
Mata Bagas yang tadinya hanya terbuka setengah kini terbuka lebar saat mendapati tiga orang yang sudah berdiri di hadapan. Salah satu dari tiga orang itu tentu dia kenal, karena baru kemarin dia temui. Dia adalah ketua RT di kampung tempat dia mengontrak rumah. Bagas sempat menemui Pak RT, karena dia akan tinggal mengontrak di daerah itu walaupun tidak lama. Dia tetap harus melapor sesuai prosedur agar dia aman tinggal di daerah itu. Sementara dua orang lainnya yang ada di belakang Pak RT tidak dia kenal siapa mereka itu.
" Selamat malam, Mas. Maaf kalau kami mengganggu. Kami mendapatkan laporan dari warga, kalau ada tamu yang menginap di rumah kontrakan Mas ini. Apa itu benar?" Pak RT menanyakan apa yang dilapotkan oleh warganya.
" Tadi ada pria mencurigakan datang masuk ke dalam rumah ini dan tidak keluar lagi." Salah seorang yang mendampingi Pak RT ikut bersuara, menyebut tamu yang tak lain adalah Benny yang menginap di rumah kontrakannya.
" Jaman sekarang itu yang ganteng dan badannya sterek tidak suka sama perempuan. Siapa tahu, Mas ini kontrak di sini ada maksud tertentu, bawa menginap teman laki-laki." Satu orang lagi justru menuduh hal negatif terhadap Bagas.
Tuduhan yang dilancarkan orang tadi kepadanya sontak membuat Bagas terbelalak. Dia tidak menyangka akan dituduh melakukan hal konyol yang tidak mungkin dia lakukan sebagai pria normal.
" Maaf, Mas. Kami hanya berjaga-jaga agar tidak ada hal menyimpang terjadi di kampung ini." Kalimat yang diucapkan oleh Pak RT lebih sopan dibandingkan dengan dua orang yang bersamanya.
" Oh, tidak apa-apa, Pak. Memang benar ada teman saya tadi datang ke sini. Itu orangnya sedang tidur, Pak." Bagas menunjuk ke arah Benny yang sedang tertidur telungkup di atas karpet.
" Dia kawan saya dari Surabaya. Dia memang saya suruh datang kemari sebagai saksi untuk pernikahan saya besok, Pak. Kalau Bapak kurang yakin, besok Bapak bisa ikut kami menghadiri akad nikah saya di KUA." Bagas harus jujur mengatakan hal yang sebenarnya, agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi.
" Oh, seperti itu ya, Mas?" Pak RT menganggukkan kepalanya sebagai tanda bisa menerima alasan yang dikatakan oleh Bagas, sementara dua orang yang bersamanya kini saling pandang seakan saling berkomunikasi lewat gerakan matanya.
" Alhamdulillah, saya ini masih laki-laki normal, Bapak-bapak. Dan saya masih suka dengan wanita, bukan penyuka sesama jenis." Kalimat Bagas seakan menepis anggapan dua orang yang berburuk sangka terhadap dirinya.
" Maaf kalau saya tidak melaporkan kehadiran teman saya itu, Pak RT. Karena sudah malam, saya tidak enak mengganggu Bapak, dan dia besok juga sudah langsung kembali ke Surabaya." Bagas menjelaskan kenapa dia tidak sempat melaporkan kedatangan tamu di kontrakannya.
" Oh ya sudah, kalau begitu kami pamit dulu, Mas. Maaf kalau kami mengganggu waktu istirahat Mas nya." Pak RT berpamitan dan menyampaikan permohonan maafnya karena merasa sudah mengganggu waktu istirahat Bagas.
" Tidak apa-apa, Pak. Saya juga minta maaf karena tidak sempat memberi kabar tentang kedatangan kawan saya ini," sahut Bagas.
Setelah Pak RT dan kedua orang yang bersama Pak RT pergi dari hadapannya, Bagas pun segera menutup pintu rumah kontrakannya kembali, untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.
Bagas kemudian mencoba mengistirahatkan kembali tubuhnya karena besok dia akan melewati momen besar dalam hidupnya. Dia tidak ingin telat bangun. Bagas juga ingin terlihat fresh di hari bahagianya itu.
***
Indhira terlihat cantik dengan balutan kebaya berwarna broken white. Dirinya saat ini sudah keluar dari kamar tamu dan sedang menunggu kedatangan Bagas yang sedang dijemput oleh supir Lusiana sebelum mereka berdua berangkat ke KUA pagi ini.
Raffasya, Azkia, berserta Fariz dan Lusiana akan mengantar Indhira ke KUA. Untuk saksi nikah, Bagas menunjuk Benny saksi dari pihaknya, sedangkan dari pihak Indhira diwakili oleh Pak Edwin.
" Kamu jangan grogi, Ra! Santai saja." Melihat Indhira meremas jemarinya, Azkia menasehati Indhira untuk jangan khawatir. Dia mengerti jika saat ini Indhira sedang merasakan grogi karena akan menghadapi hari pernikahan.
" Ah, iya, Bu." Indhira tersipu malu karena terlihat oleh bosnya saat ini sedang gelisah.
" Bagas sudah sampai mana, Pa? Coba hubungi, deh! Nih, calon istrinya sudah tidak sabar menanti kedatangannya." Azkia sengaja menggoda Indhira, hingga membuat wanita itu tersipu malu dengan menurunkan pandangannya.
" Baru masuk gerbang komplek. Kita siap-siap berangkat sekarang! Aku mau panggil Papa sama Mama." Raffasya meminta istrinya segera membantu Indhira berjalan ke mobil jika Bagas tiba nanti.
" Iya, Pa." sahut Azkia.
Tidak sampai lima menit kemudian, Bagas sudah tiba di rumah Lusiana. Semua yang ada di sana bernafas lega karena Bagas sampai dengan selamat di rumah Lusiana.
Sebenarnya ada kecemasan di hati Indhira dan keluarga Raffasya. Mereka khawatir Adibrata akan melancarkan aksinya di hati H ini.
" Assalamualaikum ..." Bagas menyapa orang-orang yang berada di ruang tamu rumah Lusiana.
" Waalaikumsalam ..." jawab Indhira dan keluarga Raffasya.
Saat melihat sosok Indhira, Bagas dibuat terpesona dengan penampilan Indhira yang terlihat cantik dan anggun bagaikan putri keraton. Meskipun sebelumnya dia pernah melihat Indhira mengenakan kebaya itu saat fitting kemarin, namun hari ini terlihat beda. Aura yang terpancar dari wanita cantik itu benar-benar membuatnya terpukau.
" Apa kamu ingin melewatkan pergi ke KUA hanya untuk memandang Indhira, Bagas?" Suara Raffasya membuat Bagas yang sedang tertegun terperanjat.
" Oh, maaf, Pak." Bagas salah tingkah mendegar sindiran Raffasya yang mengetahui dirinya sedang terpukau akan kecantikan Indhira.
__ADS_1
" Ini Benny teman saya, Pak, Bu. Dia akan jadi saksi nantinya." Bagas lalu memperkenalkan Benny yang datang dengannya.l dan akan menjadi saksinya. Setidaknya ada sahabatnya yang menyaksikan hari bahagianya bersama Indhira.
" Benny ..." Benny menyalami satu persatu keluarga Raffasya, hingga kini dia berhadapan dengan Indhira. " Hai, Ra. Apa kabar?" sapa Benny.
" Alhamdulillah baik, Ben." sahut Indhira tertunduk malu.
" Silahkan duduk atau mau langsung berangkat saja?" Setelah Benny selesai bersalaman, Raffasya bertanya kepada Bagas, akan berbincang-bincang dulu atau langsung menuju ke KUA saat ini juga.
" Kita berangkat sekarang saja, Pak Raffa." Bagas ingin secepatnya sampai di KUA dan sah menjadi sepasang suami istri dengan Indhira.
" Isshh, tidak sabar sekali kepingin kawin kamu, Bagas!?" Kali ini giliran Azkia yang menyindir Bagas yang ingin buru-buru ke KUA.
Apa yang dikatakan Azkia membuat Bagas menyeringai dan mengusap tengkuknya. Sedangkan Indhira tertunduk malu seperti biasanya.
" Ya sudah, kita berangkat sekarang saja." Raffasya pun akhirnya menyarankan untuk berangkat menuju KUA secepatnya.
" Ayo." Azkia langung menuntun Indhira menuju mobil, karena mereka harus bergegas ke KUA, diikuti oleh Lusiana yang melingkarkan tangannya di lengan Fariz.
***
Bagas bersama Indhira dan Benny menggunakan mobil yang dikendarai oleh supir Lusiana yang tadi menjemput Bagas. Sementara Lusiana dan Fariz berbeda mobil dengan Raffasya dan Azkia, karena Fariz akan segera ke kantornya setelah akad nikah di KUA, selesai, begitu juga dengan Raffasya. Sedangkan Azkia dan Lusiana akan langsung ke rumah orang tua Rissa, guna mengadakan syukuran di sana.
" Aku benar-benar tidak menyangka dan tidak sampai terpikirkan kalau kalian akhirnya akan menikah seperti ini, Gas, Ra." Benny yang duduk di kursi depan menyampaikan keterkejutannya kedua teman SMA yang ketika sekolah dulu terlibat kasus yang cukup memalukan akhirnya menikah. Mengingat mereka berdua dipisahkan karena status ekonomi dan hampir mustahil bisa bersatu karena Indhira yang bersembunyi entah di mana.
" Kalau memang sudah jodoh, memang susah untuk ditentang, Mas." Pak Andi, supir dari Lusiana ikut berkomentar menanggapi perkataan Benny tadi.
" Nah, tuh, sudah dijawab sama Pak Andi." Dengan terkekeh, Bagas merespon perkataan sahabatnya itu.
" Iya sih, Pak. Cuma seperti mukjizat rasanya.. Indhira itu menghilang seperti di telan bumi, Pak. Bertahun-tahun dicari-cari tidak juga terdeteksi keberadaannya. Sedang Bagas kuliah di Amerika. Sudah hampir pasti mustahil bisa bersama, eh ... tiba-tiba sekarang ingin menikah saja." Benny menyebutkan alasannya dia sulit untuk mempercayai ending kisah cinta Bagas dan Indhira yang berliku kini akan berakhir di pelaminan.
" Ya itu yang namanya jodoh, Mas. Biarpun terpisah jauh, kalau Tuhan sudah memastikan itu adalah jodohnya, bagaimanapun jalannya pasti akan bisa bersatu." Pak Andi memberi penjelasan kepada Benny yang masih sulit percaya.
" Sudahlah, Ben. Jangan terlalu dipikirkan. Kami saja santai, kok." Bagas menyuruh Benny untuk tidak terlalu pusing dengan urusannya.
Sementara Bagas, Benny dan Pak Andi terlibat percakapan, Indhira hanya terdiam mendengarkan. Indhira pun sepemikiran dengan Benny. Mungkin Benny mewakili apa yang ada di hatinya. Dia juga tidak memercayai jika dirinya akan bersatu dengan Bagas.
" Ngomong-ngomong selama ini kamu sembunyi di mana, sih, Ra? Aku sampai susah mendeteksi keberadaanmu." Benny penasaran di mana Indhira selama sembilan tahu ini.
" Kau ini, Ben! Aku suruh kamu mencari Indhira tapi tidak ketemu, padahal Indhira itu ada di rumah Rissa." Bagas menyebutkan keberadaan Indhira agar Benny merasa bersalah tidak peka dengan keberadaan Indhira kala itu
" Hahh? Serius, Ra?" Benny terperanjat sampai dirinya menolehkan wajahnya ke arah Indhira. Dan pertanyaan Benny itu dibalas dengan anggukkan kepalanya.
" Waktu aku suruh kamu mengawasi Rissa dan kamu memberi foto Rissa dengan Mamanya, sebenarnya itu hanya untuk mengelabuhi kamu karena sebenarnya Indhira ada di dalam rumah Rissa.
Benny terbelalak saat menyadari gerak-geriknya terpantau oleh Rissa hingga mereka bisa mengerjainya.
" Ya ampun, berarti saat aku mengawasi Rissa, semua aksiku itu diketahui oleh Rissa?" tanya Benny kembali.
" Iya," sahut Indhira pelan.
" Ya ampun." Benny mene puk jidatnya sendiri karena telah tertipu dengan rencana Rissa yang membuatnya pergi karena menduga jika Indhira tidak ada di rumah Rissa.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mereka pun sampai di kantor KUA. Keluarga Rissa sudah sampai lebih dahulu ke Kantor Urusan Agama itu.
Setelah semua berkumpul, penghulu pun siap memandu Bagas untuk pengucapan ijab qobul. Dikarenakan Indhira sudah tidak mempunyai Papa dan juga keluarga dari keturunan Papanya, maka untuk wali nikah Indhira diserahkan kepada wali hakim. Penghulu yang akan menikahkan Indhira menangkap sebagai wali hakim untuk Indhira karena Indhira sudah tidak mempunyai wali nasab yang berwenang menikahkan Indhira.
Setelah berbagai prosesi dilewati, kpini saatnya pembacaan ijab qobul antara penghulu sebagai wali hakim dengan Bagas, sang mempelai pria.
" Saudara Bagaspati Mahesa bin Adibrata Mahesa, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Ananda Indhira Kusumaningrum binti Hasbi Abdullah dengan maskawin logam mulia sebesar sepuluh gram dan uang tunai sebesar dua juta rupiah dibayar tunai." Pak penghulu mengucapkan kalimat ijab yang dengan segera dijawab dengan Bagas untuk menyempurnakan ijab qobul untuk mengesahkan pernikahan Bagas dan Indhira.
__ADS_1
" Saya terima nikah dan kawinnya Indhira Kusumaningrum binti Hasbi Abdullah dengan maskawin tersebut tunai." Bagas mengucapkan kalimat qobul dengan lancar dan mantap.
" Sah?" tanya Penghulu kepada saksi dan tamu yang datang menyaksikan ijab qobul.
" Sah ...!" Para saksi menjawab serempak dengan lantang.
" Alhamdulillah ..." Tarikan nafas lega dirasakan tidak hanya oleh kedua mempelai, tapi juga oleh para saksi dan tamu yang mengiringi mereka.
Setelah segala prosesi selesai, termasuk penandatanganan buku nikah dan juga penyerahan ijab qobul kini saatnya mereka saling menyematkan cincin di jari pasangan.
Bagas dan Indhira saling berpandangan dengan senyum terkulum di bibir masing-masing. Bagas kemudian mengambil tangan kiri Indhira lalu menyematkan cincin kawin di jari manis Indhira. Setelah itu Indhira pun bergantian menyematkan cincin di jari Bagas. Dan profesi akad nikah itu ditutup dengan satu kecupan Bagas di kening Indhira.
" Bagas, Indhira, selamat atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian SaMaWa." Ibu Lidya, Om Edwin, Rissa dan suaminya, Raffasya dan Azkia juga Lusiana dan Fariz, semua orang yang mengantar Bagas dan Indhira satu persatu memberikan ucapan selamat atas pernikahan Bagas dan Indhira.
" Aamiin, terima kasih untuk semua yang sudah membantu kami hingga pernihanan kami berjalan lancar." Bagas pun mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah dibantu orang-orang naik sehingga dia dapat menyelenggarakan acara akad nikahnya bersama Indhira tanpa dihadiri oleh pihak dari keluarga Bagas dan Indhira.
" Kita langsung ke rumah Tante sekarang saja, yuk!?" Ibu Lidya mengajak mempelai dan semua tamu yang mengantar untuk langsung ke rumahnya.
Setelah urusan di kantor KUA selesai, Bagas, Indhira, Benny beserta keluarga Rissa, juga Azkia dan Lusiana meluncur ke rumah kediaman orang tua Rissa untuk mengadakan syukuran bersama tetangga sekitar rumah Pak Edwin dan Ibu Lidya. Sementara Fariz dan Raffasya pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.
Sementara itu di kantor Adibrata Mahesa
Adibrata nampak kesal melihat video yang dikirimkan oleh anak buah Hamid yang memantau acara akad nikah Bagas dengan Indhira di KUA. Dia gagal untuk menghalangi pernikahan Bagas dengan Indhira karena faktor orang kuat yang melindungi Indhira terutama Gavin. Dan Adibrata hanya bisa terdiam karena pernikahan Bagas dengan Indhira benar-benar terlaksana.
" Biarlah Papa kalah untuk saat ini, tapi Papa yakin suatu saat kamu pasti akan meninggalkan wanita itu dan kembali ke rumah Papa, Bagas." Adibrata tetap tidak ikhlas menerima Indhira sebagai menantunya.
***
Selepas Maghrib, Bagas dan Indhira sampai di hotel milik Gavin. Mereka sudah disiapkan kamar pengantin di salah satu hotel milik Gavin.
" Happy honeymoon, Baby." Bagas langsung mengangkat tubuh Indhira dan membawa tubuh sang kekasih berputar setelah petugas hotel meninggalkan mereka berdua.
" Ya ampun, Bagas! Nanti jatuh!" Indhira memekik karena kaget dengan tindakan Bagas saat ini.
" Aku memang akan menjatuhkan kamu, Ra. Menjatuhkan kamu di atas tempat tidur." Bagas kemudian menghempaskan tubuh Indhira di atas tempat tidur, kemudian mengungkung tubuh sang istri.
" Bagas, nanti!" Indhira langsung menolak Bagas karena dia yakin sang suami akan meminta jatah darinya.
" Kenapa nanti?" protes Bagas.
" Tunggu habis Isya saja, Bagas." Indhira menawar waktu untuk melakukan hubungan in tim, menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri terhadap suaminya.
" Mulai sekarang jangan panggil aku dengan panggilan nama saja!" Bagas menarik hidung Indhira .
" Aku ini suami kamu sekarang. jadi kamu harus lebih sopan kalau panggil sama suami." Bagas melarang Indhira menyebut namanya saja.
" Aku harus panggil apa? Mas?" Hanya sebutan itu yang terlintas di benaknya.
" Ya boleh, panggil aku seperti itu saja." Bagas membelai wajah Indhira, sementara matanya saling bertatap dengan Indhira dengan senyum kembali terkulum di bibir mereka. Tak lama bibir Bagas menyentuh bibir Indhira. Walau masih malu dan canggung, namun Indhira berusaha untuk membalas apa yang dilakukan sang suami.
Saat ini mereka berdua sudah menjadi sepasang suami istri. Sudah tidak ada larangan untuk saling bersentuhan. Sudah tidak dosa jika Indhira menikmati sentuhan yang dia terima dari suaminya itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy ready,❤️