
Indhira menaruh ponselnya kembali ke dalam tas, saat Azkia memanggilnya. Dia sampai terburu-buru mematikan sambungan telepon dengan Bagas karena takut ketahuan Azkia, sedang menelepon di waktu kerja. Tapi, setidaknya dia bersyukur, dengan Azkia memanggilnya tadi, dia terselamatkan dari rasa grogi saat Bagas menyebut soal kata honeymoon.
Membayangkan saja, rasanya Indhira tidak pernah. Indhira tidak pernah berpikir sejauh itu. Baginya, bisa menemukan pendamping hidup yang dapat menerima aibnya di masa lalu saja dia sudah bersyukur. Tapi, apa benar Bagas pergi ke New York hanya untuk mensurvey tempat untuk honeymoon? Ah, rasanya tidak mungkin. Itu pasti hanya akal-akalan Bagas saja yang senang menggodanya.
" Kamu sedang telepon tadi, Ra?" tanya Azkia ketika mereka sudah berada di dalam mobil menuju Alexa Boutique.
" I-iya, Bu." sahut Indhira malu.
" Hmmm, kalau sedang jatuh cinta, lupa waktu, ya!? Waktu kerja saja sempat-sempatnya telepon-telepon dulu." Azkia menyindir.
Sindiran Azkia membuat Indhira semakin tidak enak hati. Dia merasa jika dia terlalu sering berbuat kesalahan di tempat barunya bekerja itu. Pertama, ketika dia telat datang karena pergi dengan Bagas sampai siang. Kini, dia menelepon urusan pribadi di waktu kerja.
" Maaf, Bu." Indhira meminta maaf kepada Azkia.
" Tidak apa-apa, Ra. Santai saja ... aku juga dulu pernah seperti kamu, kok! Bahkan lebih parah. Lagi di kampus malah membayangkan begituan sama pacar aku." Azkia terkikik geli membayangkan kebandelannya dulu saat masih muda. " Untung saja waktu itu, Papa aku sendiri yang mengajar, walaupun tetap kena hukuman juga, disuruh keluar lekas." Azkia menceritakan sedikit masa lalunya.
" Mungkin karena Ibu terlalu cinta sama Pak Raffa." Indhira mengomentari.
Azkia menoleh mendengar ucapan Indhira dengan senyum tipis di bibirnya.
" Pacar aku dulu bukan suamiku yang sekarang, Ra. Aku pernah cerita, kan? Kalau aku menikah dengan suamiku itu karena terpaksa?"
" Oh iya, maaf, Bu." Indhira kembali meminta maaf, karena kali ini dia salah menduga.
" Dulu saat kejadian dengan Papanya Naufal, aku punya pacar. Kami putus karena aku harus menikah dengan Papanya Naufal."
Indhira menoleh ke arah Azkia, walau sedang bercerita tentang mantan kekasihnya, namun tidak terlihat kekecewaan atau rasa bersalah di wajah Azkia.
" Kamu tahu tidak, Ra? Kalau mantan pacar aku dulu akhirnya menikah sama adik perempuan suamiku." Azkia tertawa kecil mengakhiri kalimatnya.
" Hahh?" Indhira sampai terperanjat mendengar cerita Azkia. Dia pikir kisah seperti itu hanya ada di cerita film atau novel saja. Tapi, ternyata ada juga di kehidupan nyata.
" Mantan pacar Ibu jadi iparan sama Ibu sekarang?" tanya Indhira masih tidak percaya.
" Iya, hebat, kan?" Azkia berseloroh dan terus tertawa.
" Lalu, hubungan Ibu dengan mantan kekasih ibu itu dan adiknya Pak Raffa bagaimana?" Indhira jadi penasaran terhadap lika-liku kisah percintaan bosnya itu.
" Kami baik-baik saja, Sih! Kami sudah sama-sama dewasa dan sudah saling menerima. Setiap orang itu 'kan punya masa lalu. Dan masa lalu itu jangan dijadikan masalah untuk menghadapi kehidupan kita ke depannya." Secara tidak langsung, Azkia memberi nasehat secara terselubung kepada Indhira, agar Indhira tidak terus mengingat kisah masa lalu yang buruk yang pernah dialami oleh Indhira.
***
Pukul 00:35 menit, Bagas sampai di rumahnya setelah melakukan perjalanan udara puluhan jam. Tentu saja rasa lelah terasa menggelayuti tubuhnya saat ini.
Setelah mencuci wajah dan mengganti pakaiannya, Bagas mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar terasa penat.
Keesokan harinya, Bagas terbangun pu kul lima pagi. Dia sengaja menyetel alarm jam lima karena dia ingin menghubungi Indhira. Dia tidak sabar untuk berkomunikasi dengan Indhira kembali. Bahkan dia menampikkan rasa lelah tubuhnya dengan rela bangun pagi.
Bagas langsung menyambar ponsel yang dia letakkan di atas nakas. Dia kemudian mencari nomer Indhira dan segera menghubunginya.
" Halo, kamu sudah bangun, Ra?" sapa Bagas dengan suara paraunya karena baru terbangun, saat panggilan teleponnya terangkat oleh Indhira.
" Assalamualaikum ..." Indhira membalas sapaan Bagas dengan mengucapkan salam. Dia mengingatkan kekasihnya itu untuk tidak lupa mengucapkan salam setiap mengawali komunikasi.
" Oh, iya. Waalaikumsalam ..." Bagas terkekeh,
karena terlupa mengucap salam. Padahal Indhira sudah mengingatkan dirinya.
" Ada apa kamu telepon pagi-pagi sekali, Bagas? Kamu masih di Amerika?" Indhira heran karena Bagas menghubungi dirinya pagi-pagi sekali.
" Aku sudah ada di rumah sekarang, Ra. Dini hari tadi baru sampai, capek sekali rasanya." Bagas mengeliat merenggangkan otot-ototnya.
" Tapi, karena aku kangen kamu, aku rela bangun pagi, Ra." lanjutnya dengan tertawa kecil.
" Bangun pagi karena ingin telepon aku?" tanya Indhira.
" Iya, dong! Aku 'kan sayang kamu, rindu kamu, cinta kamu ..." Bagas mengucapkan kalimat yang dianggap Indhira terlalu berlebihan.
" Seharusnya kamu itu bangun pagi karena punya kewajiban sholat yang harus kamu kerjakan, Bagas! Bukannya karena ingin menelponku!" tegur Indhira. Dia memprotes Bagas, karena tidak mementingkan ibadahnya.
__ADS_1
" Hehehe, aku lupa, Ra." sahut Bagas tanpa rasa bersalah.
" Ya sudah, sekarang kamu sholat dulu." Indhira meminta Bagas melakukan kewajibannya terlebih dahulu karena saat ini sudah melewati pu kul lima pagi.
" Nanti saja kalau aku selesai telepon kamu, Ra." Bagas menunda ibadah, dan mengatakan akan melakukan sholat setelah dia selesai berkomunikasi.
" Kalau begitu, aku tutup teleponnya sekarang saja!" Indhira mengancam akan mengakhiri panggilan teleponnya, karena Bagas tidak segera melaksanakan kewajiban ibadah dua rakaatnya.
" Kok, ditutup sekarang, Ra? Aku 'kan baru telepon," keluh Bagas, memprotes sikap Indhira yang ingin mengakhiri percakapan telepon mereka.
" Karena kamu lebih mementingkan aku daripada ibadah kamu, Bagas! Aku tidak suka itu! Kalau kamu ingin menikah denganku, kamu harus menjadi imam yang baik untuk aku!" Kalimat bernada tegas diucapkan oleh Indhira. Dia tidak ingin Bagas terus terlena dengan urusan dunianya tanpa mengingat ibadah yang wajib dilakukan pria itu.
Bagas tersenyum mendengar Indhira menyinggung soal pernikahan. Dia senang akhirnya Indhira terlihat antusias dengan rencana pernikahan mereka.
" Iya, iya, iya, Indhira Sayang. Aku sholat dulu sekarang. Tapi, kalau sudah selesai kita sambung lagi, ya!?" Bagas meminta agar sambungan teleponnya dilanjutkan setelah dia melakukan sholat Shubuh.
" Aku harus membantu Tante Lidya dan Tante Sandra, Bagas. Aku menumpang di rumah mereka, aku tidak bisa berdiam diri, telepon-teleponan sama kamu, Sementara Tante Lidya sibuk di dapur. Kamu harus mengerti keadaan aku. Mereka sudah banyak berjasa menolong aku selama ini, tidak mungkin aku berpangku tangan segitu saja." Indhira meminta Bagas untuk mengerti kesibukkan aktivitasnya di pagi hari.
" Yah sudah, kalau begitu, nanti istirahat, aku jemput kamu makan siang, ya!?" Terlalu banyak permintaan yang diajukan Bagas. Berpisah cukup lama dengan Indhira, membuat Bagas ingin selalu berdekatan dengan kekasihnya itu.
" Sudah sholat dulu sana!! Assalamualaikum ..." Indhira berniat mengakhiri percakapan di teleponnya.
" Waalaikumsalam ..." Dengan sangat terpaksa, Bagas pun menutup panggilan telepon dari Indhira, padahal dia sendiri masih belum puas berbincang-bincang dengan Indhira.
***
Indhira memakaikan baju Tante Sandra setelah membersihkan tubuh mantan bosnya ketika bekerja di salon dulu.
Indhira benar-benar merawat Tante Sandra dengan telaten, seperti pada orang tua sendiri. Kini dirinya sudah tidak mempunyai orang tua lagi, tapi dia mempunyai Tante Sandra, Ibu Lidya dan Pak Edwin yang sudah dia anggap seperti orang yang mempunyai ikatan darah dengannya.
" Tante, jika aku memang dijodohkan Allah untuk bersama Bagas, aku tidak akan mungkin tinggal di sini lagi dan mengurus Tante seperti ini," ucap Indhira sambil menyisir rambut Tante Sandra.
" Seandainya kami nanti punya rumah sendiri, jika Tante tidak keberatan, Tante ikut sama aku saja, ya? Biar aku bisa merawat Tante seperti sekarang ini." Indhira ingin terus merawat Tante Sandra.
" Emm ... emm ..." Tante Sandra bereaksi atas ucapan Indhira. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, namun terasa sulit terucapkan dari mulutnya.
" Kalau aku nanti menikah, mungkin aku tidak diijinkan Bagas bekerja. Aku pasti akan kesepian kalau di rumah, Tante." Dulu Indhira pernah tinggal di rumah Tante Sandra dan dianggap anak oleh Tante Sandra, dia pun ingin membalas jasa dengan merawat Tante Sandra seperti orang tuanya sendiri.
Indhira melihat cairan bening yang mengembun di bola mata Tante Sandra. Dia tahu jika saat ini Tante Sandra sedang merasakan haru. Dia yakin, biarpun dia menawarkan diri ingin merawat Tante Sandra, jika saja Tante Sandra bisa bicara, pasti Tante Sandra akan menolak tawarannya tadi.
" Tante, Tante tidak usah merasa tidak enak, hanya karena aku tidak ada hubungan darah dengan Tante. Aku ikhlas mengurus Tante. Nanti aku akan bicara pada Bagas, agar Bagas juga setuju. Siapa tahu nanti Bagas juga dapat membawa Tante melakukan pengobatan yang lebih baik." Indhira bahkan punya keinginan dapat mengobati Tante Sandra.
" Tidak, Indhira! Kamu tidak usah repot-repot memikirkan pengobatan Tante. Tante menolong kamu ikhlas, karena Tante iba terhadap penderitaan kamu." Dengan bergumam, dia menggerakkan kepalanya pelan, seakan menolak apa yang diinginkan oleh Indhira.
" Ra, kita sarapan dulu. Nanti kamu kesiangan masuk kerjanya." Ibu Lidya muncul di pintu kamar Tante Sandra. " Sandra biar nanti Bibi saja yang menyuapi," lanjutnya.
" Oh, iya, Tante. Ini sebentar lagi, kok." Indhira selesai merapihkan rambut Tante Sandra dan menaruh sisir di meja rias.
" Tante, aku sarapan dulu, ya!?" Indhira berpamitan kepada Tante Sandra, karena dia juga harus bersiap untuk berangkat ke rumah Azkia setelah sarapan.
***
Seorang pria tampan turun dari mobil sportnya yang terparkir di halaman Alexa Boutique. Pria itu lalu berjalan masuk ke dalam butik dengan menenteng paper bag di tangannya.
" Selamat siang, Mas Abhi." Security di butik milik Azkia itu menyapa adik dari bosnya itu.
" Mbak Kia ada, Pak?" tanya Abhinya, anak ketika pasangan Yoga dan Natasha itu bertanya kepada security.
" Ada, Mas. Bu Kia ada di ruangannya, kok." sahut security kembali.
" Terima kasih, Pak." Abhinaya kemudian masuk ke dalam butik dan menaiki anak tangga menuju ruangan kerja sang kakak.
" Mbak Kia sedang sibuk tidak, Mbak Wanda?" Abhinaya kini bertanya kepada Wanda yang sedang fokus dengan pekerjaannya, sesampainya di depan ruang kerja Azkia.
" Eh, Mas Abhi. Sepertinya, sih, tidak, Mas. Masuk saja, Mas." Wanda mempersilahkan Abhinaya untuk langsung masuk ke ruangan kerja Azkia.
Tok tok tok
__ADS_1
" Assalamualaikum, Mbak." Abhinaya mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan kakaknya.
" Waalaikumsalam ..." Azkia dan Indhira yang ada di dalam ruangan kerja menjawab ucapan salam Abhinaya seraya menoleh ke arah pintu.
Indhira melihat sosok Abhinaya. Dia tidak terlalu ingat siapa pria yang muncul di ruangan Azkia saat ini, namun dia yakin pria itu adalah salah satu kerabat dekat Azkia.
" Kamu, Bhi? Ada apa, tumben mampir kemari?" tanya Azkia merasa heran karena jarang-jarang adiknya itu datang ke butiknya.
" Mengantar pakaian yang dicancel ini, Mbak." Abhinaya menunjukkan paper bag yang dia bawa. Sementara matanya melirik ke arah Indhira yang duduk di balik meja yang tak jauh dari meja kerja kakaknya, membuat Indhira langung menunduk.
" Wah, ada penghuni baru rupanya," celetuk Abhinaya masih menatap Indhira.
" Dia Indhira, asisten pribadi Mbak." Azkia memperkenalkan Azkia pada Abhinaya.
" Oh, jadi ini bidadari yang dibilang si Rashya itu?" Sepertinya cerita soal asisten pribadi Azkia yang berparas cantik sudah mulai menyebar di lingkungan keluarga besar Azkia.
Ucapan Abhinaya yang menyebut dirinya bak bidadari tentu membuat Indhira merasa malu. Dia beranggapan jika keluarga Azkia terlalu berlebihan menyanjungnya. Seandainya mereka tahu masa lalunya, mungkin mereka akan menyesal menyebutnya seperti bidadari.
" Yang namanya pria, kalau melihat wanita cantik, sinyalnya kuat banget, ya!?" Azkia memutar bola matanya menanggapi celetukan iseng adik pria satu-satunya itu.
" Hahaha, namanya juga pria normal, Mbak." sahut Abhinaya kemudian.
" Kalau Mbak punya suami kayak model kalian, sudah Mbak gan tung di jemuran!" ketus Azkia galak, membuat Abhinaya tertawa lebar.
" Aku harap Kamu Raffa tidak tertekan hidup dengan Mbak Kia. Tidak bisa melirik sana-sini. Hahaha ..." Abhinaya meledek sang Kakak.
" Hei, suami Mbak itu tipe setia! Mana ada dia tertekan punya istri kayak Mbak!? Yang ada suami Mbak itu merasa bahagia, punya istri cantik, punya anak lucu-lucu. Papa Mamanya bisa rujuk kembali. Itu semua 'kan karena ide Mbak!" Azkia menepis anggapan Abhinaya yang menuduh Raffasya hidup penuh tekanan bersamanya.
Indhira memperhatikan perdebatan antara Azkia dan Abhinaya. Walaupun mereka berdebat, namun mereka terlihat akrab. Hubungan mereka pun terasa hangat. Melihat keakraban seperti itu, hati Indhira merasa tercubit, karena dia tidak mempunyai saudara kandung. Sementara sepupunya, anak dari Tante Marta justru membencinya.
Ddrrtt ddrrtt
Indhira menoleh ke arah ponselnya yang berbunyi yang dia letakkan di meja. Dia mendapatkan satu pesan masuk dari Bagas.
Indhira melirik Azkia dan Abhinaya yang masih berdebat kecil, membuatnya mempunyai kesempatan untuk membuka pesan masuk dari Bagas.
" Assalamualaikum, Ra. Aku OTW ke sana sekarang, ya!? Aku mau ajak kamu makan di luar, kamu sudah ijin sama bos kamu, kan?"
Itu isi pesan masuk dari Bagas di ponselnya. Indhira pun dengan cepat membalas pesan sang kekasih.
" Waalaikumsalam, Bagas. Aku lupa belum ijin ke Bu Kia. Nanti saja kalau kamu datang ke sini, kamu yang bilang ke Bu Kia saja, ya!" Indhira ingin Bagas saja meminta ijin pada Azkia.
" Ya sudah, sebentar lagi aku sampai, kok."
" Konsentrasi saat mengemudi, Bagas! Jangan pegang handphone!" Indra langsung menegur keras Bagas, karena pria itu justru mengirim pesan saat mengendarai kendaraan.
" Iya, Indhira, Sayang. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
" Mbak, sudah makan belum? Aku traktir, deh! Sama asprinya Mbak sekalian ini diajak. Nanti aku ajak si Rashya juga, deh!"
Ketika Indhira baru saja selesai membalas pesan dari Bagas, dia mendengar perkataan Abhinaya yang ingin mengajaknya makan siang bersama.
" Oke, mau makan di mana?" Azkia menyetujui tawaran Abhinaya.
" Terserah bumil saja maunya di mana?" Abhinaya menyerahkan pilihan kepada Azkia.
" Hmmm, kamu mau makan di mana, Ra?" Azkia justru mengajukan pertanyaan kepada Indhira.
Indhira terkesiap mendengar pertanyaan Azkia, karena Azkia seolah menunggu jawabannya, di mana mereka akan pergi makan siang bersama? Padahal Indhira sendiri sudah punya janji makan bersama Bagas.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy reading❤️