SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Berubah Menjadi Kebencian


__ADS_3

Bagas mengirimkan gambar foto orang yang bersama Elma di cafe. Dia ingin minta konfirmasi dari Dahlan, siapa tahu Dahlan tahu siapa orang itu. Karena meskipun dia adalah anak dari Adibrata, dia tidak tahu siapa-siapa saja orang yang bekerja dengan Papanya itu.


Lima menit menunggu, akhirnya balasan dari Dahlan masuk ke dalam ponselnya.


" Selamat siang, Mas Bagas. Jika tidak salah, orang itu salah satu anggota dari Hamid, Orang kepercayaan Tuan Adibrata." Isi balasan pesan dari Dahlan yang masuk ke ponsel Bagas.


Bagas mendengus kasar saat Dahlan membenarkan dugaannya soal keterlibatan Papanya dalam aksi Elma. Dia tidak mengerti, kenapa Papanya masih saja mengusik rumah tangganya bersama Indhira. Padahal dia sudah meninggalkan kemewahan sebagai syarat jika tidak ingin mengikuti kehendak sang Papa. Nyatanya, sampai detik ini pun, sikap Adibrata masih saja mengganggunya.


" Terima kasih untuk informasinya, Pak Dahlan."


" Oh ya, bagaimana kabar Papa saya?" Bagas menanyakan kabar seputar Papanya pada Dahlan yang kini sudah tidak menjadi anak buah Papanya.


" Maaf, Mas Bagas. Saya dan Taufan sudah tidak bekerja pada Tuan Adibrata lagi," balas Dahlan menjelaskan statusnya saat ini yang sudah tidak menjadi orang kepercayaan Adibrata lagi.


Bagas menaikkan kedua alisnya ke atas mengetahui jika Dahlan tidak lagi bekerja dengan Papanya. Dengan cepat dia lalu menghubungi nomer Dahlan itu.


" Selamat siang, Mas Bagas." Dahlan kembali menyapa Bagas secara formal.


" Sejak kapan Pak Dahlan sudah tidak bekerja dengan. Papa?" tanya Bagas penasaran.


" Sejak beberapa hari lalu, Mas Bagas." Dahlan menyahuti.


" Apa ini ada hubungannya dengan Pak Dahlan yang ikut membantu saya menyembunyikan soal Indhira?" Bagas menduga jika Dahlan sudah tidak ikut bekerja dengan Papanya karena ada sangkut pautnya dengan Dahlan yang membantunya, apalagi Taufan juga sudah tidak bekerja dengan Papanya secara bersamaan.


" Tidak, Mas. Tuan Adibrata tidak mempekerjakan kami lagi mungkin karena sudah tidak ada yang mesti kami awasi lagi, karena Mas Bagas sudah tidak tinggal dan bekerja di perusahaan milik Papa Mas Bagas." Dahlan tidak mengadukan sikap Adibrata yang memecatnya dan menepis anggapan Bagas tadi yang sejujurnya memang karena 'pengkhianatan kecil' nya itu lah yang membuat Adibrata memecatnya.


" Lalu, saat ini Pak Dahlan bekerja di mana?" Tanya Bagas.


" Saya mengurus toko bangunan saya, Mas Bagas. Kebetulan selama tiga tahun ini saya mempunyai usaha bahan bangunan. Hasil dari penghasilan selama saya bekerja dengan Tuan Adibrata, saya kumpulkan itu untuk membuka usaha, karena saya sadar jika saya tidak mungkin selamanya bekerja seperti itu." Dahlan menjelaskan pekerjaannya yang dia geluti saat ini pada Bagas.


" Syukurlah jika Pak Dahlan mempunyai usaha. Oh ya, saya minta maaf pada Pak Dahlan, jika selama bekerja dengan Papa saya, ada hal yang tidak berkenan bagi Pak Dahlan." Meskipun Dahlan menyangkal, namun Bagas merasakan jika Dahlan berhenti bekerja dengan Papanya karena ada hubungannya dengan dirinya, karena itulah dia perlu meminta maaf secara langsung kepada Pak Bagas.

__ADS_1


" Tidak perlu minta maaf, Mas Bagas. Selama saya bekerja bersama Papa Mas Bagas, saya mendapatkan penghasilan yang sepadan dan layak." Dahlan tidak mempermasalahkan keputusan Adibrata soal pemecatannya karena dia tahu jika dirinya memang bersalah.


" Bagaimana kabar Mas Bagas sekarang ini? Apa Mas Bagas sekarang sudah mendapat pekerjaan?" Tanya Dahlan menanyakan kabar soal Bagas.


" Alhamdulillah, ada orang baik yang mau mempekerjakan saya tanpa menggunakan ijasah, Pak Dahlan." Jawab Bagas.


" Syukurlah, Mas Bagas. Ijasah itu hanya formalitas, yang penting adalah pengalaman kerja Mas Bagas dalam memimpin perusahaan dulu sangat sukses," sahut Dahlan.


" Benar sekali, Pak Dahlan."


" Oh ya, selamat atas pernikahan Mas Bagas dengan Mbak Indhira. Saya baru menyadari jika cinta kalian sejati. Saya sangat menyesal kala itu sempat membantu menghalangi kisah cinta Mas Bagas." Dahlan tahu bagaimana Bagas harus mendapat hukuman, tidak boleh keluar dari rumah apalagi menemui Indhira. Dia bahkan berpikir jika cinta mereka akan berakhir. Siapa sangka justru kini Bagas dan indhira sudah menjadi pasangan suami istri.


" Tidak usah mengingat masa lalu, Pak Dahlan. Saya mengerti jika saat itu Pak Dahlan sedang menjalankan tugas." Bagas dapat memaklumi jika saat itu Pak Dahlan berada dalam tekanan Papanya untuk mengikuti semua perintah yang harus dijalaninya.


" Oh ya, tadi Pak Dahlan bilang membuka usaha toko material? Saya berencana ingin mengambil rumah KPR, jika saya butuh bahan bangunan mungkin saya bisa menghubungi Pak Dahlan." Bagas berencana meminta bantuan Dahlan untuk menyuplai segala keperluan untuk merenovasi rumah yang akan dia beli secara kredit nanti.


" Pak Bagas Ingin mengambil rumah KPR?" Tanya Dahlan terkesiap. Jika dalam posisi normal, tentu saja aneh seorang anak konglomerat seperti Bagas mengambil perumahan KPR. Karena berapa pun harga rumah yang ditawarkan oleh pihak developer pasti sanggup dibeli secara cash oleh keluarga Adibrata. Namun, karena kondisi saat ini Bagas dilarang menikmati haknya sebagai pewaris kekayaan Adibrata, Dahlan pun cukup memaklumi jika Bagas hanya mampu mengambil rumah secara kredit.


" Saya maklum, Mas Bagas. Baiklah, jika memang Mas Bagas butuh bahan material, hubungi saya saja," sahut Dahlan.


" Okelah, Pak Dahlan. Saya tutup dulu teleponnya. Lain kali kita sambung lagi." Bagas berniat mengakhiri percakapan mereka.


" Baik, Mas Bagas."


Bagas menutup panggilan teleponnya dengan Pak Dahlan. Dia kemudian merapihkan mejanya lalu bangkit dari kursinya. Dia berjalan keluar dari ruangannya berniat meminjam salah satu mobil invetaris hotel karena dia ingin ke kantor milik Papanya. Karena jika dia menggunakan motor datang ke kantor Adibrata, dia yakin hal itu akan menjadi pertanyaan orang-orang yang bekerja di kantor Adibrata.


Bagas memutuskan pergi ke kantor Papanya, karena dia harus membereskan urusan dengan Papanya, karena dia tidak ingin terus menerus diusik oleh Papanya itu.


***


Bagas memarkirkan mobilnya di dalam basement, dia memilih masuk melalui lift dari basement, karena dia tidak ingin menjadi pusat perhatian karyawan kantor Papanya jika dia datang dari lobby depan.

__ADS_1


Tidak ada rintangan bagi Bagas untuk sampai di lantai tempat ruangan kerja Papanya berada hingga kini dia berhadapan dengan sekretaris Papanya..


" Papa saya ada di tempat, Mbak?" tanya Bagas pada Diana.


" Siang, Mas Bagas. Bapak ada di dalam." Diana yang tidak tahu jika Bagas dan Papanya sedang bermasalah langsung mempersilahkan Bagas masuk ke dalam ruangan Adibrata.


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Ada Mas Bagas ..." Diana memberitahu kedatangan Bagas pada Adibrata.


" Selamat siang, Pa." Bagas menyapa Papanya masih dengan rasa hormat.


Adibrata terperanjat dengan kehadiran putranya itu di kantornya. Namun dia tidak bereaksi apa-apa sebelum Diana keluar dari ruangannya.


" Ada apa kamu kemari? Apa kamu menyesali meninggalkan rumah dan jabatanmu sebagai CEO di perusahaan Papa?" Dengan percaya diri Adibrata menyebutkan kedatangan Bagas ke kantornya karena Bagas ingin diterima kembali olehnya.


" Papa akan menerima kamu kembali jika memang kamu mau meninggalkan wanita itu, Bagas." lanjut Adibrata seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


Bagas tersenyum tipis mendengar tawaran Papanya. Papanya itu tak kenal lelah dalam usaha membuat dirinya dan Indhira berpisah.


" Aku tidak pernah menyesal dengan keputusan yang aku pilih. Aku justru bahagia dengan kehidupan yang aku jalani sekarang!" tegas Bagas.


" Maksud kedatanganku kemari, karena aku ingin Papa tidak terus mengusik kehidupanku bersama Indhira! Aku sudah cukup merasa bahagia dengan pernikahanku dengan Indhira. Aku sudah rela melepaskan semua fasilitas yang Papa berikan, bahkan aku juga sudah menyerahkan tabungan yang aku dapatkan selama aku bekerja di perusahaan yang sudah aku kelola beberapa tahun terakhir. Aku keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa. Apa itu masih belum cukup untuk Papa!?" Bagas berkata kalimat tegas, bahkan Bagas pun masih dengan posisi berdiri, tak duduk di kursi atau sofa di ruangan Papanya itu.


" Sebenarnya apa lagi yang Papa inginkan? Apa Papa benar-benar ingin membuat aku menderita? Apa Papa mendapatkan kepuasan jika berhasil membuat anak Papa menderita?"


" Selama ini aku tidak membenci Papa meskipun Papa tidak bersikap adil terhadapku. Aku juga selalu berusaha menghormati Papa meskipun Papa selalu memaksakan kehendak terhadapku!"


" Hal paling menyakitkan bagi anak dalam keluarga adalah saat kami dibenci oleh orang tuanya begitu juga sebaliknya. Aku harap Papa tidak terus berulah, jika Papa tidak ingin aku jadi membenci Papa! Atau, justru itulah yang Papa inginkan, membuat sikap hormatku terhadap Papa berubah menjadi kebencian dan penuh dendam!?" ancam Bagas, mencoba mengintimidasi Adibrata.


" Aku harap Papa dapat memahami maksud dan tujuanku datang kemari! Aku pamit, selamat siang." Bagas lalu berpamitan dan melangkah keluar dari ruang kerja Papanya dengan dada bergejolak. Tentu dia tidak bermaksud bersikap durhaka terhadap orang tuanya, namun dia harus memberi peringatan kepada Adibrata, agar Adibrata tidak terus semena-mena terhadapnya.

__ADS_1


***


__ADS_2