
Indhira menatap Bagas yang dengan enteng menyebut telah mentransfer sejumlah uang bernilai fantastis menurutnya, hanya untuk mengadakan syukuran pernikahan sederhana mereka. Indhira tidak menyangsikan finasial keluarga besar Bagas. Namun, baginya nilai yang disebutkan oleh Bagas tadi terlalu berlebihan jumlahnya.
" Seratus juta, Bagas?" Ibu Lidya pun sampai tercengang karena menerima uang dalam jumlah besar tersebut. Saat dia menikahkan anak laki-lakinya saja dia hanya memberikan sejumlah tiga puluh juta kepada pihak keluarga menantunya untuk pernihanan kakak dari Rissa. Sementara saat menikahkan Rissa, Adam menyerahkan uang dapur senilai dua puluh lima juta. Tapi dia dapat menyelenggarakan pernikahan anaknya dengan meriah, karena pihak keluarga besannya dari anak pertamanya itu juga menambah uang untuk mengadakan resepsi, begitu juga saat pernikahan Rissa, dia dan suami pun ikut mengeluarkan biaya sebagai pihak pengantin wanita. Namun kini, hanya mengadakan pengajian kecil dan syukuran sederhana, Bagas menyerahkan uang yang cukup besar, bahkan bisa untuk mengadakan resepsi di gedung. Apalagi Bagas mengatakan jika kurang, pria itu akan menambah jumlahnya.
" Apa itu tidak terlalu besar, Bagas?" Pak Edwin ikut merespon nominal yang dikirimkan Bagas.
" Memang seharusnya berapa, Om, Tante? Saya tidak tahu. Sebaiknya Tante pegang saja dulu, saya takut itu kurang. Nanti saya minta tolong ke Tante untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan Indhira untuk akad nanti." Bagas memang tidak tahu berapa biaya yang dibutuhkan, sehingga dia mengatakan jika nilai yang dia transfer masih dalam jumlah yang wajar. Dia menitipkan uang ratusan juta seperti memberi uang senilai satu atau dua jutaan saja kepada Ibu Lidya.
" Jumlah ini bisa kamu pakai untuk mengadakan resepsi pernikahan di gedung, lho, Bagas!" Ibu Lidya lalu mengatakan jika jumlah yang ditransfer oleh Bagas, bisa dipakai untuk menyewa gedung untuk melaksanakan resepsi pernikahan.
Bagas lalu menoleh ke arah Indhira yang sejak tadi masih memusatkan pandangan menatapnya. Sepertinya Indhira masih tercengang dengan nominal yang sebutkan oleh Bagas tadi.
" Kamu ingin resepsi di gedung, Ra?" Bagas menanyakan Indhira, apakah setuju melakukan resepsi pernikahan di gedung.
" Hahh? Hmmm, t-tidak, aku tidak mau!" Menyadari jika sedari tadi dirinya sedang termenung kini Indhira terkesiap. Dan tentu saja dia menolak untuk mengadakan resepsi pernikahan di gedung seperti yang ditanyakan oleh Bagas tadi.
" Indhira keberatan mengadakan resepsi di gedung, Tante. Jadi, sesuai yang Tante rencanakan tadi saja, mengadakan syukuran di sini." Bagas memilih mengadakan syukuran di rumah Rissa setelah pulang dari akad di KUA nanti.
" Ya sudah kalau begitu. Nanti lebihnya Tante kasih ke Indhira saja, ya!?" Ibu Lidya yakin jika jumlah yang ditransfer oleh Bagas akan banyak tersisa
" Jangan, Tante!" Dengan cepat Indhira menolak uang yang diberi Bagas kepada Ibu Lidya tadi. Dia tidak enak menerima uang itu. Bagas telah memberikan kepada Ibu Lidya, dia yakin jika Bagas juga tidak ingin mengambil uang lebihannya nanti.
" Tidak usah, Tante. Biarkan saja Tante yang pegang uang itu. Lagipula, selama ini Indhira sudah merepotkan Tante di sini." Mengingat Indhira selama ini sudah menumpang hidup di rumah Pak Edwin dan Ibu Lidya, Bagas tentu saja tidak enak harus bersikap hitung-hitungan dengan orang yang sudah berbaik hati menolong Indhira selama ini.
" Kami di sini ikhlas menolong Indhira, Bagas. Lagipula di sini juga Indhira tidak berdiam diri saja. Dia rajin mengerjakan pekerjaan rumah tanpa diminta. Dia juga sudah membatu Tante mengurus adik Tante, Sandra. Mana mungkin Tante merasa direpotkan dengan adanya Indhira di sini. Yang ada Tante malah senang ada yang membantu Tante." Ibu Lidya menuturkan jika kehadiran Indhira di rumahnya sedikit banyak membantunya.
" Saya senang, selama ini Om, Tante dan Tante Sandra menjaga Indhira dengan baik. Semoga kebaikan hati Om dan Tante berserta keluarga dibalas Allah SWT." Tidak tahu lagi bagaimana cara mengungkapkan perasaan terima kasihnya, Bagas hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk orang tua Rissa yang telah menolong Indhira selama ini.
" Aamiin ..." Indhira dan yang lainnya pun meng-aamiin-kan doa yang terlontar dari mulut Bagas tadi.
" Hmmm, Om, Tante, saya ingin bicara empat mata dengan Om. Apa bisa?" Bagas merasa perlu membahas soal orang tuanya dengan Pak Edwin. Dia sengaja ingin berbincang berdua agar Indhira tidak cemas apalagi sampai merubah pendiriannya untuk menikah dengannya.
" Ada apa, Bagas?" tanya Pak Edwin heran.
" Memangnya kenapa tidak bicara di sini saja, Bagas?" Ibu Lidya memprotes, karena Bagas menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh dia dengar dan ketahui.
" Ini urusan sesama laki-laki, kok, Tante." Tidak enak dituduh ingin menutupi sesuatu dari Ibu Lidya, Bagas mengatakan jika apa yang ingin dia katakan kepada Edwin adalah urusan privacy pria.
" Ya sudah, kalau begitu kita mengobrol di balkon saja." Pak Edwin lalu mengajak Bagas untuk berbicara di teras balkon rumahnya. Sementara Indhira berpamitan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu kepada Ibu Lidya.
" Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Bagas?" tanya Pak Edwin merasa penasaran akan apa yang ingin dikatakan Bagas kepadanya setelah mereka berdua sampai di balkon.
" Soal orang tua saya, Om. Mereka sebenarnya menentang pernikahan saya dengan Indhira," ungkap Bagas dengan nada kecewa.
Pak Edwin membuang nafas perlahan, sebenarnya dia sudah menduga dengan ucapan Bagas yang ingin menikah tanpa resepsi. Bagi seorang keluarga kaya raya, tentu saja resepsi pernikahan adalah moment yang penting untuk mereka selenggarakan.
" Tapi, saya tetap ingin menikahi Indhira, Om. Apa pun reaksi orang tua saya, saya tetap pada pendirian saya!" tekad Bagas sudah bulat.
Pak Edwin menyadari, jika kini Bagas berhak mengambil keputusannya sendiri tanpa tekanan dari orang tuanya. Tapi, dia takut hal ini akan berdampak kepada Indhira.
" Lalu bagaimana dengan Indhira, Bagas? Apakah pertentangan dari orang tuamu tidak mengganggu ketenangan Indhira?" tanya Pak Edwin menyampaikan rasa khawatirnya akan Indhira.
" Itulah yang saya khawatirkan, Om. Saat ini ada orang suruhan Papa saya yang ditugasi untuk mengawasi pergerakan saya. Saya tidak ingin mereka tahu keberadaan Indhira di sini, Om." Bagas menceritakan hal yang sedang terjadi padanya.
" Lalu, apa orang itu mengikuti kamu sampai ke sini?" Pak Edwin semakin dibuat cemas, dia bahkan mengedar pandangan ke depan rumahnya mencari apakah ada yang mencurigakan di sana.
__ADS_1
" Tidak, Om. Tadi saya keluar dari kantor menyamar dan tidak menggunakan mobil saya agar orang itu tidak mengetahui kepergian saya." Bagas menceritakan jika dia sampai harus menyamar sebagai petugas office boy.
" Astaghfirullahal adzim ... sampai segitunya, Bagas?" Pak Edwin sampai menggelengkan kepalanya tak percaya dengan kenekatan Bagas.
" Kalau tidak seperti itu, saya tidak bisa keluar dengan aman, Om." Bagas tertawa kecil mengingat tingkah konyolnya tadi.
" Lalu apa rencana kamu selanjutnya?" Pak Edwin kembali bertanya serius pada Bagas.
" Saya sudah berdiskusi dengan Pak Raffasya soal ini, Om. Dan kemungkinan besar, saya akan mengungsikan Indhira dari sini sampai hari pernikahan tiba. Saya tidak ingin ada orang suruhan Papa atau Papa saya mendatangi rumah ini dan melab rak Indhira, Om." Bagas menjelaskan rencananya sekaligus meminta ijin kepada Pak Edwin untuk membawa Indhira ke tempat yang aman.
Sementara di tempat kediaman Raffasya ...
" Apa Indhira sudah bicara pada Mama?" tanya Raffasya menyibak selimut setelah melaksanakan sholat isya bersama istrinya.
" Indhira? Bicara apa memangnya, Pa?" tanya Azkia dengan tangan mengoles night cream ke wajahnya.
" Belum cerita berarti, ya?" tanya Raffasya kembali.
" Apaan, sih, Pa? Bikin penasaran saja!" Azkia sampai memutar tubuhnya. Dia lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tangannya terlebih dahulu kemudian bergabung dengan suaminya yang duduk bersandar di headbord spring bed empuknya.
" Tadi siang Bagas datang ke tempatku ...."
" Bagas? Astaga ... mau apa dia ke sana? Kalau tidak datang ke butikku, malah datang ke tempat Papa. Kayak pengangguran banget sih CEO satu itu!" Azkia memutar bola matanya menanggapi cerita soal Bagas yang datang ke kantor Raffasya, sampai dirinya menganggap jika Bagas itu seperti CEO yang tidak punya pekerjaan, yang sibuk berkunjung ke tempat yang tidak ada hubungannya dengan perusahaan milik Bagas itu.
Sedangkan Raffasya justru terkekeh mendengar respon dari sang istri yang mengumpat Bagas seperti itu.
" Hati-hati bicara, Ma! Walaupun Mama bilang seperti CEO pengangguran, harta dia banyak, lho! Papa saja tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia." Raffasya membandingkan dirinya dengan Bagas.
" Jangan samakan Papa dan dia, dong, Pa! Beda jauh, tahu!! Meskipun mempunyai kasus yang sama, setidaknya Papa itu mandiri, tidak disetir oleh orang tua Papa! Sedangkan dia? Mau saja mengikuti orang tuanya padahal jelas-jelas orang tuanya salah!" Azkia langsung protes karena suaminya membandingakan Raffasya dengan Bagas.
" Ya sudahlah, jangan diingat yang dulu-dulu. Kita lihat sekarangnya saja. Setidaknya, sekarang ini Bagas sudah bersedia bertanggung jawab kepada Indhira, Ma. Dia bahkan ingin menikahi Indhira Minggu depan." Raffasya menyampaikan apa yang dikatakan Bagas siang tadi di kantornya.
" Apa, Pa? Bagas dan Indhira akan menikah Minggu depan?" Azkia terbelalak mengetahui informasi yang disampaikan oleh suaminya itu.
" Ya memang begitu yang Bagas bilang tadi," jawab Raffasya.
" Kok, Indhira tidak bicara apa-apa sama aku, Pa?" tanya Azkia terheran. Menurutnya, seharusnya Indhira bicara kepadanya juga, karena saat ini Indhira adalah asisten pribadinya.
" Kamu tahu sendiri Indhira itu orangnya bagaimana 'kan, Ma!? Yang ada dia takut duluan, belum apa-apa, pasti sudah diomel-omel sama Mama. Mana berani Indhira menghadapi Mama yang cerewet ini." Raffasya mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil.
" Iihh ..." Azkia memutar bola matanya seraya memiringkan bibirnya mendengar suami menyebutnya cerewet.
" Oh ya, ngomong-ngomong, apa orang tuanya Bagas sudah dapat menerima Indhira, Pa?" tanya Azkia kemudian. Tentu saja ini adalah pertanyaan menarik yang sangat ditunggu jawabannya.
Raffasya menaruh remote di atas nakas kemudian memperbaiki posisi duduknya sebelum menjawab pertanyaan Azkia.
" Sayangnya orang tua Bagas masih belum dapat menerima rencana Bagas untuk menikahi Indhira." Raffasya menjelaskan sikap orang tua Bagas atas rencana pernikahan Bagas bersama Indhira.
" Ini yang aku khawatirkan, Pa. Aku takut orang tua Bagas tidak dapat menerima Indhira, pasti nanti mereka akan menuduh Indhira matre lah, ingin hartanya Bagas saja lah!" Azkia tentu mencemaskan jika Adibrata akan mengintimidasi Indhira.
" Bukan karena itu saja sih, Ma." Raffasya belum sempat bercerita kepada Azkia jika Bagas sebelumnya pernah bertunangan.
" Apa lagi memangnya, Pa?" Azkia merasa ada yang ingin dikatakan oleh suaminya itu.
" Sebelum bertemu dengan Indhira kemarin, Bagas ternyata sudah bertunangan dengan anak teman Papanya." Raffasya membuka rahasia Bagas yang hanya diceritakan Bagas kepadanya.
__ADS_1
" Hahh, apa??" Azkia terkesiap mendengar kabar mengagetkan dari suaminya. " Bagas sudah bertunangan?? Kurang ajar banget itu orang! Sudah bertunangan masih ingin menikah dengan Indhira!" geram Azkia, karena menganggap Bagas hanya akan mempermaikan Indhira saja.
" Ma, tenang dulu! Jangan terlalu emosi seperti itu!" Raffasya mencoba menenangkan sang istri yang terpancing emosi dan menjudge Bagas.
" Papa kenapa masih membela orang itu terus, sih? Sudah jelas-jelas dia itu salah, masih saja dibela!" Melihat suaminya masih saja membela Bagas, Azkia memprotes keras Raffasya.
" Bukan begitu, Ma. Sebaiknya Mama dengarkan dulu penjelasan Papa. Bumil jangan marah-marah terus, dong!" Raffasya mengelus perut sang istri yang masih belum terlalu buncit.
Beberapa hari lalu, Bagas datang ke cafe, dia cerita ke Papa soal pertunangan dia dengan anak dari teman Papanya. Dia tidak berani mengatakan hal tersebut kepada Indhira, karena dia takut Indhira akan menolak kembali padanya jika Indhira tahu kalau Bagas itu telah bertunangan. Padahal tujuan Bagas selama ini adalah mencari Indhira dan kembali kepada Indhira." Raffasya mulai menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi pada Bagas.
" Kalau dia menginginkan Indhira, kenapa dia malah bertunangan dengan wanita lain? Kalau aku jadi Indhira, aku juga ogah banget balikan sama dia! Nanti malah disebut pelakor lagi!" Azkia mengedikkan kepalanya..
" Selama janur kuning belum melengkung, kan masih ada kesempatan buat menyalip, Ma." Raffasya menyeringai, karena dia pun mendapatkan Azkia saat Azkia sedang sayang-sayang nya pada Gibran, yang saat ini malah menjadi adik ipar dirinya.
Azkia melirik ke arah suaminya lalu berucap bernada menyindir, " Pengalaman, ya?"
" Iya, dong!" sahut Raffasya dengan nada bangga.
" Terus cerita Bagas tadi gimana? Dia sudah tunangan tapi ingin menikah dengan Indhira, lalu tunangannya mau ditaruh di mana?" Azkia masih penasaran soal pertunangan Bagas.
" Waktu itu Bagas datang ke cafe, ijin mau ke New York untuk menemui pihak keluarga tunangannya untuk menyelesaikan pertunangan mereka." Raffasya mulai bercerita.
" Lalu?"
" Mantan tunangan dan keluarganya bisa berbesar hati menerima keputusan Bagas itu." Sesuai yang didengar dari cerita Bagas, Raffasya menyampaikan apa yang dia ketahui.
" Semudah itu?" Azkia tidak percaya Bagas dengan mulus memutuskan pertunangannya.
" Itu karena pemikiran keluarga mantan tunangannya itu terbuka, untuk apa melanjutkan pertunangan jika Bagas sendiri tidak dapat memberikan cintanya pada anak mereka. Oang tua yang bijaksana dan sayang kepada anaknya pasti akan memilih kebahagiaan anaknya lebih dari apa pun." Dari kasus yang menimpa Bagas dan tunangannya, tentu saja Raffasya dapat mengambil pelajaran penting tentang sikap orang tua kepada anak-anaknya.
" Yang dikhawatirkan kita saat ini adalah tekanan yang akan diberikan orang tua Bagas kepada Indhira. Sekarang ini Bagas sedang diikuti oleh orang suruhan Papanya. Ini sangat bahaya jika sampai orang itu tahu soal keberadaan Indhira. Bagas berniat menyembunyikan Indhira di tempat yang aman, untuk berjaga-jaga jangan sampai rumah mertua Adam didatangi oleh orang-orang suruhan orang tua Bagas." Raffasya menatap Azkia. " Kamu paham maksud aku, kan?" tanyanya kemudian.
" Harus ada orang yang berani menentang orang tua Bagas?" Azkia dapat memahami apa yang dimaksud oleh Raffasya.
" Iya, harus ada orang yang berani mematahkan argumentasi orang tua Bagas," sahut Raffasya.
" Menurut Papa siapa?" tanya Azkia.
" Tadinya aku ingin menyuruh Indhira tinggal sementara waktu di sini. Papa rasa kita bisa menjadi tameng bagi Indhira. Tapi, karena di sini banyak anak-anak dan Mama juga sedang hamil, Papa batalkan rencana itu. Dan Papa berpikir untuk menitipkan Indhira di tempat orang tua Papa. Menurut Mama bagaimana?" Raffasya menyebutkan tempat yang dia rekomendasikan untuk menjadi tempat persembunyian Indhira..
" Di rumah Papa Fariz dan Mama Lusi?" tanya Azkia.
" Iya, di sana lebih tenang dan tidak ada anak kecil. Kamu setuju tidak?" Raffasya minta pendapat Azkia.
" Setuju, Pa! Aku setuju banget, biar orang tua Bagas itu merasakan mulut pedas Mama Lusi." Azkia dengan cepat menyetujui usulan dari suaminya itu.
*
*
*
Bersambung ....
Untuk yang penasaran bagaimana serunya kisah Azkia dan Raffasya silahkan bergabung di novel MARRY YOU, MY ENEMY, sambil menunggu update kisah Bagas ❤️ Indhira. Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️