
Malik masih mengawasi mobil ojek online yang disewa Bagas mengantar pria itu ke salon. Entah apa yang dilakukan Bagas di salon itu, dia tidak mengetahuinya. Hingga akhirnya terlihat seorang pria yang dia tahu adalah Bagas dan seorang wanita yang tidak dia kenal keluar dari salon itu berjalan ke arah mobil yang tadi membawa mereka. Dari sikap Bagas yang melingkarkan tangannya di pundak wanita itu, membuat Malik yakin jika wanita itu adalah wanita yang digadang-gadang akan dinikahi oleh Bagas.
Malik langsung mengarahkan kamera ponselnya ke arah Bagas dan Indhira, untuk dia rekam dan dia kirimkan kepada Hamid. Setelah itu dia mulai mengikuti mobil yang membawa Bagas meninggalkan salon itu. Bagas sendiri menyuruh anak buah Damar untuk tidak mengawasi Indhira, karena saat ini Indhira bersamanya, dan dia berpikir aman saat keluar dari kantornya tadi sehingga tidak perlu pengawasan dari anak buah Damar.
Dalam perjalanan menuju toko perhiasan Bagas dan Indhira terlihat asyik membicarakan soal kebaikan Azkia.
" Bu Kia baik banget sama kamu, Ra." ujar Bagas mengutarakan rasa kagum atas kebaikan Azkia dalam memperlakukan Indhira begitu istimewa, tidak hanya menganggap sebagai seorang pegawai saja, tapi seperti seorang teman bahkan seperti seorang adik.
" Bukan hanya Bu Kia saja yang baik, tapi Pak Raffa dan semua keluarga mereka baik, Bagas. Aku bersyukur selama ini aku berada di lingkungan keluarga mereka." Indhira memang merasa jika dirinya masih dipayungi keberuntungan. Walaupun mempunyai masa lalu yang kelam karena kasus video viral, ditambah dengan perlakuan buruk Tante dan Om nya. Namun setelahnya, dia justru didekatkan dengan orang-orang yang melindungi. Mungkin itu juga yang membuat dirinya masih dapat bertahan hingga sejauh ini.
" Kamu tahu, Bagas? Sebelum aku bertemu dengan Bu Kia dan Pak Raffa, aku sebelumnya sudah bertemu dengan Om dan Tantenya Bu Kia, lho!" Indhira menceritakan jika dia sudah ditolong oleh keluarga Azkia, jauh sebelum bertemu dengan Azkia.
" Oh ya?"
" Iya. Om dan Tante nya Bu Kia itu yang menolong aku waktu aku dari niat jahat Om Ferry dulu." Indhira mengecilkan volume suaranya saat membahas perbuatan Om Ferry karena malu jika sampai terdengar driver ojek online.
" Oh ya?" Kali ini Bagas lebih serius mendengar cerita Indhira. " Suatu hari aku ingin bertemu dengan mereka, Ra. Aku ingin berterima kasih kepada mereka, karena pertolongan mereka terhadap kamu dulu." Bagas pun merasa penasaran dengan Tante dan Om dari Azkia, dia pun merasa perlu berterima kasih atas pertolongan mereka yang telah menyelamatkan Indhira dari niat jahat Om Ferry pada Indhira.
" Nanti kalau ada waktu kita mengunjungi Om dan Tante nya Bu Kia, Bagas. Keluarga Bu Kia itu meskipun keluarga kaya raya, tapi mereka sangat rendah hati dan tidak menganggap rendah orang sepertiku yang hanya orang biasa saja." Tak bermaksud menyindir orang tua Bagas, Indhira mengatakan bagaimana keluarga besar Azkia yang sebenarnya dia ketahui.
Bagas tertegun mendengar ucapan Indhira yang tanpa disadari bagaikan tam paran bagi Bagas. Keluarga Azkia dapat menerima baik Indhira, sangat bertolak belakang dengan sikap keluarganya yang selalu memandang seseorang dari status sosialnya, dan belum tentu dapat menerima Indhira dengan baik.
Seandainya dia mempunyai keluarga seperti keluarga Azkia, mungkin dirinya tidak sepusing saat ini. Kadang ada sesal di hati Bagas, kenapa dia dilahirkan dari keluarga Adibrata dan Angel? Kenapa dia tidak terlahir dari lingkungan keluarga seperti keluarga Raffasya dan Azkia, yang bisa dengan mudah menerima pilihannya.
" Aku bersyukur dipertemukan dengan keluarga Bu Kia, Bagas. Keluarga Bu Kia, keluarga Pak Raffa mereka baik semua sama aku." Tak henti-hentinya Indhira memuji keluarga besar bosnya.
Bagas memperhatikan Indhira yang begitu bersemangat menceritakan soal keluarga Azkia. Sepertinya kekasihnya itu sudah benar-benar akrab dengan keluarga Azkia.
" Kamu kelihatannya dekat sekali dengan keluarga Bu Kia ya, Ra?" Bagas senang, Indhira menemukan orang-orang yang menganggap Indhira seperti keluarga sendiri.
" Iya, aku senang aku bisa diterima baik oleh Keluarga Bu Kia, walaupun mereka tahu kisah masa laluku dulu, Bagas." Ada rasa haru di hati Indhira setiap kali membicarakan soal kebaikan Azkia dan keluarganya.
" Walaupun Bu Kia terlihat cerewet, jutek dan galak?" Bagas terkekeh menggambarkan karakter seorang Azkia.
" Kamu percaya, tidak? Waktu aku baru kembali dari Semarang dan ingin mencari kerja di sini, Rissa sempat menyuruh Mas Adam untuk memasukkan aku kerja di cafe tempat Mas Adam bekerja, Tapi Mas Adam tidak berani ajak aku kerja di sana dengan alasan istri bosnya itu galak dan cemburuan. sampai tidak boleh ada pegawai wanita yang cantik banget bekerja di sana. Eh, malah sekarang aku jadi asisten pribadinya Bu Kia." Indhira terkekeh seraya menutup mulut dengan telapak tangannya.
Bagas tersenyum melihat Indhira yang terlihat bahagia sampai bisa tertawa kecil.
" Sekarang sudah berani narsis, ya?" ledek Bagas menanggapi perkataan Indhira tadi
" Narsis?" Indhira menautkan kedua alisnya hingga memperlihatkan guratan di keningnya.
" Itu pakai bilang cantik banget, merasa cantik banget memangnya?" sindir Bagas menggoda wanita yang akan segera dinikahinya itu.
" Aku tidak berpikiran seperti itu kok, Bagas! Itu 'kan Mas Adam yang bilang." Indhira menepis dirinya bersikap narsis. Dia tidak pernah membanggakan kelebihan yang ada di dalam dirinya, termasuk bersikap narsis seperti yang disebutkan oleh Bagas tadi.
" Iya, iya, aku percaya. Itu yang sejujurnya bikin aku suka sama kamu, Ra. Kamu itu orangnya sederhana dan tidak pernah bertingkah macam-macam." Bagas lalu memberikan satu kecupan di pipi Indhira membuat wanita itu tersentak kaget.
" Astaghfirullahal adzim, Bagas!" Indhira menegur Bagas dengan mata molotot karena Bagas sudah berani mencuri-curi kesempatan melakukan sentuhan fisik dengan mencium pipinya di hadapan orang lain, yaitu driver ojek online.
__ADS_1
" Tidak apa-apa ya, Pak? Kasih cium pipi calon istri? Minggu depan juga sudah sah, kok!" Seakan minta dukungan driver ojol, Bagas menganggap apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar.
Dari kaca spion terlihat driver ojol melirik ke arah Bagas dan Indhira seraya berkata," Tidak apa-apa hanya cium pipi, asal jangan sampai kebablasan saja, Mas, Mbak."
Ucapan bermakna peringatan itu seketika membuat Bagas dan Indhira terdiam dan langsung saling berpandangan, dengan bibir Indhira yang langsung mengerucut karena perbuatan Bagas tadi.
***
Mobil yang dibawa driver ojek online sampai di sebuah mall, karena Bagas ingin mencari cincin pernikahan di sebuah toko perhiasan yang ada di mall tersebut.
" Tunggu sebentar, ya, Pak." Sebelum turun dari mobil ojek online, Bagas meminta driver ojek online menunggu di parkiran mall.
" Siap, Mas." jawab driver ojek online.
" Saya tinggal dulu, ya, Pak." Indhira pun ikut berkata pada pak driver.
" Baik, Mbak." sahut driver ojek online.
" Sebenarnya kamu bayar driver itu berapa, Bagas? Dari kemarin kamu minta bapak itu menunggu kita." Setelah turun dari mobil, Indhira menanyakan hal yang membuat dia penasaran dengan uang yang diberikan oleh Bagas sehingga driver ojek online itu menuruti apa yang diminta oleh Bagas.
" Kemarin aku baru kasih yang dua juta. Hari ini nanti aku kasih segitu lagi saja. Menurutmu kurang atau tidak, Ra?" tanya Bagas dengan enteng menyebut nominal uang yang dia berikan kepada driver ojek online.
" Dua juta?" Indhira membelalakkan matanya mendengar jumlah uang yang dikeluarkan oleh Bagas untuk driver ojek online itu.
" Iya, kurang, ya?" tanya Bagas kemudian menoleh ke arah Indhira.
" Tidak apa-apalah, Ra. Itung-itung kekasih rezeki sama orang lain." Bagas dengan santai menjawab protes yang dilancarkan oleh Indhira.
" Tidak begitulah, Bagas. Kita ini harus menghemat pengeluaran. Jangan menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting!" Indhira mencoba merubah cara pikir Bagas agar berpikir lebih bijak dalam mengatur keuangannya.
Bagas menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Indhira. Tangannya kini menyentuh pundak Indhira.
" Ra, apa kamu tahu? Kamu adalah hal terpenting dalam hidup aku. Jadi aku bayar uang sejumlah itu untuk hal yang penting, kan?" Bagas menyeringai lalu mengusap kepala Indhira dan merangkulkan tangannya ke pundak Indhira lalu melanjutkan perjalanan mereka ke toko perhiasan yang mereka tuju.
" Bagas, jangan seperti ini! Tidak enak dilihat orang!" Indhira merasa rikuh berangkulan dengan Bagas di tempat umum seperti saat ini.
" Sebanyak lagi kita halal, Ra. Hanya merangkul, dong! Biar kamu tidak diambil orang." Bagas tertawa senang menggoda Indhira.
Hanya beberapa langkah kemudian, mereka sudah sampai di toko perhiasan untuk membeli cincin yang akan mereka pakai untuk mengikat cinta mereka berdua.
" Selamat malam, ada yang bisa kami bantu, Mas, Mbak?" tanya pegawai toko perhiasan saat Bagas dan Indhira melihat cincin yang terpajang di display toko perhiasan tersebut.
" Kami cari cincin pernikahan, Mbak." jawab Bagas yang menyahuti pegawai toko perhiasan itu.
" Oh, mari di sebelah sini, Mas." pelayan toko perhiasan mengarahkan Bagas dan Indhira ke arah display di sebelah kiri toko perhiasan itu. " Ini model yang kami punya," lanjutnya.
" Kamu suka yang mana, Ra?" Bagas menyerahkan pilihan kepada Indhira.
" Terserah kamu saja. Tapi jangan yang mahal-mahal." Indhira berbisik pelan di telinga Bagas, membuat Bagas tertawa mendengar permintaan Indhira.
__ADS_1
" Calon istri saya minta dipilihkan yang paling bagus, Mbak." Bagas justru mengatakan yang bertentangan dengan yang diucapkan oleh Indhira. Sontak hal itu membuat Indhira terbelalak. Meminta koleksi yang terbaik dan paling bagus pasti harganya tidak mungkin murah, pikir Indhira.
" Oh, sebentar ..." Pelayan toko perhiasan lalu mengambilkan sepasang cincin pernikahan dan menunjukkan kepada Bagas dan Indhira.
" Kamu coba, Ra. Pas atau tidak?" Bagas lalu menyematkan cincin itu di jari manis Indhira.
" Cantik sekali dipakai sama Mbak nya. Cocok, cincinnya secantik Mbak nya." Seperti. itulah cara pengawai toko agar calon pembeli mau membeli barang yang dijualnya.
" Orangnya lebih cantik, dong, Mbak!" Bagas sedikit memprotes ucapan pegawai toko perhiasan tadi.
" Oh, itu pasti, Mas. Ciptaan Sang Kuasa tidak ada yang menandingi." Si pegawai toko itu sampai mengangkat kedua ibu jarinya.
" Ini berapa, Mbak?" tanya Indhira penasaran dengan harga perhiasan itu.
" Sepasang ini harganya sekitar enam puluh lima jutaan, Mbak." jawab pegawai toko perhiasan.
Bola mata Indhira membulat sempurna mendegar harga cincin itu. Dia langsung melepas cincin yang melekat di jarinya saat ini
" Kami ambil yang ini saja, Mbak." Sementara Bagas memastikan membeli cincin yang itu.
" Bagas, itu malah sekali!" Indhira memprotes tindakan Bagas yang memilih cincin dengan harga yang cukup fantastis menurutnya.
" Ini, Mbak." Tak memperdulikan protes dari Indhira, Bagas langsung mengeluarkan kartu debit dari dompetnya untuk membayar cincin itu.
" Bagas, itu malah sekali! Kita cari yang lain saja!" Indhira tetap keberatan dengan pilihan Bagas.
" Sssttt ...!" Bagas hanya menanggapi protes Indhira dengan mendekatkan jari telunjuk di bibirnya. Indhira tak bisa banyak menolak dan hanya menerima apa yang diinginkan oleh Bagas.
Indhira mendengus karena Bagas mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan darinya, padahal dia tidak ingin Bagas menghamburkan uang untuk hal yang sifatnya tidak mendesak, meskipun dia tahu suaminya itu punya banyak uang.
Setelah memilih perhiasan yang cocok untuk pernihanan mereka Kamis depan, Bagas pun lantas mengantar pulang Indhira ke rumah Lusiana.
Sementara di lain tempat ....
" Di mana posisi mereka sekarang, Hamid?" tanya Adibrata saat mobil yang dia tumpangi keluar dari kantornya. Adibrata berniat mendatangi Indhira dan Bagas di rumah tinggal Indhira. Adibrata tidak ingin melab rak Indhira di tempat umum yang hanya akan mempermalukan nama baiknya saja.
" Mereka baru keluar dari toko perhiasan, Tuan. Sepertinya mereka sedang mengarah ke daerah Menteng, Tuan." Hamid melaporkan apa yang dilaporkan Malik kepadanya. Dan mengatakan jika Bagas dan Indhira masih dalam pantauan anak buahnya.
" Oke, suruh anak buahmu pantau terus. Saya akan menuju ke sana." Adibrata menyuruh Hamid memantau keberadaan Bagas dan Indhira karena dia bersiap ke tempat yang dituju oleh Bagas dan Indhira.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1