SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Orang Suruhan Papa


__ADS_3

Indhira menghapus sisa make up dari wajahnya sebelum beranjak ke tempat tidur. Dia selalu menjaga kesehatan kulit wajahnya agar tetap terlihat bersih dan terawat.


Indhira menangkap bayangan Bagas yang baru masuk ke dalam kamar dari pantulan cermin di kamar mereka. Ada yang ingin dia tanyakan seputar wanita yang dibawa Bagas seperti yang diceritakan oleh Nena, namun dia sedikit ragu.


" Mas ..." Indhira memutar tubuhnya kini menghadap ke arah Bagas. Dia memutuskan untuk bertanya daripada dibuat terus penasaran.


" Ada apa, Yank?" tanya Bagas menyibak bedcover lalu duduk bersandar di headbord spring bed nya.


" Mas, apa Mas pernah ke La Grande sebelumnya?" Akhirnya Indhira menanyakan apa yang membuat hatinya bertanya-tanya.


" Iya, aku pernah ke sana," jawab Bagas santai, karena dia tidak pernah melakukan hal yang aneh saat mengunjungi cafe itu.


" Bersama siapa?" Dengan cepat Indhira merespon jawaban Bagas.


Bagas merasakan jika istrinya itu sedang mencurigai sesuatu dengan pertanyaannya tadi.


" Kemarilah ...!" Bagas mengulurkan tangannya meminta Indhira untuk mendekat ke arahnya.


" Apa kamu mendengar sesuatu?" tanyanya setelah Indhira mendekat dan duduk di sampingnya. Dia lalu merengkuh pundak Indhira ke dalam pelukannya.


" Tidak, Mas. Aku hanya ingin tahu saja. Tidak mungkin Mas datang ke cafe itu sendirian, kan?" tepis Indhira.


" Aku memang tidak sendirian waktu itu. Aku bersama Evelyn," aku Bagas jujur.


Indhira melirik ke arah Bagas, ternyata apa yang dilihat Nena memang benar, jika pria yang ditemuinya itu memang benar Bagas.


" Kamu jangan cemburu gitu, dong, Yank! Waktu itu aku malah minta berpisah dari Evelyn, kerena aku sudah menemukan jejak kamu masih berada di Jakarta." Bagas menjelaskan agar Indhira tidak bermain-main dengan kecurigaan dan kecemburuannya. " Dan aku tidak menduga jika cafe itu berkaitan dengan kamu, Yank."


Mendengar jawaban dari suami, Indhira justru merasa bersalah terhadap Evelyn.


" Evelyn itu cantik banget, ya, Mas?" tanya Indhira penasaran, karena menurut Nena pun, sosok Evelyn sangat cantik.


" Dia tidak hanya cantik, tapi juga baik. Dia bisa menerima permintaanku untuk berpisah dengan berbesar hati." Ada rasa bersalah di hati Bagas karena sudah melukai hati Evelyn. " Aku harap dia akan mendapatkan pendamping yang benar-benar mencintainya," harap Bagas.


" Apa Mas benar tidak pernah cinta pada Evelyn?" Indhira heran kenapa Bagas tidak bertahan dengan Evelyn, jika Evelyn memang baik dan cantik.

__ADS_1


" Itu karena dia memang bukan jodohku." Jawaban klise namun cukup untuk membuat Indhira tidak bertanya lagi.


" Kamu tahu dari siapa kalau aku ini pernah ke La Grande?" Bagas ingin tahu siapa yang memberitahu Indhira soal kedatangannya kala itu di La Grande.


" Nena yang tadi bilang ke aku, Mas." jawab Indhira.


" Dia tidak melamporkan hal macam-macam, kan?" Bagas khawatir jika sampai Indhira mendapatkan laporan yang salah tentang kedatangannya dengan Evelyn beberapa waktu lalu.


" Tidak, kok, Mas. Nena cuma bilang seperti pernah melihat Mas ke cafe itu sama wanita cantik." Indhira mengatakan jika Nena tidak berkata yang tidak-tidak.


" Ya sudah, sebaiknya kita istirahat saja." Bagas menjatuhkan tubuh Indhira ke tempat tidur lalu dengan cepat dia mengungkung tubuh Indhira.


" Katanya suruh istirahat, kenapa malah kayak gini?" Indhira tahu maksud aksi suaminya yang mengurung tubuhnya, pasti akan berakhir dengan penyatuan tubuh mereka.


" Biar cepat dapat Bagas junior " Bagas menyeringai mendekatkan bibirnya dan mulai menciumi leher Indhira.


" Mas, iihh ..." Indhira terkekeh menahan geli saat Bagas mulai melakukan sentuhan sebagai pemanasan untuk mendapatkan penyatuan atas cinta mereka.


***


" Bagaimana?" tanya Malik saat Elma menarik kursi dan mendudukinya.


" Aku kembalikan uang ini! Aku tidak ingin melanjutkan tugas yang kau berikan!" Elma menyerahkan paper bag berisi yang tunai sebesar lima puluh juta yang dia ambil dari bank pada Malik.


Malik memperhatikan paper bag yang disodorkan Elma kepadanya. Pandangannya kini berpindah pada Elma dengan tatapan tajam.


" Apa maksud kamu mengembalikan uang ini?" tanya Malik.


" Aku tidak mau beresiko kehilangan pekerjaan!" tegas Elma menyebutkan alasannya tidak ingin melanjutkan misi yang diberikan oleh Malik kepadanya, karena nama baik dan keselamatannya dipertaruhkan dalam hal ini.


" Aku tidak ingin mempertaruhkan pekerjaanku!Aku juga tidak ingin dijebloskan ke dalam penjara!" Elma menegaskan jika dia tidak ingin mengambil resiko kehilangan pekerjaan apalagi sampai berurusan dengan polisi.


" Kamu sudah berjanji, apa kamu lupa?" Malik mencoba mengingatkan Elma akan janjinya.


" Aku tidak perduli dengan misi itu! Aku tidak ingin mempertaruhkan keselamatanku! Kau tidak tahu jika Bagas dan Indhira berada dalam lindungan bos besarku!? Mereka bahkan mengancam akan memecatku, bahkan aku dipaksa tanda tangan di atas materai membuat pernyataan bahwa aku tidak akan mengganggu Bagas dan Indhira! Jika aku tetap memaksa melakukan misi kalian, dan aku terlibat masalah, memangnya kalian bisa membebaskanku!? Kalian enak bisa cuci tangan, sementara aku yang terkena masalah!" Elma menggerutu karena posisinya yang tidak diuntungkan dalam hal ini. Mungkin jika dirinya sampai berurusan dengan polisi, belum tentu Malik akan membantunya terhindar dari hukuman.

__ADS_1


Sementara di ruangan General Manager yang ditempati oleh Bagas, pria itu sedang menerima panggilan masuk dari Damar.


" Bagaimana, Pak Damar? Apa sudah ada kabar?" tanya Bagas pada Pak Damar yang menghubunginya melalui telepon.


" Selamag siang, Pak Bagas Saya baru saja mendapatkan informasi soal wanita bernama Elma itu. Dia baru saja keluar dari cafe dekat hotel tempat Pak Bagas saat ini bertugas. Dia menemui seseorang pria dan menyerahkan sebuah paper bag pada pria itu. Sepintas pembicaraan yang kami tangkap, jika Elma itu menolak menjalankan misi karena takut dengan ancaman dipecat dan dipenjara, Tuan." Damar memaparkan hasil penyelidikan seputat Elma yang dia dapat. Dan Bagas tahu kenapa Elma mengatakan hal tersebut. Karena dia sudah mendengar dari Indhira soal ancaman Azkia nada Elma.


" Siapa pria yang menemui Elma itu, Pak Damar?" Bagas merasa penasaran pada sosok yang menyuruh Elma. " Apa dia salah seorang suruhan Papa saya?"


" Saya akan kirimkan foto orang yang bersama Elma tadi, mungkin Tuan mengenali orang itu.," lanjut Damar berencana mengirimkan foto Malik pada Bagas, karena Damar sendiri tidak pernah melihat Malik sebelumnya.


" Oke, Pak Damar. Terima kasih untuk informasinya. Kirimkan saja foto orang itu, siapa tahu saya memang mengenalinya." Bagas menyahuti.


" Baik, Pak Bagas. Saya akan kirimkan foto orang itu sekarang. Saya tutup dulu teleponnya, Pak Bagas. Selamat siang." Damar berpamitan mengakhiri percakapan via telepon dengan Bagas.


" Baiklah, Pak. Damar." Bagas lalu mengakhiri panggilan telepon itu. Tak lama berselang sebuah sebuah pesan gambar masuk ke ponselnya dari Damar.


Bagas membuka pesan yang memperlihatkan foto seorang pria. yang duduk berhadapan dengan Elma. Sayangnya dia tidak mengenali orang itu. Bagas memang tidak pernah tahu siapa orang-orang tersembunyi yang bekerja pada Papanya terkecuali Dahlan dan Taufan..


" Pak Dahlan. Apa dia tahu soal orang ini?" Bagas kepikiran untuk bertanya pada Dahlan. Siapa tahu Dahlan memang mengenali orang itu. Karena dia tahu jika Dahlan sedikit berpihak padanya.


Bagas mencari kontak nomer Dahlan di ponselnya. Dia lalu mengirimkan gambar foto Malik ke nomer telepon Dahlan.


" Pak Dahlan, ada Pak Dahlan kenal dengan orang ini? Apakah dia salah satu orang suruhan Papa?"


Itu pesan yang dikirimkan oleh Bagas pada Dahlan. Bagas tidak tahu jika saat ini Dahlan sudah tidak bekerja pada Papanya lagi.


*


*


*


Bersambung ..


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2