
Mobil sport mewah milik Bagas kini memasuki halaman parkir butik milik Azkia. Setelah berkendara selama empat puluh lima menit, akhirnya Bagas sampai di tempat kerja Indhira yang baru itu.
Bagas dan Indhira pun lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam butik bernama Alexa Boutique tersebut.
" Selamat siang, Pak." Indhira menyapa Pak Didit, security yang berjaga di dekat pintu masuk butik.
" Selamat siang, Mbak Indi." Pak Didit menjawab sapaan yang diucapkan oleh Indhira.
Setelah menyapa security, Indhira masuk ke dalam butik berdampingan dengan Bagas. Kemunculan Indhira, pegawai baru di butik itu bersama dengan seorang pria tampan, tentu saja menarik perhatian orang-orang di dalam butik. Bukan hanya pegawai Azkia tapi juga para pengunjung butik yang datang hanya untuk melihat koleksi terbaru ataupun yang ingin membeli pakaian koleksi dari butik itu.
Indhira hanya tersenyum menyapa rekan-rekan kerja di tempat barunya, lalu bersama Bagas berjalan menaiki anak tangga
" Siang, Mbak Wanda. Bu Kia ada di dalam?" Saat sampai di depan ruang kerja Azkia, Indhira menyapa dan bertanya pada Wanda.
" Ada, Ra." sahut Wanda dengan tatapan mata ke arah Bagas. Wanda bertanya-tanya, siapa pria tampan yang bersama Indhira itu.
" Saya masuk ke dalam dulu ya, Mbak Wanda!?" Setelah mendapatkan jawaban dari Wanda, Indhira lalu berjalan mendekat ke arah pintu ruangan kerja Azkia.
" Kamu tunggu di sini dulu, Bagas. Aku ingin bilang kepada Bu Kia, kalau kamu ingin berbicara dengan beliau." Indhira menyuruh Bagas untuk menunggu di luar sementara dia masuk menemui Azkia.
" Ya sudah." Bagas tidak menentang apa yang diminta oleh Indhira. Dia memilih duduk di sofa tunggu.
Tok tok tok
" Permisi, Bu. Maaf, kalau saya datang terlambat." Saat masuk ke dalam ruangan Azkia, Indhira menyampaikan permohonan maafnya terlebih dahulu pada bosnya itu.
Azkia yang sedang melihat desain pakaian yang ditawarkan beberapa desainernya menoleh ke arah pintu ruangan kerjanya saat melihat kemunculan Indhira.
" Kamu sudah selesai? Di mana dia?" Azkia kemudian bangkit dan berjalan ke arah Indhira.
" Bagas ada di depan, ingin bicara dengan Ibu." Indhira lalu menyampaikan keinginan Bagas yang ingin berbicara dengan Azkia.
" Mau apa lagi dia bicara denganku?" Nada bicara Azkia terdengar ketus. Tentu saja Azkia merasa kesal Bagas menutup teleponnya begitu saja.
" Hmmm, saya tidak tahu, Bu." Meskipun sedikit banyak dia tahu apa yang ingin disampaikan oleh Bagas, namun dia tidak mungkin mengatakannya langsung kepada Azkia.
" Ya sudah, suruh di masuk!" Azkia menyuruh Indhira memanggil Bagas.
" Baik, Bu." Indhira bergegas keluar ruangan Azkia untuk memanggil Bagas.
" Bagas ...."
__ADS_1
Belum sempat Indhira mengakhiri kalimatnya, Bagas sudah berjalan mendekat ke arah Indhira.
" Aku boleh masuk, kan?" tanya Bagas kemudian, yang dibalas Indhira dengan anggukan kepala Indhira.
" Selamat siang, Bu. Maaf jika saya membawa Indhira cukup lama." Saat masuk ke dalam ruangan kerja Azkia, Bagas langsung disambut wanita pemilik butik dengan tangan berkacak pinggang,
" Apa maksud kamu dengan semua ini, Bagas? Kamu itu sudah menyakiti Indhira, sudah membuat Indhira menderita, sekarang kamu dengan enaknya mengatakan ingin kembali kepada Indhira? Memangnya semudah itu kamu bisa mendapatkan Indhira!? Kamu pikir keluarga kamu akan bisa menerima Indhira begitu saja!? Dulu orang tua kamu melarang kamu berhubungan dengan Indhira, seharusnya kamu sadar, jika hal itu akan membuat Indhira kembali menderita!" Jika Bagas adalah pria biasa, mungkin Azkia tidak akan sekhawatir ini. Namun Bagas seorang pewaris kekayaan Adibrata, salah seorang pengusaha sukses seperti Om nya, Gavin Richard dan juga seperti besan dari orang tuanya Dirgantara Poetra Laksmana. Pasti tidak akan mudah untuk orang seperti Adibrata menerima Indhira yang jelas-jelas dulu ditolak Adibrata berhubungan dengan Indhira.
" Saya tidak ingin orang tua kamu menyalahkan Indhira dalam hal ini, Bagas! Jadi sebaiknya kamu berpikir ulang untuk kembali bersama Indhira. Biarkan Indhira meraih kebahagiaannya sendiri tanpa kamu!" Azkia meminta Bagas untuk berpikir baik-baik. Bukan hanya memikirkan ego sendiri saja. Meskipun Indhira juga menginginkan bersama Bagas, namun itu tidak menjamin Indhira akan mudah mendapatkan kebahagiaannya.
" Saya mengerti maksud Bu Azkia, tapi saya sudah memikirkan resikonya, jika kebersamaan saya dan Indhira akan mendapatkan pertentangan dari pihak keluarga saya, saya akan tetap mempertahankan Indhira, Bu!" Bagas mencoba menyakinkan Azkia jika dia siap membela Indhira meskipun dia harus kehilangan harta dan jabatannya yang sudah dia dapat selama ini.
" Kamu itu sejak kecil selalu hidup enak dan bergelimang harta, jangan sok-sokan berani bilang sanggup meninggalkan semuanya demi Indhira!" sindir Azkia mengingat Bagas pernah mengatakan siap meninggalkan semua yang dia punya untuk bisa tetap bersama Indhira.
" Saya sudah berjanji, Bu. Dan saya akan menunaikan janji saya itu!" tekad Bagas. " Saya memahami jika Ibu berusaha melindungi Indhira dengan mengatakan Indhira akan menikah pada saya beberapa hari lalu. Tapi percayalah pada saya, Bu. Hanya saya yang dapat membahagiakan Indhira. Tolong Ibu beri kepercayaan kepada saya untuk membuktikan janji saya itu, Bu." Bagas memohon kepada Azkia agar memberikan kesempatan untuk membuktikan kesungguhannya.
Azkia menatap Bagas dengan menghempas nafas cukup panjang. Seketika dia teringat akan Raffasya yang dulu mati-matian meyakinkan dirinya agar setuju dinikahi oleh Raffasya.
Azkia kini menoleh ke arah Indhira yang menundukkan wajah dengan tangan meremas ujung kemeja yang dipakai oleh wanita itu.
" Ra, jujur sama aku. Apa kamu memang menginginkan kembali pada Bagas?" Azkia menuntut jawaban jujur dari Indhira.
Indhira menatap Azkia lalu menoleh ke arah Bagas yang juga langsung menatap Indhira saat Azkia melempar pertanyaan pada Indhira.
" Jujur saja, Ra! Jangan takut! Katakan sejujurnya yang kamu inginkan!" Azkia kembali menuntut jawaban dari Indhira.
" Saya ... saya tidak tahu, Bu." Bukan tidak tahu perasaan yang dia rasakan sekarang ini pada Bagas, tapi Indhira bingung, sejujurnya dia senang mengetahui Bagas ternyata masih mencintainya. Namun, Indhira masih takut dengan rintangan-rintangan yang akan menghadangnya jika dia bersama Bagas nanti.
" Kau dengar sendiri, kan? Indhira saja masih meragukan perasaannya terhadap kamu. Kenapa kamu masih memaksa ingin bersama Indhira!?" Jawaban gamang dari Indhira dijadikan alasan Azkia untuk menentang keinginan Bagas yang ingin menjalin hubungan kembali dengan Indhira.
Bagas menoleh ke arah Indhira. Dia tahu jika Indhira tidak berkata sejujurnya di depan Azkia.
" Ra ..." Bagas menggengam tangan Indhira agar Indhira tidak takut akan rintangan yang akan menghadang. Bagas seakan tidak perduli jika saat itu ada Azkia di depannya.
" Bu, sama mohon sama Bu Azkia. Beri saya kesempatan sekali lagi untuk membuktikan jika saya tidak main-main dengan ucapan dan janji saya ini!" Bagas kembali memohon kepada Azkia agar Azkia tidak terus menghalangi niatnya bersama dengan Indhira.
Azkia mendengus kasar melihat kegigihan. Bagas yang ingin bersama dengan Indhira. Namun, dia tidak bisa mengijinkan Bagas begitu saja, karena dia tidak ingin Indhira mengalami penderitaan lagi.
" Begini saja, saya harus berdiskusi dengan suami saya dan juga keluarga Rissa. Kamu tidak bisa mengabaikan keluarga mereka begitu saja, karena mereka sudah seperti orang tua dan keluarga sendiri bagi Indhira. Mereka sangat menyayangi Indhira, mereka tentu tidak ingin melihat Indhira kecewa seperti dulu lagi." Azkia akhirnya mengambil keputusan akan mendiskusi soal Indhira kepada orang-orang terdekat Indhira.
" Baiklah, Bu. Saya mengerti. Malam ini juga saya ingin bertemu dengan orang tua Rissa untuk menyampaikan permohonan maaf saya dan menjelaskan semuanya." Bagas dapat. menerima keputusan Azkia. Dia pun mengatakan jika sore nanti akan menjemput Indhira pulang dan mengantar ke rumah keluarga orang tua Rissa.
__ADS_1
***
Bagas keluar dari area parkir butik milik Azkia lalu memarkirkan mobilnya dua puluh meter dari butik itu. Matanya menatap ke arah kaca spion. Sejak keluar dari kantornya tadi, dia merasakan seseorang seperti menguntitnya sejak tadi.
Bagas mengenali mobil itu, itu adalah mobil yang biasa digunakan oleh Dahlan dan Taufan, anak buah Papanya. Bagas mendengus kasar. Dia tersadar jika dia sedang diikuti oleh orang suruhan Papanya itu.
Bagas mematikan mesin mobilnya dan melepas seat belt yang dia pasang di tubuhnya. Dia lalu keluar dan berjalan ke arah mobil berwarna abu-abu tua itu.
Tok tok tok
Bagas mengetuk kaca jendela pintu mobil yang mengikutinya sejak tadi. Dan benar saja, saat kaca jendela dibuka, terlihat Dahlan berada di belakang kemudi.
" Selamat siang, Mas Bagas." sapa Dahlan yang salah tingkah karena ketahuan Bagas sedang mengawasinya.
" Apa yang Pak Dahlan lakukan di sini? Pak Dahlan sedang membuntuti saya? Mencari tahu siapa wanita yang bersama saya?!" Bagas merasa kesal karena geraknya sangat dibatasi oleh Papanya.
" Saya, saya hanya menjalankan tugas, Mas Bagas." Dahlan melakukan pembelaan jika yang dilakukannya adalah tugas yang harus dia jalankan.
" Pak Dahlan, saya ini bukan anak kecil lagi! Saya tidak suka hidup saya selalu diatur oleh Papa! Jadi sebaiknya Pak Dahlan jangan menghalangi langkah saya!" Bagas memberi peringatan kepada Dahlan agar tidak menghalangi apa pun yang akan dilakukan olehnya.
" Dan ingat, Pak Dahlan. Jangan sekalipun mengusik wanita yang bersama saya tadi! Jika Pak Dahlan sampai nekat memberi informasi tentang wanita itu kepada Papa, Pak Dahlan akan berurusan dengan saya!" Bagas sampai berani mengancam Dahlan jika Dahlan sampai membocorkan informasi soal Indhira.
Braakk
Bagas bahkan menen dang mobil yang dibawa Dahlan sebagai bentuk rasa kesal dan kekecewaannya terhadap orang tuanya sendiri. Setelah itu kembali ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kencang menuju kantornya kembali.
Sesampainya di kantor Bagas
" Ester, tolong pesankan tiket pesawat ke Amerika untuk saya lusa. Dan lihat visa saya masih berlaku atau tidak." Bagas memberi perintah kepada Ester untuk mencarikan tiket untuknya pergi ke Amerika untuk menemui Evelyn dan orang tua Evelyn.
Bagas sudah siap dengan resiko yang akan dia terima dari Nathael jika dia menyampaikan niatnya ingin mengakhiri pertunangannya dengan Evelyn.
" Baik, Pak." sahut Ester cepat.
Bagas kemudian masuk ke dalam ruangangannya. Setelah dia menemui keluarga Rissa, selanjutnya dia akan menemui keluarga Nathael. Baginya, menjelaskan dan menyelesaikan urusan dengan keluarga Evelyn lebih penting daripada harus beradu argumentasi dengan Adibrata.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️