
Selepas dari kantor Adibrata, Bagas langsung ke sekolah Kartika. Dia sengaja menjemput adiknya itu dan minta ijin pulang cepat pada pihak sekolah.
" Kakak baru dari kantor Papa?" tanya Kartika saat masuk ke dalam mobil inventaris hotel yang dibawa Bagas.
" Iya, Dek." sahut Bagas.
" Papa marah-marah sama Kak Bagas tidak?" tanya Kartika khawatir.
" Kenapa Papa harus marah pada Kakak? Saat ini kartu truf Papa ada sama Kakak," sahut Bagas dengan mengembangkan senyuman melirik ke Kartika.
" Kartu truf?" Dengan kening berkerut Kartika menatap Bagas. Dia masih belum paham dengan istilah yang diucapkan oleh Bagas.
" Mama," jawaban Bagas akhirnya membuat Kartika paham dengan istilah kartu truf tersebut.
" Oh ..." jawabnya menganggukkan kepala tanda mengerti. " Lalu, Papa bilang apa, Kak? Sebenarnya apa yang terjadi pada Mama sampai kabur dari Papa, Kak?" Kartika masih belum tahu permasalahan yang dihadapi kedua orang tuanya saat ini, dan Bagas juga tidak ingin adiknya itu tahu permasalahan yang sebenarnya terjadi. Perselingkuhan yang dilakukan Adibrata bukanlah hal yang baik untuk dia ceritakan pada adiknya. Dan dia juga tidak ingin adiknya itu hilang respek terhadap sang Papa, karena itulah dia menutupinya dari Kartika. Bagas juga sedang mencari alasan yang tepat yang bisa dia sampaikan kepada adik semata wayangnya itu.
" Ada hal prinsip yang membuat Papa dan Mama tidak sependapat dan hal itu yang menjadikan pertengkaran," ujar Bagas menjelaskan.
" Apa karena Mama ketahuan sering menemui Kakak lalu Papa marah?" tanya Kartika kembali.
" Mungkin juga." Bagas membalas.
" Lalu bagaimana sekarang?"
" Kamu tidak usah memikirkan hal itu, biar Kakak yang urus." Dengan penuh kasih sayang Bagas mengusap kepala adiknya itu. " Kamu bantu doa saja, semoga hikmah dari kejadian ini bisa membuat keluarga kita menjadi dekat kembali," pungkasnya.
***
Hamid memperhatikan seorang wanita cantik yang sedang duduk di sebuah cafe. Wanita itu terlihat beberapa kali memperhatikan arloji di tangannya, sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Wanita itu tidak lain adalah Kyle. Dia sedang menunggu kedatangan Adibrata, karena mereka sedang berusaha menjebak Kyle agar dapat keluar dari persembunyiannya.
Hamid kemudian berjalan mendekat ke arah Kyle, karena dia sendiri yang turun tangan mengurus Kyle.
" Apa kamu yang bernama Kyle?" tanya Hamid ketika dia sudah mendekat ke meja perempuan itu.
Kyle sontak menolehkan pandangan ke arah Hamid saat pria itu menyapanya.
" Iya, kenapa?" tanya Kyle merasa tidak mengenal Hamid.
" Saya diminta bos saya untuk menjemput kamu," balas Hamid
" Bos kamu? Siapa?" tanya Kyle penasaran.
" Tuan Adibrata," jawab Hamid.
Kyle langsung terlihat sumringah ketika Hamid menyebut nama Adibrata. Dia lantas bangkit dari kursinya dan menyampirkan tas yang tadi dia taruh di meja.
" Kita akan ke mana?" tanyanya kemudian.
" Mari ikut saya!" Hamid melangkah di depan Kyle, meminta agar Kyle mengikuti langkahnya yang akan membawa wanita itu pergi ke suatu tempat.
Tanpa ada kecurigaan sama sekali, Kyle pun mengikuti langkah Hamid yang akan membawanya pergi menemui Adibrata.
" Aku bawa mobil sendiri, nanti aku ikuti kamu saja." Saat keluar dari cafe, Kyle lalu berjalan ke arah mobil sewaannya.
" Sebaiknya kamu ikut dengan saya, nanti jika setelah selesai berjumpa dengan bos saya, saya akan antar kamu kembali ke sini untuk mengambil mobil kamu." Hamid tidak memperbolehkan Kyle yang ingin pergi sendiri.
Kyle mengerutkan keningnya mendengar permintaan Hamid,
" Apa kalian berniat berbuat jahat kepadaku?" tanyanya curiga.
" Kenapa kau berpikiran seperti itu? Apa kau berbuat jahat sehingga berprasagka orang lain akan membalasmu?" sindir Hamid.
Kyle kembali melirik ke arah Hamid saat pria itu menyindirnya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh Hamid untuk menggunakan mobil Hamid.
Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Hamid tiba di sebuah bangunan yang bentuknya hampir semua sama di daerah bekasi.
" Ini tempat apa?" tanya Kyle menatap bangunan berbentuk unik itu.
__ADS_1
" Turunlah!" Hamid menyuruh Kyle turun dari mobilnya.
Kyle turun dari mobil lalu berjalan menaiki anak tangga masuk ke tempat itu. Tempat itu sebenarnya adalah markas milik Hamid. Di sanalah dia dan anak buahnya berkumpul jika tidak mendapat tugas dari Adibrata.
" Silahkan duduk dulu." Hamid meminta Kyle menunggu di kursi tunggu, sementara dia sendiri masuk ke dalam sebuah ruangan.
Dalam ruangan itu, ada dua orang paruh baya bersama anak perempuan berusia lima tahun. Mereka di dalam sedang menonton acara televisi yang terpasang di dinding. Mereka sejak setengah jam lalu dibawa ke tempat itu dan disuruh menunggu dalam ruangan tersebut tanpa mereka tahu apa tujuan mereka dibawa ke sana.
Ceklek
Hamid membuka pintu ruangan yang biasa dia jadikan tempat rapat membahas tugas yang diberikan Adibrata kepadanya.
" Maaf membuat Bapak dan Ibu menunggu lama." Kepada kedua orang paruh baya itu Hamid menyampaikan permintaan maafnya karena sudah membuat mereka menunggu tanpa mereka tahu maksud dan tujuannya dibawa ke markasnya.
" Pak, sebenarnya ada apa? Kenapa kami disuruh ke sini?" tanya pria paruh baya yang menunggu di dalam ruangan tersebut.
" Saya hanya ingin mempertemukan Bapak dan Ibu dengan seseorang." Hamid menyebutkan alasannya membawa kedua orang tua itu bersama bocah kecil berusia lima tahun ke tempatnya.
" Seseorang? Siapa maksud Bapak?" tanya orang tua itu masih tidak memahami siapa yang ingin dipertemukan dengannya.
Hamid kembali membuka pintu, dia menyuruh Kyle masuk ke dalam ruangan tersebut.
" Masuklah!" ujar Hamid.
Kyle nampak ragu untuk melangkah, namun karena dia berpikir jika dia akan bertemu dengan Adibrata dan akan mendapatkan uang, akhirnya kakinya pun melangkah ke dalam ruangan. Namun, mata Kyle tiba-tiba terbelalak saat mendapati orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.
" Kayla?" Sepasang paruh baya memanggil nama Kayla.
" Bunda?" Bahkan anak kecil itu pun menyebut nama yang sama lalu berlari memeluk Kyle.
" Bapak? Ibu? Kenapa bisa ada di sini?" Kyle yang dipanggil dengan nama Kayla itu terperanjat karena orang tua bersama anaknya ada di tempat itu.
" Bapak ini menjemput kami kemari. Ternyata ingin mempertemukan kita di sini." sahut Pak Budi, ayah dari Kyle.
" Ibu kangen, Nak. Hampir lima tahun kamu tidak pulang ke Indonesia." Ibu Siti memeluk Kyle. " Lihatlah, anakmu saja sudah sebesar ini. Kamu menitipkan Amanda waktu usia tiga bulan sekarang sudah lima tahun." Ibu Siti mengusap kepala Amanda yang juga sedang memeluk Kyle yang masih mematung karena kaget.
" Kamu dapat libur dari pabrik tempat kamu bekerja, ya?" Bu Siti juga ikut bertanya.
Kayla melirik ke arah Hamid yang sedang mengembangkan seringai tipis di sudut bibirnya. Sungguh tak menyangka jika dirinya saat ini sedang dijebak. Dia tidak mengerti bagaimana Hamid tahu soal orang tua dan anaknya yang menetap di Sukabumi.
Kyle memang hampir lima tahun bekerja di Hong Kong setelah melahirkan anak di luar nikah dari kekasihnya yang kabur, Kyle yang mempunyai nama asli Kayla itu memutuskan untuk bekerja sebagai TKW di Hong Kong. Awalnya dia bekerja di sebuah pabrik di sana. Namun pada tahun kedua Kayla yang berparas cantik disukai oleh bosnya lalu dijadikan simpanan oleh bosnya itu. Terbiasa hidup enak selama menjadi pemuas naf su sang bos, Kyle akhirnya melanjutkan profesi barunya sebagai wanita penghibur di sebuah club executive yang banyak dikunjungi para bos dan juga eksekutif muda lainnya.
" Apa putri Bapak dan Ibu ini tidak pernah pulang ke Indonesia sejak bekerja di luar negeri?" tanya Hamid.
" Benar, Pak. Sejak dia pergi bekerja di Hong Kong, dia belum pernah pulang. Katanya belum diperbolehkan dari pihak perusahaannya. Menurut aturan di sana katanya karyawan dari luar negeri baru diperbolehkan cuti panjang setelah lima tahun bekerja. Kami hanya berkomunikasi via telepon. Karena itu kami senang sekali dia bisa pulang juga," ungkap Pak Budi.
Hamid melirik ke arah Kyle yang langsung membuang muka karena ketahuan selama ini berbohong kepada orang tuanya tentang pekerjaannya.
" Oh ya, apa Bapak ini dari pihak Travel Agent yang membawa anak saya pulang?" tanya Pak Budi kemudian.
" Ya, benar, Pak." Hamid membenarkan, padahal dia sendiri tidak tahu soal Travel Agent. " Hmmm, saya ingin bicara dengan putri bapak dulu, setelah itu Bapak dan Ibu bisa membawa dia pergi." Hamid meminta ijin pada Pak Budi dan Bu Siti untuk berbicara berdua dengan Kyle.
" Oh, silahkan, Pak." Pak Budi memberi ijin.
" Ikut saya sebentar." Hamid bicara pada Kyle agar mengikutinya keluar dari ruangan itu menuju ruangan di sebelahnya.
" Dari mana kau tahu soal keluargaku? Dan apa maksudmu membawa mereka ke tempat ini?" geram Kyle merasa kesal karena menganggap Hamid telah lancang membawa keluarganya ke tempat itu.
Hamid sedikit menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringai tipis.
" Bagaimana rasanya keluargamu diusik? Tidak enak, kan? Begitu juga yang dirasakan oleh bos saya." Hamid menjawab pertanyaan Kyle.
" Lagipula bukankah melayani pria adalah pekerjaanmu dan bos saya sudah memberikan imbalan yang pantas untukmu? Lalu kau menginginkan apa lagi?" tanya Hamid mempermasalahkan tujuan Kyle mengusik Adibrata.
" Apa semua istri dari pria yang kamu layani selalu kau teror seperti keluarga bos saya? Bukankah seharusnya kau menjaga privasi mereka?" Kalimat Hamid kali ini sudah mulai terdengar mengintimidasi.
" Bos saya akan memberikan uang lima ratus juta rupiah, anggap saja itu uang penggantian atas jasa yang sudah kamu berikan ke beliau. Tapi dengan syarat. jangan pernah mengusik kehidupan keluarga bos saya. Kau harus menandatangani kesepakatan itu di atas materai dan dihadapan saksi pihak berwenang. Jika kau sampai melanggar kesepakatan itu, kami akan menuntutmu ke jalur hukum." Hamid mulai menebar ancaman.
" Oh ya, orang tuamu tidak tahu apa yang kamu lakukan selama ini, kan? Orang tuamu tidak tahu jika uang yang tiap bulan mereka terima adalah hasil dari kau menjual tubuhmu ke banyak pria. Jika kau melanggar apa yang sudah kau sepakati, bukan hanya orang tua dan keluargamu, tapi seluruh orang di kampungmu akan tahu apa pekerjaan kamu di Hong Kong yang sebenarnya." Seringai kembali terlihat di sudut bibir Hamid, menandakan dia sudah berhasil menekan Kyle.
__ADS_1
Kyle membulatkan bola matanya mendengar ancaman dari Hamid yang akan melaporkan apa yang selama ini dia kerjakan di Hong Kong. Tentu dia tidak ingin orang tuanya sampai tahu apa yang sudah dia lakukan selama ini.
" Pikirkanlah baik-baik. Kau bisa gunakan uang yang bos saya kasih sebagai modal usaha, daripada terus melakukan pekerjaan berdosa itu. Kau bisa menghidupi orang tua dan anakmu dan memulai pekerjaan yang baru di sini, pekerjaan yang bersih yang bisa membuat kedua orang tua juga anakmu bangga." Hamid menasehati Kyle untuk menerima tawaran yang diberikan oleh Adibrata.
" Bos saya sudah berbaik hati membantumu. Sekarang terserah kau yang memutuskan. Jika kau terus dengan sikapmu ingin mengusik keluarga bos saya, jangan salahkan saya jika saya ungkap semua kelakuan nakalmu selama ini kepada kedua orang tuamu. Jika tidak, kau bisa mendapatkan bonus uang sejumlah lima ratus juta," imbuhnya meminta Kyle untuk berpikir secara baik-baik.
Kyle menghempas nafas kasar. Dia akan mendapatkan uang bernilai setengah milyar secara cuma-cuma. Dia pikir tidak ada salahnya menerima tawaran tersebut daripada dia dilaporkan pada keluarganya dan tidak mendapatkan apa-apa.
" Baiklah, aku setuju dengan tawaran itu." Kyle tidak ingin mengambil resiko yang membahayakannya sehingga dia pun akhirnya menerima tawaran tersebut.
***
Adibrata memandang fotonya bersama Angel saat mereka berdua pergi ke Paris dua tahun lalu. Foto di sebuah balkon hotel dengan background menara Eiffel.
Sudah tiga hari ini dia tidak bertemu dengan istrinya, karena larangan dari Bagas yang memintanya membiarkan Angel menenangkan diri. Jangankan untuk bertemu dan berbicara, melihatnya saja dia tidak bisa. Dan rasanya ini adalah siksaan terberat yang dia rasakan saat ini.
Ddrrtt ddrrtt
Adibrata melirik ponsel di atas meja kerjanya. Tangannya meraih ponsel miliknya dan melihat pesan masuk dari Bagas. Dengan cepat dia membuka pesan dari putranya itu.
Adibrata mengerutkan keningnya saat pesan masuk ke ponselnya adalah sebuah pesan bergambar. Pesan gambar itu memperlihatkan aktivitas Angel selama di hotel bersama Indhira. Angel terlihat sedang menikmati makanan, mengobrol dan menonton televisi bersama Indhira. Namun dia heran, wajah Angel sama sekali tidak memperlihatkan kesedihan. Apakah jauh darinya tidak membuat dia menderita seperti dirinya saat ini? Itu yang membuat Adibrata mendengus kasar, karena merasa jika hanya dia lah yang merasakan tersiksa.
Sebuah pesan video juga masuk ke ponselnya. Dia pun langsung membuka video itu.
" Su su hamil yang Mama beli kemarin enak tidak? Kamu suka tidak dengan variant rasanya?" Suara Angel terdengar dari video yang diterima Adibrata kiriman dari Bagas.
" Suka, Ma." sahut Indhira.
" Mama sengaja mix rasa mocca sama coklat biar tidak bikin mual. Pakai ice saja minumnya." Angel menyarankan pada Indhira.
" Iya, Ma." Indhira mengiyakan apa yang dikatakan oleh Mama mertuanya.
" Kamu sudah periksa ke dokter lagi? Kapan jadwal periksa selanjutnya?" tanya Angel kembali.
" Nanti dua Minggu lagi, Ma." jawab Indhira.
" Bagas, kamu harus ingat jadwal periksa kehamilan istri kamu. Harus rutin periksanya biar bisa tahu perkembangan janin di perut istrimu ini." Terlihat Angel menoleh ke arah Bagas yang sedang merekam interaksi Mama dengan istrinya itu.
" Pasti, dong, Ma." Tak lama dari suara Bagas terdengar, rekaman video itu pun berakhir.
Adibrata kembali mengulang video yang dikirimkan oleh Bagas. Sepertinya dia masih belum puas memandang istrinya itu.
Wajah Angel terlihat tanpa masalah dan terkesan enjoy menikmati obrolan bersama Indhira, wanita yang selalu dia tolak kehadirannya selama ini.
Dia heran kenapa istrinya itu begitu mudah menerima Indhira, bahkan memperlakukan Indhira seperti anaknya sendiri.
" Kenapa wanita itu bisa membuat Angel akrab dengannya? Apa istimewanya wanita itu hingga anak dan istriku sanggup dia taklukan?" Adibrata bertanya heran.
Ddrrtt ddrrtt
Sebuah panggilan dari Hamid masuk ke dalam ponsel Adibrata yang masih dia genggam. Dia lalu mendekatkan ponselnya mengangkat panggilan masuk dari anak buahnya.
" Selamat sore, Tuan. Saya ingin melaporkan soal urusan wanita itu sudah selesai, Tuan. Dia sudah menerima tawaran dari kita dan bersedia mengikuti kesepakatan yang dia buat," lapor Hamid.
" Apa dia bisa dipercaya, Mid?" tanya Adibrata ingin memastikan jika Kyle tidak akan berulah kembali.
" Saya yakin, Tuan. Karena dia juga tidak ingin beresiko keluarganya tahu apa yang dia lakukan selama ini," ungkap Hamid. " Sebenarnya tanpa uang lima ratus juta pun kita masih bisa menekan dia, Tuan." lanjutnya.
" Tak masalah uang itu, Mid. Siapa tahu dia berubah pikiran menggunakan uang itu untuk modal daripada terus terjerumus dalam pekerjaan haram itu." Adibrata memutuskan memberi uang itu kepada Kyle saat dia mengetahui kabar dari Hamid, jika Kyle itu seorang wanita bernama Kayla dan mempunyai anak perempuan yang selama ini diurus oleh orang tua Kyle. Selama ini mereka tidak tahu pekerjaan yang digeluti oleh Kyle bukanlah pekerjaan yang halal dan Kyle menutupinya dengan mengatakan jika dia bekerja di sebuah pabrik di Hong Kong.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1