
Setelah mendapatkan hasil rekaman cctv dari manager restoran, Bagas kembali menemui Benny yang menunggu Bagas di meja sambil menyantap makanannya, walaupun tidak dapat nikmati dengan tenang, karena Bagas masih sibuk mencari jejak wanita yang mirip Indhira. Sebelumnya Bagas memang menyuruh Benny untuk menyantap makanan yang sudah mereka pesan terlebih dahulu, sementara dia mengurus soal rekaman cctv.
" Bagaimana, Gas? Sudah lihat rekaman cctv nya?" tanya Benny saat Bagas sudah kembali ke meja.
" Menurutmu?" Bagas lalu memperlihatkan rekaman cctv yang sudah dikirim manager restoran ke ponselnya kepada Benny.
" Perhatikan yang memakai kaos putih!" Bagas menyuruh Benny untuk fokus memperhatikan wanita yang mengenakan kaos putih dan celana denim.
" Tidak berubah, kan?" Bagas meminta pendapat Benny soal fisik Indhira yang tidak mengalami perubahan selain semakin terlihat semakin cantik.
" Kalau dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi kurus sama wajahnya yang terlihat imut, memang mirip dengan Indhira." Setelah mengamati rekaman cctv di ponsel Bagas, Benny pun meyampaikan pendapatnya.
" Dia bukan mirip, tapi memang ini Indhira! Aku yakin ini Indhira! Pantas saja tadi aku merasakan debaran kencang. Rupanya karena Indhira ada di sini." Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Bagas membuat Benny terkekeh.
" Kayak di film-film saja kau ini, Gas!" cibir Benny saat Bagas mengatakan hatinya berdebar kencang karena merasakan ada Indhira di tempat yang sama dengan mereka.
" Terserah kau mau percaya atau tidak, Ben!" Melihat Benny mencibirnya, Bagas langsung merespon dengan berkata ketus.
" Iya, iya, aku percaya ..." Melihat Bagas terlihat kesal atas ucapannya, Benny langsung meralat ucapannya. " Lalu rencanamu bagaimana sekarang?" tanya Benny kemudian.
" Aku sudah mendapatkan plat nomer mobil yang membawa Indhira pergi. Aku tinggal suruh orang menyelidiki siapa pemilik dan alamat orang yang membawa Indhira pergi. Setelah itu, baru aku bisa mencari di mana keberadaan Indhira dari pemilik nomer mobil ini." Bagas menjelaskan rencana selanjutnya.
" Aku doakan semoga berhasil, Gas!" Benny ikut mendoakan semoga Bagas dapat secepatnya menemukan keberadaan Indhira.
" Thanks, Ben." sahut Bagas. " Apa makanmu sudah selesai? Aku akan kembali ke kantor," ucapnya kemudian.
" Lho, kau sendiri belum menyentuh makananmu, Gas!?" Benny menunjuk makanan Bagas yang terbengkalai tidak disentuh sedikit pun
" Aku sudah kenyang, Ben." Bertemu dengan sosok Indhira walau dari kejauhan dan sepintas, sepertinya membuat perut Bagas langsung terasa kenyang. Rasa senang yang dia rasakan seolah menutupi perutnya yang sempat merasa lapar tadi.
" Kau benar-benar seperti ABG yang sedang kasmaran, Gas! Mood makan hilang seketika karena bertemu dengan pujaan hati." Benny meledek Bagas dibarengi dengan tawanya. Yang ditanggapi Bagas dengan senyuman yang terkulum di bibirnya.
Mungkin Benny benar. Baginya, menemukan Indhira lebih penting dari segalanya. Bahkan dari memenangkan tender suatu pekerjaan sekali pun.
***
Mobil Azkia yang mengantar Indhira pulang sudah sampai di depan rumah Pak Edwin. Setelah Indhira turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada Azkia, Azkia langsung pergi meninggalkan Indhira tanpa masuk terlebih dahulu, karena Wanda mengabarkan ada tamu yang sedang menunggu Azkia di butik.
" Assalamualaikum ..." Indhira membuka pintu dan memberi salam saat masuk ke dalam rumah.
" Waalaikumsalam ... Sudah pulang, Indhira?" Ibu Lidya menjawab salam yang diucapkan Indhira dan menyambut kedatangan Indhira.
" Sudah, Tante." Indhira mencium punggung tangan Ibu Lidya layaknya kepada orang tua sendiri.
" Tadi pulang sama siapa?" tanya Ibu Lidya melangkah ke arah sofa lalu mendudukkan tubuhnya di kursi tamu rumahnya.
" Tadi saya diantar sama Bu Kia, Tante." Indhira mengikuti apa yang dilakukan oleh Ibu Lidya, duduk di sofa, karena dia tahu maksud Ibu Lidya adalah mengajaknya berbincang.
" Diantar istri bos kamu itu?" Ibu Lidya tahu nama Kia adalah nama istri dari bos Indhira.
" Iya, Tante. Bu Kia istrinya Pak Raffa," sahut Indhira mengiyakan.
" Dia mengantar kamu pulang kemari, baik sekali dia itu ya, Ra?"
" Iya, Tan. Bu Kia juga baik sekali. Seperti Rissa dan keluarga Tante dan Om." Tentu Indhira akan selalu mengingat orang-orang yang selama ini menolongnya dan menyemangati dia untuk tetap tegar menghadapi segala macam cobaan yang terus menderanya.
" Syukurlah kamu selama ini dekat orang-orang yang baik sama kamu, Ra." Walau bukan anak kandungnya, namun Ibu Lidya ikut senang melihat Indhira dilindungi oleh banyak orang yang perduli kepada sahabat anaknya itu.
" Oh ya, tadi kamu disuruh menemui istri bos kamu itu, ada apa memangnya, Ra?" Ibu Lidya menanyakan maksudnya berbincang dengan Indhira
" Tadi Bu Kia menanyakan apa saya masih sanggup bekerja di cafe, Tante."
" Lalu?" Ibu Lidya tidak sabar mendengar jawaban dari Indhira sehingga langsung memotong perkataan dari Indhira.
" Saya bilang terserah Bu Kia dan Pak Raffa saja, Tante. Saya 'kan tidak mungkin memilih, Tan." lanjut Indhira.
" Terus bagaimana? Apa kamu tetap bekerja di cafe?" Walaupun dia tidak ingin Indhira dikeluarkan dari La Grande Caffe, namun Ibu Lidya juga khawatir jika ada pengunjung cafe yang kembali usil kepada Indhira seperti kemarin.
__ADS_1
" Tidak, Tante. Bu Kia menempatkan saya bekerja bersama beliau untuk menjadi asisten pribadinya Bu Kia di butiknya." Indhira menjelaskan tugas baru yang diberikan Azkia kepadanya.
" Asisten pribadi? Asisten pribadi itu tugasnya apa, Ra?" tanya Ibu Lidya tak tahu apa yang akan dikerjakan oleh Indhira.
" Membantu Bu Kia melakukan pekerjaan yang berurusan dengan pekerjaan langsung atau yang bersifat pribadi, Tante." Indhira menerangkan secara garis besar pekerjaan yang diembannya saat ini.
" Oh, gitu. Lalu kapan kamu mulai bekerja lagi?" tanya Ibu Lidya kembali.
" Mulai besok, Tan. Butik buka jam sembilan dan tutup jam enam. Tapi, sebelum ke butik saya diminta datang ke rumah Bu Kia dulu, jadi saya harus berangkat lebih awal, Tan." tutur Indhira.
" Tidak apa-apa, Ra. Kamu fokus saja dengan pekerjaan kamu, mumpung kamu mendapatkan bos yang baik. Tante hanya berpesan, kamu tetap harus bisa jaga diri dan menempatkan diri kamu. Mereka sudah baik terhadapmu, kamu juga harus bisa menjaga kepercayaan yang mereka berikan kepada kamu, Indhira." Ibu Lidya memberikan nasehat-nasehatnya kepada Indhira.
" Iya, Tante." sahut Indhira.
" Ya sudah, sekarang kamu makan saja dulu,, pasti kamu lapar, kan?" Ibu Lidya menyuruh Indhira untuk segera mengisi perutnya terlebih dahulu.
" Saya sudah makan, Tante. Tadi saya diajak Bu Kia menemani beliau makan siang." Indhira mengatakan jika dia sudah makan siang bersama Azkia.
" Oh ya?" Ibu Lidya terkesiap mengetahui keakraban antara Indhira dengan Azkia. " Dia baik sekali orangnya ya, Ra? Adam bilang katanya orangnya galak." Ibu Lidya juga sempat mendengar cerita dari Rissa, jika Adam pernah mengatakan kalau istri bosnya itu galak dan ketus jika bicara.
" Bu Kia baik kok, Tante. Bu Kia bahkan berbincang sama saya seperti bicara pada teman sendiri. Mungkin galak jika ada seseorang yang mengusiknya saja, Tan." Secara tidak sadar, Indhira melakukan pembelaan terhadap bos barunya itu.
***
Indhira selesai membersihkan tubuh Tante Sandra dan memakaikan baju lalu merapihkan rambut Tante Sandra. Sebelum beraktivitas, Indhira menyempatkan waktu mengurus Tante Sandra sementara Ibu Lidya sibuk memasak di dapur menyiapkan menu sarapan pagi.
" Ra, kamu sarapan dulu. Sudah jam setengah tujuh. Biar Sandra nanti Tante yang suapi." Ibu Lidya memanggil Indhira yang baru keluar dari kamar Tante Sandra membawa pakaian kotor milik Tante Sandra.
" Iya, Tante. Saya mau taruh ini dulu," sahut Indhira segera berjalan ke ruang cuci di dapur.
Setelah selesai menyantap sarapan pagi bersama Pak Edwin, Ibu Lidya dan Dhika, Indhira lalu bersiap berangkat memulai aktivitasnya yang baru sebagai asisten pribadi Azkia.
Azkia meminta Indhira untuk berangkat lebih awal ke rumahnya. Azkia sendiri akan berangkat ke butiknya sekitar jam sembilan, sehingga Indhira diminta tiba di rumahnya setengah jam sebelum Azkia berangkat.
Sekitar jam delapan lewat dua puluh menit, Indhira sampai di depan gerbang rumah mewah bercat putih. Nomer rumah yang tertera di tembok pagar rumah itu memang sesuai dengan nomer yang diberikan Azkia kepadanya.
Indhira berjalan ke arah gerbang menghampiri Pak satpam yang berjaga di dekat pintu gerbang.
" Assalamualaikum. Permisi, Pak. Mau tanya, apa benar ini rumahnya Pak Raffa sama Bu Kia?" tanya Indhira kepada security yang berjaga di depan.
" Waalaikumsalam, iya benar, Mbak. Mbak nya ada keperluan apa, ya?" tanya Pak Tono, security yang berjaga pada Indhira.
" Saya Indhira, Pak. Saya diminta Bu Kia untuk datang kemari." Indhira memperkenalkan dirinya kepada security rumah Azkia itu.
" Oh, sebentar. Saya konfirmasikan ke Bu Kia dulu ya, Mbak!?" Pak Tono segera menuju ke arah pos nya untuk menghubungi ART di dalam rumah Azkia.
Sekitar lima menit Indhira menunggu di depan pintu, akhirnya Pak Tono membukakan pintu gerbang untuknya dan mempersilahkan Indhira masuk.
" Maaf ya, Mbak. Harus lama nunggunya," ujar Pak Tono karena membuat Indhira harus menunggu.
" Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti, kok!" Indhira tentu memahami jika Pak Tono hanya menjalankan tugas. Tidak mungkin Pak Tono sembarangan memberi ijin orang masuk ke dalam rumah majikannya sendiri tanpa seijin yang punya rumah.
Setelah meninggalkan Pa Tono, Indhira lalu berjalan ke arah teras rumah Azkia dan menekan bel di dekat pintu rumah.
Indhira memperhatikan halaman rumah mewah yang terlihat sangat asri dengan ditanami beberapa tanaman hias yang. sangat menyejukkan mata. Ini bukan pertama kalinya bagi Indhira masuk ke dalam rumah mewah. Sebelumnya dia pernah masuk ke rumah yang lebih besar dan lebih mewah dari rumah ada hadapannya saat ini. Yaitu saat dia diajak oleh Bagas ke rumahnya yang akhirnya membuat peristiwa itu terjadi.
Indhira menarik nafas dalam-dalam saat mengingat kejadian kelam itu. Hingga akhirnya pintu rumah Azkia terbuka.
" Assalamualaikum, Mbak. Saya Indhira, saya diminta Ibu Kia untuk datang kemari." Indhira memperkenalkan dirinya kepada wanita yang dia duga adalah ART di rumah Azkia.
" Waalaikumsalam. Silahkan masuk, Mbak." Uni, salah satu ART di rumah Azkia mempersilahkan Indhira masuk ke dalam rumah.
" Langsung ke kamar Mbak Kia saja yuk, Mbak!" Uni yang sudah diperintah Azkia untuk membawa Indhira ke kamarnya langsung mengajak Indhira untuk menaiki anak tangga menuju kamar Azkia.
Tok tok tok
" Mbak Kia, ini sudah ada Mbak Indhira." Sesampainya di depan kamar Azkia, Uni mengetuk pintu kamar Azkia.
__ADS_1
" Masuk saja, Mbak Uni!" terdengar sahutan dari kamar Azkia.
" Ayo, silahkan masuk, Mbak!" Setelah Uni membukakan pintu, dia lalu mempersilahkan Indhira untuk masuk ke dalam kamar.
" Iya, Mbak." Dengan langkah ragu Indhira masuk ke dalam kamar Azkia. Ada rasa jengah jika harus masuk area privasi seperti kamar bagi Indhira. Tapi, karena itu atas perintah Azkia, Indhira pun mau melakukannya.
" Selamat pagi, Bu." Indhira menyapa bosnya yang sedang menyapu bulu matanya dengan maskara.
" Pagi, ke sini, Ra!" Azkia menyuruh Indhira mendekat ke arahnya.
" Kamu sudah sarapan?" tanya Azkia masih melanjutkan membentuk bulu matanya agar semakin tebal dan nampak jelas.
" Sudah, Bu." sahut Indhira. Pandangan Indhira mengarah ke foto pernikahan Azkia dan Raffasya di atas sofa.
" Jangan aneh kalau lihat wajahku masam di sana, Ra! Soalnya aku terpaksa nikah sama suamiku." Azkia terkikik menceritakan secara jujur.
Awalnya Indhira merasa tidak enak karena ketakutan sedang memperhatikan foto pernikahan Azkia dan Raffasya, namun saat mendengar kalimat Azkia, dia hanya ikut tersenyum melihat kebahagiaan Azkia dan Raffasya.
" Kamu jam berapa dari rumah?" tanya Azkia kembali
" Jam delapan kurang tadi, Bu."
" Repot banget ya kalau harus sampai sini jam setengah sembilan?"
" Tidak kok, Bu." sanggah Indhira.
" Ya sudah, tolong kamu masukan laptop itu ke tas, Ra!" Azkia sudah mulai memberi perintah kepada Indhira. " Aku mau ganti pakaian dulu, setelah itu kita langsung berangkat saja!"
" Baik, Bu." Indhira lalu mengerjakan apa yang diminta oleh Azkia. Mulai hari ini, apapun yang diperintah oleh Azkia harus dia turuti.
***
Bagas bersiap untuk berangkat ke kantornya. Dengan tas kerja di tangan kanannya, dan blazer tersampir di lengan kirinya, sementara ponsel berada dalam genggamnya, pria itu tampak gagah berjalan menuruni anak tangga.
" Den Bagas sudah mau berangkat?" tanya Mbok Nah saat berpapasan dengan Bagas di teras rumah.
" Iya, Mbok Nah. Aku berangkat dulu," pamit Bagas kepada Mbok Nah, ART yang sudah bekerja di rumah orang tuanya sejak dia kecil.
Hampir setiap hari, beginilah yang Bagas rasakan. Tiap hendak berangkat ke kantor, hanya Mbok Nah yang dia temui di rumah. Sementara Papanya sudah berangkat lebih awal, sedangkan Mamanya sibuk dengan aktivitasnya sendiri dengan Genk sosialitanya. Hal ini sudah dia rasakan sejak dia kecil.
" Ya sudah, hati-hati ya, Den. Jangan ngebut bawa mobilnya." Mbok Nah mengingatkan Bagas untuk berhati-hati di jalan.
" Iya, Mbok. Saya berangkat ya, Mbok Nah." Setelah berpamitan pada Mbok Nah, Bagas lalu melangkah menuju mobilnya.
Ddrrtt ddrrtt
Ketika hendak menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba Bagas mendengar ponselnya yang dia taruh di kursi sebelah kemudinya bersama tasnya berbunyi. Bagas segera mengambil ponselnya itu lalu mengangkat panggilan masuk dari Damar, orang yang dia suruh mencari informasi soal Indhira.
" Halo, bagaimana, Pak Damar? Apa Pak Damar sudah mendapatkan info soal pemilik plat mobil itu?" tanya Bagas kemudian, saat dia mengangkat panggilan telepon yang masuk ke dalam ponselnya itu.
" Sudah, Pak Bagas. Saya sudah mendapat informasi soal siapa pemilik nomer mobil yang dimaksud oleh Pak Bagas." Dari seberang, Damar memberikan jawaban yang sangat ditunggu oleh Bagas.
" Siapa dia, Pak Damar?" Bagas merasa penasaran.
" Menurut data yang saya dapatkan, pemilik nomer mobil itu bernama Almayra Azkia Atmajaya, Pak. Dia tinggal di daerah Menteng, Alamat lengkapnya nanti saya kirimkan. Saya juga sudah mengecek ke lokasi. Tapi, saya tidak mendapat informasi dari tetangga sekitar, karena sepertinya mereka sangat menjaga privasi tetangga di kawasan perumahan itu, Pak." jawab Damar, menyampaikan penyesalannya karena tidak mendapat informasi lengkap soal Azkia.
" Ya sudah, tidak apa-apa, Pak Damar. Tolong kirimkan saja alamat orang itu!" Bagas tidak mempermasalahkan jika Pak Damar sulit mendapat informasi tentang Azkia, yang terpenting dia sudah mendapatkan alamat tempat tinggal Azkia.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1