
Evelyn terkesiap mendengar ucapan Bagas. Dia hampir tidak mempercayai pendegarannya saat ini, hingga akhirnya dia pun bertanya untuk memastikan pendengarannya tadi terkait Indhira.
" Kamu sudah menemukan Indhira?" tanya Evelyn dengan nada tercekat di tenggorokan.
" Aku belum bertemu langsung, tapi aku sudah menemukan kabar dia. Dia ada di Jakarta. Aku bahkan sudah menghubunginya." Bagas menceritakan informasi yang sudah dia kumpulan soal Indhira.
Walau dalam pencahayaan lampu temaram, Evelyn dapat melihat air muka Bagas yang berbinar saat mengatakan jika pria itu sudah menemukan kabar soal Indhira.
Bayangkan, baru mendengar kabar saja Bagas sudah terlihat senang. Apalagi jika Bagas bertemu langsung dengan Indhira. Entah akan seperti apa bahagianya pria itu.
Evelyn menarik tangannya ke bawah meja. Dengan jari tangan saling meremas, menandakan dia sedang dilanda kecemasan. Kecemasan akan masa depan hubungannya dengan Bagas yang seperti akan karam.
Evelyn mulai memahami kalimat bukan berita menyenangkan bagi dirinya yang dimaksud oleh Bagas. Seketika itu juga dia merasakan jika akan terjadi sesuatu pada ikatan pertunangan dirinya dengan Bagas.
" Lalu, hubungannya dengan aku apa?" tanya Evelyn mencoha bersikap tenang. Padahal hatinya seketika kacau dan gelisah dengan kabar yang disampaikan oleh Bagas.
" Kamu tahu kalau selama ini aku merasa bersalah kepadanya. Aku ingin menebus kesalahanku pada Indhira," ujar Bagas.
" Apa arti dari semua ini, Bagas?" Evelyn tahu arah pembicaraan Bagas akan ke mana. Namun, Evelyn berharap ketakutannya itu tidak akan menjadi nyata.
" Maafkan aku, Evelyn. Kamu tahu perasaanku padanya seperti apa!? Aku selama ini menutup diri dari wanita lain karena aku selalu memikirkan dia. Aku ingin bertemu dengannya, meminta maaf dan menebus apa yang sudah aku lakukan terhadapnya." Bagas mengungkapkan apa yang dia inginkan sesungguhnya.
" Apa ini artinya kamu ingin mengakhiri pertunangan kita?" Evelyn langsung menebak maksud dari ucapan Bagas.
" Maafkan aku, Evelyn. Aku tahu kamu wanita baik. Kamu tidak pantas mendapatkan pria breng sek seperti aku. Bahkan setelah kita bertunangan pun, aku justru tetap memikirkan wanita lain."
Walau dengan terbelit Bagas mengatakannya. Namun, Evelyn sudah tahu maksud perkataan Bagas yang sebenarnya.
" Aku tahu ini akan mengecewakan kamu, Evelyn. Tapi aku rasa, aku harus mengambil sikap ini agar kamu tidak merasakan kecewa lebih dalam lagi, jika aku terus melanjutkan hubungan pertunangan kita. Karena hati dan pikiranku tidak bisa berpaling dari Indhira." Bagas mengatakan alasannya ingin mengakhiri pertunangannya dengan Evelyn, dengan alasan tidak ingin melukai perasaan Evelyn lebih dalam lagi.
" Jika kita memaksakan pertunangan kita tetap berjalan sampai ke jenjang pernikahan, kita berdua sama-sama menderita, Evelyn. Mungkin kamu hanya akan mendapatkan status sebagai istriku. Tapi, kamu tidak bisa memiliki raga dan hatiku." Bagas bahkan mengatakan hal buruk jika mereka tetap mengikuti apa yang diinginkan oleh orang tua mereka.
Evelyn menatap lekat manik mata Bagas dengan bola mata mengembun.
" Kamu belum bertemu langsung dengan dia. Kenapa kamu langsung memutuskan mengakhiri pertunangan kita, Bagas? Apa kamu yakin Indhira akan menerima kamu? Bagaimana jika dia sudah memiliki kekasih atau sudah menikah?" Evelyn heran kenapa Bagas bisa secepat ini mengambil keputusan untuk mengakhiri pertunangan mereka.
" Hati aku merasakan jika Indhira akan menerimaku dan memaafkanku," ucap Bagas penuh keyakinan.
* Aku tahu ini mengecewakanmu, Evelyn. Tapi aku tidak dapat terus membohongi perasaanku yang sebenarnya. Karena keinginanku adalah bersama dengan wanita yang aku cintai," lanjutnya.
Kata-kata yang diucapkan oleh Bagas tidak hanya menyakiti, tapi melukai hati Evelyn hingga air mata jatuh menitik di pipi Evelyn.
" Permisi ..." Waitress yang melayani Bagas dan Evelyn datang mengantar makanan dan minuman yang mereka pesan.
" Terima kasih," ucap Bagas kepada sang waitress.
" Aku terima jika akhirnya kamu membenciku, Evelyn. Karena aku memang pe cundang yang selama ini tidak berani melawan kehendak orang tuaku, hingga akhirnya membawamu masuk dalam masalah ini." Bagas terus menyampaikan rasa bersalahnya kepada Evelyn.
" Aku tidak akan menerima pertunangan kita putus, Bagas!" Evelyn menyeka air matanya yang terus mengalir di pipinya.
Bagas mendengus mendengar penolakan Evelyn atas keputusannya yang ingin mengakhiri pertunangan mereka. Dia memang sudah menduga jika tidak akan mudah bagi Evelyn menerima keputusannya.
" Aku tidak ingin pertunangan kita putus, sebelum kamu mendapatkan kepastian jika Indhira benar-benar menerimamu dan memaafkanmu, Bagas!" ujar Evelyn selanjutnya.
Pernyataan Evelyn membuat Bagas bingung. Untuk apa lagi Evelyn tetap mempertahankannya, padahal jelas-jelas dia tidak bisa memberikan cintanya pada wanita itu.
***
Selama dua hari Indhira beristirahat di rumah. Dia lebih fokus mengurus Tante Sandra daripada terus mengurung diri di dalam kamar. Sepertinya bersembunyi di dalam rumah adalah tempat paling aman saat ini dan jauh dari rencana jahat orang-orang yang ingin menjatuhkan nama baiknya.
__ADS_1
Dan siang ini tiba-tiba Adam datang ke rumah mertuanya untuk menjemput Indhira atas perintah Azkia. Indhira sendiri tidak tahu ingin dibawa ke mana? Hingga akhirnya mobil Adam yang membawanya pergi sampai di sebuah butik. Butik yang dia duga milik Azkia karena dia sering mendengar dari rekannya di cafe yang mengatakan jika istri bosnya itu mempunyai bisnis butik.
" Ayo, Ra!" Adam membuyarkan lamunan Indhira yang sedang menatap nama butik itu di neon sign.
" I-iya, Mas." Indhira bergegas melepas seat belt dan turun dari mobil lalu berjalan ke bangunan Alexa Butique yang kini telah di renovasi menjadi tiga lantai.
Indhira pun berjalan mengikuti Adam sampai mereka tiba di depan ruang kerja pemilik butik tersebut yang tak lain adalah Azkia.
" Mbak, apa Mbak Kia ada? Saya Adam, pegawainya Mas Raffa." Saat berhadapan dengan sekretaris Azkia, Adam memperkenalkan dirinya kepada sekretaris Azkia bernama Wanda.
Wanda memperhatikan Adam dan Indhira bergantian sebelum akhirnya dia masuk ke dalam ruang kerja Azkia, dan tak lama kembali keluar.
" Silahkan, Mas, Mbak ..." Wanda mempersilahkan Adam dan Indhira masuk ke dalam ruangan Azkia.
" Siang, Mbak Kia."
" Siang, Bu."
Adam dan Indhira menyapa Azkia yang masih duduk di hadapan mejanya secara serempak.
" Oh, hai, Indhira ..." Azkia hanya menyapa Indhira. Dia bahkan bangkit dari kursinya lalu mendekat ke arah Indhira. " Kamu apa kabar?" tanya Azkia kemudian.
" Alhamdulillah baik, Bu." sahut Indhira pelan dengan menundukkan kepala, karena dia masih malu masa lalunya yang merupakan sebuah aib diketahui oleh Azkia.
" Pak Adam boleh pergi sekarang." Azkia Mempersilahkan Adam untuk pergi meninggalkannya.
" Baik, Mbak. Saya permisi kalau begitu." Adam langsung berpamitan setengah 'diusir' secara halus oleh istri bosnya itu.
" Sini duduk, Indhira!" Azkia menarik tangan Indhira, mengajak Indhira duduk di sofa bersamanya. Azkia bahkan melipat satu kakinya di bawah bo kongnya dengan satu tangan menopang kepala dengan siku tangan menekan sandaran sofa. Layaknya sedang berhadapan dengan teman sendiri.
" Pak Adam bilang kamu sakit kemarin?" tanya Azkia kemudian.
" Saya minta maaf kepada Bu Kia dan Pak Raffa karena keributan kemarin dan karena masa lalu saya," lirih Indhira. Indhira menyadari kejadian akhir pekan kemarin pasti menimbulkan kegaduhan di cafe.
" Ck, tidak usah dipikirkan soal itu!" Azkia mengibas tangannya ke udara. " Aku mengerti apa yang kamu rasakan, karena aku juga pernah berada di posisi yang sama seperti kamu. Walaupun nasib aku tidak setragis kamu," lanjutnya kemudian.
Kata-kata Azkia membuat Indhira menaikkan pandangannya, kini menatap Azkia, mencari tahu maksud dari ucapan Azkia tadi.
" Aku juga pernah membuat aib di masa lalu dengan suamiku, Indhira. Kami juga pernah berbuat dosa, berhubungan suami istri di luar nikah sampai akhirnya aku hamil Naufal" Azkia membuka sekelumit kisah masa lalunya.
Indhira terperangah mendengar pengakuan dari Azkia tentang masa lalu bosnya itu, yang juga pernah melakukan dosa yang sama seperti yang dia lakukan.
" Jadi saat itu, ada yang berniat jahat ingin menjebakku dengan memasukkan obat perang sang ke dalam minuman aku. Mereka bahkan menyewa dua orang pria untuk 'mengerjaiku'. Mereka juga siap untuk merekam aktivitas terlarang itu lalu menyebarkannya ke publik. Tapi, untung saja waktu itu secara kebetulan suamiku datang menolong, sampai aku bisa terlepas dari orang-orang jahat itu. Walaupun akhirnya aku malah melakukan dosa dengan suamiku sampai akhirnya aku hamil." Azkia membuka kisah masa lalunya tanpa ada yang ditutupi pada Indhira.
" Jika saat itu suami aku tidak menolong, mungkin nasib aku akan sama seperti kamu, Indhira. Bisa-bisa kasus video viralku lebih dulu beredar sebelum videomu itu." Azkia menutup ceritanya.
Mendengar cerita Azkia, Indhira benar-benar tidak menyangka jika bosnya itu sempat mengalami nasib yang hampir sama dengannya.
" Maaf, Bu. Saya tidak menduga jika Ibu juga pernah mengalami peristiwa yang hampir sama dengan saya." Indhira mengatakan kalimatnya dengan nada prihatin.
" Iya, Indhira. Walaupun kasusnya berbeda, intinya kita tetap melakukan dosa yang sama," ujar Azkia yang sempat juga merasakan ketakutan saat tahu dirinya hamil. Dia merasa berdosa juga takut karena telah mencoreng nama baik keluarganya, apalagi Papanya seorang dosen yang punya reputasi yang baik.
" Tapi, kita tidak boleh terus terhanyut dengan kesalahan masa lalu, Indhira. Asalkan kita sudah bertobat, sudah memperbaiki diri kita untuk hidup lebih baik. Yakinlah jika kebahagiaan itu akan kita raih ke depannya." Azkia mencoba memberi semangat kepada Indhira agar pantang menyerah menghadapi gelombang cobaan dalam hidupnya.
" Aku banyak mendengar kisah masa lalu kamu dari Adam dan istrinya. Aku juga mendengar dari Fero, bagaimana kinerja kamu selama ini di cafe. Fero bilang jika kamu dapat menjalin kerjasama yang baik dengan rekan kerja kamu. Menurutku sangat tidak adil jika orang terus mendiskreditkan kamu hanya karena satu kesalahan masa lalu kamu yang sebenarnya tidak ingin kamu lakukan." Azkia yang pernah mengalami kejadian yang sama dengan Indhira dapat memahami bagaimana menderitanya menjadi Indhira saat ini.
Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Azkia tentu saja membuat Indhira merasa terharu, bahkan sampai meneteskan air matanya. Begitu banyak orang yang perduli dan dapat mengerti permasalahan yang terjadi pada dirinya selama ini, meskipun mereka tidak mempunyai hubungan darah dengannya. Namun, kenapa keluarganya sendiri. Adik kandung dari Papanya justru membencinya dan bersikap buruk kepadanya? Itu yang tidak pernah Indhira mengerti sampai detik ini.
" Terima kasih, Bu. Terima kasih Ibu dan Bapak dapat mengerti dan menerima kondisi saya." Dengan berlinang air, Indhira menyampaikan rasa terima kasih dari lubuk hatinya yang paling dalam karena sikap bijaksana Azkia juga Raffasya.
__ADS_1
" Sudah jangan menangis terus! Memangnya tidak capek dari kemarin kamu menangis terus?" Azkia mengusap lengan Indhira mencoba menguatkan Indhira.
" Maaf, Bu." Indhira buru-buru menyeka air matanya.
" Oh ya, rencananya kamu masih ingin kerja di La Grande atau tidak?" tanya Azkia kemudian kepada Indhira.
" Saya terserah Ibu dan Bapak saja yang memutuskan." Indhira menyerahkan keputusan kepada bosnya, karena dia tidak berhak memilih.
" Kamu masih sanggup jadi waitress dan bertemu banyak orang?" tanya Azkia kembali.
Indhira tidak langsung menjawab, sejujurnya dia masih takut berhadapan dengan banyak orang termasuk rekan-rekan kerjanya yang dia yakini sudah tahu soal masa lalunya.
" Terserah keputusan Bu Kia dan Pak Raffa saja," ucap Indhira kembali.
" Kamu mau kerja di sini?" tanya Azkia menawarkan pekerjaan di butiknya itu kepada Indhira.
Indhira membulatkan bola matanya mendengar tawaran pekerjaan yang diberikan oleh Azkia kepadanya.
" Bekerja di butik ini, Bu?" tanya Indhira masih tidak mempercayai pendengarannya.
" Iya, kamu mau tidak? Nanti kamu jadi asisten pribadi aku di sini." Azkia menawarkan pekerjaan baru pada Indhira. " Nanti kamu juga bisa bantu pekerjaan Mbak Wanda." Azkia menunjuk ke luar jendela ruangannya di mana meja sekretarisnya itu berada.
" Kalau kamu kerja di sini, aku rasa lebih aman dari gangguan orang yang ingin mengusik hidup kamu." Azkia memberi alasannya menempatkan Indhira di butiknya.
" Saya terserah Ibu saja. Saya masih diperbolehkan bekerja di tempatnya Ibu dan Bapak saja, saya sudah berterima kasih banyak." Kembali Indhira mengucapkan rasa terima kasihnya karena terus ditolong oleh Azkia.
" Ya sudah, kalau kamu setuju. Besok kamu mulai bekerja di sini. Butik ini buka jam sembilan sampai jam enam sore. Tidak masalah, kan?" tanya Azkia meminta kesediaan Indhira mengikuti jam kerjanya.
" Oh, tidak, Bu! Saya tidak masalah," sahut Indhira senang karena dia masih dipercaya bekerja dengan Azkia.
" Ya sudah, kamu hapal 'kan jalan kemari? Nanti pakai Ojol saja. Saya ada Ojol langganan kalau mengantar pesanan pelanggan. Nanti aku kasih nomernya. Jadi kamu bisa pesan offline sama dia biar aman sampai kemari." Azkia benar-benar memperdulikan Indhira sampai keselamatan dan keamanan Indhira pun dia pikirkan.
" Baik, Bu. Terima kasih," ujar Indhira kembali. " Nanti saya naik motor sendiri saja," lanjutnya kemudian.
" Oh ya sudah kalau begitu. Hmmm, kamu sudah makan belum? Kita makan di luar saja, yuk! Aku lagi kepingin makan makanan khas Sunda, nih! Kamu temani aku, yuk!" Azkia bangkit dari sofa lalu berjalan ke arah meja kerjanya untuk merapihkan meja dan memasukkan ponsel ke dalam tas nya.
Sementara masih dari sofa, Indhira memperhatikan Azkia yang sedang membereskan meja kerja. Tanpa terasa lengkungan terlihat di sudut bibirnya karena dia merasa bahagia selalu dikirimikan orang-orang baik yang selama ini membantunya.
Sementara itu di kantor Bagas ...
" Permisi, Pak. Ada tamu yang mengaku teman Bapak, ingin bertemu." Sekretaris Bagas memberitahu Bagas yang berencana hendak keluar makan siang.
" Teman saya, siapa Ester?" tanya Bagas dengan kening berkerut.
" Namanya Pak Benny, Pak." sahut Ester kemudian.
" Benny?" Bagas pun langsung bergegas keluar untuk menemui teman sekolahnya dulu itu.
" Hai, Ben." sapa Bagas pada Benny yang duduk menunggu di sofa tunggu.
" Hai, Gas." Benny pun bangkit dan mendekat ke arah Bagas hingga mereka berpelukan karena sudah cukup lama mereka tidak pernah bertemu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️