
Elma keluar dari ruangan kerja Bagas dengan menggerutu. Dia seakan tidak terima atas keputusan bosnya yang menyebabkan dirinya dimutasi. Selama ini dia merasa sudah bekerja sebaik mungkin, kenapa harus kena mutasi dari posisinya saat ini, yang menurutnya sangat nyaman karena bos dia saat ini adalah mantan kekasihnya, Bagas.
" Si al! Kalau seperti ini, bagaikan aku punya kesempatan untuk mendekati Bagas? Mana aku sudah janji sama orang itu lagi!" Elma mengumpat karena dia sedang menjalankan misi untuk mengganggu kenyamanan rumah tangga Bagas dan Indhira yang membuatnya kaget saat mengetahui ternyata mereka berdua telah menikah.
" Apa keputusan mutasi aku ada campur tangan karena Bagas sekarang jadi GM di sini, ya? Atau apa mungkin Bagas yang mempengaruhi Pak Gavin hingga aku harus dimutasi dari sini?" Elma mulai curiga jika keputusan mutasi dirinya dari posisinya saat ini adalah karena ulah dari Bagas.
" Tidak mungkin aku tiba-tiba dimutasi dari sini begitu saja jika tidak ada campur tangan seseorang. Dan aku yakin ini adalah ulah Bagas! Sepertinya dia sengaja ingin menyingkirkan aku dari tempat ini." Elma melirik ke arah pintu ruang kerja Bagas dengan rasa kesal.
" Baiklah, kalau cara licik kamu seperti itu, Bagas! Kita lihat siapa yang akan tertawa di belakang, karena aku juga bisa melakukan hal yang sama terhadapmu!" Elma menebar ancaman dengan menyebut jika dia pun dapat bermain licik. Apalagi dia sudah mendapatkan informasi yang disembunyikan Bagas darinya soal pernikahan Bagas dengan Indhira, karena awalnya dia menduga jika Bagas masih terikat pertunangan dengan Evelyn yang membuatkan susah untuk menemukan celah, karena saingannya bukan orang sembarangan. Namun, setelah tahu jika saat ini Bagas justru menikah dengan Indhira, dendamnya pada wanita itu rasanya belum tuntas kalau belum dia balaskan.
***
" Ra, cocok yang mana menurut kamu?" tanya Azkia menunjuk dua buah baju hamil di tangannya. Siang ini setelah mengunjungi Alexa Boutique cabang yang berbeda, Azkia mengajak Indhira mampir ke mall untuk membeli baju hamil.
" Yang warna biru bagus, Bu." Indhira menyebut satu warna yang menurutnya cocok dipakai oleh Azkia.
" Oke, Ra. Aku juga suka yang ini, sih! Tapi yang pink juga bagus." Azkia menyebutkan jika dia bingung dengan dua pilihan warna yang dia suka.
" Saya pikir karena Ibu punya butik, ibu tidak pernah pergi belanja baju di mall, Bu." Indhira terkekeh bercanda.
" Di butik aku 'kan tidak ada baju untuk bumil, Ra. Apa kita perlu order baju hamil juga, ya, Ra? Biar koleksi di butik kita bertambah." Azkia mendapatkan ide untuk menjual koleksi untuk ibu hamil di butiknya.
" Boleh saja, sih, Bu. Tapi jangan stok terlalu banyak dan modelnya harus yang menarik dan membuat nyaman dipakai, Bu." Indhira menyampaikan pendapatnya.
" Oke, Ra. Nanti aku pikirkan lagi rencana menyediakan pakaian untuk ibu hamil di butik kita," sahut Azkia. " Aku mau coba baju ini dulu, Ra." lanjut Azkia berjalan ke arah fitting room untuk mencoba baju yang dipegangnya.
Sambil menunggu Azkia mencoba pakaian yang ingin dibeli, Indhira melirik ke arah patung manekin yang dipasang lingerie dengan bahan tipis merayang berwarna merah menyala.
Indhira mengedikkan bahunya saat membayangkan jika dia sendiri yang menggunakan pakaian dalam yang kurang bahan itu.
" Sayang, pakai ini buat nanti malam, ya!?"
Indhira sontak menoleh ke sampingnya ketika terdengar seorang pria berbicara pada pasangannya.
" Ya ampun, Mas. Malu pakai kayak gitu! Apalagi kita masih tinggal di rumah keluarga kamu. Ada orang tua kamu, kakak kamu, adik kamu. Masa aku harus pakai baju itu!" Wanita yang menjadi pasangan pria tadi memprotes permintaan suaminya.
" Kamu pakainya pas di kamar saja, Sayang." Pria tadi menyarankan istrinya untuk mengenakan pakaian itu ketika di kamar.
" Aduh, ribet, deh, Mas! Kalau mau gituan tinggal buka daster, buka bra, buka celana saja! Tidak usah pakai lingerie kayak gitu. Ujung-ujungnya juga tidak pakai apa-apa. Bukannya kamu lebih senang melihat aku telan jang, kan?" Dengan enteng dan nada bicara yang tinggi sang istri tetap menolak saran yang diberikan sang suaminya tadi.
Indhira sontak memalingkan wajahnya. Dia justru merasa malu sendiri mendengar obrolan seputar urusan ranjang yang dibicarakan oleh pasangan suami istri tersebut tanpa melihat saat ini mereka berada di tempat umum.
" Kamu tahu saja kalau aku lebih suka lihat kamu tidak pakai apa-apa, Sayang." Pria tadi terkekeh masih membahas hal yang menurut Indhira tidak pantas diucapkan di depan umum.
Merasa tidak nyaman mendengar obrolan pasangan suami istri itu, Indhira lalu memilih pergi dari tempat tadi agar dia tidak terus mendengar obrolan dewasa kedua orang itu.
" Kenapa, Ra?" tanya Azkia yang baru selesai mencoba baju di fitting room. Dia lalu menghampiri SPG untuk dibuatkan nota.
" Tidak apa-apa, Bu." jawab Indhira.
" Ya sudah, kita bayar ini dulu. Setelah itu kita makan dulu, ya, Ra. Aku lapar lagi, nih." Selelah menerima nota dari SPG, Azkia mengajak Indhira ke kasir untuk membayar barang yang dia beli.
" Saya menemani saja, tidak ikut makan, Bu. Masih kenyang soalnya." Karena tadi dirinya sudah makan siang bersama Bagas, Indhira menolak diajak makan lagi oleh Indhira.
" Ya sudah, tidak apa-apa," sahut Azkia.
Setelah selesai membayar pesanan, Azkia mengajak Indhira mencari restoran, Mungkin karena kehamilannya yang membuat wanita itu ingin makan kembali padahal sudah makan siang tadi. Sementara Indhira hanya menemani bosnya itu, karena itulah tugas dia sebagai asisten pribadi Azkia.
" Kak Indi ...!"
Saat Indhira dan Azkia ingin masuk ke dalam sebuah restoran pizza, Indhira mendengar seseorang memanggil namanya. Indhira pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya tadi. Indhira terkesiap saat melihat sosok Kartika yang berlari kecil ke arahnya.
" Kak Indi, apa kabar?" Kartika bahkan langsung memeluk tubuh Indhira ketika sampai di hadapan Indhira. Sementara Azkia langsung mengeryitkan keningnya tidak mengenali siapa gadis belia itu
" Kartika? Kamu sedang apa di sini?" tanya Indhira mengabaikan pertanyaan Kartika, dan justru menanyakan apa yang sedang dilakukan Kartika di mall.
" Aku sama teman-teman mau nonton, Kak. Kak Indi sama siapa?" Kartika lalu melirik ke arah Azkia.
" Oh, ini kenalkan ini bos Kakak. Ibu Kia namanya. Kakak sedang menemani bos Kakak ini, Kartika." Indhira memperkenalkan Azkia kepada adik iparnya itu.
" Hai, Tante ..." Kartika menyapa Azkia seraya menyalami dan mencium punggung tangan Azkia.
" Bu, ini Kartika, Kartika ini adiknya suami saya." Indhira pun memperkenalkan Kartika pada Azkia.
__ADS_1
" Oh, hai, Kartika ..." Azkia menyapa baik Kartika.
" Kak Indi mau makan di resto ini, ya? Aku ikut, dong, Kak!" Kartika lalu menoleh ke arah teman-temannya. " Eh, gaes. Aku tidak jadi ikut kalian nonton, deh! Aku mau ikut sama Kakak ipar aku." Tanpa menunggu persetujuan dari Indhira, Kartika langsung membatalkan rencana nonton bareng teman-temannya.
" Yah, payah kamu, Tik! Sudah janjian nonton bareng malah batal." Salah satu rekan Kartika menggerutu karena Kartika gagal ikut nonton dengan mereka.
" Sorry, Mik. Soalnya aku susah banget buat ketemu sama Kakak iparku ini. Mumpung sekarang ketemu, jadi aku mau ikut sama Kak Indi." Kartika menjelaskan agar temannya itu mau mengerti.
" Lalu yang bayarin kita siapa, dong?" tanya Erlin, teman Kartika lainnya.
" Aku yang bayar, deh. Aku kirim saldo OPO ke kamu lima ratus cukup, kan? Aku tidak bawa tunai banyak soalnya. Bisa 'kan pembayaran pakai OPO?" Kartika langsung mengambil ponsel untuk mentransfer sejumlah uang menggunakan aplikasi dompet digital yang dimilikinya.
" Kalau untuk nonton sama beli saja, sih, cukup. Tapi kalau buat makan setelah nonton kurang, dong, Tik!" Mika menyahuti.
" Eh, kalian kecil-kecil sudah jadi preman, ya! Kartika sudah kasih lima ratus ribu untuk kalian nonton, masa makan juga mau minta dibayarin sama Kartika!? Kartika itu masih sekolah sama seperti kalian, kalau minta traktir jangan aji mumpung, mentang-mentang Kartika anak orang kaya, lalu kalian bisa seenaknya menjadikan dia ATM berjalan!" Melihat sikap teman-teman Kartika, rasanya mulut Azkia merasa gatal untuk tidak menegur teman-teman Kartika.
" Kalian mau, dilaporkan ke guru kalian kalau kalian memanfaatkan Kartika!? Orang tua Kartika itu, orang yang punya kuasa di yayasan sekolah kalian. Kalau orang tua dia tahu, kalian memeras anaknya, kalian bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah. Apa kalian mau!?" Seketika Azkia teringat watak Adibrata yang mengeluarkan Indhira sehingga dia menggunakan alasan itu untuk menakut-nakuti teman-teman Kartika.
Mendengar ucapan Azkia, sontak mata Indhira terbelalak. Pada akhirnya dia memang tahu jika keputusan memberhentikannya dari sekolah dulu adalah akibat perintah dari Adibrata. Membayangkan hal tersebut seketika membuat bulu romanya meremang. Dia menyadari betapa arogannya sosok Adibrata itu.
" Tidak, Tante. Maaf ..." Mika dan Erlin langsung ketakutan mendengar ancaman Azkia dan segera minta maaf.
" Nih, saya kasih lima ratus ribu lagi untuk kalian kalau kalian ingin makan!" Di luar dugaan, Azkia justru merogoh uang di dompetnya lalu memberi uang sejumlah lima ratus ribu pada teman-teman Kartika.
Apa yang dilakukan oleh Azkia tentu saja tidak hanya membuat teman Kartika terkejut, tapi Kartika dan Indhira juga.
" Tante tidak usah repot-repot, biar dari aku saja." Kartika bahkan ingin menambah mentransfer saldo OPO untuk temannya makan-makan.
" Bu, jangan, Bu!" Indhira juga melarang Azkia memberikan uang tersebut pada teman Kartika.
" Sudah tidak apa-apa. Ini untuk kalian. Tapi, kalian harus ingat, bersahabat itu harus ikhlas, jangan ada pamrih! Jangan minta-minta lagi seperti tadi kalau tidak ingin dianggap penge mis!" sindiran keras langsung dilontarkan Azkia.
" Baik, Tante. Maaf." Mika dan Erlin kemudian menerima uang pemberian dari Azkia tadi lalu pergi meninggalkan Kartika.
" Tante, maaf atas sikap teman-teman aku tadi, ya!?" Kartika menyampaikan permohonan maaf pada Azkia.
" Tidak apa-apa." Azkia mengibaskan tangannya ke udara. " Kalau Tante boleh kasih saran, cari teman yang baik, jangan cari teman yang hanya mau cari keuntungan dari kita saja." Azkia lalu menasehati Kartika.
" Iya, Tante." Dengan cepat Kartika menyahuti.
" Maaf, Bu. Tidak apa-apa adik saya ini ikut?" Indhira meminta ijin kepada Azkia terlebih dahulu.
" Tidak apa-apa, Ra. Ayo, masuk ...!" Azkia merangkulkan kedua tangannya di pundak Kartika dan juga Indhira mengajak masuk ke dalam restoran.
" Kamu mau pesan apa, Kartika?" tanya Azkia saat mereka sudah memilih meja.
" Aku pesan spaghetti minumnya lychee breeze." Kartika menyebutkan pesanannya. " Nanti aku bayar sendiri saja, Tante." lanjutnya.
" Tidak usah, Kartika. Nanti Tante Kia saja yang bayar." Tentu saja Azkia melarang Kartika membayar makanannya.
" Oh, terima kasih, Tante." sahut Kartika kemudian.
" Kamu apa, Ra?" Kini Indhira yang ditanya oleh Azkia.
" Saya pink float saja, Bu." jawab Indhira.
" Lho, Kak Indi tidak makan?" tanya Kartika karena Indhira hanya memesan minuman saja.
" Kakak tadi sudah makan sama Mas Bagas, Kartika. Jadi masih kenyang," sahut Indhira menjelaskan.
" Kak Indi makan sama Kak Bagas? Di mana? Sekarang Kak Bagas nya mana?' tanya Kartika mencari keberadaan kakaknya.
" Kak Bagas sudah kembali ke tempat kerjanya. Kalau kakak kamu tidak sibuk, biasanya Mas Bagas selalu jemput Kakak untuk makan siang bersama." Indhira menjelaskan kepada Kartika, tentang rutinitas mereka tiap hari.
" Kak Bagas dan Kak Indi tiap hari kalau makan siang bersama? Aku juga mau, dong, Kak," Melihat Bagas dan Indhira sering pergi makan siang berdua, tentu saja Kartika merasa iri bisa bersama mereka, hingga dia meminta agar diajak bergabung dengan kakak dan kakak iparnya itu.
" Nanti Kakak bilang sama kakak kamu, ya!?" Indhira mesti bicara lebih dahulu kepada Bagas soal keinginan Kartika itu, walaupun harus dia akui jika dirinya merasa senang seandainya bisa berkumpul bersama adik dari suaminya itu.
" Aku rasa kalian memang harus sering berkumpul bersama seperti ini, Ra. Biar kakak sama adik ipar bisa saling akrab." Azkia ikut berkomentar. Dia melihat sosok Kartika tidak seperti Adibrata, sehingga dia memberi saran kepada Indhira untuk selalu bertemu dan berkumpul seperti menikmati makan siang bersama seperti mereka saat ini.
" Saya mau saja, Bu. Saya juga senang bisa dekat dengan Kartika. Tapi, saya takut kalau sampai Papa mertua saya tahu, Bu. Kemarin saja Kartika ingin main ke rumah kontrakan kami, suami saya mengkhawatirkan jika sampai ketahuan sama Papanya. Takutnya malah nanti Kartika jadi dikekang tidak boleh ke mana-mana selain pergi ke sekolah." Indhira menjelaskan hal yang membuat cemas suaminya itu.
" Papa mertua kamu itu benar-benar, deh, Ra!" Azkia mengumpat Adibrata yang dianggap tidak punya hati nurani. Namun matanya melirik ke arah Kartika, karena keceplosan menggerutu Adibrata di hadapan Kartika. " Sorry, Kartika." Azkia langung meminta maaf.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, Tante. Saya maklum, kok! Papa saya memang seperti itu. Arogan, mau menang sendiri dan tidak perduli pada kebahagiaan anak-anaknya." Kartika menyadari sikap buruk Papanya sehingga dia dapat memaklumi jika Azkia bicara seperti itu tetang sosok Adibrata.
" Kalau saran aku, sih. Sebaiknya kalian bikin jadwal satu Minggu sekali bisa bertemu seperti ini agar tidak mengundang kecurigaan Pak Adibrata. Dan Kamu, Kartika. Coba kamu ajak teman kamu kalau ingin bertemu dengan Bagas dan Indhira, nanti setelahnya kalian mau berpencar tidak masalah, yang penting ketika pergi bersama, jadi tidak mengundang kecurigaan." Azkia memberikan jalan keluar yang terbaik.
" Aku, setuju apa yang diusulkan oleh Tante." Dengan cepat Kartika menimpali. Sementara Indhira tetap harus berbicara dengan suaminya terlebih dahulu untuk membicarakan masalah tersebut.
Empat puluh lima menit kemudian ...
" Ra, apa suami kamu dan adiknya itu anak pungut Pak Adibrata, ya?"
Saat dalam perjalanan kembali ke butik setelah menikmati makanan dan minuman di salah satu restoran pizza, Azkia menanyakan kemungkinan jika Bagas dan Kartika bukanlah anak kandung dari Adibrata, melihat sikap anak dan ayah itu memiliki sifat yang bertolak belakang.
Indhira langsung menyipitkan matanya mendengar dugaan Azkia yang meragukan hubungan darah antara Adibrata dengan Bagas dan Kartika.
" Masa iya mereka anak angkat, Bu!?" Indhira terkekeh mendengar perkataan Azkia tadi.
" Hahaha, siapa tahu ..." Azkia pun ikut tertawa. " Tapi kalau punya adik ipar seperti Kartika itu enak, lho, Ra! Dia bisa berada di pihak kamu jika kamu bermasalah dengan keluarga Bagas." Azkia menyebutkan keuntungan bisa dekat dengan adik ipar, apalagi adik iparnya itu perempuan seperti dirinya dengan Rosa.
" Iya, Bu. Saya juga senang bisa diterima baik oleh Kartika. Bahkan tidak menyangka bisa diterima sehangat itu oleh adik ipar saya. Saya jadi merasa punya keluarga kembali." Indhira tidak dapat menutupi rasa harunya dengan sikap Kartika yang begitu hangat menyambut dan menerima statusnya sebagai istri Bagas.
" Aku harap, mertua kamu itu cepat dapat hidayah, Ra. Biar tidak jahat terus sama anak-anaknya, terutama sama kamu yang selama ini sering dia dzolimi." Azkia berharap Adibrata segera dibukakan pintu hatinya dan menyadari kesalahannya selama ini.
" Saya dan suami saya selalu berdoa agar Papa Adi dapat terketuk pintu hatinya. Kami juga ingin akur sebagai keluarga, dan berbakti kepada keluarga suami saya, Bu. Apalagi saya sudah tidak punya orang tua." Cairan bening mulai mengembun di bola mata Indhira. Seandainya kedua orang tua Bagas baik menerimanya sebagai menantu, dia pasti akan berbakti layaknya seorang anak kepada orang tua kandungnya sendiri.
" Kamu yang sabar, Ra. Insya Allah, suatu saat nanti kamu akan mendapatkan hasil yang manis dari pengorbanan kamu selama ini, Ra." Azkia mengusap pundak Indhira menyemangati Indhira agar tidak patah semangat dan pantang menyerah dalam menghadapi segala macam cobaan yang akan menimpanya kelak.
" Aamiin, Bu." sahut Indhira menimpali dengan cepat.
***
Elma meneguk sampanye sambil menikmati hingar bingar musik yang dibawakan oleh seorang DJ di sebuah club malam. Elma sedang menunggu seseorang untuk membantunya menyelidiki di mana Bagas dan Indhira tinggal saat ini. Sudah tentu dia ingin lebih memfokuskan untuk menye rang Indhira karena dia tahu jika wanita itu adalah sisi kelemahan dari Bagas.
" Hai, apa kau Elma?" Seorang pria menyapa Elma yang sedang menikmati wine nya.
" Kau sudah telat sepuluh menit. Jangan biasakan wanita menunggu!" protes Elma karena telah dibuat menunggu oleh Bimo, orang yang direkomendasikan oleh temannya untuk bisa dia sewa guna menjalankan misinya menyelidiki Bagas dan Indhira.
" Sorry, hari ini aku tidak sedang tugas jadi agak telat datang kemari." Bimo menyampaikan permohonan maafnya kemudian duduk di hadapan Elma.
" Oh ya, ada apa kau mencariku?" tanya Bimo menanyakan maksud dan tujuan Elma mencarinya.
" Aku ingin kau menyelidiki seorang bernama Bagaspati Mahesa. Dia seorang General Manager di hotel Richard Fams. Aku ingin tahu di mana dia tinggal saat ini. Aku ingin kau membawa istrinya keluar dari rumahnua itu, karena aku ingin bertemu dengan istrinya. Tapi, jangan sampai ada yang tahu jika semua ini adalah atas perintahku!" Elma menyebutkan rencana yang harus dijalankan oleh Bimo. Karena dia harus bekerja, tentu dia tidak dapat melakukan aksinya sendirian.
" Hanya itu?" Bimo seolah mencibir tugas yang diberikan oleh Elma terlalu ringan untuknya.
" Berapa kamu berani bayar?" tanya Bimo kemudian.
" Sepuluh juta," jawab Elma, karena Elma mendapat jumlah nominal yang besar dari Malik, tentu saja hanya mengeluarkan uang senilai sepuluh juta tidaklah masalah untuknya.
" Hanya sepuluh juta?" Bimo tidak puas dengan nominal yang disebutkan oleh Elma untuk menyewa jasanya.
" Hei, kau pikir uang sepuluh juta itu sedikit!? Orang harus bekerja sebulan bahkan ada yang berbulan-bulan untuk mendapatkan uang itu, kau bilang, hanya?" Elma kesal karena Bimo terkesan sok jual mahal dengan nominal yang ditawarkan olehnya.
" Dua puluh juta, besok aku akan dapatkan hasilnya langsung." Bimo meminta kenaikan uang yang ditawarkan oleh Elma.
" Lima belas juga. Kalau kau setuju, aku kasih lima juta kontan, sisanya aku beri setelah pekerjaanmu selesai." Elma mengambil jalan tengah di antara nominal sepuluh dan dua puluh juta.
" Oke, deal." Setelah melalui negosiasi alot, akhirnya Bimo sepakat dengan fee yang ditawarkan oleh Elma untuk menjalankan rencana wanita itu.
" Ini uang mukanya." Elma lalu mengeluarkan uang tunai sebesar lima juta rupiah dari dompetnya dan menyerahkan kepada Bimo.
" Oke." Bimo menerima uang itu lalu mendekatkan ke bibirnya mencium lembaran uang yang diserahkan oleh Elma.
Setelah selesai berurusan dengan Bimo, Elma langsung bangkit dari kursinya ingin meninggalkan club malam itu.
" Hei, mau ke mana?" Bimo menahan lengan Elma hingga langkah wanita itu terhenti. " Apa kau tidak ingin bersenang-senang dahulu?" tanya Bimo memyeringai. Dia menatap tubuh Elma yang saat ini berpakaian sek si.
" Singkirkan tanganmu!" Elma menepis tangan Bimo yang mencengkram lengannya. Dia merasa jika Bimo sudah bersikap kurang ajar terhadapnya. Setelah berhasil menyingkirkan tangan Bimo, Elma pun berlari kecil meninggalkan club malam itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy Reading❤️