
Chrystal menatap wajah Indhira. Tak banyak yang berubah dari wajah wanita yang pernah membuat dia cemburu karena kedekatan Indhira dengan Bagas.
" Baiklah, tapi saya tidak bisa menerima permintaan resign kamu secepat ini. Kamu ditempatkan di bagian administrasi pembukuan salon, kan? Setidaknya kamu harus mengajarkan tugas kamu itu kepada pengganti kamu nantinya." Chrystal menyetujui resign Indhira dengan syarat.
" Mungkin baru dua Minggu ke depan kamu bisa keluar dari sini." Chrystal menahan Indhira sampai dua Minggu ke depan.
Sebenarnya Indhira keberatan dengan waktu yang disyaratkan oleh Chrystal, karena dia takut Chrystal akan berubah pikiran. Namun, dia tidak ingin meninggalkan salon dengan cela sehingga mau tidak mau dia harus menerima keputusan dari Chrsytal itu.
" Kamu tidak udah khawatir. Aku tidak akan membuka rahasia kamu, kok!" Chrystal berucap janji tidak akan membuka rahasia soal video viral itu. Karena dia menduga keputusan resign Indhira adalah karena Indhira takut dia memegang kartu as yang dapat menyerang Indhira kapanpun dia mau.
Indhira tidak dapat mengelak keputusan Chrystal. Karena sebagai pegawai lama, dia juga berkewajiban memberi bimbingan kepada pegawai yang akan menempati posisi yang dia tinggalkan nanti.
Setelah menyampaikan keputusan resign kepada Chrystal, Indhira ingin berpamitan kepada rekan-rekannya. Hampir berjalan enam tahun dia bekerja di salon itu tentu banyak suka yang dia alami. Bahkan hampir tidak ada duka yang dia rasakan selama bekerja bersama rekan-rekan di sana. Karena hal terpahit dalam hidup sudah pernah dia alami bertubi-tubi sebelumnya.
" Serius kamu mau resign, Ra? Kenapa?" tanya Janet saat Indhira berpamitan pada rekan-rekannya itu.
" Aku ingin membantu mengurus Tante Sandra, Mbak." sahut Indhira masih memakai alasan yang sama seperti yang dia sampaikan kepada Chrystal. " Selama ini Tante Sandra sudah baik menerima aku bekerja di sini dan juga menerima aku tinggal di rumahnya tanpa harus membayar. Aku rasa mungkin ini saatnya aku bisa balas jasa ke beliau," ujar Indhira.
" Memang kamu mau fokus mengurus Ibu Sandra saja, Ra? Tidak bekerja mencari pekerjaan lain? Kamu 'kan sempat lanjut sampai diploma. Sayang juga kalau tidak dipraktekan ke dalam dunia kerja yang sebenarnya, Ra!" Tria menyayangkan jika Indhira tidak mempergunakan ijasah yang Indhira dapat dari mengumpulkan gajinya selama ini untuk menuntut ilmu melanjutkan kuliah.
" Aku juga belum tahu, Mbak. Lihat bagaimana nanti saja" ujar Indhira. Indhira memang bukan kriteria wanita yang ambisius. Dia tipe wanita sederhana yang tidak neko-neko.
" Kita bakal kehilangan dong, Ra!?" Janet menyesalkan keputusan resign Indhira yang dinilainya terlalu cepat.
" Kita masih bisa komunikasi via telepon 'kan, Mbak!?" Sejujurnya Indhira juga merasa berat meninggalkan pekerjaannya itu. Apalagi lingkungan di salon tempatnya bekerja selama ini sudah dia anggap sebagai keluarga baginya.
" Beda, Ra! Orangnya ada sama tidak ada itu beda!" tegas Janet.
" Benar, Ra! Nanti tidak ada lagi teman yang tanpa pamrih kaya kamu, Ra! Tidak seperti dia, kalau dimintain tolong pakai syarat!" celetuk Tria menyindir Janet.
" Si alan kau, Tri!" umpat Janet menanggapi sindiran Tria kepadanya.
Selama ini, Indhira memang dikenal tanpa pamrih dalam menolong teman. Sehingga kepergian Indhira nanti dari salon itu akan sangat disesalkan oleh sahabat-sahabatnya.
Sementara itu di bagian bumi lainnya. Tepatnya di salah satu negara bagian United States of America, tepatnya di kota New York. Adibrata sedang berkunjung ke sebuah kantor perusahaan milik seorang kawan lamanya yang mempunyai bisnis retail di negara Paman Sam tersebut.
" Sepertinya kamu sukses menjalani bisnismu di sini, Nathael!? Dan aku harus banyak belajar darimu agar dapat mengembangkan sayap di benua Amerika ini." Adibrata berseloroh dibarengi tawa kecil saat dia memuji kemampuan temannya itu dalam menguasai pangsa pasar di beberapa negara bagian Amerika Serikat itu.
" Hahaha, sebaiknya kau tidak usah belajar dariku, Di! Kau sudah cukup menguasai kawasan Asia. Biar wilayah barat menjadi milikku." Nathael menanggapi guyonan Adibrata dengan candaan juga.
" Berapa lama kau mulai usaha ini sampai berhasil seperti sekarang ini, El?" tanya Adibrata.
" Lebih dari sepuluh tahun yang pasti, Di. Tidak mudah menaklukan pasar Amerika," balas Nathael.
" Tapi hasilnya tidak sia-sia, kan? Bisnismu ini berkembang sangat pesat.".
" Ya, lumayanlah ...."
Tok tok tok
" Hai, Dad " Tiba-tiba seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan kerja Nathael.
" Hai, Sweetheart." Nathael merentangkan tangannya meminta wanita muda itu mendekatinya. " Ada apa kamu kemari, Eva?" tanya Nathael kemudian.
" Dad, Tanggal dua puluh tujuh nanti Eva mau ikut nonton konser Adele di Las Vegas. Boleh 'kan, Dad?" tanya wanita yang dipanggil dengan nama Eva tadi.
" Kamu mau nonton konser di Las Vegas? Dengan siapa, Eva?" tanya Nathael khawatir.
" Dengan teman-teman kampus, Dad. Boleh 'kan, Dad? Eva mau pesan tiketnya sekarang," bujuk wanita bernama Evelyn kembali
" Ya sudah, tapi hati-hati nanti di sana." Nathael akhirnya mengijinkan putrinya itu untuk pergi menonton konser dengan teman-temannya.
" Thank you, Dad. I love you ..." Evelyn memeluk dan mengecup pipi Nathael karena Nathael memberinya ijin menonton konser.
" Ini putrimu, El?" tanya Adibrata memperhatikan wanita cantik yang terlihat sangat akrab dengan Nathael.
" Benar, Di. Ini putri bungsuku. Evelyn namanya. Eva, kenalkan ini teman Daddy dari Indonesia." Nathael memperkenalkan putrinya pada Adibrata dan juga sebaliknya.
" Oh, hai, Om ..." Evelyn menyapa Adibrata.
" Umur berapa putrimu ini, El?" tanya Adibrata kembali.
" Tahun ini aku dua puluh empat tahun, Om." sahut Evelyn menjawab sendiri pertanyaan Adibrata.
__ADS_1
" Kamu masih kuliah, Eva?" tanya Adibrata kembali.
" Iya, Om." Evelyn lalu menyebutkan nama universitas ternama dan jurusan yang dia ambil. " Sedang meneruskan program Magister sekarang ini, Om.." lanjut Evelyn.
" Wah, sama seperti anak Om juga sedang ambil program Magister. Tapi, dia kuliah di universitas yang ada di New Jersey." Adibrata lalu menyebutkan perguruan ternama di kota itu.
" Anakmu kuliah di sini juga, Di?" tanya Nathael terkejut saat mengetahui anak sahabatnya itu menuntut ilmu di negara yang sama dengan dia menetap sekarang ini, walaupun beda wilayah.
" Iya, El. Sejak lulus SMA aku kirim dia untuk kuliah di sini. Aku ingin dia dapat meneruskan bisnisku. Karena anakku yang lain saat ini masih SMA dan perempuan. Agak sulit menyuruh anak perempuan untuk meneruskan bisnis orang tuanya, kan?" Adibrata menceritakan soal anak-anaknya.
" Kau benar sekali, Di. Sama juga seperti dia. Kuliah hanya untuk keren-kerenan saja." Nathael menggelengkan kepala menanggapi sikap anaknya.
" Anak Daddy 'kan bukan aku saja! Ada Thomas sama Jonathan. Mereka lebih ahli untuk urusan bisnis, Dad." Evelyn melakukan pembelaan.
" Kau dengar 'kan, Di?" Nathael memutar bola menanggapi sikap putri bungsunya itu.
" Hahaha ..." Adibrata tertawa, mungkin dia pun sama pusingnya seperti Nathael.
" Dad, aku pulang dulu, ya!? Thanks, Dad. Bye ..." Evelyn kembali mencium pipi Nathael lalu berpamitan pada Adibrata dan bergegas meninggalkan ruangan kerja Nathael.
" Apa anakmu itu sudah punya kekasih, El?" tanya Adibrata. Seketika muncul idenya untuk mendekatkan Bagas dengan putri sahabatnya itu.
" Kalau teman dekat saja sih banyak. Anakku itu orangnya mudah bergaul. Tapi, kalau untuk pacar sepertinya belum. Kenapa memangnya, Di?" Nathael merasakan jika pertanyaan Adibrata mengandung maksud.
" Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengenalkan putraku dengan Evelyn. Anakku tampan, kok. Jangan khawatir! Dia keturunan dari bibit yang berkualitas." Adibrata terkekeh seraya menunjukkan foto putranya dari ponsel miliknya kepada Nathael.
" Tampan sekali putramu, Di." Nathael memuji ketampanan Bagas.
" Sudah kubilang dia keturunan dari bibit yang berkualitas. Tidak hanya tampan, dia juga pintar." Adibrata kembali membanggakan putra sulungnya itu.
" Aku rasa putriku akan suka pada putramu ini. Siapa namanya?" tanya Nathael.
" Bagas Mahesa. Usianya seumuran dengan putrimu. Kurang enam bulan saja genap dua puluh lima tahun." Adibrata memberitahu usia Bagas saat ini.
" Apa kau berencana ingin menjodohkan anak-anak kita, Di?" tanya Nathael kemudian.
" Tidak ada salahnya, kan? Kita sudah kenal sejak lama. Jika anak kita dijodohkan, kita sudah tahu keluarga masing-masing. Jadi, kita merasa aman, karena aku tidak takut anakku jatuh cinta pada wanita yang salah, yang hanya memeras harta keluargaku saja. Begitu juga sebaliknya." Adibrata menyebutkan keuntungan jika mereka berbesan.
" Bagaimana kalau besok malam saka? Kita makan malam bersama untuk memperkenalkan anak kita, mumpung besok aku masih ada di sini." Adibrata nampak bersemangat ingin menjodohkan Bagas dengan Evelyn.
" Oke, Di. Kita atur untuk pertemuan besok malam, ya!?" Nathael pun menyepakati usulan yang direncanakan oleh Adibrata.
***
Bagas baru menyelesaikan tugas yang diberi dari dosennya, saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dia melihat nomer ponsel Papanya yang menghubungi saat ini.
Bagas tahu jika Papanya masih berada di Amerika karena urusan bisnis. Papanya juga sempat mengunjungi apartemennya di New Jersey karena dia kuliah di salah satu universitas ternama di sana.
" Ada apa, Pa?" tanya Bagas saat mengangkat panggilan telepon Adibrata.
" Bagas, besok sepulang kuliah kamu datang ke hotel Papa menginap. Papa mengajak kamu dinner karena Papa ingin mengenalkan kamu dengan teman Papa yang mempunyai bisnis retail di sini. Kau sebentar lagi 'kan lulus kuliah. Kau harus bisa belajar banyak dari teman Papa itu supaya kamu bisa menjadi pebisnis yang handal." Adibrata tidak terang-terangan mengatakan jika dia ingin menjodohkan Bagas dengan putri temannya. Karena dia tahu, Bagas pasti akan menolak datang jika dia sebutkan tujuan utamanya itu.
" Papa besok tidak jadi kembali ke Jakarta?" tanya Bagas, karena awalnya Papanya itu akan melakukan perjalanan pulang ke Indonesia esok hari.
" Awalnya Papa memang ingin pulang besok. Tapi, setelah bertemu dengan teman Papa tadi, Papa jadi berubah pikiran. Papa ingin mengenalkan kamu dengan teman Papa dulu sebelum pulang, sekalian menitipkan kamu di sini." Adibrata beralasan.
" Oke, Pa. Nanti Bagas ke sana!" Tak curiga dengan maksud terselubung dari Papanya, Bagas justru menyetujui permintaan Papanya itu. Bagas memang serius ingin menekuni bisnis seperti yang dijalani oleh Papanya selama ini.
Posisi tempat tinggalnya dan hotel tempat Papanya menginap di New York tidaklah terlalu jauh. Mungkin sekitar satu setengah jam jika dia menggunakan kereta, membuatnya menyetujui rencana Papanya yang ingin mengenalkan dirinya dengan teman Papanya itu.
Setelah mengakiri percakapannya di telepon dengan Adibrata, Bagas kemudian mengambil gitar dan duduk di atas tempat tidurnya. Tangannya memetik dawai gitar dan mulai memainkan intro tembang ballads tahun sembilan puluhan yang sangat terkenal milik Steelheart
...She's gone ... Out of my life ......
...I was wrong, I'm to blame, I was so untrue....
...I can't live without her love ......
...In my life ... There's just an empty space....
...All my dreams are lost, I'm wasting away....
__ADS_1
...Forgive me, girl .......
Saat memasuki refrain, Bagas semakin bersemangat memetik senar gitarnya dan terus bernyanyi.
...Lady, won't you save me?...
...My heart belongs to you ......
...Lady, can you forgive me?...
...For all I've done to you .......
...Lady, oh, lady ......
...She's gone ... Out of my life ......
Bagas mengakhiri tembang yang dia nyanyiannya dengan menunduk dan menyangga kepala di gitarnya dengan deru nafas yang tak beraturan.
Lagu yang baru saja dia nyanyikan seolah mewakili perasaan yang dia rasakan selama ini. Rasa bersalah dan penyesalan atas perbuatannya terhadap Indhira seolah menghantui hari-harinya selama hampir enam tahun ini. Apalagi kabar yang dia dengar dari Benny saat berhasil menemui keluarga Tante Marta. Tante Marta mengatakan jika Indhira sudah dijual untuk menjadi wanita simpanan seorang bos.
Saat itu tidak hanya penyesalan yang dirasakan oleh Bagas, tapi rasa marah kepada Tante Marta dan keluarganya. Dia tahu Indhira pasti tersiksa dipaksa melakukan pekerjaan itu. Namun, lagi-lagi dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya lah Bagas, bukan Adibrata yang punya kuasa. Jika saat itu dia seperti Papanya, mungkin dia bisa cepat menemukan keberadaan Indhira.
Selama ini Bagas hanya bisa mengandalkan Benny. Tapi, hingga enam tahun berselang, dia tidak juga dapat menemukan keberadaan Indhira, sampai akhirnya Benny menikah dan pindah dari Jakarta.
Bagas tidak tahu bagaimana nasib Indhira sekarang? Dan di mana Indhira tinggal saat ini? Apakah Indhira masih hidup atau tidak, Bagas juga tidak pernah tahu. Dan satu hal lagi yang membuat Bagas sangat penasaran. Apakah atas perbuatannya dulu pada Indhira, Indhira sampai hamil atau tidak? Kalau Indhira hamil, di mana anaknya saat ini? Pikiran-pikiran itu yang terus saja memenuhi otaknya selain memikirkan mata kuliahnya.
Bagas tetaplah anak yang pintar dalam pendidikan. Namun, kini dia membatasi pergaulannya. Dia lebih banyak menyendiri membaca buku di perpustakaan atau menghabiskan waktu di depan laptop.
Dengan teman kampusnya pun, Bagas tidak banyak berinteraksi selain urusan kuliah dan kampus. Sikap Bagas yang awalnya sosok yang humble kini berubah menjadi sosok yang dingin dan kaku, sehingga wanita yang tertarik padanya pun takut untuk mendekati Bagas.
Keesokan harinya. Bagas tiba di hotel tempat Papanya menginap dan bersiap ke acara makan malam yang diadakan di tempat teman Papanya itu. Awalnya Bagas berpikir jika mereka akan pergi ke restoran mewah. Namun ternyata teman Papanya mengundang berkunjung ke mansion milik Nathael.
Mobil yang menjemput Adibrata dan Bagas memasuki sebuah mansion milik Nathael. Bagas sendiri tidak menduga jika teman Papanya itu tunggal di sebuah mansion besar dan luas itu. Jika dia berani jujur, mungkin Papanya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan teman Papanya ini.
Saat masuk ke dalam bangunan Mansion, Adibrata dan Bagas disambut oleh para pelayan yang banyak didominasi oleh orang Indonesia jika dilihat dari wajahnya. Namun ada juga warga setempat yang bekerja di sana.
" Selamat datang, Adibrata." Nathael menyambut Adibrata saat Adibrata dan Bagas sudah sampai di ruangan tamu mansion miliknya.
" Apa ini anakmu itu?" Nathael langsung menebak Bagas saat melihat Bagas bersama Adibrata.
" Benar, El. Ini Bagas putraku." Adibrata mengenalkan Bagas pada Adibrata. " Bagas, kenalkan ini Om Nathael. Dia yang mempunyai bisnis retail terkenal di sini." Kini Adibrata mengenalkan Nathael kepada Bagas.
" Halo, Om. Apa kabar?" Bagas menyapa berbasa-basi Nathael seraya menjabat tangan teman Papanya itu.
" Baik, Bagas. Om senang bisa bertemu dengan kamu. Om tidak tahu kalau kamu ternyata sudah bertahun-tahun kuliah dan menetap di sini. Kalau dari awal Om tahu, mungkin kita sudah kenal lama." Nathael menyayangkan baru mengenal Bagas sekarang ini.
" Hai, Merry, apa kabar?" Kini Adibrata menyapa istri Nathael.
" Aku baik-baik saja, Di. Bagaimana dengan istrimu? Apa tidak ikut kemari?" tanya Merry menanyakan istri Adibrata.
" Dia tidak ikut kemari, Mer. Menemani anak bungsuku di rumah," jawab Adibrata.
" Oh ya, di mana anak-anakmu, El?" Adibrata menanyakan ketiga anak Nathael yang tidak nampak bergabung di ruangan tamu.
" Kedua anak laki-lakiku tidak tinggal di sini, Di. Karena mereka punya pekerjaan masing-masing. Kami akan berkumpul jika weekend saja." Nathael menjelaskan. " Paling hanya anak bungsuku saja yang masih kuliah yang tinggal di sini," lanjut Nathael.
" Hai, Om ..." Tak lama setelah Nathael mengakhiri kalimatnya, seorang wanita cantik muncul di ruangan tamu mansion milik Nathael.
" Hai, Evelyn." sahut Adibrata. Dia lalu melirik ke arah Bagas yang juga menoleh ke arah Evelyn.
" Oh ya, Evelyn. Kenalkan ini Bagas, anak Om yang Om ceritakan kemarin." Adibrata kemudian memperkenalkan Bangsa kepada Evelyn.
" Hai, Bagas ... aku Evelyn." Evelyn menyapa Bagas yang masih menatapnya.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading❤️