SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Memanfaatkan Elma


__ADS_3

Indhira melipat mukenanya. Dia baru saja melaksanakan sholat isya berjamaah di masjid yang tidak jauh dari rumah kontrakannya. Indhira dan Bagas memilih untuk melaksanakan sholat di masjid agar mereka bisa bersosialisasi dengan baik dengan masyarakat di sekitar tempatnya mengontrak karena mereka orang baru di tempat itu.


" Neng ini warga baru yang kontrak di depan gang itu, ya?" tanya seorang wanita jamaah masjid itu kepada Indhira. Karena Bagas dan Indhira tadi tiba di masjid saat muadzin mengumandangkan iqomah sehingga tidak ada kesempatan wanita itu bertanya kepada Indhira sebelum sholat dimulai.


" Benar, Bu. Nama saya Indhira." Indhira dengan santun memperkenalkan dirinya seraya menyalami wanita itu.


" Saya Bu Tuti, Neng. Asli orang mana Neng Indhira? Orang blasteran, ya?" Melihat paras cantik, kulit putih bersih dan hidung mancung Indhira, Ibu Tuti justru menduga jika Indhira adalah seorang wanita keturunan campuran Indonesia dengan luar negeri.


" Saya asli Indonesia, kok, Bu. Asli Jakarta." Indhira tersipu mendengar Ibu Tuti mengiranya mempunyai darah orang luar Indonesia.


" Masya Allah, asli Indonesia cantiknya luar biasa." Bu Tuti terus memuji kecantikan Indhira.


" Terima kasih, Bu." Indhira kembali tersipu.


" Neng Indhira ini aktivitas sehari-harinya apa?" tanya Bu Tuti kemudian.


" Saya bekerja di butik, Bu." jawab Indhira.


" Oh, bekerja, ya? Pantas di rumahnya kelihatan sepi," ujar Bu Tuti. " Oh ya, kalau Ibu mengajak Neng Indhira bergabung dalam aktivitas di kampung ini mau tidak?" tanya Bu Tuti menawarkan.


" Aktivitas apa, Bu?" tanya Indhira kemudian.


" Pengajian atau arisan bulanan, Neng. Neng Indhira bersedia ikut tidak?" jawab Bu Tuti.


" Nanti saya minta ijin suami saya dulu, ya, Bu!?" sahut Indhira beralasan harus seijin suaminya jika ingin mengambil keputusan.


" Ya sudah, tidak apa-apa, Neng. Bicarakan saja dulu sama suami Neng Indhira," ujar Bu Tuti.


" Baik, Bu." sahut Indhira. Dia lalu melihat suaminya sudah menunggu di depan pintu masuk masjid. " Saya permisi dulu, ya, Bu. Assalamualaikum ..." Indhira lalu berpamitan kepada Bu Tuti.


" Waalaikumsalam ..." jawab Bu Tuti.


Indhira kemudian berjalan menghampiri Bagas dan bersalaman dengan mencium punggung tangan Bagas lalu berjalan meninggalkan masjid dengan tangan Bagas merangkulkan lengannya di pundak Indhira.


Kehadiran Bagas dan Indhira di masjid langsung mendapat respon dari jamaah masjid yang terkagum dengan sikap ramah Bagas dan Indhira. Walaupun mereka orang baru dan mempunyai paras yang rupawan, namun mereka tetap mau bergabung melaksanakan sholat berjamaah di masjid dengan warga sekitar.


" Tadi bicara sama siapa di masjid, Yank?" tanya Bagas ketika Bagas mengunci pintu rumah setelah sampai di rumah kontrakan mereka.


" Sama Ibu Tuti, Mas. Tadi Ibu itu menawarkan aku untuk ikut pengajian rutin dan juga arisan. Tapi aku mesti bicara sama Mas dulu sebelum menyetujui atau menolak tawaran Bu Tuti tadi." Indhira menceritakan apa yang dia bicarakan dengan Ibu Tuti.


" Oh ,,," Bagas hanya merespon singkat. " Lalu kamu jawab apa?" tanyanya kemudian.


" Aku bilang harus minta ijin dulu sama suami. Aku harus jawab apa kalau besok Bu Tuti tanya aku lagi, Mas?" tanya Indhira pada suaminya.


Bagas merangkul pundak sang istri lalu mengecup puncak kepalanya. " Istri yang pintar." Tentu Bagas senang mendengar jawaban dari Indhira yang mengatakan akan berbicara dengan dirinya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Sangat bertolak belakang dengan sikap Elma yang begitu lancang mengambil tindakan tanpa seijinnya tadi di kantor.

__ADS_1


" Kalau untuk ikut pengajian silahkan saja, selama kita di sini. Tapi, kalau arisan, kita tidak akan lama tinggal di sini, Yank. Jadi untuk arisan, kamu bilang saja apa adanya." Bagas menjawab apa yang harus dikatakan Indhira pada Bu Tuti nanti.


" Ya sudah, nanti aku bilang seperti itu, Mas." jawab Indhira. Sementara dia merasakan pengait bra nya terlepas, karena Bagas iseng melepasnya saat merangkulnya tadi.


" Mas, iihhh ..." Indhira menepuk lengan sang suami karena berhasil melepas pengait bra nya itu.


" Kenapa, Yank?" Bagas seolah tak bersalah.


" Jangan pura-pura, deh, Mas! Mas sengaja melepas pengait bra aku, kan?" tuding Indhira.


" Aku tidak membuka bra kamu, mungkin itu terlepas dengan sendirinya karena sinyalnya kuat kalau sekarang ini sudah saatnya waktu pedakian gunung.." Dengan menyeringai Bagas membalas ucapan Indhira.


" Bohong!" sergah Indhira.


" Bohong apanya, sih, Yank?" Bagas semakin mengeratkan pelukan ke tubuh sang istri dan menghujani wajah cantik Indhira.


" Mas ..." Indhira mencoba melepaskan pelukan suaminya. Namun Bagas tak membiarkan Indhira lepas dari rengkuhannya, sehingga kini mereka berdua terjatuh di atas spring bed, dan dengan cepat Bagas mengungkung tubuh Indhira.


" Mas ...."


Bagas mulai melakukan sentuhan di tubuh istrinya, mencoba membangkitkan ga irah dan has rat mereka sebagai pemanasan sebelum melakukan penyatuan sebagai bentuk ungkapan cinta mereka berdua.


Sementara di ruang kerja di rumah Adibrata Mahesa, Papa dari Bagas itu terlihat berbicara serius melalui sambungan telepon dengan Hamid.


" Ada informasi apa yang bisa kau sampaikan, Hamid?" tanya Adibrata pada anak buahnya itu.


" Wanita yang pernah dekat?" Guratan jelas terlihat jelas di kening Adibrata saat mendengar penuturan Hamid soal wanita yang dimaksud oleh anak buahnya itu, yang dia sendiri tidak tahu siapa. " Siapa wanita itu, Hamid?" tanyanya kemudian.


" Namanya Elma Joseline, Tuan. Ketika Tuan Bagas masih SMA, Tuan Bagas pernah dekat dengan wanita itu." Hamid menjelaskan siapa wanita yang dia maksud.


" Apa wanita itu juga sekolah di SMA SNSB?" Adibrata semakin penasaran dengan sosok yang dimaksud oleh Hamid.


" Dia tidak pernah sekolah di sekolah itu, Tuan. Dia berbeda sekolah dengan Tuan Bagas. Dan informasi yang saya dapat, kala itu Tuan Bagas memutuskan Elma karena Tuan Bagas jatuh cinta pada Indhira, Tuan." Kembali Hamid menuturkan.


Adibrata mengusap rahangnya. Dia berpikir beberapa saat soal cerita tentang wanita itu.


" Saya tidak ingin membiarkan sembarangan wanita mendekati anak saya Hamid. Tapi, kita bisa memanfaatkan dia untuk mengusik rumah tangga Bagas dengan wanita itu. Kau aturlah agar ... siapa tadi namanya?" Adibrata sudah mempunyai rencana untuk mengusik rumah tangga putranya dengan Indhira.


" Elma, Tuan." jawab Hamid.


" Kau ajak Elma bekerja sama agar bisa membuat anakku bermasalah dengan istrinya."


" Maksud Tuan agar Tuan Bagas tergoda kembali dengan Elma?" Itu yang tertangkap di pikiran Hamid.


" Kau pikir anakku mudah digoda oleh wanita, Mid? Jika Evelyn saja dulu sulit menaklukan Bagas, apalagi wanita itu." Adibrata tidak yakin Bagas akan tergoda oleh Elma. " Kita hanya butuh dia untuk mengganggu rumah tangga Bagas agar mereka sering berselisih paham. Setelah rencana kita berhasil kita bisa singkirkan Elma itu." Adibrata mulai menjelaskan rencananya yang harus segera dijalankan oleh Hamid dalam upayanya memisahkan Bagas dengan Indhira.

__ADS_1


" Beri dia uang, wanita pasti akan senang jika diberi uang dalam jumlah besar," lanjutnya mengitruksikan apa yang harus dikerjakan oleh Hamid kepada Elan agar Elma mau berpihak kepadanya.


" Baik, Tuan. Nanti saya akan arahkan Malik untuk melakukan pekerjaan itu, Tuan." Hamid akan memberi perintah kepada Malik untuk menjalankan aksinya mempengaruhi Elma agar mau bekerja sama dengan mereka.


" Tapi, ingat! Jangan sampai membawa nama saya dalam hal ini, Hamid! Saya tidak ingin dia tahu jika saya yang menyuruh kamu memisahkan Bagas dengan wanita itu!" Seperti biasa, Adibrata enggan dilibatkan secara langsung jika bersangkutan dengan kelicikan yang dia rencanakan untuk memisahkan Indhira dengan Bagas.


" Baik, Tuan. Saya tidak akan menyinggung nama Tuan." Hamid pun sudah sangat paham dengan watak dari bosnya itu sehingga dia mengiyakan apa yang diminta oleh Adibrata.


***


" Eh, kalian tahu tidak? Manager baru kita itu ternyata berangkat kerja pakai motor matic, lho! Tidak sangka, kan? Aku pikir dia akan pakai mobil mewah kayak bos-bos lainnya," ujar Farah kepada rekan-rekannya. Seperti biasa, Farah dan rekan-rekannya mengobrol ringan di sela-sela aktivitas mereka di pagi hari.


" Masa, sih, Far?" tanya Fiska terkejut dengan informasi yang disampaikan oleh Farah.


" Kak Bagas memang sejak dulu senang naik motor. Biarpun anaknya orang kaya tapi jarang bawa mobil." Dahlia menjelaskan kepada kedua rekannya itu, bagaimana Bagas yang dia kenal.


" Dulu saja kalau menjemput sepupuku berangkat ke sekolah, Kak Bagas lebih senang mengendarai motor daripada memakai mobil," lanjut cerita Dahlia, mengingat dulu Bagas sering mengantar dan menjemput Indhira menggunakan motor daripada menggunakan mobil.


" Tapi kalau sekolah masih wajar, Li. Kalau kerja apalagi dapat posisi tinggi, jarang sekali yang kayak gitu. Sederhana banget orangnya," Farah terkagum dengan sikap sederhana Bagas yang hanya mengendarai roda dua, tidak menggunakan mobil mewah seperti kebanyakan para bos, apalagi eksekutif muda seperti Bagas.


" Sssttt, ada Bu Elma." Fiska langsung berbisik saat melihat Elma yang baru tiba di hotel itu.


" Kalian masih saja bergosip?" tanya Elma yang curiga saat melihat ketiga pegawai resepsionis itu langsung terdiam saat melihat kemunculannya. Padahal dia melihat gestur tubuh mereka tadi sedang bergosip, entah apa sedang yang mereka perbincangkan.


" Oh, tidak, kok, Bu!" sanggah Farah cepat.


Elma menatap ketiga pegawai resepsionis secara bergantian. Dia tidak percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh Farah.


" Awas saja kalau kalian berani bergosip, saya adukan kalian pada Bos baru. Asal kalian tahu, Pak Bagas itu teman lama saya. Jadi kalian jangan macam-macam sama saya!" Elma seakan menebar ancaman dengan menyebut dirinya berteman dekat dengan General Manager mereka yang baru.


Pengakuan Elma sontak membuat mereka saling pandang terutama pada Dahlia yang mereka tahu juga pernah mengenal Bagas.


" Tidak, kok, Bu. Kami tidak sedang bergosip!" Fiska pun menepis tudingan Elma.


" Awas saja kalau kalian berani macam-macam! Apa kalian ingin karir kalian di sini cepat tamat!?"


Ancaman dari Elma kali ini sontak membuat bulu roma ketiga pegawai resepsionis meremang. Sepertinya mereka harus hati-hati menghadapi Elma jika mereka tidak ingin berstatus The End bekerja di hotel itu. Sementara Elma langsung melangkah pergi dengan mengangkat dagunya dan seringai di sudut bibirnya karena berhasil membuat Farah dan kawan-kawannya ketakutan.


*


*


*


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2