
Indhira mengikat dan merapihkan rambutnya. Dia berencana bertemu dengan Azkia siang ini. Sejak resign dari pekerjaannya di butik milik Azkia, Indhira belum pernah bertemu lagi dengan mantan bosnya itu. Dan hari ini, Azkia mengajaknya berjumpa di sebuah mall yang letaknya tidak terlalu jauh dengan hotel milik Gavin itu yang dikelola oleh Bagas.
" Kamu mau ke mana, Indhira?" tanya Angel saat melihat Indhira terlihat berdandan rapih.
" Saya mau bertemu dengan mantan bos saya, Ma. Bu Kia ingin bertemu dan mengajak makan siang bersama, karena kami sudah lama tidak bertemu," sahut Indhira menjelaskan.
" Makan siang di mana?" tanya Angel kemudian.
" Di mall dekat sini, Ma." jawab Indhira kembali.
" Dengan siapa kamu ke sana?" Angel terkesan ingin tahu.
Indhira menatap Angel, dia khawatir Mama mertuanya itu akan melarangnya menemui Azkia, padahal dia sudah meminta ijin pada Bagas dan suaminya itu mengijinkannya berjumpa dengan Azkia.
" Hmmm, nanti Ibu Kia yang akan jemput kemari, Ma." ucapnya kemudian.
" Apa Mama boleh ikut dengan kalian?" tanya Angel berharap.
Pertanyaan Angel membuat bola mata Indhira membulat. Keinginan Mama mertuanya itu tentu saja membuatnya terkejut. Dia sampai berpikir jika Mama mertuanya itu ingin mengawasai dirinya sehingga minta ikut dengannya yang ingin pergi.
" Tidak apa-apa Mama bayar sendiri juga makanannya, yang penting Mama bisa keluar dari sini. Mama bosan dikurung di kamar hotel terus, Ra." keluh Angel. Ternyata rasa jenuhlah yang membuat Angel berkeinginan ikut menantunya itu pergi ke luar. Beberapa hari berada di hotel membuat Angel yang biasanya senang berkumpul dengan teman-temannya merasa jenuh.
" Tidak apa-apa kalau Mama mau ikut kami. Nanti saya akan bilang ke Bu Kia kalau Mama ingin menemai saya atas permintaan Mas Bagas." Tak enak menolak permintaan sang Mama mertua, Indhira pun mengijinkan Mamanya itu untuk ikut bersamanya.
" Ya sudah, Mama siap-siap dulu." Angel lalu bersiap mengganti pakaiannya. Selama tinggal di hotel, Angel membeli beberapa pakaian untuk dia pakai sehari-hari.
Indhira mengambil ponsel untuk memberitahu suaminya jika Angel akan ikut bersama dengannya pergi menemui Azkia. Bagaimanapun juga dia merasa perlu ijin kepada suaminya itu.
" Mas. Mama ingin ikut bersamaku. Tidak apa-apa, kan?"
Itu kalimat yang dikirimkan Indhira kepada suaminya. Dan tak menunggu waktu lama, balasan pesan dari sang suami pun muncul di ponselnya.
" Kok, tanya sama aku, Yank? Justru aku yang tanya sama kamu, memangnya kamu tidak masalah Mama ikut acara kamu sama Bu Kia? Kalau mengganggu, nanti aku akan jelaskan pada Mama biar Mama tidak usah ikut denganmu." Isi balasan dari Bagas justru mengkhawatirkan Mamanya akan mengganggu acara istri dan mantan bos istrinya itu.
" Tidak apa-apa, Mas. Aku justru senang Mama mau ikut mendampingi," jawab Indhira kembali.
" Ya sudah kalau kamu tidak masalah. Nanti aku ke sana," sahut Bagas mengakhiri percakapan via chat mereka.
Ddrrtt ddrrtt
Setelah Indhira mengakhiri chat dengan sang suami, panggilan telepon masuk dari Azkia berbunyi di ponselnya. Indhira pun segera mengangkat panggilan telepon dari mantan bosnya itu.
" Halo, Assalamualaikum, Bu." sapa Indhira saat panggilan telepon tersambung.
" Waalaikumsalam. Ra, aku sudah mau sampai, nih! Ketemu di teras lobby saja, ya! Aku malas keluar dari mobilnya." Suara Azkia terdengar dari ponsel Indhira memintanya bertemu di luar lobby hotel.
" Oh, baik, Bu. Hmmm, maaf, Bu." Indhira memperhatikan Angel yang sedang memakai giwang di telinganya. " Saya bawa Mama mertua saya, soalnya beliau ingin ikut." Indhira merasa perlu memberitahu terlebih dahulu agar Azkia tidak terkejut dia membawa Mama mertuanya.
" Lho, kamu sedang sama Mama mertua kamu, ya?" Nada bicara Azkia terdengar kaget. " Wah, aku mengganggu waktu kamu sama Mama mertua kamu, dong!?" tanyanya merasa tidak enak hati karena menganggap dia tidak tepat waktu mengajak bertemu Indhira.
" Tidak, Bu. Saya memang beberapa hari ini menemani Mama mertua saya menginap di hotel." ucap Indhira.
" Oh, ya sudah. Kita ketemu di depan lobby, aku sudah masuk halaman hotel. Aku tutup teleponnya, ya!?" Azkia lalu menutup panggilan teleponnya.
Setelah Azkia mengakhiri panggilan telepon, Indhira mencoba menghubungi suaminya kembali karena dia merasa tidak enak jika harus membuat Azkia terlalu lama menunggu. Namun, belum sempat panggilannya terhubung, pintu kamar hotelnya sudah dibuka dari luar, lalu menampakkan Bagas yang masuk ke dalam kamar.
" Kalian mau berangkat sekarang?" tanya Bagas berjalan ke arah Indhira, memeluk dan memberi kecupan di pipi sang istri.
" Iya, Mas. Bu Kia sudah sampai di depan lobby. Katanya dia menunggu di mobil." Indhira sengaja mengatakan posisi Azkia saat ini kepada Bagas, karena dia tidak berani meminta Mama mertuanya itu untuk bergerak cepat.
" Ya sudah, ayo ke sana sekarang. Kasihan Bu Kia harus menunggu." Bagas menoleh ke arah Mamanya yang menyemprotkan parfum di pergelangan tangannya.
" Ma, ayo!" Bagas meminta Mamanya untuk bergerak cepat.
" Iya, iya ..." Angel bergegas mengambil clutch branded miliknya.
" Aku antar sampai depan." Bagas merangkulkan tangannya di pundak Indhira juga Angel lalu beriringan keluar dari kamar menuju arah lobby utama hotel.
***
" Pak, saya tunggu di sini sebentar, sedang menunggu orang mau turun." Azkia membuka kaca pintu mobilnya lalu berbicara pada security yang berjaga di depan lobby.
" Maaf, Bu. Sebaiknya parkir saja dulu, biar tidak menghalangi jalan mobil tamu." Security yang tidak mengenal jika Azkia adalah keponakan bos besarnya menyuruh Azkia untuk tidak berhenti di depan lobby dan memilih tempat parkir yang kosong.
__ADS_1
" Bapak tidak tahu? Kalau hotel ini punya Om saya? Uncle Gavin. Dan orang yang ingin saya jemput itu istrinya Bagas, bos Bapak di sini!" Azkia enggan disuruh pindah dari posisinya saat ini, sehingga dia menyebutkan siapa dia yang sebenarnya pada security yang berjaga.
" Oh, maaf, Bu." Mengetahui orang yang ada di depannya punya hubungan keluarga dengan bos besarnya, security itu tak berani mengusir Azkia lagi.
Tak berapa lama, Indhira, Angel dan Bagas pun sampai di depan lobby
" Selamat siang, Bu Kia. Bagaimana kabar Ibu dan Pak Raffa?" Bagas menyapa Azkia dengan rasa hormat dan santun, karena Azkia bersama Raffasya banyak menolong Indhira dan dirinya selama ini. Bahkan dia bisa bekerja di Richard Fams Hotel juga karena campur tangan Azkia.
" Alhamdulillah kami baik-baik saja," sahut Azkia. " Hai, Ra. Halo, Tante." Azkia kini menyapa Indhira dan Angel yang masuk ke dalam mobilnya.
" Saya titip istri dan Mama saya, Bu." pesan Bagas pada Azkia.
" Oke," sahut Azkia.
" Kami pergi dulu, Mas. Assalamualaikum ..." Indhira berpamitan kepada Bagas.
" Waalaikumsalam ..." sahut Bagas.
Setelah berpamitan, mobil yang dikendarai oleh Azkia lalu meninggalkan hotel Richard Fams.
Sementara di meja resepsionis, Farah dan Fiska memperhatikan Bagas yang kembali naik ke ruangannya melalui lift. Mereka memperhatikan sejak Bagas bersama Indhira dan Angel turun ke bawah.
" Fis, istri Pak Bagas itu cantik dan sederhana banget, ya? Beda sekali dengan sepupunya," komentar Farah setelah Bagas menghilang dari pandangan mereka.
" Bagaikan langit dan bumi, ya?" Fiska bahkan mengumpamakan perbedaan yang sangat jauh.
" Baik juga orangnya. Padahal yang kita dengar dari cerita Pak Bagas sewaktu Mamanya Dahlia datang kemari, orang tua Dahlia dulu memperlakukan Bu Indhira itu buruk banget, tapi terlihat tidak ada dendam di hatinya. Tapi, Pak Bagas justru yang bersikap tegas. Makanya, biarpun Dahlia sepupu istrinya Pak Bagas, tidak berpengaruh di sini. Masih bagus Dahlia tetap diperbolehkan bekerja di sini, tidak dipecat," lanjut Fiska.
" Oh iya, benar juga, ya!?" sahut Farah dengan mengangguk kecil.
" Kalau aku jadi Dahlia, aku sih malu, Far. Mending cabut dari sini. Sudah kelihatan tidak akan ada kemajuan karir dia di sini, karena perlakuan dari orang tuanya ke istrinya Pak Bagas dulu," ujar Fiska lagi.
" Ya sudahlah, kita kembali kerja lagi, jangan ngomongin orang terus." Farah memilih mengakhiri perbincangan seputar Dahlia dan keluarganya.
***
" Ibu bawa mobil sendiri tidak apa-apa?" tanya Indhira karena melihat Azkia yang masih mengendarai mobil sendiri padahal sedang hamil. Saat terakhir Indhira berkerja, Azkia justru sudah didampingi oleh supir.
" Kalau suamiku tahu pasti dilarang, Ra." Azkia terkekeh menyahuti.
" Saya Azkia, Tante." Azkia memperkenalkan dirinya kepada Angel. Mengetahui jika istri dari Adibrata itu memperlakukan Indhira dengan baik, Azkia pun bersikap baik kepada Angel.
" Saya Mamanya Bagas, suaminya Indhira." Angel membalas perkenalan Azkia.
" Saya senang Indhira bisa akrab dengan Tante. Indhira itu memang butuh sosok seorang Mama. Terima kasih Tante sudah menerima Indhira dengan baik. Jujur saja, Tan. Indhira itu sudah saya anggap seperti adik sendiri." Azkia menceritakan bagaimana hubungannya dengan Indhira.
" Tante juga terima kasih sama kamu, karena sudah baik menerima menantu saya ini bekerja di tempat kamu." Tak ingin kalah, Angel pun menyampaikan terima kasihnya, karena perlakuan baik yang diterima menantunya dari Azkia.
" Saya senang bisa mendampingi Indhira di saat Indhira sedang butuh dukungan, Tan." sahut Azkia.
Mendengar perkataan Azkia, Angel langsung terdiam. Dia tahu maksud dari ucapan Azkia adalah karena ulah anak dan suaminya yang membuat Indhira terlibat masalah besar.
" Anak-anak kabarnya gimana, Bu? Kangen juga sama mereka." Indhira mengalihkan topik pembicaraan karena dia melihat Mama mertuanya langsung terdiam setelah mendengar perkataan Azkia tadi.
" Alhamdulillah, Ra. Cuma kemarin saja Alma habis kena flu, tapi sekarang sudah sehat, kok." Azkia lalu mengarahkan mobilnya masuk ke kawasan mall tak jauh dari hotel milik Gavin.
" Kamu mau makan apa, Ra? Tante mau makan apa?" Setelah turun dari mobil dan masuk ke dalam mall, Azkia bertanya menu makanan yang akan mereka pilih.
" Mama mau makan apa?" tanya Indhira kepada Mama mertuanya.
" Mama terserah saja," sahut Angel.
" Kita ke restoran masakan Nusantara saja gimana?" tanya Azkia memberi pilihan.
" Ya sudah, Tante setuju," jawab Angel kemudian.
Mereka bertiga pun akhirnya berjalan mencari restoran yang menyajikan menu makanan khas Nusantara.
Sementara itu di kantornya, Adibrata baru mendapat kabar dari Hamid jika Angel pergi ke luar dari hotel. Dan dia tidak ingin melepaskan peluang untuk bisa bertemu dengan istrinya itu.
Abdibrata lalu bergegas meninggalkan kantornya untuk menuju ke mana Angel pergi sesuai laporan anak buah Hamid.
Meskipun dirinya tidak diijinkan untuk bertemu dengan Angel, tapi bukan berarti dia membiarkan Angel begitu saja. Dia tetap menyuruh anak buah Hamid untuk mengawasi Angel, siapa tahu Angel keluar dari hotel, seperti saat ini.
__ADS_1
" Gus, kita ke Mall Omega dekat Richard Fams Hotel." Adibrata meminta Agus, supir pribadinya untuk membawanya ke Mall Omega di mana istrinya bersama Indhira pergi ke sana.
" Baik, Tuan." Agus segera membawa mobil yang dia kendarai ke mall yang dimaksud oleh bosnya itu.
Sekitar empat puluh menit perjalanan yang dilakukan oleh Adibrata untuk sampai ke mall yang dituju. Setelah turun dari mobil, dia pun segera mencari restoran tempat Angel berada saat ini, hingga akhirnya dia sampai di sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Nusantara.
Pandangan netra Adibrata mengedar saat dia memasuki restoran itu. Matanya kini tertuju pada sosok wanita yang sudah beberapa hari ini tidak dia jumpai.
Adibrata ingin mendekati, namun dia mengurungkan niatnya itu. Dia tidak ingin ada keributan di tempat umum itu jika sampai Angel tahu kehadirannya di sana. Apalagi saat ini ada Indhira dan juga wanita lain yang tidak dia kenal. Hal tersebut membuat dirinya keluar dari restoran itu.
Adibrata pun akhirnya memilih menunggu di sebuah outlet kaca mata yang berada di depan restoran tersebut, sambil menunggu waktu yang tepat untuk bisa mendekat ke arah istrinya.
***
Angel terlihat asyik berbincang dengan Azkia. Sifat Azkia yang supel dan mudah bergaul, membuatnya tak menghabiskan banyak waktu untuk dapat akrab dengan wanita yang mempunyai bisnis butik itu.
" Kia ini mengurus butik sejak kapan?" tanya Angel.
" Sejak masih kuliah, Tan. Mama aku kewalahan mengurus beberapa cabang, akhirnya dibagi-bagi ke anaknya, deh." cerita Azkia, tentang bagaimana dia bisa mengurus butik milik Mamanya itu.
" Oh, tadinya butik Mama kamu?" tanya Angel kembali.
" Iya, Tan. Itu usaha Mama aku sejak muda sebelum menikah dengan Papa aku," lanjut cerita Azkia.
" Sekaran Mama kamu tidak mengurus butik lagi?" Cerita tentang keluarga Azkia sepertinya menarik perhatian Angel untuk diketahui.
" Sekarang Mama mengurus Papa saja, Tan. Sambil Memantau beberapa cabang butik, tapi dilakukan dari rumah saja."
" Memang Papa kamu kerja di mana?" tanya Angel lagi.
" Papa aku dosen, Tante."
" Oh ...."
" Lain waktu kita pergi bersama lagi ya, Ra! Tidak masalah perut buncit juga. Bumil itu perlu refresing juga, kan?" Azkia berencana mengajak Indhira hang out lain waktu.
" Tante boleh ikut kalian lagi tidak? Kalian berdua ini sedang hamil, harus ada yang mendampingi, biar Tante ikut jadi bisa menjaga kalian." Angel merasa senang dapat bergabung bersama dengan Indhira dan Azkia sehingga meminta ikut kembali jika lain waktu Azkia dan Indhira bertemu lagi.
" Tentu saja, Tan. Kalau Tante ingin ikut, silahkan saja ..." Azkia justru senang Angel ingin ikut menemani Indhira, karena itu menandakan Indhira diterima dan disayang oleh Mama mertua Indhira itu.
" Sudah sejam lebih kita di sini, kamu sama Tante masih ada yang ingin dipesan lagi?" tanya Azkia berniat meninggalkan restoran tersebut.
" Tidak, Bu. Sudah kenyang." jawab Indhira.
" Tante?" Azkia menoleh ke arah Angel.
" Tante juga sama, Kia. Sudah tidak sanggup menampung makanan lagi," jawab Angel terkekeh sambil mengusap perutnya karena merasa kenyang.
" Ya sudah, kita pulang sekarang? Atau Tante dan Indhira masih ada acara lain?" tanya Azkia.
" Tante mau cari pakaian dulu, kamu kalau mau pulang tidak apa-apa pulang aja dulu, Kia. Nanti Tante sama Indhira biar Bagas yang jemput ke sini." Angel mempunyai rencana membeli beberapa keperluan untuk dia menginap di hotel sampai batas waktu yang belum diketahui.
" Oh ya sudah, aku mau bayar dulu." Azkia bangkit lalu berjalan ke arah kasir.
" Biar Tante saja yang bayar makanannya, Kia." Angel berlari menyusul Azkia, dia ingin membayar makanan yang mereka pesan tadi.
" Tidak usah, Tante. Biar aku saja yang bayar. Aku 'kan yang mengajak." Azkia lalu menyerahkan bill dan mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.
Setelah melakukan pembayaran, Azkia berpisah dengan Indhira dan Angel yang masih ada keperluan di mall itu.
" Kita cari pakaian hamil buat kamu dulu, Ra. Setelah itu beli pakaian untuk Mama juga Bagas." Angel merangkulkan tangannya ke lengan Indhira, mengajak menantunya itu masuk ke sebuah departemen store yang ada di mall tersebut.
" Angel ...!"
Baru beberapa langkah Angel dan Indhira beranjak dari restoran, suara Adibrata terdengar, membuat sepasang mertua dan menantu itu menghentikan langkahnya.
Angel dan Indhira seketika menoleh ke belakang saat mendengar suara menganggil nama Angel. Kedua wanita beda generasi itu terperanjat saat mendapati sosok Adibrata mubdul di hadapannya saat ini. Terlebih Indhira, dia bersembunyi di belakang Angel karena masih merasakan ketakutan saat bertemu dengan Papa mertuanya itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️