
Suasana pesta pernikahan Evelyn dan Daffa sungguh sangat meriah. Tidak dapat diragukan lagi, karena orang tua kedua mempelai adalah konglomerat ternama, bahkan sampai ke mancanegara di bidang usaha masing-masing.
Aura kebahagiaan terpancar, bukan hanya dari wajah kedua mempelai saja. tapi juga dari keluarga mereka. Keluarga Nathael dan juga keluarga Dirgantara selalu mengembangkan senyuman saat menerima tamu-tamu yang hadir dan mengucapkan selamat atas pernikahan putra dan putri mereka.
Setelah sebelumnya Adibrata dan Helen memberikan ucapan selamat terlebih dahulu kepada mempelai, kini saat Bagas dan Indhira yang ingin mengucapkan selamat kepada Evelyn dan Daffa.
Bagas menuntun langkah Indhira menaiki anak tangga, karena kehamilan Indhira yang sudah semakin membesar, membuat gerak wanita cantik itu sedikit terhambat.
"Hati-hati melangkahnya, Yank!" Bagas menuntun Indhira yang kesulitan menaiki stage pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada Evelyn dan juga Daffa.
"Iya, Mas. Pegangin tanganku," sahut Indhira takut terjatuh.
Setelah berhasil membantu Indhira naik ke stage pelaminan, Bagas bersama Indhira mendekati orang tua Evelyn terlebih dahulu yang berada di ujung sebelah kiri.
"Apa kabar, Om. Selamat atas pernikahan Evelyn, ya, Om. Inilah yang aku inginkan. Evelyn akhirnya mendapatkan cinta sejatinya." Tangan Bagas berjabatan tangan dengan Nathael, yang masih terlihat canggung berhadapan dengan Bagas. Ini adalah pertemuan pertama Nathael dengan Bagas setelah Bagas memutuskan berpisah dari Evelyn hampir satu tahun lalu.
Meskipun Nathael sudah menerima keputusan Evelyn untuk mengakhiri pertunangannya dengan Bagas, namun sebagai seorang ayah, dia pasti merasakan kecewa anaknya seakan dipermainkan Bagas dengan diberi harapan palsu.
"Terima kasih," singkat jawaban yang diucapkan oleh Nathael. Sementara pandangan pria paruh baya itu kini mengarah pada Indhira yang ada samping Bagas.
Nathael menurunkan pandangan menatap perut buncit Indhira. Dia menduga jika wanita yang dibawa oleh Bagas adalah mantan kekasih Bagas yang membuat Bagas memutuskan pertunangan dengan Evelyn.
"Selamat, Pak." Indhira berjabatan tangan dengan Nathael dengan sedikit grogi karena ditatap dengan tatapan aneh oleh Nathael. Dia bahkan sampai berburuk sangka, jika Nathael membenci dirinya, karena dirinya lah yang membuat Bagas dan Evelyn berpisah.
Nathael tidak menjawab dengan perkataan ucapkan selamat dari Indhira. Hanya anggukan kepala, sementara matanya masih menatap tajam Indhira.
"Tante, selamat, ya. Aku turut bahagia untuk Evelyn." Kali ini Bagas mengucapkan selamat kepada Merry.
"Bagas? Terima kasih, Bagas." Tak beda jauh dengan suaminya, kehadiran Indhira pun menjadi perhatian Mommy dari Evelyn itu.
"Ini istri kamu, Bagas?" Namun, berbeda dengan Nathael, Merry justru bertanya kepada Bagas.
"Benar, Tante. Ini Indhira, istriku." Gagah memperkenalkan Indhira kepada Merry.
"Indhira, Tante." Indhira bersalaman dengan Merry.
"Tante pernah dengar sedikit cerita tentang kamu dari Eva." Merry bersikap lebih ramah pada Indhira, membuat Indhira tersipu malu.
Selanjutnya Bagas lalu menggandeng Indhira untuk bersalaman dengan Daffa dan Evelyn.
"Happy wedding, Daffa. Jaga Evelyn baik-baik. Dia sudah seperti adik bagiku." Bagas melirik ke arah Evelyn yang tersenyum dengan pancaran wajah bahagia. Tak ada lagi wajah sendu pada wanita cantik itu.
"Thanks, Bagas. Sudah pasti aku akan membahagiakan, menjaga dan melindungi dia." Daffa melingkarkan tangannya di pinggang ramping Evelyn.
__ADS_1
"Selamat menempuh hidup baru." Indhira baru mengetahui jika Daffa adalah salah seorang kerabat keluarga Azkia setelah membaca nama Dirgantara di kartu undangan yang dikirimkan Evelyn.
"Terima kasih," sahut Daffa.
Sementara sang istri mengucapkan selamat kepada Daffa, Bagas menghampiri Evelyn.
"Happy wedding, Evelyn. Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaamu, Evelyn." Rasa lega kini dirasakan Bagas, karena Evelyn pun sudah mendapatkan jodohnya.
"Thanks, Bagas." sahut Evelyn tak dapat menutupi rasa bahagianya.
"Apa aku boleh memeluknya sebentar?" Bagas meminta ijin kepada Daffa untuk memberikan pelukan kebahagiaan kepada Evelyn.
"Silahkan ..." Daffa mempersilahkan. Meskipun Daffa telah tahu jika Bagas adalah pria yang pernah dicintai oleh Evelyn. Namun, tak ada rasa cemburu sedikit pun di hati Daffa.
"Sayang, apa aku boleh memeluk Evelyn sebentar?" Tak lupa Bagas pun meminta ijin kepada Indhira.
"Iya, Mas." Indhira pun mengabulkan permintaan suaminya.
Setelah mendapatkan ijin dari Indhira dan Daffa, Bagas lalu memberikan pelukan kepada Evelyn , pelukan seorang sahabat, pelukan seorang kakak kepada adiknya.
"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga, Evelyn. Semoga kalian berdua langgeng, dan pernikahan kalian berdua penuh berkah," ucap Bagas mendoakan.
"Aamiin, thanks, Bagas." jawab Evelyn lalu mengurai pelukan dengan Bagas. Meskipun sudah diijinkan oleh pasangan masing-masing, Evelyn tetap harus menjaga perasaan mereka.
"Thanks, Indhira. Wah, perut kamu sudah besar. Kapan perkiraan melahirkan?" Evelyn mengusap perut Indhira yang sudah mulai turun, karena waktu persalinan sudah semakin dekat.
"Rencananya Minggu-minggu ini, Mbak." jawab Indhira.
"Semoga aku juga cepat isi seperti kamu." Evelyn pun berharap agar cepat diberikan momongan.
"Aamiin, Mbak. Semoga secepatnya diberikan momongan." Indhira ikut mendoakan agar harapan Evelyn cepat terkabul.
Setelah bersalaman dengan mempelai dan kedua orang tua mempelai, Bagas dan Indhira pun turun dari stage pelaminan karena masih banyak tamu yang ingin memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin yang berbahagia itu.
"Hai, Ra."
Terdengar suara seseorang menyapa Indhira. Suara wanita yang sangat familiar di telinga Indhira, membuat Indhira menolehkan pandangan ke arah suara tadi.
"Bu Kia?" Indhira senang bisa bertemu dengan mantan bosnya itu. Salah seorang yang sangat berjasa membantunya selama ini
"Ya ampun, Ra. Perut kamu sudah besar gini, kenapa maksa datang, sih?" Setelah berpelukan, Azkia mengusap perut Indhira yang membesar itu.
"Tidak enak kalau saya tidak datang, Bu." Indhira tersipu malu.
__ADS_1
"Pak Raffa mana, Bu?" Sementara Bagas menanyakan keberadaan suami dari Azkia. Sama seperti Indhira, Bagas pun menganggap Azkia dan Raffasya banyak membantu dalam usahanya mendapatkan Indhira kembali.
"Tuh, sama anak-anak." Azkia menunjuk ke arah Raffasya yang terlihat sibuk dengan ketiga anaknya, di sudut kiri ruangan.
"Dedek bayinya tidak diajak, Bu?" tanya Indhira karena tidak melihat Azkia ataupun Raffasya menggendong anak bungsu mereka.
"Si kecil dititip sama Omanya, Ra. Tiga orang saja sudah buat suamiku kerepotan." Azkia menyeringai melirik ke arah suami tercintanya yang sedang meladeni ketiga putra-putri mereka.
"Beruntung Pak Raffa sabar orangnya, Bu." Indhira mengenal Raffasya sebagai sosok yang sangat bijaksana dan terlihat sabar menghadapi anak-anak.
"Iya, Ra. Beruntung aku dapat suaminya seperti dia." Azkia menatap suaminya dengan penuh cinta.
"Oh ya, kapan kamu akan melahirkan?" tanya Azkia kemudian.
"Menurut prediksi Minggu ini. Doakan semoga lancar, ya, Bu." Indhira minta didoakan agar ia lancar dalam menjalani persalinan nanti.
"Aamiin, pasti aku doakan semoga persalinan kamu lancar, sehat Mama dan juga dedek bayinya," sahut Indhira.
"Aamiin, terima kasih, Bu." Indhira dan Bagas menjawab bersamaan.
"Silahkan kalian menikmati sajian makanannya." Setelah mempersilahkan Bagas dan Indhira menikmati jamuan makanan yang sudah tersedia, Azkia meninggalkan Bagas dan Indhira.
Sepuluh menit kemudian, saat sedang menikmati makanan, tiba-tiba saja Indhira merasakan perutnya sakit dan melilit, bahkan keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.
Indhira mencengkram lengan suaminya, karena dia merasakan sakit itu terasa berulang-ulang dengan durasi yang sangat cepat.
"Mas ..." lirih Indhira menahan rasa sakit.
"Kenapa kamu, Yank?" Bagas melihat wajah Indhira tampak memucat.
"Perut aku, Mas." ucap Indhira dengan menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang terus menyerangnya.
"Kamu mau lahiran, Yank?" Suara Bagas yang memekik kaget membuat Adibrata dan Angel ikut terperanjat dan menolehkan pandangan ke arah Bagas dan Indhira.
*
*
*
Bersambung ...
Maaf kalo agak telat up, Rencananya satu atau dua bab lagi novel ini akan Tamat. Terima kasih yg sudah mengikuti dan setia menunggu dengan penuh kesabaran🙏🙏
__ADS_1
Happy Reading