SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Aku Boss Di Sini


__ADS_3

Sejak kedatangan Bagas ke kantor Papanya, tidak pernah lagi ada hal yang aneh dalam kehidupan rumah tangga Indhira dan Bagas.


Bagas tidak tahu, apa memang tidak ada tugas yang diintruksikan oleh sang Papa kepada anak buahnya. Apakah Papanya itu memang sudah menyerah, tak mengusik rumah tangganya lagi, atau mungkin Papanya itu sedang menyusun strategi yang jitu untuk memisahkan pernikahan dirinya dengan Indhira..


Hari ini, tepat satu bulan usia pernikahan Bagas dengan Indhira. Dan Bagas sengaja ingin merayakan usia satu bulan pernikahannya dengan istrinya itu.


Malam ini tepat malam Minggu dan Bagas mengajak Indhira makan malam di cafe rooftop hotel milik Gavin di mana tempat dia bekerja. Dia sudah membooking cafe itu, dan akan membayar semua makanan dan minuman untuk para tamu yang berkunjung ke cafe rooftop di saat yang bersamaan.


" Mas, kenapa ke sini?" tanya Indhira terheran saat Bagas membawa dirinya ke hotel tempat Bagas bertugas.


" Kita makan di cafe rooftop di sini saja. Sekalian aku ingin mengenalkan kamu sebagai istri aku," sahut Bagas.


Indhira membulatkan bola matanya mendengar ucapan Bagas yang ingin mengenalkan dirinya sebagai istri Bagas. Dia tidak menduga jika Bagas akan melakukan hal tersebut, mengenalkan dirinya di depan karyawannya langsung.


" Ya ampun, Mas. Kenapa tidak bilang kalau Mas mau bawa aku ke sini? Apa tidak memalukan penampilanku seperti ini, Mas?" Indhira memperhatikan penampilannya yang biasa saja. Sangat tidak cocok jika dikenalkan sebagai istri seorang General Manager hotel tersebut.


" Apanya yang memalukan, Yank? Kamu sudah cantik begini, kok! Sudah seperti model internasional." Bagas terkekeh meledek sang istri.



" Mas, iihh ...!" Indhira mencu bit lengan sang suami yang tertawa menggodanya.


" Ayo, masuk ...!" Bagas langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan membawa Indhira masuk ke dalam hotel.


" Selamat malam, Pak Bagas." Security langsung menyapa Bagas saat melihat kehadiran orang yang memimpin hotel itu.


" Malam," sahut Bagas dengan mengembangkan senyuman melanjutkan langkahnya menuju arah lift.


Kehadiran Indhira yang datang bersama Bagas sudah pasti menarik perhatian semua pegawai hotel yang ada di sekitar lobby.


Merasa banyak diperhatikan oleh pegawai hotel itu, Indhira langsung menurunkan pandangannya karena dia merasa malu, termasuk ketika dia melawati meja resepsionis.


" Indhira?"

__ADS_1


Indhira langsung menolehkan pandangan saat dia mendengar seseorang menyebut namanya. Hingga kini dia mendapati sosok wanita yang masih dia ingat siapa wanita itu.


" Dahlia?" Indhira terperanjat mendapati Dahlia di hadapannya saat ini. Dia bahkan sempat melupakan jika anak dari Tantenya itu bekerja di tempat yang sama dengan sang suami, yang malam itu mendapatkan tugas malam.


" Kamu apa kabar, Dahlia?" Indhira berjalan menghampiri adik sepupunya itu


" Baik, kamu kok bisa sama Kak Bagas? Hmmm, maksud saya Pak Bagas." Dahlia buru-buru meralat ucapannya sebelum dia terkena teguran dari bosnya.


" Indhira bersamaku, karena dia adalah istriku." Kalimat penegasan dari Bagas membuat Dahlia tercengang.


Pengakuan Bagus soal Indhira adalah istrinya tentu saja bukan berita baik baginya. Seketika itu juga Dahlia teringat bagaimana ketika Mamanya terkena kemarahan dari Bagas beberapa waktu lalu saat datang ke hotel itu.


" K-kamu istri Pak Bagas, Ra?" Seakan tidak percaya dengan pengakuan Bagas, Dahlia kini menanyakan soal kebenaran hal itu kepada Indhira.


" Hmmm, iya, Dahlia. Mas Bagas suami aku." Indhira membenarkan ucapan Bagas tadi. " Oh ya, bagaimana kabar Tante Marta? Aki ingin sekali bertemu dengan Mama kamu, Dahlia." lanjut Indhira, tak ingin membahas panjang lebar dengan statusnya sebagai istri bos. Dia justru menanyakan keberadaan Tantenya kepada Dahlia.


" Mama ... hmmm, Mama baik-baik saja." Dahlia melirik ke arah Bagas. Tak dapat dijelaskan bagaimana rasa takutnya saat Indhira menanyakan kabar orang tua dirinya. Dia takut jika Indhira ingin membalaskan apa yang pernah mereka lakukan dulu pada Indhira.


Indhira merasa jika Tante Marta adalah satu-satunya keluarga yang dia punya saat ini. Tentu dia tidak ingin memutus tali silaturahmi dengan adik Papanya itu. Sama sekali tak terpikirkan untuk membalas perbuatan Tante Marta kepadanya dulu.


" Hmmm, a-aku ...."


" Sayang, sudahlah! Ayo!" Bagas menarik tangan Indhira, tak ingin membiarkan Indhira berlama-lama berbincang dengan Dahlia. Sepertinya rasa sakit hati Bagas kepada perlakuan Tante Marta dan suaminya masih membekas di hatinya Bagas. Seandainya saat itu Om Ferry berhasil menjual Indhira, dia tidak tahu bagaimana nasib Indhira saat? Dan mungkin juga dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Indhira kembali.


" Tapi, Mas ... aku mau tanya alamat Tante Marta dulu." Indhira memohon agar sang suami memberi kesempatan kepadanya menanyakan alamat Tante Marta.


" Sudah nanti saja!" Bagas tidak mengijinkan istrinya untuk berbincang dengan dengan Dahlia, apalagi mencari tahu keberadaan Tante Marta, karena Bagas tidak ingin istrinya itu berada dalam lingkungan keluarga Tante Marta yang sangat licik.


" Mas, jangan seperti itu!" Indhira menahan langkahnya, tak mau mengikuti suaminya yang memaksanya meninggalkan meja resepsionis.


" Aakkhhh ...! Mas, turunkan aku!" Indhira tersentak kaget saat tubuhnya seketika melayang ke udara karena Bagas menggendongnya ala bridal style. Tak memperdulikan pekikan Indhira Bagas justru membawa istrinya itu menuju arah lift.


Apa yang dilakukan Bagas terhadap Indhira tentu menarik perhatian, bukan hanya pegawai hotel tapinya para tamu hotel yang ada di sama Tak sedikit orang yang beranggapan jika apa yang dilakukan Bagas adalah hal paling romantis.

__ADS_1


" Kamu kenal dengan istri Pak Bagas, Li?" Tanya Wulan, pegawai resepsionis yang menjadi partner Dahlia malam ini.


" Iya, dia sepupu aku," sahut Dahlia malas.


" Sepupu kamu? Wah, enak, dong! Kamu iparan sama Pak bos, Li." celetuk Wulan mengetahui jika hubungan antara Dahlia dan istri bos mereka adalah sepupu.


" Enak apanya? Kamu lihat sendiri tadi, kan? Pak Bagas itu tidak menganggap aku sebagai iparnya, tuh!" Dahlia nampak kesal karena Bagas seakan tidak menganggapnya sebagai sepupu dari Indhira.


" Iya juga, sih. Pak Bagas malah kelihatan tidak memperbolehkan istrinya itu dekat-dekat sama kamu, Li. Apa jangan-jangan kamu itu saudara sepupu palsu lagi." Wulan meledek sambil tergelak.


" Si alan." Dahlia memberengut mendegar sindiran dari Wulan.


" Soalnya kamu tidak mirip sama istrinya Pak Bagas itu. Istrinya Pak Bagas cantik imut kayak artis, sedangkan kamu? Tidak ada seperempatnya dari kecantikan istri Pak Bagas tadi." Wulan kembali mencibir Dahlia yang dianggapnya tidak mempunyai kecantikan seperti yang dimiliki oleh Indhira.


" Sudah diam! Jangan banyak bicara!" Sergah Dahlia kesal karena terus dicibir oleh Wulan.


Sementara saat lift tertutup, di dalam lift Bagas langsung menurunkan Indhira.


" Mas ini malu-maluin saja dilihat orang tadi," keluh Indhira memprotes sikap sang suami yang mengangkat tubuhnya.


" Biarkan saja! Siapa yang berani membicarakan kita memangnya? Aku bos di sini." Bagas merapatkan punggung Indhira ke dinding lift. Dia pun memangkas jarak dengan sang istri. Sementara satu tangannya menangkup rahang Indhira. Sekejap kemudian pria itu sudah memberikan kecupan di bibir Indhira.


" Mas ..." Indhira mendorong tubuh Bagas karena dia takut akan ada yang mengetahui aksi mereka jika pintu lift tiba-tiba terbuka. Namun Bagas tidak memperdulikan. Dia justru semakin memperdalam ciumannya pada bibir istri tercintanya.


*


*


*


.Bersambung ...


Happy reading❤️

__ADS_1


__ADS_2