SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Menjalani Kehidupan Masing-Masing


__ADS_3

Bagas memperhatikan foto yang dikirimkan Benny kepadanya. Foto yang memperlihatkan dua orang yang sedang berbincang di balkon rumah Rissa. Satu orang yang ada di foto itu dia kenal adalah Rissa dan satu orang yang bersama Rissa itu adalah seorang wanita paruh baya yang dia duga adalah Mama dari Rissa.


Ddrrtt ddrrtt


Panggilan telepon masuk tiba-tiba berbunyi dan itu berasal dari Benny. Dengan cepat Bagas menerima panggilan masuk dari Benny itu.


" Sepertinya Indhira tidak ada di rumahnya Rissa, Gas!" suara Benny terdengar dari ponsel Bagas.


" Kau yakin tidak ada orang lain selain mereka berdua, Ben?" Bagas berharap ada orang lain di balkon itu selain Rissa dan Mamanya.


" Tidak ada lagi, Gas. Sekarang ini Rissa sama Mamanya itu malah berdiri di dekat pagar balkon. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana," sahut Benny menjelaskan situasi yang ada di sana.


Bagas mendengus kasar. Harapannya agar Indhira berada di rumah Rissa sekarang pupus sudah. Dan dia tidak tahu saat ini Indhira sedang berada di mana. Tubuh Bagas seakan lemas, hingga dia mengajukan ponselnya ke lantai kamarnya yang dilapisi permadani.


" Gas, Bagas! Kau masih di sana?" Terdengar suara Benny dari ponsel Bagas yang diabaikan oleh Bagas karena Bagas kini menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Beberapa saat sebelumnya


Rissa yang baru saja keluar dari gerbang sekolahnya tidak menyadari jika dia diikuti oleh Benny. Baru setelah setengah perjalanan ke rumahnya dia melihat jika motornya sedang diikuti oleh Benny.


" Mau apa dia mengikutiku?" Rissa melirik ke arah spion motornya seraya mendengus.


" Dia ingin main detektif-detekif-an denganku rupanya?" Rissa tersenyum sinis. Dia menduga jika Benny sengaja disuruh oleh Bagas untuk mengawasinya. Sepertinya Benny memang sudah mulai curiga jika dirinya mengetahui keberadaan Indhira.


Rissa sengaja memilih santai mengendarai motornya, seolah dia tidak tahu jika saat ini dia sedang diikuti oleh Benny. Karena jika dia menjalankan motornya cukup kencang, akan semakin mencurigakan bagi Benny.


Beberapa menit kemudian motor Rissa sudah sampai di rumahnya. Setelah memarkirkan motor, Rissa segera masuk ke dalam rumahnya. Dia masih melihat motor Benny yang sengaja berhenti di samping rumahnya. dari balik jendela rumah.


" Sedang apa kamu, Ris?" Suara Ibu Lidya mengagetkan Rissa yang sedang mengintip dari jendela.


" Mama? Idhira mana, Ma?" tanya Rissa mendekat ke arah Mamanya.


" Indhira di kamar. Kenapa memangnya?" tanya Ibu Lidya heran melihat Rissa terlihat cemas.


" Ada yang mengikuti aku, Ma." ungkap Rissa.


" Ada yang mengikuti kamu? Siapa, Ris?" Ibu Lidya turut cemas, bahkan dia ikut mendekat ke arah jendela mencari orang yang mengikuti putrinya itu.


" Benny, temannya Bagas, Ma. Sepertinya dia curiga kalau Indhira ada di sini." Rissa menyampaikan dugaanya pada Ibu Lidya.


" Oh, Mama pikir yang mengikuti kamu itu orang jahat." Ibu Lidya menarik nafas lega setelah tahu yang menguntit Lidya hanya teman Bagas.


" Kita ke kamarku yuk, Ma! Kita bikin dia tertipu." Rissa lalu menarik tangan Mamanya dan mengajak Mamanya itu masuk ke kamarnya.


" Eh, eh, eh, mau apa memangnya, Ris?" Dengan langkah terpaksa mengikuti Rissa, Ibu Lidya bertanya maksud dan tujuan Rissa membawanya ke kamar Rissa.


" Ra, ada Benny mengawasi rumah ini!" Rissa yang baru sampai di kamarnya langsung membeitahu Indhira yang sedang mengepak beberapa pakaian bekas Rissa yang akan dia bawa ke Semarang.


" Benny tahu aku ada di sini, Ris?" Indhira terperanjat mendengar informasi yang disampaikan oleh Rissa. Dia sangat cemas karena dia tidak ingin Bagas mengetahui jika dirinya ada di rumah Rissa dan dia pun tak ingin Bagas tahu rencananya pergi ke Semarang.


" Lalu bagaimana ini, Ris?" Indhira terlihat ketakutan.


" Kamu tenang saja, Ra! Tidak usah cemas seperti itu!" Rissa kembali menoleh ke arah Mamanya. " Ma, kita pura-pura berbincang di balkon, yuk!" Rissa langsung berjalan ke luar kamar menuju ke ruangan keluarga dan membuka pintu balkon di hadapan ruangan keluarga itu, lalu melangkah ke teras balkon dan berhenti di tepi pagar balkon yang diikuti oleh Mamanya.


" Mama lihat tidak orangnya? Di depan rumah Pak Anjas. Tapi kita pura-pura tidak tahu saja kalau ada dia di sana supaya dia tidak curiga." Rissa menyuruh Mamanya untuk berpura-pura tidak tahu keberadaan Benny di depan rumah tetangga mereka.


" Iya, Mama lihat," Ibu Lidya menganggukkan kepalanya.


" Biarkan Bagas tersiksa karena dia tidak mengetahui keberadaan Indhira! Itu balasan yang pantas untuknya! Syukur-syukur dia jadi gi la sekalian! Biar impas sama penderitaan yang dialamani Indhira!" Rissa bahkan bersumpah serapah dengan mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa Bagas. Sepertinya kebencian Indhira sudah sampai ke ubun-ubun.


" Hush, kamu jangan bicara seperti itu, Rissa!" Mendengar putrinya mengumpat kasar, Ibu Lidya langsung menegur Rissa.


" Habisnya aku kesal, Mam!" Rissa beralasan. Sementara matanya melihat motor yang dikendarai oleh Benny berjalan menjauh dari rumahnya. " Orangnya sudah pergi. Kita masuk lagi yuk, Ma!" Rissa bersama Ibu Lidya kemudian meninggalkan balkon dan kembali ke kamar Rissa.


" Bagaimana, Ris?" tanya Indhira yang menunggu kabar dari Rissa.


" Sudah aman, Benny sudah pergi, kok!" sahut Rissa.


" Alhamdulillah ..." Indhira menarik nafas lega, karena dia memang tidak ingin diketahui keberadaannya oleh Bagas.


" Ya sudah, kalian makan dulu, yuk!" Setelah itu istirahat sebentar, habis ashar kalian siap-siap untuk pergi ke Semarang. Jangan sampai ketinggalan kereta!" Ibu Lidya menasehati.

__ADS_1


" Iya, Ma."


" Iya, Tante."


Rissa dan Indhira membalas ucapan Ibu Lidya yang menyuruh mereka makan siang terlebih dahulu.


***


Jam empat tepat Indhira dan Rissa ditemani Ibu Lidya yang mengendarai mobil pergi menuju stasiun kereta yang berada di Jakarta Pusat itu. Dalam waktu normal, jarak tempuh hanya sekitar dua puluh menit jika tidak terjebak kemacetan.


Lima belas menit sebelum waktu keberangkatan, mereka sampai di Stasiun yang berada di timur kawasan Monumen Nasional itu.


" Kamu sudah cetak tiketnya, Ris?" tanya Ibu Lidya.


" Tidak usah, Ma. E-boarding pass nya sudah Rissa screen shot di ponsel," ucap Rissa yang melakukan pesanan secara online melalui aplikasi yang dimiliki oleh badan usaha milik negara tersebut.


" Oh, sekarang bisa, ya? Tidak perlu pakai cetak tiket segala ya?" tanya Ibu Lidya.


" Bisa dong, Ma! Sekarang jaman 'kan sudah canggih. Rissa berangkat antar Indhira dulu ya, Ma!" Rissa berpamitan kepada Mamanya dengan mencium tangan dan memeluk Mamanya.


" Iya, hati-hati. Salam untuk Tante kamu," balas Ibu Lidya.


" Tante, saya pamit dulu. Terima kasih atas kebaikan hati Tante dan Om. Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan, kebahagiaan dan rezeki yang melimpah kepada keluarga Tante." Tak kuasa menahan air mata, Indhira tak sanggup untuk tidak menangis haru. Dia pun menyalami dan mencium punggung tangan Ibu Lidya dan memeluk Mama dari sahabatnya itu.


" Aamiin, kamu juga jaga diri di sana, ya!? Apa yang kamu alami sekarang ini jadikan cam buk agar kamu bisa lebih baik lagi ke depannya dan jangan pernah patah semangat!" Ibu Lidya menasehati Indhira.


" Iya, Tante." sahut Indhira.


" Ya sudah, Mama antar kalian sampai sini saja, ya!? Hati-hati di jalan! Tunggu Tante Sandra menjemput kalau sudah tiba di Semarang.!" Ibu Lidya mengingatkan agar mereka tidak lupa mengabari Tante Sandra.


" Iya, Ma."


" Iya, Tante ...."


" Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Beberapa menit kemudian, Rissa dan Indhira sudah berada di dalam kereta yang mulai meninggalkan stasiun tersebut.


Jantung Indhira berdetak kencang dengan hati yang berdebar-debar saat dia melihat ke arah jendela saat kereta sudah mulai berjalan.


Indhira tidak menduga akan meninggalkan kota Jakarta secepat ini dengan cara yang tidak enak, karena dia terusir secara halus dari rumahnya sendiri. Jika ditanya bagaimana rasa hatinya saat ini, tentu saja dia merasa sedih karena harus meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya dan akan jauh dari makam orang tuanya. Namun, Indhira tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang direncanakan orang tua Rissa yang berniat baik untuk menolongnya.


Sekitar jam sepuluh malam mereka tiba di kota Semarang. Dalam perjalan di kereta tadi, Rissa sempat memejamkan mata, sementara Indhira lebih banyak berdoa dalam hati, supaya perjalanannya sampai kota Semarang berjalan lancar dan dia dapat melalui hari-hari ke depannya dengan penuh kemudahan.


" Rissa ...!"


Rissa mendengar suara Tante Sandra berteriak memanggil namanya. Dan dia pun melihat sosok Tantenya sedang melambaikan tangan ke arahnya.


" Hai, Tan ...!" Rissa menggandengkan Indhira lalu berjalan cepat menuju Tante Sandra.


Rissa mencium tangan dan memeluk Tante Sandra setelah mendekat.


" Tan, kenalkan ... ini Indhira, teman aku yang kemarin aku ceritakan." Rissa memperkenalkan Indhira pada Tante Sandra.


" Indhira, Tante." Indhira menyalami dengan mencium punggung tangan Tante Sandra dan memperkenalkan namanya.


" Oh hai, Indhira." Tante Sandra membalas. " Kalian sudah pada makan belum? Kita makan dulu saja kalau kalian belum makan."


" Tadi sudah makan di kereta kok, Tan." jawab Rissa.


" Ya sudah, kalau begitu kita langsung ke rumah saja, ya!? Ada yang perlu Tante bantu bawa tidak?" Tante Sandra menawarkan membawa tas koper yang digunakan Rissa dan Indhira untuk menaruh pakaian mereka.


" Tidak usah, Tan!" Rissa dan Indhira menjawab bersamaan.


" Ya sudah kalau begitu. Ayo!" Tante Sandra mengajak Rissa dan Indhira untuk ke mobilnya.


Indhira dan Rissa berjalan di belakang Tante Sandra menuju mobil berwarna silver milik Tante Sandra.


" Dhika tidak ikut, Tan?" Rissa menanyakan anak Tante Sandra yang berusia lima tahun.

__ADS_1


" Dhika sudah tidur sebelum jam sembilan tadi, Ris." sahut Tante Sandra.


" Kalau Dhika bangun lalu Tante tidak ada, memang dia tidak menangis mencari Tante?" tanya Rissa kemudian.


" Dhika sudah terbiasa Tante tinggal kalau Tante ke salon malam hari, kok. Jadi dia tidak akan menangis," jawab Tante Sandra dengan memijat pelipisnya. Sementara tangan lainnya sibuk memegang kemudi.


" Kenapa, Tan?" Melihat Tante Sandra memijat pelipisnya, Rissa langsung bertanya.


" Biasa, Ris. Suka merasa tiba-tiba pusing," sahut Tante Sandra.


" Minum obat atau periksa ke dokter dong, Tan! Kalau memang sering kambuhan begitu!" Rissa menyarankan Tantenya agar tidak mengabaikan kesehatan.


" Iya, biasanya Tante minum obat, kok!" sahut Tante Sandra.


" Ya sudah, bawa mobilnya pelan-pelan saja, Tan. Padahal kalau Tante kurang sehat, tadi Tante bilang saja, jadi nanti aku sama Indhira pesan taxi online saja." Rissa menyesalkan Tante Sandra yang tidak terus terang tentang kondisi kesehatannya.


" Maaf kalau saya jadi merepotkan Tante." Indhira yang sejak tadi diam pun ikut menyampaikan penyesalannya karena dia merasa kehadirannya sudah membuat Tante Sandra yang tidak fit terpaksa menjemputnya dari stasiun.


" Tenang saja, Indhira. Tante hanya sakit kepala saja, kok. Sudah biasa begini." Tante Sandra tidak terlalu menganggap serius apa yang sedang dirasakan olehnya itu. Dia tetap serius mengemudikan mobil hingga mereka sampai di rumah Tante Sandra.


***


Keesokan harinya, Indhira dan Rissa dibawa Tante Sandra ke salon milik Sandra yang bernama Sandra Studio, Hair & Beauty. Bangunan berlantai dua itu terlihat banyak dikunjungi pelanggan yang ingin melakukan perawatan wajah, rambut dan juga tubuh.


" Sis, kenalkan ini Indhira, dia ini teman keponakan saya yang nanti akan ikut bekerja di sini. Tolong kamu bantu dia, ya!?" Tante Sandra memperkenalkan Indhira pada Siska,


" Baik, Bu." sahut Siska. Dia lalu menoleh ke arah Indhira lalu menyapa, " Hai, Indhira, saya Siska."


" Saya Indhira, Mbak." Indhira membalas sapaan Siska dan berjabatan tangan dengan Siska.


" Sudah langsung boleh saya ajarkan sekarang, Bu?" tanya Siska pada Tante Sandra.


" Sekarang kasih tahu ajarkan pekerjaan yang ringan-ringan saja dulu, Sis." Tante Sandra meminta Siska untuk mengajarkan pekerjaan yang tidak terlalu berat kepada Indhira.


" Baik, Bu." sahut Siska. " Ayo, Indhira!" Siska mengajak Indhira untuk mengikutinya.


" Iya, Mbak." jawab Indhira, lalu mengikuti langkah Siska.


Siska memperkenalkan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh Indhira. Mulai dari pekerjaan perawatan rambut, wajah dan juga tubuh seperti lulur, massage, spa dan lain-lainnya.


Sementara di dalam ruangan Tante Sandra, Rissa dan Tantenya berbincang soal Indhira.


" Anaknya kalem dan pemalu seperti itu, kenapa bisa terkena kasus begitu, Ris?" Melihat sikap Indhira yang cenderung Introvert, Tante Sandra tidak menyangka jika Indhira terkena kasus video a susila yang viral beberapa waktu lalu.


" Ya itulah, Tan. Aku juga sampai tidak percaya. Apesnya saja Indhira sekalinya pacaran ketemunya sama pria breng sek! Sudah kehilangan kesucian, videonya beredar, dikeluarkan dari sekolah, diusir dari rumahnya, bahkan sampai mau dijual sama Om dan Tantenya sendiri ke pria hidung belang. Lengkap banget 'kan, Tan? Penderitaan Indhira itu!" Rissa menceritakan rasa prihatin atas apa yang menimpa Indhira.


" Rissa harap di sini Tante bisa bantu Indhira bangkit dari keterpurukannya saat ini." Rissa minta bantuan Tantenya agar dapat menolong Indhira dari penderitaan yang sedang menimpa Indhira.


" Iya, Tante akan berusaha," sahut Tante Sandra.


" Oh ya, Tan. Nanti kalau ada waktu senggang, Tante bantu Indhira cari sekolah non formal Paket C supaya Indhira bisa dapat ijazah ya, Tan!? Sayang sekali kalau sampai dia tidak mempunyai ijazah setara SMA." Rissa kembali meminta bantuan Tantenya itu.


" Ya sudah, nanti Tante carikan sekolah paket C." Kembali Tante Sandra menyanggupi permintaan Rissa.


Dimulai hari ini, Indhira bergabung di tempat usaha Tante Sandra. Dia mencoba melupakan masa lalu yang kelam saat dia harus terjebak dengan peristiwa yang akhirnya membuat dia pergi dari Jakarta.


Beruntung Tante Sandra sudah menitipkan dirinya ke Siska agar menjaga Indhira hingga tidak ada pegawai lain yang berani untuk mengusik Indhira. Hingga Indhira dapat mengerjakan pekerjaan dengan tenang. Untung juga Indhira orang yang sangat ringan tangan, mudah membantu pekerjaan apa saja dan siapa saja tanpa pilih-pilih, sehingga dia pun banyak teman di salon milik Tante Sandra.


Sementara di Jakarta, Bagas yang tidak juga mendapatkan kabar tentang Indhira merasa frustasi. Sehingga membuat dirinya tidak berselera makan bahkan sempat drop. Melihat kondisi Bagas, Adibrata memutuskan untuk melanjutkan sekolah Bagas melalui program home schooling. Adibrata memang ingin memutuskan Bagas dari pergaulan di sekolahnya sekarang ini. Bahkan menyelesaikan sekolah dan mendapatkan ijazah SMA, Adibrata lalu mendaftarkan Bagas di salah satu universitas ternama di Amerika.


Baik Bagas maupun Indhira kini menjalani kehidupan masing-masing dan hilang kontak. Indhira tidak pernah mencari tahu kabar soal Bagas. Sementara melalui Benny, Bagas masih berusaha mencari keberadaan Indhira karena Benny melanjutkan kuliah di Jakarta.


Sedangkan Om Ferry, sejak peristiwa kaburnya Indhira, dia dikeluarkan dari tempat kerjanya. Karena dia dianggap berusaha menipu dan berniat menjebak bosnya itu. Om Ferry kini berkerja serabutan, melakukan apa saja yang bisa dia lakukan. Mereka masih beruntung karena uang pensiunan Papa Indhira masih terus mengalir ke kantong mereka. Sementara ini, hanya uang itu yang mereka andalkan untuk menutupi kebutuhan mereka sehari-hari dan membayar kebutuhan sekolah Dahlia. Tanpa malu dan rasa bersalah mereka masih menempati rumah yang semestinya ditempati oleh Indhira yang justru kini berada di tempat yang jauh dari rumah orang tuanya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2