat Adibrata terkait pelimpahan harta miliknya.
Bagas terkesima memperhatikan sang Papa. Dia seolah menemukan Adibrata versi bijak yang ada di hadapannya saat ini. Sama sekali tidak terlihat sikap Arugan yang selama ini dibanggakan oleh Adibrata selama ini.
Sepertinya takut kehilangan Angel benar-benar melunturkan sikap keras kepala dan kesombongan Adibrata, sehingga Adibrata rela melepas hampir seluruh hartanya demi bisa mendapatkan maaf istrinya itu.
Mungkin memang harus begini takdir yang harus dijalankan Adibrata untuk mendapatkan hidayah. Dari sekian banyaknya kesalahan yang sudah dilakukan oleh Adibrata, kasus perselingkuhan lah yang akhirnya membuat Adibrata tersadar jika keluarga lebih penting dari segalanya.
Bagas menyadari, ternyata ada hikmah di balik kesalahan dilakukan oleh Papanya itu. Kesalahan yang akhirnya membuat sikap sang Papa berubah drastis. Dan yang paling membuat dirinya bahagia adalah sikap Papanya terhadap Indhira, yang tidak lagi menolak dan menghina Indhira seperti dulu.
" Jika Papa memang sudah yakin dengan keputusan Papa itu, aku harap semua harta yang Papa itu tetap harus dalam kontrol Papa." Bagas tetap melibatkan sang Papa untuk mengawasi semua harta yang dilimpahkan kepada mereka.
" Menurut Pak Felix dan Pak Sean bagaimana?" Bagas meminta pendapat kedua orang itu.
" Saya sependapat dengan Mas Bagas. Saya rasa pengawasan terhadap harta milik Tuan Adibrata tetap harus dijalankan, siapa pun pemiliknya saat ini. Agar tidak ada pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak menguntungkan," sahut Sean berpendapat.
" Baiklah, Sean. Lakukan saja yang terbaik," sahut Adibrata kemudian.
*
*
*
Bersambung ...
Jangan lupa baca dan kasih dukungan juga di novel baru ini, ya. Makasih 🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️