
Indhira membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah melaksanakan sholat isya. Hari dia merasakan sangat penat karena hari ini dia ikut turun tangan membantu menghandle beberapa pelanggan, karena siang sampai jelang sore tadi salon banyak didatangi pengunjung. Sejak dulu, Indhira memang senang membantu tugas temannya, jadi terkadang dia diperbantukan untuk menghandle beberapa pelangan yang ingin melakukan perawatan jika dalam kondisi mendesak.
Indhira termenung mengingat saat ini dia bekerja bersama Chrystal. Dia memang tidak pernah bermusuhan saat sekolah dulu dengan mantan kekasih Bagas itu. Dan seharian tadi, Chrystal juga tidak mengatakan kepada pegawai salon yang lain soal masa lalu dirinya. Tapi, dia tetap merasa was-was jika sampai Chrystal membongkar masa lalunya di hadapan rekan-rekannya.
Indhira bangkit dan mengambil ponselnya di dalam tas kerjanya. Dia ingin menghubungi Rissa sekaligus ingin menanyakan kabar tentang Tante Sandra.
" Assalamualaikum, Ris. Kamu sudah pulang kerja?" sapa Indhira, karena terkadang Rissa sering lembur kerja di kantornya.
" Waalaikumsalam, Ra. Sudah dari sebelum Maghrib kok, Ra." Rissa membalas sapaan Indhira kepadanya.
" Bagaimana kabar keluarga kamu di Jakarta, Ris?" Indhira menanyakan kabar keluarga Rissa bukan hanya sekedar basa-basi semata. Dia sudah menganggap keluarga Rissa seperti keluarga sendiri, karena mereka sangat baik terhadapnya, karena itu dia merasa perlu menanyakan kondisi keluarga Rissa saat ini.
" Alhamdulillah semua sehat-sehat, Ra." jawab Rissa.
" Alhamdulillah kalau semua sehat. Tante Sandra sendiri bagaimana, Ris? Kondisinya sudah membaik?" Indhira selalu mencemaskan kondisi Tante dari sahabatnya itu. Karena selama lima tahun dia tinggal bersama Tante Sandra, dia merasa Tante Sandra seperti orang tua sendiri.
" Belum banyak kemajuan yang signifikan, Ra." Suara Rissa kali ini terdengar sedih. " Aku kasihan sekali melihat Tanteku itu, Ra. Tanteku itu orang baik, kenapa sampai harus menderita penyakit seperti itu, ya? Mana suaminya tidak mau tanggung jawab, meninggalkan begitu saja!" Kali ini nada bicara Rissa sudah mulai dicampur emosi.
" Yang sabar, Ris. Kamu harus menyemangati Tante Sandra agar Tante Sandra juga termotivasi untuk bisa sembuh, Ris." Indhira mencoba menasehati Rissa agar Rissa tidak patah semangat dalam mengurus Tante Sandra.
" Kadang aku berpikir, apa itu karma yang diterima Tante Sandra karena menjadi istri simpanannya suami orang ya, Ra?" Rissa menyebut soal karma.
" Astaghfirullahal adzim! Kamu jangan berbicara seperti itu, Ris. Apa yang dihadapi oleh Tante Sandra dan keluarga kamu itu cobaan. Jangan berburuk sangka seperti itu!" Indhira menegur Rissa yang menyebut apa yang diterima Tante Sandra adalah sebuah karma.
" Iya, iya, aku hanya bercanda, kok!" Rissa terkekeh mendapatkan teguran dari Indhira.
" Oh ya, Ra. Bagaimana kamu di sana? Kondisi salon bagaimana sekarang setelah mempunyai owner baru?" Rissa menanyakan soal pekerjaan Indhira dan kondisi salon setelah ganti kepemilikan.
" Kamu tahu tidak? Siapa yang membeli salon punya Tante Sandra itu, Ris?" Indhira jutsru memberi tebak-tebakan pada Rissa.
" Siapa memang?" tanya Rissa menyerah tidak punya jawaban atas pertanyaan Indhira.
" Chrystal. Kamu masih ingat Chrystal, kan?"
" Chrystal? Chrystal murid SMA kita dulu? Chrystal mantannya Bagas?" Rissa terdengar terkejut saat Indhira mengatakan jika Chrystal adalah pemilik salon di tempat Indhira bekerja.
__ADS_1
" Iya, Ris." lirih Indhira.
" Ya ampun! Terus bagaimana, Ra? Apa dia memberitahu pegawai di sana soal kasus kamu dulu, Ra?" Seketika Rissa merasa khawatir jika sampai rahasia Indhira yang selama ini tersimpan rapih akan terungkap.
" Untuk hari pertama ini masih aman, Ris. Tapi aku tidak tahu ke depannya bagaimana!?" Indhira tidak tahu nasibnya di salon itu akan bagaimana, terutama jika Chrystal sampai bercerita soal video masa lalunya kepada pegawai salon.
" Sebaiknya kamu resign saja dari sana, Ra! Aku khawatir sama Chrystal, lho! Dia punya kartu truf kamu. Aku takut itu akan dia jadikan senjata untuk menekan kamu, Ra." Rissa yang sangat mengkhawatirkan Indhira meminta Indhira untuk keluar dari pekerjaan yang sedang Indhira jalani saat ini.
" Tapi, aku harus kerja di mana kalau aku keluar dari sana, Ris?" Indhira masih bingung harus bekerja di mana jika dia keluar dari salon. Karena dia sendiri masih belum yakin bisa bekerja di tempat lain dan berinteraksi dengan orang yang baru dia kenal.
" Kamu bisa cari pekerjaan yang baru, Ra. Kamu 'kan sudah berpengalaman bekerja. Punya ijasah diploma. Aku yakin kamu akan bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Atau, kamu kembali saja ke Jakarta dulu. Nanti kamu mencari pekerjaan di sini." Rissa justru menyarankan Indhira untuk kembali ke Jakarta.
" Nanti kamu tinggal di rumah orang tuaku lagi saja, Ra. Dua bulan lagi aku 'kan menikah, setelah itu aku akan ikut sama suami aku. Jadi kamu bisa menemani Mamaku dan Tante Sandra di sini, Ra." Rissa kembali mengajak Indhira pulang ke Jakarta dan menetap di rumah orang tuanya.
" Aku tidak enak selalu merepotkan keluarga kamu terus, Ris." Indhira merasa sudah terlalu sering merepotkan keluarga Rissa. Dia tidak enak selalu ditolong oleh keluarga Rissa sementara dia sendiri belum sempat membalasnya.
" Kamu ini, Ra! Kayak sama siapa saja! Nanti aku diskusikan soal ini sama Papa Mama aku, Ra. Kalau kamu kembali ke sini aku yakin mereka akan setuju. Kamu juga 'kan bisa bantu-bantu Mama menjaga Tante Sandra, Ra. Hehehe ..." Rissa terkekeh menyebutkan tujuan lain menyuruh Indhira kembali ke rumahnya.
" Ya sudah, Ris. Aku tidak keberatan kok, membantu menjaga Tante Sandra. Tapi kalau Papa Mama kamu keberatan aku tinggal di sana, kamu jangan paksa orang tua kamu ya, Ris!?" Indhira hapal sikap Rissa. Rissa pasti akan memaksa kedua orang tua Rissa, jika sampai menolak kehadiran dirinya di sana. Karena itu dia meminta Rissa untuk tidak melakukan hal tersebut kepada Papa dan Mama Rissa
" Beres, Ra. Tapi aku yakin Mama Papa pasti akan setuju." Rissa mencoba meyakinkan Indhira jika dia dapat mempengaruhi kedua orang tuanya.
" Chrystal yang bilang?" tanya Rissa.
" Iya." sahut Indhira
" Bagas masih tetap menjadi siswa di SMA kita. Tapi dia mengikuti pelajaran secara home schooling. Yang mengajar pun masih guru-guru SMA kita juga, kok! Kamu tahu sendiri lah, sekolah kita itu 'kan 'dikuasai' oleh keluarga Adibrata, jadi dia bebas mau melakukan apapun dengan sekolah kita." Rissa menjelaskan bagaimana nama besar Adibrata mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang berlaku di yayasan sekolah mereka saat SMA.
" Aku sengaja tidak memberitahukan hal ini karena aku pikir kamu 'kan sudah tidak ingin bersinggungan dengan Bagas lagi. Jadi. untuk apa kamu tahu kabar soal Bagas!?" Rissa menyebutkan alasan merahasiakan kabar soal Bagas kepada Indhira.
" Tidak apa-apa kok, Ris. Cuma tadi Chrystal bilang seperti itu, aku jadi penasaran saja," ucap Indhira. " Ya sudah, Ris. Aku tutup teleponnya dulu. Barangkali kamu mau istirahat." Indhira bermaksud mengakhiri panggilan teleponnya dengan Rissa.
" Oke, Ra. Nanti aku kabari ya soal keputusan Papa Mama aku. Yang penting kamu keluar dulu dari sana! Seandainya Chrystal akan membongkar masa lalu kamu setelah kamu keluar dari salon, itu sih terserah. Yang penting kamu sudah tidak ada di sana dan tidak bertemu dengan mereka lagi." Rissa kembali mengingatkan Indhira untuk segera resign dari salon bekas milik Tantenya dulu.
" Iya, Ris. Salam untuk keluarga kamu di Jakarta, ya!? Assalamualaikum ..." Indhira menyudahi sambungan teleponnya.
__ADS_1
" Waalaikumsalam ..." Suara Rissa masih sempat terdengar sebelum panggilan telpon Indhira benar-benar terputus.
Indhira menatap langit-langit kamarnya. Fakta yang dia dengar dari Chrystal jika Chrystal pun pernah melakukan hubungan in tim dengan Bagas terasa begitu menyakitkan hatinya. Hingga tanpa terasa air mata jatuh menetes hingga mengenai telinganya karena saat ini dia sedang dalam posisi berbaring.
Selama ini dia berusaha untuk melupakan kisahnya kelamnya bersama Bagas. Namun, kedatangan Chrystal dan pengakuan wanita itu jika pernah melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan bersama Bagas membuat usahanya untuk melupakan Bagas dan mengobati rasa sakitnya menjadi sia-sia karena luka lama itu terkuak kembali.
***
Tok tok tok
" Masuk ...!" Suara Chrystal terdengar dari dalam ruangannya mempersilahkan Indhira masuk ke dalam ruang kerjanya.
" Ada apa?" tanya Chrystal saat melihat Indhira masuk ke dalam ruangannya.
" Aku mau mengundurkan diri dari sini." Indhira menyampaikan niatnya seraya menyodorkan surat pengunduran dirinya dari salon itu.
Chrystal menatap surat yang disodorkan oleh Indhira, kemudian beralih menatap ke arah Indhira.
" Kamu ingin berhenti bekerja? Kenapa?" tanya Chrystal mengambil surat pengunduran diri Indhira lalu membacanya.
" Apa kamu tidak nyaman bekerja denganku? Atau kamu takut aku akan membongkar rahasia tentang video itu?"
Kalimat yang diucapkan Chrystal membuat Indhira menahan nafasnya. Dari kalimat itu dia menduga, apakah Chrystal bermaksud ingin menyebarkan soal kasus video masa lalunya itu kepada rekan-rekannya di salon? Pikiran buruk sudah langsung bermain di benak Indhira.
" Saya ingin kembali ke Jakarta karena saya diminta untuk membantu mengurus Tante Sandra, pemilik lama salon ini yang sedang sakit." Indhira menjelaskan alasannya ingin resign dari tempatnya bekerja sekarang.
" Mengurus orang sakit? Kamu sekolah sampai ikut paket C dan diploma hanya untuk mengurus orang sakit? Memangnya kamu mengambil kuliah jurusan ilmu keperawatan?" tanya Chrystal menyindir keputusan Indhira yang memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya sekarang demi mengurus orang sakit.
" Tanpa Tante Sandra, mungkin aku tidak akan seperti sekarang ini. Jadi tidak ada salahnya aku ikut membantu merawat beliau. Beliau lebih berharga dari pekerjaanku sekarang ini!" Dengan lantang Indhira menegaskan jika dia lebih memilih resign dan membantu orang yang sudah berjasa menolongnya dari keterpurukan, ketimbang pekerjaan yang sudah dia tekuni selama ini.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
.Happy Reading❤️