SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Olah Raga Malam


__ADS_3

Indhira tercengang hingga bola matanya membulat sempurna saat Angel menyodorkan perhiasan berlian yang dia yakini harganya bernilai ratusan juta rupiah kepadanya. Hawa panas seketika terasa di daerah sekitar matanya karena cairan bening mulai membasahi bola mata indah wanita itu.


Indhira bukan sedih karena ucapan Angel yang mengatakan jika perhiasan yang dia pakai adalah perhiasan murahan. Indhira juga bukan senang karena mendapat hadiah perhiasan berlian berharga fantastis. Tapi, justru Indira merasa haru karena niat Angel memberikan perhiasan itu agar supaya dirinya terlihat pantas mendampingi Bagas. Indhira tidak ingin berburuk sangka. Karena secara tidak langsung, walaupun terlihat samar, sikap Angel dapat diartikan jika Angel dapat menerima statusnya sebagai istri dari Bagas.


" Simpan baik-baik kalau di rumah, pasti rumah kalian tidak ada satpam yang menjaga, kan? Harga perhiasan ini bisa untuk melunasi rumah KPR kalian!" ucap Angel kemudian.


Indhira menatap tak percaya perlakuan Angel kepadanya. Sungguh di luar dugaan ternyata Mama mertuanya itu tidak menakutkan seperti Adibrata.


" Hmmm, tapi, Bu ... I-ini mahal sekali. S-saya t-takut menyimpannya." Indhira merasa berat menerima perhiasan yang diberikan Angel kepadanya.


" Kalau kamu takut menyimpan ini, kamu simpan saja di bank. Sewa layanan Safe Deposit Box, jadi kamu bisa tenang tidak takut kemalingan." Angel bahkan menyarankan Indhira untuk pergi ke bank dan menggunakan jasa layanan SDB yang tersedia di bank-bank.


" A-apa ini tidak berlebihan Ibu kasih ke saya?" tanya Indhira karena dia merasa apa yang diberikan kepadanya itu terlalu besar jumlahnya, karena dia tidak pernah menerima pemberian sebesar itu sebelumnya.


" Buat saya itu tidak seberapa, masih banyak seperti itu di rumah. Kalau saya memberikan perhiasan ini pada kalian, Papanya Bagas tidak akan curiga." Angel ingin mencari aman, memberi dengan cara lain pada Bagas tanpa terendus oleh suaminya.


" Ini terima saja!" Angel mendekatkan perhiasan itu ke tangan Indhira.


" Ada apa, Ma?" Setelah selesai membayar bill pesanannya, Bagas kembali ke mejanya untuk mengajak Mama dan istrinya pergi. Namun, saat dia kembali ke meja dia melihat Mamanya sedang memaksa sang istri untuk menerima sesuatu.


" Bagas, Mama mau memberi ini buat kalian. Ini bisa dipakai dia kalau kalian pergi menghadiri acara undangan. Kamu ini seorang General Manager, jangan sampai dia bikin malu kamu dengan perhiasan yang dia pakai itu. Atau kalau kamu kesulitan uang, kamu bisa jual saja perhiasan itu. Nanti Mama akan kasih yang baru. Mama punya banyak seperti itu di rumah. Dia bank juga ada." Angel memberi alasan kenapa dia memberi perhiasan kepada Indhira.


" Ma, Indhira itu tidak membutuhkan ini!" Bagas menjelaskan jika istrinya bukan tipe wanita matre yang akan tergiur dengan perhiasan mewah.


" Iisshh, kamu ini! Perhiasan ini penting untuk dia, Bagas! Kamu itu bos di hotel yang kamu kelola, masa istri bos tidak punya perhiasan mewah? Sudah kalian simpan saja!" Angel memaksa agar Indhira menerimanya.


Indhira menoleh ke arah sang suami, tentu saja dia akan menuruti apa yang Bagas perintahkan.


" Tidak usahlah, Ma!" Bagas tetap menolak pemberian dari Mamanya untuk Indhira.


" Bagas, Mama ini ingin memberi kalian. Kalau kamu takut Papa mengecek transaksi Mama, Mama yakin Papa kamu tidak akan mungkin ingat perhiasan Mama ini. Kamu tahu sendiri, Mama itu punya banyak koleksi berlian, kan?" Angel yakin suaminya tidak akan memperhatikan perhiasannya jika menghilang satu set perhiasan saja.


Bagas tahu Mamanya itu punya puluhan set perhiasan, Bahkan saking banyaknya, Papanya sampai membelikan lemari besi khusus untuk menyimpan perhiasan Angel.


Bagas menatap tak percaya ke arah Mamanya. Sama seperti Indhira, dia pun dibuat tertegun ternyata sang Mama dapat menerima Indhira sebagai memantunya walaupun tidak ucapkan secara langsung.


" Terima kasih, Ma." Bagas membungkukkan tubuhnya memeluk tubuh sang Mama dan membenamkan kecupan di pipi Angel.


" Kalau kamu butuh dana, kamu tinggal bilang saja, nanti Mama kasih perhiasan Mama yang lain. Kamu bisa jual perhiasan Mama itu." Angel berjanji akan memberi perhiasan miliknya yang lain pada Bagas dan Indhira.


" Tidak usah, Ma! Ini saja sudah cukup, tidak akan habis, kok." Bagas menolaknya. " Yank, kamu simpan pemberian dari Mama itu." Bagas meminta Indhira merawat parhiasan emas bertahtakan berlian itu.


" Sebaiknya kamu simpan di safe deposit box di bank biar lebih aman, Bagas." Angel pun menyarankan kepada Bagas untuk menggunakan salah satu layanan bank untuk menyimpan surat atau benda-benda berharga. Karena dia yakin Bagas tidak mempunyai lemari besi di rumahnya

__ADS_1


" Iya, Ma." sahut Bagas. " Ya sudah, kita pergi sekarang?" tanya Bagas kemudian.


Angel dan Indhira bangkit dari duduk, yang langsung dirangkul oleh Bagas. Saat ini pundak Angel dan Indhira berada dalam rengkuhan tangan kanan dan kiri Bagas. Tak dapat dipungkiri jika rasa bahagia menyeruak di hati Bagas karena sikap Angel yang lebih terbuka terhadap pernikahannya dan Indhira.


Setelah keluar dari restoran, Angel ikut mengantar Indhira kembali ke butik dan mengantar Bagas kembali ke hotel terlebih dulu. Barulah Angel menemui teman-temannya sesudah mengantar anak dan menantunya ke tempat kerja masing-masing. Angel harus telat selama dua jam dari waktu yang dia janjikan, karena dia harus pergi bersama Bagas dan Indhira. Baginya pertemuannya dengan Bagas ini lebih penting daripada menemui teman-temannya, karena dia sudah lama dan kesulitan untuk bertemu dengan putranya itu. Tapi, setelah dia tahu di mana tempat kerja Bagas sekarang ini, sepertinya dia akan mudah berjumpa dengan Bagas jika dia merasa kangen dengan anak pertamanya itu.


***


Indhira memperhatikan perhiasan yang diberikan oleh Mama mertuanya. Tangannya sampai bergetar karena memegang perhiasan bernilai ratusan juta rupiah, bahkan Angel bilang nilainya bisa untuk melunasi rumah KPR yang dibeli oleh Bagas.


" Apa itu, Ra?"


Indhira terkesiap saat Azkia tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Tadi dia sempat melihat Azkia masuk ke dalam toilet, sehingga dia berani mengintip perhiasan dari Mama mertuanya itu.


" Eh, I-ibu ..." Indhira kembali menaruh perhiasan tadi di tissue yang dia pakai untuk membungkus perhiasan mahal itu.


" Itu berlian?" Azkia sempat melihat cincin yang tadi dipegang oleh Indhira.


" I-iya, Bu." Sudah kepalang ketahuan, akhirnya Indhira memperlihatkan perhiasan yang dia bungkus dengan tissue.


" Ini berlian asli semua, lho, Ra! Punya siapa, Ra?" Azkia memperhatikan satu persatu perhiasan itu. Dia terkesiap Indhira memegang perhiasan emas berlian yang nilainya dia yakini pasti tidaklah murah.


" Ini punya Mamanya suami saya, Bu." ungkap Indhira jujur mengatakan jika perhiasan yang dia pegang adalah milik Mama mertuanya.


" Mama mertua kamu? Kok bisa ada sama kamu?" Azkia makin heran bagaimana perhiasan Mama mertua Indhira bisa ada di tangan Indhira.


" Lalu kami pergi makan bersama dan Mama suami saya memberikan perhiasan yang beliau pakai ini, Bu." ungkap Indhira.


" Mama mertua kamu kasih kamu perhiasan ini, Ra? Serius?" Azkia saja sampai tidak percaya jika Mama mertua Indhira bisa bersikap baik memberikan perhatian dengan memberi perhiasan mahal pada Indhira. Tadinya dia berpikir jika sikap Mamanya Bagas tidak beda jauh dengan Adibrata yang menentang bahkan menghina Indhira.


" Iya, Bu. Beliau bilang biar saya pantas mendampingi Mas Bagas kalau pergi bersama menghadiri undangan atau pesta. Karena jabatan Mas Bagas sebagai General Manager, katanya saya tidak pantas memakai perhiasan murahan yang saya pakai sekarang ini." Secara jujur Indhira menceritakan apa yang diucapkan oleh Mama mertuanya.


" Hahaha ... ya ampun, Mama mertua kamu bilang gitu?" Azkia justru menanggapinya dengan tertawa. " Tapi, memang seharusnya kamu upgrade perhiasan kamu itu, Ra! Kamu itu sekarang istri bos, lho!" Azkia setuju dengan pendapat Angel soal pehiasan yang kini dipakai oleh Indhira. Perhiasan yang dipakai Indhira terkesan terlalu sederhana. Mungkin hanya cincin pernikahannya saja yang terlihat ada harganya.


" Ra, tidak ada salahnya kamu harus menyesuaikan dengan jabatan suami kamu, tapi jangan terlalu berlebihan. Perhiasan untuk istri bos itu penting, lho, Ra. Asalnya jangan terlalu glamor dan terkesan norak. Selera Mama mertua kamu ini juga bagus. Modelnya sederhana tapi elegan, harganya juga pasti mahal. Kamu pakai saja kalau ada acara penting mendampingi suami kamu." Azkia mengembalikan perhiasan itu pada Indhira.


" Simpannya jangan sembarang, Ra! Masa dibungkus sama tissue, doang?" Azkia lalu berjalan ke arah meja kerjanya. Dia ingat jika dia menyimpan kotak perhiasan kosong di laci meja kerjanya lalu memberikan kotak perhiasan itu kepada Indhira.


" Taruh di sini biar tidak tercecer," ujar Azkia.


" Terima kasih, Bu." Indhira menerima kotak perhiasan dari Azkia lalu menaruh perhiasan yang diheri Mama mertuanya itu ke dalam kotak.


" Ibu pernah menyimpan perhiasan di bank?" tanya Indhira, dia teringat perkataan Mama mertuanya yang menyuruhnya menyimpan perhiasan itu di dalam brankas di bank.

__ADS_1


" Aku tidak pernah menyimpan perhiasan di sana, karena aku tidak terlalu suka sama perhiasan jadi perhiasan aku tidak banyak, paling cuma ada tiga set di rumah," sahut Azkia.


" Tapi kalau untuk surat-surat berharga, aku dan suamiku titipkan ke bank, pakai layanan SDB saja, paling bayar sekitar dua ratus lima puluh sampai sembilan ratus ribu rupiah pertahun tergantung ukuran untuk biaya sewanya." Azkia pun rupanya memakai layanan yang disebutkan oleh Angel tadi.


" Kalau untuk tempat tinggal kamu sekarang ini, memang bagus disimpan di bank, bayar uang sejumlah itu dalam kurun waktu setahun, tidak masalah, Ra. Yang penting terhindar dari kemalingan." Azkia menyebut keuntungan menggunakan safe deposit box.


" Nanti kalau kita ke bank sekalian kamu ajukan permohonan sewa SDB nya, kamu sudah punya rekening di sana, jadi tidak harus buka rekening dulu," ujar Azkia kemudian.


" Iya, Bu. Terima kasih ..." sahut Indhira. Dua orang sudah menyarankannya memakai fasilitas yang ada di bank, membuatnya yakin untuk menyimpan perhiasan berharga ratusan juta rupiah itu di bank.


***


" Mas, aku tidak sangka Mama Mas ternyata baik." Indhira yang tidur bersandar di bahu Bagas masih belum dapat menghilangkan rasa harunya karena perlakuan Angel terhadapnya.


" Itu diluar ekspektasi aku, Yank. Aku juga senang Mama bisa menerima kamu sebagai menantu. Apalagi Mama sampai memberi perhatiannya kepada kamu. Berarti rintangan kita tinggal satu, dan yang satu itu yang sudah untuk ditaklukan," keluh Bagas membayangkan sikap keras kepala Papanya.


" Papa?" Indhira mendongakkan kepala menatap sang suami.


" Iya." Singkat jawaban yang diberikan oleh Bagas.


" Kita harus banyak memohon kepada Allah SWT, agar pintu hati Papa terketuk dan bisa menerima kita." Indhira menyemangati sang suami agar tidak lupa mendoakan agar Adibrata dapat luluh dan menerima pernikahan mereka.


" Tapi aku khawatir jika sampai Papa tahu apa yang dilakukan Mama tadi. Bisa-bisa Mama dilarang keluar dari rumah seperti aku dulu" Ada kecemasan di hati Bagas, dia takut Papanya itu mengetahui aktivitas Mamanya hari ini.


" Tadi Pak Zul sudah diperingatkan untuk tidak lapor pada Papa, kan?"


" Iya, semoga Pak Zul bisa dipegang omongannya." Bagas mulai menciumi wajah Indhira dan menempatkan tubuhnya di atas tubuh Indhira. Di luar dugaan, Indhira justru melingkarkan lengannya di leher Bagas dengan mengembangkan senyum di bibirnya.


" Apa ini kode?" tanya Bagas melihat istrinya kini lebih responsif dengan aksinya saat ini.


" Menurut Mas sendiri bagaimana?" tanya Indhira seakan menantang.


Mendengar jawaban dari Indhira, tak membuang waktu, Bagas langsung menyatukan bibir mereka, berciuman penuh has rat. Indhira juga mulai membalas seperti yang Bagas lakukan. Saling melu mat bibir pasangan, hingga lidah mereka saling bersentuhan dan masuk ke dalam rongga mulut sebelum akhirnya kembali bibir mereka saling mengecap.


" Aku suka kamu agresif seperti ini, Yank." desis Bagas saat mereka menjeda pagutan mereka karena keduanya membutuhkan pasokan oksigen untuk bernafas.


" Dengan sikap Mama tadi, aku yakin Mama akan senang jika Mama tahu kalau kamu hamil, Yank. Jadi mari kita olah raga malam supaya kamu cepat hamil." Bahas meloloskan kaos singlet yang dia kenakan di tubuhnya sehingga memperlihatkan tubuh atletis pria itu dengan dada bidang dan perut berpetak-petak.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2