
Dengan bersungut-sungut Angel kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya. Dia merasa kesal dengan ulah suami yang menghabiskan makanan Indhira, padahal Indhira sedang ngidam ingin makan steak dari La Grande Caffee.
"Pa, bangun!" Angel menepuk lengan Adibrata yang masih tertidur.
"Bangun, Pa!" Angel kembali membangunkan suaminya.
"Ada apa, Ma?" Suara berat Adibrata terdengar parau.
"Papa kenapa menghabiskan makanan punya Indhira?" tanya Angel ketus dengan melipat tangan di depan dadanya.
"Oh itu ... itu karena semalam Papa lapar, Ma." Tanpa merasa bersalah Adibrata berkata jujur.
"Kalau memang lapar, kenapa tidak menyuruh Bibi saja masak makanan untuk Papa? Kenapa justru Papa makan steak punya Indhira?" Angel tidak dapat menerima alasan Adibrata.
"Habis aroma steak itu menggugah selera Papa, Ma. Papa tidak tahan untuk tidak memakannya," ungkap Adibrata.
"Papa tahu tidak, sih!? Menantu Papa itu sedang ngidam, calon cucu kita itu kepengen merasakan makan steak. Kenapa malah Papa memakannya? Apa Papa tidak sayang dengan calon cucu Papa itu?" geram Angel. Sepertinya kesalahan Adibrata sekecil apa pun, akan menjadi kesempatan untuk Angel memarahi suaminya itu. Sepertinya dendam di hati Angel belum luntur sepenuhnya dengan pengkhianatan Adibrata.
"Ma, kalau aku makan steak punya istri Bagas, bukan berarti aku tidak sayang dengan calon cucu kita." Adibrata menepis anggapan Angel yang mengatakan jika dirinya tidak menyanyangi calon cucunya.
"Kalau Papa memang sayang sama calon cucu kita, Papa harus belikan lagi steak yang Papa makan semalam!" Angel kini menyuruh Adibrata mengganti steak yang dimakannya.
"Ma, Papa sudah suruh Bibi beli steak seperti itu, kok!" Adibrata menolak disuruh Angel membeli steak, karena semalam dia sudah mengatur Bi Iyem untuk membuat steak untuk Indhira.
"Indhira menangis, dia tidak mau steak buatan Bi Iyem. Indhira ingin steak yang sama. Sekarang Papa harus beli steak itu, daripada cucu Papa nanti membenci Papa karena Papa mengambil makanannya." Angel sengaja menakuti Adibrata. Dia ingin suaminya itu bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.
"Ya sudah, nanti Papa suruh si Agus atau Zul untuk cari makanannya." Adibrata ingin meraih ponselnya dan mengatur supirnya untuk membeli makanan seperti yang dia makan semalam.
__ADS_1
"Yang makan itu Papa, bukan Agus atau Zul, jadi Papa yang harus cari makanannya!" Angel menolak Adibrata menyuruh supirnya.
"Astaga, Ma. Makanan itu tidak akan berubah, jika yang membeli aku, Agus atau Zul, kan?" Adibrata menganggap istrinya terlalu mengada-ngada.
"Papa itu mengerti orang ngidam tidak, sih? Kalau orang ngidam itu harus dituruti!" Angel bersikukuh ingin suaminya yang mencari makanan itu.
"Memangnya istri Bagas itu menyuruh Papa yang beli?" Adibrata tidak yakin jika itu adalah permintaan Indhira.
"Karena Papa yang makan, jadi Papa yang harus beli! Lagipula, memangnya Papa mau, cucu kita banyak liurnya karena keinginannya tidak Papa turuti? Papa mau, keturunan Adibrata Mahesa ...."
"Tidak, tidak! Papa tidak mau! Itu sangat memalukan sekali!" Dengan tegas Adibrata menolak jika calon cucunya nanti banyak mengeluarkan liur seperti mitos yang berlaku di masyarakat luas.
"Ya sudah, Papa pergi sekarang!" Adibrata bangkit dari tempat tidur lalu mengambil jubah kemudian memakainya dan berjalan ke luar dari kamar.
Angel tersenyum karena berhasil mengerjai suaminya dan meminta suaminya itu bertanggung jawab atas steak milik Indhira yang dimakan Adibrata.
"Tapi, Ma. Memangnya Papa harus beli di mana? Apa jam segini restorannya sudah buka?" Menyadari dirinya tidak tahu di mana Bagas memesan makanan itu, Adibrata kembali ke kamarnya untuk mencari tahu restoran yang menjual steak itu.
"Memangnya jam segini sudah buka, Ma? Apa restorannya buka dua puluh empat jam?" tanya Adibrata kembali.
"Mana Mama tahu, Papa cari tahu saja sendiri!" sahut Angel tak perduli.
"Kalau restorannya belum buka bagaimana, Ma?" Adibrata ragu restorannya itu buka dua puluh empat jam.
"Papa punya uang, punya anak buah. Suruh saja anak buah Papa mencari chef dari restoran itu. Papa bayar seratus kali lipat harga steak itu, pasti orangnya akan mau. Masa kayak gitu saja tidak bisa!? Bukannya selama ini Papa itu pintar memerintah orang sesuai dengan keinginan Papa? Masa untuk mendapatkan steak saja tidak bisa!" sindir Angel melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Menyadari istrinya itu sengaja mengerjainya, Adibrata mengikuti langkah istrinya itu sampai masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Papa mau apa?" Angel terkesiap saat Adibrata mendorong pintu kamar mandi yang akan ditutup oleh Angel.
"Menurut Mama, Papa ingin apa?" Adibrata lalu menutup pintu kamar mandi dan menguncinya setelah dia berhasil menyerobot masuk ke dalam kamar mandi.
"Papa jangan macam-macam, ya!" Angel terbelalak saat Adibrata melepas kembali jubah tidurnya, kemudian dia pun mulai melepas satu persatu pakaiannya sampai kini tak mengenakan kain yang menutupi tubuhnya yang masih nampak kekar dan berotot. Setelah itu, Adibrata pun berjalan menghampiri Angel yang berjalan mundur hingga tersudut di dinding kamar mandi.
***
Bagas memperhatikan Mamanya yang sejak tadi memberengut sejak duduk di kursi makan ketika mereka menyantap sarapan pagi bersama. Setelah itu tatapan matanya mengarah ke Adibrata yang terlihat beberapa kali tersenyum dengan melirik ke arah Angel. Bagas tidak tahu apa yang membuat Papa dan Mamanya itu bersikap seperti itu. Namun, dia menduga jika kedua orang tuanya itu baru saja berdebat dan hal itu tidak menguntungkan sang Mama.
"Ma, leher Mama kenapa? Kok' merah gitu?" Kartika yang duduk di samping Angel melihat tanda merah di leher dekat telinga Angel. Karena Kartika duduk dekat dengan Angel hingga tanda itu terlihat jelas oleh Kartika.
Angel seketika menutupi tanda merah itu dengan tangannya. Tanda yang merupakan jejak percintaan yang ditinggalkan oleh sang suami ternyata telihat juga oleh Kartika, padahal dia sudah menutupinya dengan kerah bajunya.
"Hayo, Papa sama Mama habis gituan, ya?" celetuk Kartika kemudian.
"Uhuukk ... uhuukk ..." Adibrata terbatuk saat mendengar celetukan Kartika.
Tak hanya Adibrata saja yang terkejut dengan ucapan iseng Kartika, Bagas dan Indhira pun sama terkejutnya. Pasangan suami istri itu saling melirik satu sama lain lalu menoleh ke arah Adibrata dan Angel yang seketika itu menjadi salah tingkah.
"Hei, anak kecil mikirnya jangan yang aneh-aneh!" Bagas menegur adiknya. Meskipun dia tahu jika apa yang dikatakan Kartika itu kemungkinan besar benar, namun hal itu tidak pantas dibahas oleh banyak orang apalagi Kartika masih terlalu muda untuk memahami masalah tersebut. Dia juga tidak ingin Papa dan Mamanya malu, karena ketahuan habis melepas rindu, setelah perselisihan yang terjadi karena perselingkuhan Adibrata.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️