
Netra Bagas terus menatapnya wajah cantik Indhira tanpa jeda. Kekaguman pria itu pada sosok sederhana Indhira tidak pernah luntur meskipun waktu terus bergulir.
Walau jauh dari kata wanita idaman bagi kebanyakan pria, namun bagi Bagas, Indhira adalah sosok wanita yang sulit dia temukan lagi di dunia ini. Tak heran jika akhirnya dirinya tidak bisa move on walaupun bertahun-tahun berpisah dari Indhira. Termasuk saat dirinya didekati oleh wanita mana pun termasuk Evelyn. Sepertinya cinta Bagas kepada Indhira sudah bulat dan tidak bisa pindah ke lain hati lagi.
" Kenapa kamu melihatku seperti itu, Bagas?" Merasakan jika saat ini dia sedang diperhatikan oleh Bagas, Indhira seketika salah tingkah dengan menyampirkan helaian rambut di belakang telinganya.
" Aku sedang memandang keindahan mahluk ciptaan Tuhan tercantik di dunia ini." Bagas terkekeh, kembali mulai menggoda Indhira. Sejak dulu Bagas memang senang sekali menggoda wanita itu. Wanita yang selalu malu-malu ketika dia tatap.
" Sudah ah, Bagas! Jangan menggombal terus!" Wajah Indhira bersemu hingga dia memalingkan wajahnya ke luar jendela agar rona merah yang membias di pipinya saat ini tidak terlihat oleh Bagas. Meskipun dengan kekasihnya sendiri dan hanya menghitung hari mereka akan menikah, tapi tetap terasa jengah setiap dirayu oleh Bagas.
" Mas dan Mbak ini kelihatan romantis sekali. Saya senang sekali melihatnya. Aura calon pengantin baru ini memang beda." Driver ojek online ikut berkomentar melihat keromantisan mereka berdua.
" Terima kasih, Pak." Bagas menyahuti sementara Indhira hanya tersipu.
" Mas dan Mbak ini pacaran sudah lama, ya?" Driver ojek online seakan ingin mengakrabkan diri dengan Bagas dan Indhira yang dia anggap orang-orang baik.
" Kami pacaran tidak sampai setahun, kok, Pak. Cuma, dia ini pacar saya ketika masih di SMA. Tidak sampai setahun lalu kami pisah. Dan baru dipertemukan lagi sekarang, Pak. Saat saya tahu dia belum menikah, langsung saja saya lamar, daripada keduluan pria lain." Bagas terbuka bercerita kepada driver ojek online.
" Oh CLBK ceritanya, ya?" sahut driver ojek online.
" Ya, begitulah, Pak." jawab Bagas.
" Kalau memang sudah rejekinya jodoh, biarpun sudah berpisah bertahun-tahun berpisah, pasti ujung-ujungnya nikah juga. Urusan usia, rejeki dan jodoh itu memang hanya Tuhan yang tahu, Mas." ujar driver ojek online kemudian.
" Benar, Pak. Dan Alhamdulillah jodoh saya dipertemukan sama wanita cantik seperti ini." Bagas mengusap pucuk kepala Indhira.
" Mbak nya banyak, Mas nya ganteng, memang sudah klop." Driver ojol menimpali.
" Masuk ke komplek ini, Mas?" Saat hendak melewati sebuah gerbang komplek perumahan elit, driver ojek online itu menanyakan alamat rumah yang hendak dituju oleh Bagas dan Indhira.
" Iya, benar ini, Pak." Indhira dengan cepat menjawab, karena dia hapal gerbang di depan perumahan elit itu.
" Masuk saja, nanti sekitar lima puluh meter ada tikungan ke kiri, rumah pertama, Pak." Indhira menyebutkan di mana posisi rumah Lusiana kepada driver ojol tadi.
" Baik, Mbak." sahut driver ojol mengikuti arahan yang diberikan oleh driver ojek online tadi.
" Lapor dulu sama security di depan, Pak. Bilang saja mau ke rumahnya Pak Fariz atau Ibu Lusiana." Indhira kembali menjelaskan kepada driver ojek online agar diperbolehkan masuk oleh security.
" Siap, Mbak." jawab driver ojek online kembali.
" Kamu sudah berapa kali ke rumah Mama mertuanya Bu Kia, Ra? Sepertinya kamu sudah hapal sekali tempatnya." Bagas terkekeh melihat Indhira sangat hapal letak rumah Lusiana.
" Aku baru sekali ke sini, kok! Tapi aku ingat arah jalan dan posisinya," sahut Indhira.
" Iya, kamu memang tidak mudah melupakan sesuatu seperti kamu tidak mudah melupakan aku, kan?" Bagas menyeringai kembali menggoda Indhira. Namun kali ini Indhira berani menatap Bagas.
" Memangnya yang tidak bisa melupakan itu hanya aku saja? Kamu sendiri bagaimana? Kenapa delapan tahun ini kamu masih saja mencari aku?" Seakan tidak ingin kalah, kali ini Indhira pun membalas sindiran Bagas. Karena kenyataannya, Bagas sendiri tidak dapat melupakannya.
Bagas menjawab pertanyaan Indhira hanya dengan senyuman. Dia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan wanita yang dicintai sejak SMA itu.
Mobil yang dikemudikan driver ojek online lalu berbelok ke arah komplek perumahan elit di mana rumah mertua Azkia berada. Mobil itu terhenti saat hendak melintasi pos satpam yang berjaga di pintu gerbang komplek.
" Selamat malam, Pak. Ada yang bisa dibantu?" Security keluar dari pos jaganya seraya memberi hormat kepada driver ojol itu. Security itu sepertinya sudah sangat hapal mobil yang lalu lalang masuk dan ke luar dari perumahan tersebut, sehingga jika ada mobil asing yang baru masuk ke dalam komplek perumahan yang banyak dihuni orang-orang dari kalangan atas itu, pasti dihentikan terlebih dahulu oleh security untuk mengetahui tujuan kedatangan tamu penghuni di komplek itu.
" Malam, Pak. Saya mengantar tamunya Pak Fariz dan Ibu Lusi." Driver ojek online menyampaikan tujuannya datang ke komplek itu.
" Malam, Pak. Saya mau bertemu dengan Ibu Lusiana. Rumahnya yang dekat tikungan pertama. Yang punya perusahaan leasing." Indhira membuka kaca jendela dan membantu menjelaskan kepada security agar memberi ijin masuk ke dalam komplek.
" Oh, tamunya Bu Lusi, ya? Sebentar saya bukankan dulu portalnya." Tanpa banyak pertanyaan lagi, security itu pun lalu membuka portal dan mempersilahkan mobil driver ojol untuk masuk ke dalam komplek.
" Terima kasih, Pak." Driver ojek online, Indhira dan Bagas bersamaan mengucapkan terima kasih kepada security yang sudah memberikan ijin masuk ke komplek perumahan Lusiana.
Ketika mobil driver ojek online itu masuk ke dalam, persis di belakangnya, mobil milik Adibrata tiba. Sama seperti mobil yang dikendarai driver ojol tadi, kini mobil mewah milik Adibrata pun dihentikan oleh security.
__ADS_1
" Selamat malam, Pak." sapa security, tak lupa memberikan hormat kepada penumpang mobil di hadapannya.
" Tujuan kami sama seperti mobil di depan tadi. Saya orang tua salah satu orang yang ada di mobil di depan tadi." Belum sempat security itu melanjutkan kalimatnya, Adibrata sudah lebih dahulu membuka pintu mobil dan bicara pada security. Adibrata tidak tahu tujuan Bagas dan Indhira akan ke mana? Sehingga menyampaikan hal tersebut pada security agar diberi kemudahan akses masuk ke dalam komplek perumahan elit tersebut.
" Oh, baik, Pak." Tanpa merasa curiga dengan maksud kedatangan Adibrata, security itu segera membukakan portal kembali, apalagi mobil yang ada di hadapannya adalah mobil mewah, hingga mobil Adibrata pun dapat melintasi pos satpam itu dengan lancar. Dalam benak security, orang di dalam mobil yang terlihat jelas sebagai orang dari kalangan atas tidak mungkin akan melakukan hal negatif di dalam komplek yang dia jaga.
***
" Kita parkir mobil di depan saja, Pak. Tidak usah masuk ke dalam, karena saya tidak akan lama." perintah Bagas pada driver ojek online setelah sampai di depan gerbang rumah Lusiana.
" Kenapa memangnya, Bagas? Kamu tidak ingin masuk menemui Ibu Lusi,?" tanya Indhira.
" Aku tidak akan lama, Ra. Hanya mengantar kamu dan bertemu orang tuanya Pak Raffa setelah itu pulang. Jadi aku rasa mobil ini tidak usah ikut masuk ke dalam." Bagas memberikan alasannya.
" Tidak apa-apa tunggu di sini, ya, Pak!?" tanya Bagas kepada driver ojek online.
" Tidak apa-apa, Mas." sahut driver ojek online.
" Ya sudah, kita turun, Ra." Bagas dan Indhira akhirnya memilih turun dari mobil ojek online di luar rumah Lusiana, karena Bagas tidak akan lama berada di rumah orang tua Raffasya, lalu berjalan menuju arah pintu gerbang untuk menemui security yang berjaga di dekat pos rumah Lusiana.
" Selamat malam, Pak. Saya mau mengantar Indhira." Bagas berkata kepada security yang berjaga di depan gerbang rumah Lusiana.
" Oh, Mbak ini yang kemarin datang kemari sama Mbak Kia, ya?" Rupanya security mengenali Indhira. Tentu saja paras cantik Indhira, tidak mudah udah dilupakan oleh orang yang melihatnya, begitu juga dengan security yang berjaga di rumah Lusiana, dia pun segera membukakan pintu untuk Bagas dan juga Indhira.
" Silahkan, Mas, Mbak." Setelah membukakan pintu gerbang, security mempersilahkan Bagas dan Indhira untuk masuk ke dalam.
" Terima kasih, Pak." Secara bersamaan Bagas dan Indhira berubah terima kasih.
" Aku antar sampai ke dalam, sekalian pamitan pulang." Bagas ingin menjaga kesopanan dengan bertemu dan berpamitan langsung dengan kedua orang tua Raffasya.
Indhira menganggukkan kepala, dia pun sepemikiran dengan Bagas. Tidak sopan rasanya jika tidak menemui tuan rumah terlebih dahulu. Apalagi saat ini dirinya ikut menumpang tinggal di rumah itu. Dia harus menghormati sang tuan rumah.
Sementara mobil yang membawa Adibrata berhenti di depan rumah Lusiana.
Adibrata menatap rumah di hadapannya saat ini. Dia juga sebenarnya tidak menyangka jika mobil yang membawa Bagas dan Indhira memasuki kawasan perumahan elit yang tidak dia ketahui milik siapa.
" Coba kau turun, Gus! Tanyakan siapa pemilik rumah ini dan apa hubungannya dengan wanita yang sudah mempengaruhi Bagas itu?" Adibrata memberi perintah kepada supirnya untuk mencari informasi dari security yang berjaga di gerbang rumah Lusiana.
" Baik, Tuan." Agus lalu turun dan menghampiri security yang menjaga rumah orang tua Raffasya.
" Permisi, Pak." Saat sampai di depan pintu gerbang rumah Lusiana, Agus menyapa security yang berjaga.
" Ada apa ya, Pak?" Pak Mamat, security di rumah Lusiana kembali keluar dari posnya.
" Maaf, Pak. Mau tanya. Kalau wanita yang tadi masuk ke rumah ini siapa, ya? Apa dia tinggal di sini?" tanya Agus mulai menyelidik.
" Maaf, Bapak ini siapa, ya? Ada perlu apa tanya-tanya?" Sebagai orang yang ditugaskan untuk menjaga keamanan di rumah Lusiana, tentu saja Pak Mamat akan hati-hati pada orang asing yang ingin bertamu ke rumah itu. Apalagi sampai bertanya-tanya seperti yang dilakukan Agus tadi.
" Begini, Pak. Pria yang tadi masuk ke dalam rumah ini, yang bersama wanita itu adalah anak majikan saya, namanya Bagaspati, Pak. Karena itu saya tanya siapa wanita yang bersana Mas Bagas tadi." Agus menyebut alasannya kenapa menanyakan soal wanita yang bersama anak majikannya itu.
" Oh, gitu. Tadi itu pegawai menantunya Bu Lusi, Pak. Namanya Mbak Indi." Akhirnya Pak Mamat menyebutkan siapa Indhira itu.
" Ibu Lusi itu yang punya rumah ini, Pak?" tanya Agus kembali.
" Benar, Pak." sahut Pak Mamat membenarkan.
" Oh, ya sudah. Terima kasih informasinya, Pak. Permisi ..." Agus kemudian berpamitan setelah mendapat informasi yang dia anggap sudah cukup untuk dia laporkan kepada Adibrata.
" Kenapa orang itu tanya-tanya nya mencurigakan, ya?" Sementara Pak Mamat merasakan keanehan dengan tujuan Agus bertanya-tanya kepadanya. Namun dia tidak ingin memikirkan hal tersebut lalu kembali ke posnya.
" Bagaimana, Gus?" tanya Adibrata saat Agus kembali masuk ke dalam mobil.
" Menurut satpam tadi, wanita itu pegawai dari menantu yang punya rumah itu, Pak." jawab Agus.
__ADS_1
" Hanya pegawai, dan dia bermimpi ingin menjadi menantu dari keluarga Adibrata Mahesa?" Adibrata tersenyum sinis meremehkan dan memandang rendah status sosial Indhira.
" Bagas benar-benar bodoh melepas Evelyn, hanya untuk wanita rendahan seperti itu!" Sepertinya hati Adibrata memang tidak dapat menerima Indhira, sehingga dia terus saja menghina wanita itu, yang dia anggap tidak sebanding dengan keluarganya.
***
" Assalamualaikum ..." Indhira dan Bagas mengucap salam saat pintu rumah dibuka oleh ART Lusiana,
" Waalaikumsalam ..." sahut Bi Junah. " Silahkan masuk, Mbak." Bi Junah mempersilahkan Indhira dan Bagas masuk ke dalam rumah Lusiana. Bi Junah sudah diberitahu sebelumnya jika Indhira akan tinggal di rumah itu beberapa hari.
" Ibu Lusi sama Pak Fariz sudah tidur, Bi?" tanya Indhira menanyakan pemilik rumah itu kepada Bi Junah.
" Bapak sama Ibu ada di kamar, Mbak. Silahkan duduk dulu, nanti saya panggilkan Ibu, Mbak." Setelah mempersilakan Indhira dan Bagas duduk, Bi Junah lalu melangkah menuju kamar Lusiana untuk memberitahu majikannya itu tentang kedatangan Indhira dan Bagas.
" Kalau kamu tinggal di sini beberapa hari sebelum pernikahan, aku susah menemui kamu di sini, Ra. Tidak enak rasanya berkunjung untuk melepas rindu dengan kamu di sini." Bagas berkelakar sembari menunggu Lusiana keluar dari kamar. Dia merasa akan sulit untuk datang ke rumah itu dibanding dengan saat Indhira berada di rumah Pak Edwin.
" Kamu kayak anak ABG saja, Bagas!" cibir Indhira merespon ucapan Bagas tadi membuat Bagas terkekeh.
" Sudah selesai fitting baju sama beli cincinnya, Indhira?"
Dari arah tangga, suara Lusiana terdengar membuat Indhira dan Bagas langsung menolehkan pandangan ke arah tangga.
" Sudah, Bu." Indhira segera bangkit dari duduk dan menyalami Lusiana saat Lusiana sudah mendekat disusul oleh Bagas.
" Ibu, perkenalkan ini Bagas." Indhira memperkenalkan Bagas kepada Lusiana. Walaupun Lusiana sendiri sudah sudah diberitahu soal Bagas dari Raffasya.
" Saya Bagas, Bu." Bagas pun memperkenalkan dirinya kepada Lusiana.
" Oh, jadi ini calon suami kamu itu, Indhira?" Dan sebelumnya Azkia juga sudah menceritakan semua tentang Indhira kepada Lusiana.
" I-iya, Bu." Dengan tertunduk malu Indhira mengakui jika Bagas benar calon suaminya.
" Silahkan duduk!" Lusiana mempersilahkan Bagas untuk duduk kembali.
" Saya ingin berterima kasih kepada Ibu karena sudah menerima Indhira tinggal di rumah ini sementara waktu. Maaf jika kami sudah membuat Ibu dan keluarga repot." Bagas terlupa jika Indhira tidak mengetahui keberadaan wanita itu di rumah Lusiana memang terencana oleh Bagas dan Raffasya. Untungnya saja Indhira tidak terlalu fokus dengan ucapan Bagas sehingga tidak curiga dengan kata-kata Bagas tadi.
" Tidak apa-apa, Bagas. Saya justru senang ada yang menemani di sini," sahut Lusiana yang merasa senang ada yang menginap di rumahnya. Dua tahun setelah dia rujuk kembali dengan mantan suaminya, dia melepas pekerjaan di perusahaan leasing miliknya dan menyerahkan tugas itu kepada sang suami. Sekarang ini dia menyibukkan diri dengan aktivitas di rumah atau berkunjung ke rumah Raffasya dan Rossa untuk bertemu dengan cucu-cucunya.
" Saya tidak akan lama, Bu. Hanya mengantar Indhira saja. Saya mau langsung pulang." Bagas berniat berpamitan karena saat ini waktu sudah menunjukkan pu kul delapan malam.
" Oh ya, sudah. Kamu tenang saja, Indhira aman tinggal di sini sama kami." Lusiana mencoba meyakinkan Bagas jika Indhira akan aman dalam lindungannya di rumah itu.
" Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya permisi, Bu." Bagas bangkit dari duduk yang diikuti oleh Indhira yang berniat mengantar Bagas sampai pintu gerbang.
" Saya antar Bagas ke depan dulu, Bu." Sebelumnya Indhira meminta ijin kepada Lusiana untuk mengantar Bagas ke depan.
" Iya, Indhira." sahut Lusiana.
" Selamat malam, Nyonya. Maaf jika kedatangan saya mengganggu Anda."
Ketiga orang di dalam ruangan tamu Lusiana terkejut saat mendengar suara bariton dari arah pintu, hingga mereka bertiga menolehkan pandangan mereka ke pintu masuk rumah Lusiana.
Lusiana dan Indhira mengerutkan keningnya, karena tidak mengenali orang yang hadir di rumah itu, berbeda dengan Bagas yang langsung tercengang dengan kemunculan Papanya di rumah Lusiana.
" Papa?"
*
*
"
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️