
Sabtu malam ini, Indhira dan Bagas akan bertemu dengan Odie di La Grande Caffe, seperti janji yang sudah disepakati kedua sahabat semasa SMA itu.
Indhira menyemprot parfum di beberapa titik nadi seperti yang dia sering lihat saat sang suami menyemprot parfum aroma maskulinnya itu, yang akan membuat aroma parfum tahan lama.
" Mau ketemu siapa, sih? Sampai harus sewangi ini?" Bagas memeluk Indhira dari belakang dan memberikan kecupan di pipi wanita yang dicintainya itu.
" Biar tidak malu-maluin, Mas. Kalau bertemu dengan teman Mas nanti." Indhira menutup botol parfum seharga satu juta lima ratus ribu yang dibelikan sang suami. Harga parfum yang keterlaluan menurut isi kantongnya. " Ini 'kan parfum mahal," lanjutnya melirik ke arah Bagas.
Indhira sempat berdebat dengan Bagas saat Bagas membelikan parfum itu. Dia yang biasa mengunakan parfum seharga lima puluh ribu satu botol merasa jika apa yang dilakukan
Bagas hanya menghamburkan uang semata. Namun, setelah Bagas berjanji tidak akan melakukannya lagi, baru lah kemarahan Indhira sedikit mereda.
" Parfum mahal wanginya tahan lama, tidak murahan seperti yang biasa aku beli. Jadi aku pantas jadi pasangan Mas kalau wangi parfumnya begini." Indhira mengucapkan sindiran, tentu saja menyinggung harga parfum yang mahal.
" Hahaha ..." Bagas tertawa mendengar sindiran sang istri. " Tidak usah menyindir, deh!" Dia lalu mencu bit cuping hidung Indhira karena gemas dengan istrinya itu.
" Kita berangkat sekarang, yuk! Kita naik ojek online saja, ya? Barangkali sampai malam pulangnya." Bagas tidak tega membawa istrinya pulang menggunakan motor sampai larut malam.
" Pakai motor sendiri sajalah, Mas!" Indhira menolak menggunakan ojek online karena menganggap akan lebih boros.
" Aku takut kamu masuk angin kalau pulang malam, Yank." Bagas beralasan mengkhawatirkanf kesehatan sang istri.
" Jangan lebay, deh, Mas! Waktu aku di La Grande, aku juga sering kebagian pulang malam. Lagipula kalau naik motor sendiri, kita bisa menghemat pengeluaran." Mendengar sang suami meremehkan seolah dirinya tidak terbiasa beraktivitas malam hari, Indhira langsung menyangkal jika kondisinya tidak selemah yang dituduhkan sang suami.
Bagas terkekeh mendengar sanggahan dari sang istri, namun dia tetap pada keputusannya ingin menggunakan mobil ojek online untuk pergi ke La Grande Caffe
" Naik mobil ojek online sajalah, Yank! Kalau mau hemat, nanti kita minta Odie antar kita pulang ke sini, jadi irit ongkos, kan?" Bagas berseloroh.
" Kenapa merepotkan orang lain, sih, Mas?" protes Indhira.
" Sama teman sendiri ini, Yank. Lagipula dulu saat sekolah si Odie sering nebeng ikut aku." Bagas mengingat bagaimana saat SMA dulu, teman-temannya ikut menikmati fasilitas yang dimiliki oleh Bagas yang berstatus sebagai anak konglomerat.
" Jangan suka pamrih, deh, Mas! Jangan meminta atau mengharapkan balasan dari apa yang sudah kita kasih ke orang lain!" Indhira mengingatkan agar sang suami tidak perhitungan atas kebaikannya di masa lalu.
__ADS_1
" Iya, iya ... kamu ini senang cerewet sekali setelah menjadi istri, Yank!" keluh Bagas mengomentari sikap sang istri yang banyak memprotes tingkah lakunya.
" Jadi Mas sekarang menyesal menikahi aku!?" tanya Indhira mendelik, memperlihatkan bola matanya yang indah.
" Iyalah aku menyesal!" sahut Bagas dengan cepat.
Indhira sontak mengerutkan keningnya mendengar jawaban sang suami.
" Menyesal, kenapa tidak dari dulu aku nikahi kamu, Yank!? Seharusnya sejak kejadian itu, aku bawa kabur kamu lalu kita kawin lari saja." kelakar Bagas dengan tertawa lebar.
" Astaghfirullahal adzim! Kok, niatnya jelek sekali, Mas?" Indhira menggelengkan kepala merespon jawaban sang suami.
Bagas menyeringai lalu merangkul pundak Indhira dan berkata, " Memangnya kamu pikir yang kita lakukan apa? Tidak beda jauh dengan kawin lari, kan? Sama saja tidak direstui."
Mendengar ucapan sama saja tidak direstui seperti yang diucapkan oleh suami membuat hati Indhira bersedih. Sungguh, bukan seperti ini yang dia inginkan. Sebelum berpacaran dulu, Indhira berharap jika menikah nanti, dia akan diterima baik oleh keluarga sang suami terutama mertuanya, karena dia termasuk anak yang baik dan rajin. Pernah membayangkan akan menjadi menantu kesayangan mertua. Namun saat ini, hal itu hanya angan-angan semata.
" Sudah, jangan terlalu dipikirkan! Kita berangkat sekarang, yuk! Mobilnya sebentar lagi sampai." Bagas kemudian mengajak Indhira segera meninggalkan rumah kontrakan mereka untuk bertemu dengan sahabat lama Bagas.
" Eh, Neng Indhira mau pergi malam mingguan, ya? Pantas tadi tidak kelihatan Sholat Isya di masjid."
" Oh, iya, Bu. Hmmm, ini ... kami mau ada perlu, Bu." Tidak enak rasanya kepergok tidak ke masjid hingga membuat Indhira salah tingkah.
" Oh, tidak apa-apa, kok, Neng Indhira. Namanya juga pengantin baru dan masih muda, pasti ingin malam mingguan seperti pacaran mumpung belum ada anak." Sepertinya Bu Tuti dapat mengerti. " Tapi, besok sore bisa ikut pengajian, kan, Neng? Kebetulan ada warga sini yang mau tasyakuran empat puluh hari kelahiran anak pertama. Jadi nanti kita pengajian di sana." Bu Tuti tidak lupa pada ajakannya pada Indhira beberapa hari lalu.
" Iya, Bu. Insya Allah ..." Indhira menyahuti setelah dia mendapat anggukkan kepala tanda setuju Bagas.
" Ya Sudah, nanti setelah Ashar, Ibu jemput Neng Indhira, biar kita berangkatnya samaan," ujar Bu Tuti kembali.
" Boleh, Bu." sahut Indhira.
" Maaf, Bu. Kami pernisi dulu. Mobil ojolnya sudah sampai." Saat melihat sebuah mobil berhenti di depan gang rumah kontrakannya, Bagas langsung berpamitan agar Ibu Tuti tidak terus mengajak Indhira berbicara.
" Oh, maaf, Mas. Silahkan ... selamat bersenang-senang." Bu Tuti mempersilahkan Bagas dan Indhira yang ingin pergi.
__ADS_1
" Kami permisi dulu, ya, Bu!? Assalamualaikum ..." Indhira berpamitan kepada Bu Tuti.
" Waalaikumsalam ..." sahut Bu Tuti sebelum Indhira dan Bagas menghampiri mobil yang mereka order untuk membawa mereka ke La Grande Caffe.
Bagas membuka pintu mobil dan mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam mobil lebih dahulu, setelah Indhira bergeser tempat duduk, Bagas pun masuk ke dalam mobil ojek online yang dia order.
" .Malam, Mas. Sesuai titik, La Grande Caffe, ya?" Driver ojek online menyapa Bagas yang melakukan pemesanan.
" Iya, benar, Pak." sahut Bagas seraya merentangkan tangan kanannya ke belakang punggung Indhira lalu merengkuh tubuh istrinya itu.
" Kalau pergi berdua naik mobil gini, kita seperti orang kaya, layaknya Tuan dan Nyonya, Yank. Tidak masuk angin seperti kalau naik motor. Benar tidak, Pak?" Dengan terkekeh, Bagas berkelakar seraya bertanya iseng kepada pengemudi mobil yang dia pesan itu.
" Benar, Mas." Driver ojek online menyahuti dengan mengembangkan senyuman. " Lebih nyaman naik mobil daripada motor," lanjutnya.
" Nanti kalau aku punya uang, kita beli mobil yang kayak gini saja, ya, Yank!?" Bagas berencana membeli kendaraan roda empat yang tidak terlalu mewah, namun layak bisa dipakai, setelah dia mengumpulkan uang dari gajinya di tempat Gavin.
" Katanya Mas mau ambil KPR? Satu-satulah, Mas. Jangan semua mau dibeli! Lihat kondisi keuangan kita. Jangan terlalu mengikuti naf su dan keinginan untuk membeli sesuatu. Utamakan yang lebih penting dulu. Untuk saat ini, mending ambil rumah saja, agar kita tidak usah mengontrak. Lagipula untuk kendaraan kita ada motor, kan?" Indhira menegur suaminya yang sudah memikirkan membeli mobil, padahal urusan membeli rumah KPR saja belum beres.
" Istri saya ini hebat 'kan, Pak? Biasanya wanita itu kalau dibilang beli mobil, pasti akan merespon dengan senang hati. Tidak perduli nanti suaminya pusing mikir cicilan KKB, yang penting bisa hidup kelihatan mewah dan mengutamakan gengsi. Uniknya istri saya ini malah tidak mau dibelikan mobil." Bagas membanggakan sikap Indhira yang tidak gila kemewahan dan tidak ingin mempunyai gaya hidup yang terlihat elit.
" Beruntung sekali kalau begitu Mas ini." Driver ojek online menyahuti.
" Beruntunglah, Pak. Mahluk seperti ini, hanya satu di muka bumi ini. Dan ini kepunyaan saya." Tanpa malu dan jengah, Bagas langsung memeluk erat Indhira dan menghadiahi pipi sang istri kecupan berkali-kali.
" Astaghfirullahal adzim! Mas, malu dilihat Pak supir!" Wajah Indhira langsung bersemu karena tindakan sang suami yang tidak lihat tempat jika bermesraan. Sedangkan driver ojek online hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat aksi pasangan muda yang mengorder mobilnya untuk ke tempat tujuan mereka.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading❤️