
" Sore nanti aku akan ke Amerika, Pa, Ma. Aku ingin bertemu dengan Evelyn." Saat menikmati sarapan bersama keluarganya, Bagas menyampaikan niatnya ingin pergi ke Amerika kepada kedua orang tuanya. Atas saran yang diberikan oleh Raffasya, Bagas memberitahu keluarganya soal rencana kepergiannya itu.
Raffasya berpikir, jika Bagas pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Papanya, dia yakin orang tua Bagas akan menaruh curiga. Kepergian Bagas secara diam-diam akan membuat Adibrata penasaran dan semakin gencar mencari informasi seputar keberadaan putranya itu. Apalagi perjalanan Jakarta-New York bukan seperti perjalanan Jakarta-Singapura yang pulang pergi dapat dilakukan di hari yang sama.
Raffasya khawatir kedekatan Bagas dengan Indhira akan terendus oleh Adibrata. Namun, jika Bagas berpamitan dengan alasan ingin bertemu dengan Evelyn, Raffasya memprediksi orang tua Bagas tidak akan menaruh curiga.
" Kamu mau ke sana kok tidak bilang Mama lebih dulu, Bagas!? Mama 'kan bisa ikut ke sana. Mama ingin pelesir, shopping dan healing di sana. Sudah lama sekali Mama tidak pergi ke New York." Angel yang lebih dahulu menyahuti perkataan Bagas. Mama Bagas malah mempunyai rencana sendiri, jika ikut pergi dengan Bagas ke Amerika. " Boleh 'kan, Pa?" Angel meminta ijin kepada suaminya yang langsung dijawab dengan anggukan kepada Adibrata.
" Perasaan baru akhir tahun kemarin Mama ke sana dengan Tante Tamara. baru empat bulan yang lalu, Ma." Dengan cepat Kartika menimpali ucapan Mamanya karena waktu empat bulan bukan jarak waktu yang lama.
" Empat bulan itu lama, Kartika! Semestinya Mama itu bisa sebulan sekali pergi main ke sana." Mendapat sindiran dari anak perempuannya, Angel langsung bereaksi.
" Daripada Mama membuang waktu, melakukan hal yang tidak bermanfaat di sana, sebaiknya Mama di rumah saja menemani Kartika!" Tanggapan berbeda justru terlontar dari mulut Bagas. Bukannya Bagas bermaksud tidak sopan kepada wanita yang telah melahirkannya itu. Namun, dia terlalu mu ak dengan aktivitas yang selama ini dijalani oleh Mamanya yang lebih memikirkan kepentingan pribadi daripada memikirkan soal anak-anaknya.
Sedangkan Kartika hanya menahan tawa mendengar sang kakak menyindir Mamanya. Entahlah, dalam hal menentang kedua orang tuanya, Kartika selalu mendukung Bagas. Karena Kartika pun merasakan hal yang sama seperti Bagas. Tidak merasakan kebebasan, apalagi dalam menentukan keinginan sendiri.
" Sopanlah jika bicara dengan orang tuamu, Bagas!" tegur Adibrata yang tidak senang melihat Bagas memprotes keinginan Angel.
" Apa Mama akan berubah pikiran jika aku bicara dengan sopan?" Bagas justru membalas teguran Papanya. " Selama ini Mama lebih mementingkan urusannya sendiri saja. Apa yang didapat Mama selama ini dengan kesenangan Mama itu? Hanya menghasilkan gengsi dan menghamburkan uang." Bagas berargumentasi, mengatakan apa yang dilakukan Mamanya selama ini tidaklah bermanfaat.
" Apa salahnya dengan menghamburkan uang? Papa bisa mendapatkan uang lebih banyak dari yang Mamamu belanjakan!" Adibrata menganggap jika Bagas meremehkan kekayaannya.
" Aku tidak meragukan kehebatan finasial Papa dalam mengeluarkan dana. Sayangnya hal itu sering Papa lakukan untuk menekan apa yang tidak Papa sukai!" Bagas menyindir kelicikan Papanya. Jika Papanya itu tidak senang akan sesuatu, dia bisa mempergunakan kekuasaannya untuk menekan lawannya. Termasuk saat menekan pihak yayasan dan sekolah untuk mengeluhkan Indhira dari sekolah.
" Apa maksud perkataan kamu itu Bagas?" Sorot mata tajam Adibrata menghu jam seakan menunjukkan ketidak senangan pria itu akan sindiran yang dialamatkan Bagas kepadanya.
" Aku rasa Papa tahu apa yang aku maksud." Bagas lalu bangkit dari kursinya. Dia hendak mengakhiri sarapannya untuk segera berangkat ke kantor. Sebisa mungkin dia harus dapat menghandle pekerjaannya hari ini, selebihnya dia akan menyerahkan urusan perusahaan pada Pak Zaenal.
" Kenapa anak itu, Pa? Belakangan ini sikapnya sangat aneh?" Angel merasa kejanggalan pada diri Bagas belakangan ini.
" Kenapa Mama baru tanya sekarang? Kak Bagas itu sudah aneh sejak Papa kurung di rumah saja, tidak boleh pergi ke mana-mana waktu SMA dulu!" Kartika menjawab pertanyaan Mamanya. Hanya kepada dirinya lah Bagas berkeluh kesah saat menerima hukuman dari sang Papa. Sementara Mamanya terlalu sibuk mengurus aktivitas dan kesenangannya sendiri saja.
" Kartika, kamu masih kecil, jangan ikut campur urusan orang tua!" Adibrata kembali menegur putrinya itu, membuat Kartika memberengut, karena pendapatnya tidak direspon baik, justru malah ditegur oleh Papanya.
***
Indhira melirik ponselnya. Seharian ini Bagas sama sekali tidak menghubunginya. Padahal sejak pertemuan mereka kembali, hampir satu jam sekali Bagas menghubunginya. Baik melalui pesan, sambungan panggilan suara ataupun sambungan panggilan video.
" Apa dia sibuk, ya? Sampai jam tiga tidak ada kabar sama sekali." Seketika Indhira merasa cemas karena Bagas tidak memberi kabar.
" Ra, kita mau ke rumah Mamaku. Sekalian bawa saja tasku, nanti kita pulangnya dari sana." Suara Azkia yang terdengar mengagetkan Indhira yang sedang termenung memikirkan Bagas.
" Baik, Bu." Indhira segera menutup laptop nya dan juga membawa barang-barang bawaan Azkia. Setelah semua beres, dia pun bersama Indhira meluncur ke rumah orang tua Azkia.
" Ra, kalau kamu jadi menikah sama Bagas, berarti kamu tidak ikut bekerja dengan aku lagi, kan?" tanya Azkia saat mereka berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah Yoga dan Natasha.
" Kalau Ibu memperbolehkan saya bekerja, saya pasti mau, Bu." sahut Indhira cepat. Indhira baru saja bekerja bersama Azkia, tidak enak juga jika dia harus berhenti bekerja dalam waktu yang cepat.
" Hahaha, tidak deh, Ra! Aku menyerah saja. Daripada tidak kuat membayar gaji kamu." Azkia justru terbahak mendengar jawaban Indhira yang dianggapnya terlalu lugu.
Indhira menoleh memperhatikan Azkia yang tertawa lepas menertawakan dirinya. Apa yang salah dengan dengan ucapannya tadi? Indhira bertanya-tanya.
" Kalau kamu jadi menikah dengan Bagas, mana mungkin kamu tetap menjadi asisten pribadiku. Kamu itu nanti jadi ibu bos, lho!" Azkia menjelaskan kepada Indhira kenapa dia menertawakan perkataan Indhira tadi.
Kening Indhira berkerut. Mengingat kata istri bos, dia teringat saat dia berada di dalam ruangan kerja Bagas. Walaupun terlihat menyenangkan, namun dia tidak mengharapkan menjadi istri seorang bos, karena dia hanya berasal dari kalangan orang biasa.
__ADS_1
" Kamu harus terbiasa dalam circle istri-istri bos, Ra. Tapi, jangan bergaul dengan mereka yang akan membawa pengaruh negatif buat kamu." Azkia menasehati Indhira agar tidak salah bergaul dengan kaum sosialita.
" Saya tidak berpikir sejauh itu, Bu." Indhira tidak ingin berangan-angan terlalu tinggi menjadi istri seorang bos dan punya pergaulan yang luas dengan kalangan Jetset.
" Kamu benar, Ra. Lebih baik tidak berpikir ke arah sana. Tipe wanita seperti kamu itu mirip dengan Aunty Rara, tidak neko-neko. Walaupun suaminya kaya raya, dia hanya fokus di rumah mengurus anak dan suami. Alhamdulillah, Uncle Gavin tetap setia sama Aunty Rara, meskipun Aunty Rara tidak banyak bergaul dengan kalangan sosialita. Paling hanya dengan Mamaku, Tante Rania, Tante Anin, Tante Mara. Mereka semua istri-istri yang tidak banyak menuntut dan dicintai oleh suaminya masing-masing," ujar Azkia kemudian menceritakan beberapa wanita-wanita yang bisa dijadikan panutan walaupun suami mereka mempunyai harta berlimpah.
" Iya, Bu." Indhira hanya menjawab singkat karena dia tidak ingin terlalu berharap banyak dengan privilege yang akan dia terima jika dia menjadi istri Bagas.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai di rumah orang tua Azkia. Pasangan suami istri itu masih tinggal di rumah yang sama seperti pertama kali menikah, bersebelahan dengan rumah Gavin dan Azzahra.
" Ini rumah orang tuaku, Ra. Kalau sebelah itu, rumahnya Uncle Gavin." Setelah keluar dari mobil, Azkia menunjuk ke arah rumah sebelah orang tuanya.
" Om Gavin dan Tante Azzahra tinggal di lingkungan ini juga, Bu?" Indhira nampak senang mengetahui rumah orang yang sudah berbaik hati menolongnya dulu ternyata berada di hadapannya. Indhira berharap bisa bertemu dengan mereka.
" Apa Om dan Tante Bu Kia ada di rumah? Saya ingin bertemu kembali dengan mereka." Indhira tampak antusias.
" Kalau Aunty kayaknya ada, deh! Kalau Uncle, pasti masih di kantornya, Ra." Karena Azzahra hanya seorang Ibu rumah tangga, Azkia memastikan jika Tantenya itu akan ada di rumah saat ini. " Nanti kita ke sana, deh! Kita masuk dulu, yuk!" Azkia mengajak Indhira masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Indhira tersenyum melihat rumah-rumah mewah di hadapannya. Yang membuatnya kagum penghuni rumah itu mempunyai hati yang sangat baik. Tidak sombong apalagi merendahkan orang lain.
" Assalamualaikum ..." sapa Azkia dan Indhira memberi saat ketika memasuki rumah orang tua Azkia.
" Waalaikumsalam, eh, Mbak Kia." Bi Jun, ART di rumah Yoga menyambut Azkia. Dia lalu melirik ke arah Indhira.
" Ini asisten pribadiku, namanya Indhira, Bi." Melihat Bi Jun terus memperhatikan Indhira, Azkia memperkenalkan Indhira pada ART yang sudah lama bekerja di rumahnya itu.
" Indhira, Bu." Indhira mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya kepada Bi Jun.
" Bi Jun, Mbak." Bi Jun menyambut jabat tangan Indhira.
" Ibu sedang di rumah sebelah, Non." sahut Bi Jun.
" Di rumah Uncle?"
" Iya, Mbak."
" Oh ya sudah."
" Mau Bi Jun panggilkan, Mbak?"
" Tidak usah, Bi! Biar aku saja yang ke sana." Azkia lalu menyuruh Indhira meletakkan barang-barang yang dibawa Indhira di sofa.
" Taruh saja di situ, Ra! Kita ke rumahnya Aunty ku, yuk! Kamu bilang mau ketemu dengan Aunty Rara, kan?" Azkia mengajak Indhira untuk ke rumah Gavin.
" Iya, Bu." Dengan bersemangat Indhira mengikuti langkah Azkia yang berjalan cepat.
" Bu, jalannya jangan cepat-cepat! Ibu 'kan senang hamil. Harus hati-hati!" Indhira memperingatkan Azkia karena dia khawatir melihat Azkia yang berjalan cepat.
" Kamu ini, kalau jalan harus gesit jangan kayak siput!" Azkia terkekeh tak mengurangi kecepatan langkah kakinya.
" Assalamualaikum, Ma, Aunty." Sesampainya di rumah Gavin, Azkia berseru layaknya berada di rumah sendiri.
" Waalaikumsalam ..." Azzahra sendiri yang menjawab salam dari Azkia.
" Assakamualaikum, Tante." Melihat kehadiran Azzahra, Indhira segera menyapa lalu menyalami dan mencium punggung tangan Azzahra.
__ADS_1
" Waalaikumsalam ... lho, ada Indhira?" Azzahra terkejut melihat kehadiran Indhira di rumahnya.
" Iya, Tante." sahut Indhira. Tante apa kabar?" tanya Indhira.
" Alhamdulilah baik, Indhira." sahut Azzahra.
" Indhira itu sekarang jadi Aspri aku, Aunty." Azkia menjelaskan kepada Azzahra mengapa Indhira bisa ikut bersamanya.
" Oh, gitu? Syukurlah. Mending ikut bekerja dengan Kia di butik daripada kamu kerja di cafe. Kamu cantik begini, Tante takut kalau ada pria nakal yang berani menggoda kamu." Azzahra mengusap lengan Indhira, sepertinya wanita itu merasa khawatir wanita po los seperti Indhira harus bekerja di cafe dan pulang malam. Walau bukan anaknya sendiri, Azzahra pun mencemaskan Indhira. Terlebih Indhira punya trauma saat hampir dijual oleh anggota keluarganganya sendiri.
" Di cafe suamiku 'kan aman, Aunty! Kalau ada pengunjung yang berani macam-macam sama pegawai cafe, tidak akan dibiarkan begitu saja!" Azkia langung protes mendengar ucapan Azzahra.
" Iya, Kia. Aunty percaya. Tapi kalau yang menggangu di luar cafe bagaimana? Tidak bisa dipantau sama kalian juga, kan?" Azzahra tetap berpendapat wanita lugu seperti Indhira kurang cocok bekerja di cafe.
" Oh ya, Aunty. Mama mana?" tanya Azkia karena Mamanya tidak nampak bersama Azzahra.
" Ada di dapur, Kia. Sedang bantu Aunty bikin makanan untuk acara nanti malam," sahut Azzahra. " Kamu sama Raffa juga nanti malam datang, kan? Acara malam malam ulang tahun Uncle kamu diadakan di rumah saja bersama keluarga terdekat."
" Pasti dong, Aunty. Nanti malam aku dan suamiku juga anak-anak akan datang kemari, kok!" sahut Azkia.
" Mom, aku mau pergi sebentar, ya!?" Dari arah tangga terlihat seorang pria tampan berjalan menuruni anak tangga.
Indhira, Azkia dan Azzahra menolehkan pandangan ke arah suara tadi berasal.
" Kamu mau ke mana, Rashya? Nanti malam kita mau dinner keluarga bersama, lho!" Azzahra bertanya kepada anak keduanya itu.
" Ada perlu sebentar, Mom. Sebelum dinner juga pasti sudah kembali ke rumah " Meskipun berbicara dengan Mommy nya, namun mata Rashya memperhatikan wanita cantik di samping Azzahra.
" Mata tolong dikondisikan, ya!" Menyadari adik sepupunya itu sedang memperhatikan Indhira begitu lekat, membuat Azkia langsung menyindir adik Rayya yang paling besar itu. Sementara Indhira langsung tertunduk malu karena diperhatikan oleh Rashya.
" Hahaha, namanya juga cowok normal, Kak. Kalau ada yang bening kayak gini, sayang kalau tidak dilihat apalagi tidak diajak kenalan." Rashya menyeringai. " Hai, boleh kenalan? Aku Rashya, kamu siapa?" Rashya mengulurkan tangannya mengajak Indhira berkenalan.
" Indhira." Indhira menyambut uluran tangan Rashya dengan malu-malu.
" Pantas cuaca hari ini terlihat cerah, rupanya karena akan kedatangan bidadari cantik di rumah ini." Rashya tertawa kecil sambil melancarkan kalimat-kalimat rayuan, membuat Azkia memutar bola matanya menanggapi sikap adik sepupunya itu. Sedangkan Indhira justru semakin tertunduk malu.
***
Jam 18:25 WIB pesawat yang akan membawa Bagas ke New York lepas landas dari Cengkareng. Dengan maskapai penerbangan yang dipilih saat ini, dia akan menjalani penerbangan di udara sekitar dua puluh tujuh jam. Pastinya akan sangat melelahkan bagi Bagas, karena renacanya dia hanya menginap semalam, dan langsung pulang ke Jakarta setelah segala urusannya dengan keluarga Evelyn selesai.
Semua urusan kantor selama kepergian dirinya ke New York diserahkan sepenuhnya ke Pak Zaenal, termasuk beberapa pertemuan penting dengan klien perusahaannya.
Setelah lelah menjalani perjalanan sampai puluhan jam akhirnya Bagas sampai di Bandara Internasional John F. Kennedy. Bagas memilih beristirahat di hotel sebelum bertemu dengan Evelyn dan keluarganya.
Sekitar jam empat sore, Evelyn menjemput Bagas di hotel tempat Bagas menginap sebelum bertemu dengan keluarga Evelyn. Sebenarnya Bagas menolak permintaan Evelyn yang ingin menjemputnya. Dia tidak enak harus merepotkan Evelyn. Namun, Evelyn memaksa ingin menjemput Bagas dan pergi bersama sebelum menghadap orang tuanya.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading ❤️