SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Hanya Ingin Melindungi Indhira


__ADS_3

Indhira menyandarkan kepalanya di bahu Bagas dengan tangan melingkar di dada bidang sang suami yang malam itu bertelan jang dada karena udara malam itu terasa panas, meskipun di ruangan itu sudah dipasang kipas angin.


Malam ini mereka tidak melakukan aktivitas bercinta karena Indhira mengeluh kelelahan. Bagas tidak ingin memaksakan kehendak meskipun sebenarnya dirinya selalu ingin melakukan ritual itu setiap ada kesempatan.


" Ternyata suara Mas masih tetap merdu seperti waktu masih aktif ngeband dulu, ya?" Indhira tiba-tiba memuji suara sang suami yang tadi dia dengar kembali beryanyi menggantikan pengamen menghibur para pengunjung kedai nasi goreng.


" Apa ketika kuliah di sana Mas juga sering menyanyi?" tanya Indhira penasaran, apakah ketika kuliah Bagas juga membentuk sebuah band bersama teman-teman kuliahnya sehingga kualitas vokalnya tetap terjaga dan suaranya tetap merdu seperti dulu.


" Iya, aku sering menyanyi di sana," sahut Bagas menanggapi pertanyaan sang istri.


" Bikin grup band juga?" Indhira mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan sang suami.


" Tidak! Aku hanya menyanyi di kamar ketika aku merindukan kamu. Ketika aku merasa kehilangan kamu. Ketika aku merasa bersalah terhadapmu. Setiap aku bernyanyi, adalah lagu yang menggambarkan perasaanku padamu saat itu," tutur Bagas mengungkapkan isi hatinya ketika harus terpisah jauh dengan Indhira.


" Gombal ..." celetuk Indhira spontan.


Bagas melirik ke arah sang istri ketika istrinya itu menyebut jika apa yang dia katakan hanya omong kosong semata.


" Kamu tidak percaya kalau aku ini tersiksa selama jauh dari kamu, Yank?" Bagas tidak menyangka istrinya itu tidak mempercayainya.


Indhira menatap sang suami hingga kita mereka saling bersitatap lekat. Dari tatapan mata suaminya itu dia dapat melihat jika apa yang dikatakan oleh suaminya itu adalah sebuah kejujuran.


" Maaf, Mas." Indhira mengusap rahang sang suami, meminta maaf karena sudah menyangsikan kejujuran suaminya itu.


" Oh ya, Mas. Mas tahu tidak? Pak Raffa itu juga ternyata pandai menyanyi seperti Mas, lho! Dulu waktu pernikahan Rissa di La Grande Caffe, Pak Raffa pernah menyanyikan sebuah lagu untuk mempelai. Pak Raffa waktu itu menyanyikan lagu Naff. Saat itu aku tiba-tiba teringat Mas, aku ingat dulu Mas sering sekali menyanyikan lagu Naff, kan? Suara Pak Raffa bagus dan merdu seperti suara Mas. Waktu aku mendengar Pak Raffa menyanyi, seketika itu merasakan rindu akan Mas." Indhira tiba-tiba teringat ketika dia tertegun mengetahui bosnya itu pandai menyanyi, hal itu justru membuat ingatannya langsung terarah pada Bagas yang tidak tahu bagaimana kabarnya saat itu.


" Kamu mengagumi Pak Raffa, Yank?" Pertanyaan Bagas membuat Indhira mendelik.


" Mana mungkin aku mengagumi Pak Raffa! Lagipula mana ada yang berani mengangumi Pak Raffa, Mas. Bu Kia nya seperti itu ..." Indhira menepis dugaan Bagas yang mengatakan dirinya mengagumi sosok sang bosnya yang memang terlihat sangat karismatik.


" Hahaha, tidak bisa aku bayangkan jika kau berhadapan dengan Bu Kia sebagai rival." Bagas berseloroh membayangkan istrinya itu pasti akan diintimidasi habis-habisan oleh Azkia yang dikenal bar-bar jika sampai Indhira mengangumi Raffasya.


" Ternyata Bu Kia dan Mas Raffa itu punya kisah masa lalu yang hampir sama dengan kita, lho, Mas." Indhira tiba-tiba ingin bercerita tentang kisah Bosnya


" Hampir sama apanya, Yank?" tanya Bagas bingung.


" Bu Kia sama Pak Raffa juga dulu pernah terjebak dengan dosa seperti yang pernah kita lakukan saat itu." Indhira menjelaskan maksud ucapannya pada Bagas.


" Oh ya?"


" Benar, Mas. Menurut cerita Bu Kia. Dulu ada orang yang menyukai Pak Raffa dan cemburu dengan Bu Kia, sampai menjebak Bu Kia dengan memasukan obat perang sang ke dalam minuman Bu Kia, dan mengumpan pria sewaan untuk melayani Bu Kia. Untung saja ketika itu ada Pak Raffa yang menolong, namun justru Pak Raffa lah yang akhirnya melayani has rat Bu Kia yang sedang dalam pengaruh obat itu, sampai akhirnya Bu Kia hamil." Indhira menceritakan apa yang terjadi pada Azkia dan Raffasya.


" Serius, Yank? Bu Kia yang seperti itu bisa kena jebakan orang yang berniat jahat kepadanya?" Bagas terkejut dengan kisah cinta Raffasya dan Azkia.


" Iya, Mas. Orang baik seperti Bu Kia, ada saja orang yang berniat jahat kepadanya, hanya karena cemburu dan kalah bersaing," ucap Indhira.


" Semoga kita juga dijauhkan dari orang-orang yang berniat mengusik kebahagiaan rumah tangga kita, ya, Mas?" Indhira berharap rumah tangganya bersama sang suami dijauhkan dari rencana jahat orang-orang yang tidak menyukai melihat mereka bahagia.


" Aamiin ... kita harus saling percaya satu sama lain, Yank." Bagas menimpali harapan yang diucapkan sang istri.


" Dan kita harus saling terbuka, agar tidak ada kesalahanpahaman di antara kita, Mas." sambung Indhira.


Bagas terdiam mendengar ucapan sang istri. Kata-kata Indhira seakan menyentil sikapnya yang menyembunyikan pertemuannya dengan Elma yang saat ini menjadi asisten di hotel yang dia kelola. Seketika itu dia bingung harus bercerita atau tidak. Karena dia tidak ingin membuat Indhira terbebani dengan posisi Elma saat ini.


" Mas juga harus jujur ke aku jika di kantor Mas ada pegawai wanita yang suka sama Mas, ya!? Di hotel pasti banyak pegawai cantik, kan?"


Bagas kembali menoleh ke arah Indhira mendengar ketakutan Indhira akan adanya pegawai wanita yang kemungkinan menyukainya.


Bagas lalu bangkit dari tidur dan terduduk, membuat Indhira pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Bagas.


" Kenapa, Mas?" tanya Indhira heran.


" Ra, aku minta kamu percaya kepadaku. Mau ada tujuh bidadari turun seketika di hadapanku pun, aku tidak akan berpaling darimu." Bagas menggenggam tangan Indhira mencoba meyakinkan Indhira jika dia tidak akan terpengaruh dengan godaan dari banyaknya wanita yang akan mendekatinya.


Indhira menatap netra Bagas, dia merasakan ada hal yang membuat gelisah suaminya itu. Entah apa yang sedang dipikirkan sang suami.


" Ada apa, Mas? Mas tidak ingin cerita padaku?" Indhira mencoba bertanya apa yang sedang dipikirkan oleh sang suami.


" Tidak ada apa-apa, kok, Yank!" Bagas masih mencoba menyangkal apa yang sedang dia cemaskan.


" Mas, kita harus saling terbuka, kan? Agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi." Indhira masih mendesak sang suami untuk jujur bercerita.

__ADS_1


Bagas menghempas nafas panjang. Sekuat apa pun dia menyangkal, istrinya itu tidak akan percaya pada sanggahan yang dia ucapkan.


" Sebenarnya memang ada yang tidak aku ceritakan kepadamu, karena aku tidak ingin membuat kamu khawatir."


" Ada apa, Mas?" tanya Indhira mulai merasa cemas mendengar suaminya berkata tidak ingin membuat dirinya khawatir.


" Sebenarnya ..." Bagas menatap Indhira beberapa saat sebelum melanjutkan ucapannya.


" Sebenarnya apa, Mas?" tanya Indhira penasaran.


" Sebenarnya aku bertemu dengan sepupu kamu kemarin. Anak dari Tante kamu. Siapa namanya aku lupa ...."


" Dahlia? Mas Bagas ketemu dengan Dahlia? Kapan? Di mana, Mas?" Indhira terkesiap mendengar pengakuan soal pertemuan Bagas dengan Dahlia yang tidak dia duga.


" Di hotel. Dia salah satu staf yang bertugas di resepsionis hotel." Bagas memilih pengakuan tentang pertemuannya dengan Dahlia. Karena soal Elma, dia sudah yakin ingin merotasi pekerjaan Elma agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan olehnya.


" Lalu bagaimana, Mas? Mas cerita soal aku?" Indhira semakin penasaran dengan cerita soal Dahlia.


" Tidak, Yank! Aku tidak ingin dia dan keluarganya mengusik kamu lagi!" Bagas


menyebutkan alasan jika dia tidak ingin keluarga Tante Marta menggangu ketenangan istrinya saat ini.


" Tapi mereka keluargaku, Mas. Bagaimanapun sikap Tante Marta dan keluarganya, mereka satu-satunya keluarga dari Papa aku. Kita tidak bisa memutuskan ikatan persaudaraan dengan mereka begitu saja, Mas." Indhira tidak sependapat dengan pemikiran Bagas. Karena hubungan darah itu tidak akan pernah bisa putus hanya karena satu pihak bersikap buruk kepada pihak lainnya.


" Kamu benar-benar berhati mulia, Ra. Aku sungguh beruntung memilikimu." Bagas mengusap kepala sang istri penuh kasih sayang. Istrinya itu benar-benar seperti berhati malaikat, yang tak menyimpan dendam sama sekali di hatinya.


" Aku ingin sekali bertemu dengan Tante Marta, Mas. Apa Mas bisa tanyakan kepada Dahlia, di mana Tante Marta sekarang tinggal?" Indhira meminta suaminya itu mencari informasi soal tempat tinggal Tantenya itu sekarang ini.


" Nanti akan aku tanyakan, tapi tidak sekarang-sekarang ini." Bagas bersedia menanyakan di mana keberadaan Tante Marta kepada Dahlia, namun dia tidak ingin menanyakan dalam waktu dekat ini.


" Nanti setelah kita punya rumah sendiri dan kita sudah mapan, kita baru akan menemui Tante kamu itu." Bagas menyebutkan kapan waktu yang tepat untuk bertemu dengan keluarga Indhira yang selama ini sudah memperlakukan Indhira dengan sangat buruk.


" Memangnya kenapa harus menunggu kita mapan, Mas? Memangnya kita ingin pamer pada mereka?" Indhira tidak setuju dengan rencana sang suami yang ingin mengunjungi keluarganya setelah ekonomi mereka stabil.


" Kita hanya ingin bersilaturahmi, tidak ingin meminta apa-apa dari mereka. Tidak juga ingin menuntut apa yang sudah mereka ambil dariku, Mas." Indhira menjelaskan niat baiknya untuk memperbaiki silaturahmi dirinya dengan sang Tante yang terputus karena dia saat itu kabur ketika ingin dijual oleh Om Ferry.


" Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi hal ini. Sekarang kita istirahat saja. Besok kita harus beraktivitas kembali." Bagas merebahkan tubuhnya kembali. Dia pun meminta Indhira untuk tidur bersandarkan lengan kokohnya dan tidak terus membicarakan soal Tante Marta dan keluarganya.


" Selamat siang, Pak."


" Siang, Kak Bagas."


Bagas menghentikan langkahnya saat mendengar Dahlia dan rekan-rekannya menyapa. Tentu saja Kalimat sapaan dari Dahlia lah yang membuat dia menahan langkahnya yang berjalan menuju arah lift.


Bagas menoleh dan mengarahkan pandangan pada Dahlia. " Saya rasa kamu tahu posisi saya di hotel ini. Bicaralah yang sopan terhadap atasanmu!" Bagas menegur Dahlia. Tentu saja dia tidak bermaksud gila akan hormat. Dia hanya tidak ingin memberi ruang kepada Dahlia untuk merasa sok akrab terhadap dirinya.


" Hmmm, m-maaf, Pak." Dahlia langsung menundukkan wajahnya karena mendapat teguran dari Bagas.


" Lanjutkan tugas kalian. Fokus pada pekerjaan!" Bagas kemudian melanjutkan langkahnya kembali meninggakan meja resepsionis.


" Kamu, sih, Li! Pakai sok kenal sok dekat segala ..." cibir Fiska meledek Dahlia yang terkena teguran oleh Bagas.


" Bukannya sok kenal sok dekat, Fis! Aku memang tahu dia itu mantan pacar sepupu aku!" Dahlia bersikukuh jika dia memang mengenal Bagas secara pribadi.


" Mantan, kan? Mungkin Pak Bagas juga sudah lupa sama sepupu kamu, makanya Pak Bagas tidak ingin mengingat lagi siapa kamu. Sudah, deh! Jangan memaksakan diri bisa masuk ke dalam circle nya seorang General Manager." Fiska tak henti mencemooh Dahlia karena teguran tadi.


" Sudah, sudah! Jangan pada berisik! Nanti ketahuan Pak bos lagi ngerumpi malah kena tegur lagi, deh! Ayo, kerja, kerja!" Farah mencoba melerai berdebatan kedua rekannya itu.


" Dia, tuh! Sirik banget!" Dahlia mencebikkan bibirnya merasa tidak suka disindir oleh Farah seperti itu.


" Ya sudah, tidak usah dilanjut! Sudah, fokus kerja, kerja!" Farah kembali mencoba mendamaikan Dahlia dan Fiska agar tidak terus berdebat.


Sementara itu, setelah lift yang membawa Bagas sampai di lantai yang dia tuju, Bagas berjalan ke luar lift menuju ruangan kerjanya.


" Selamat siang, Pak." Dengan mengembangkan senyuman manis, Elma berdiri menyambut dan menyapa Bagas yang melintas di hadapannya.


Bagas menoleh ke arah Elma yang langsung berdiri. Bagas mengerutkan keningnya melihat Elma berpakaian lebih sek si dari biasanya dengan rok setengah paha dipadu dengan blazer sepinggang membalut camisol yang memperlihatkan belahan pada bagian dadanya.


Bagas menggelengkan kepala melihat penampilan Elma yang berpakaian super ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuh wanita itu. Dia ingin memberikan komentar, namun dia tahan karena dia sudah mengambil keputusan memindahkan wanita itu dari posisinya saat ini.


" Kamu masuklah ke ruangan saya!" Bagas ingin secepatnya memberitahu Elma soal mutasi kerja yang ingin dia lakukan kepada wanita itu, untuk mengamankan dirinya.

__ADS_1


" Baik, Pak." Tentu saja Elma merasa senang karena Bagas langung mengajaknya masuk ke dalam ruangan kerja Bagas. Seringai tipis pun langsung terlihat di sudut bibir wanita cantik itu. Dan dengan rasa percaya diri yang cukup tinggi, Elma pun berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Bagas.


" Duduklah!" Bagas menyuruh Elma untuk duduk di kursi depan mejanya.


" Baik, Pak." sahut Elma. " Ada apa, Pak?" tanya Elma kemudian.


" Begini, Elma. Saya baru saja menemui Pak Gavin. Dan beliau ingin menerapkan mutasi kerja beberapa karyawan hotel. Dan beliau mengatakan pada saya jika kamu termasuk salah satu karyawan yang kebagian dimutasi dari posisi kamu sekarang di hotel ini." Bagas memaparkan apa yang diputuskan oleh Gavin yang dia temui sebelum dia ke hotel tempatnya bekerja..


Elma terperanjat hingga membelalakkan matanya mendengar perkataan Bagas soal dirinya yang terkena program mutasi kerja dari posisinya saat ini.


" Saya dimutasi, Pak? Ke.mana?" tanya Elma merasa terkejut dengan keputusan yang diambil Gavin soal pemindahan tugas dirinya ke tempat yang belum dia tahu akan diposisikan di mana.


" Pak Gavin ingin memindahkan kamu ke hotel yang berada di Tangerang. Posisi kamu masih sama seperti posisi kamu di sini." Bagas menjelaskan di mana Elma akan ditempatkan.


" Kenapa tiba-tiba saya dimutasi dari sini, Pak?" tanya Elma seakan tidak puas dengan keputusan atas mutasi dirinya.


" Itu sudah menjadi keputusan Pak Gavin. Saya rasa beliau mengambil keputusan ini sudah dengan perhitungan yang matang," ujar Bagas berusaha menahan senyuman agar tidak memperlihatkan jika dirinya lah yang meminta Gavin memutasi posisi Elma dari hotel yang dia kelola.


Sementara Elma mendengus kesal karena hal ini di luar predikinya. Dia berpikir jika dia akan bisa mendekati Bagas. Apalagi setelah dia mendapatkan misi untuk merusak rumah tangga Bagas dengan Indhira. Jika dia dimutasi tugas, akan sulit untuknya bisa menjalankan misinya itu.


Beberapa jam sebelumnya ...


" Selamat pagi, apa Pak Gavin sudah tiba di tempat, Mbak?" sapa Bagas pada sekretaris Gavin.


" Pagi, Pak. Dengan Pak Bagas, ya? Bapak sudah datang, kok Sebentar, Pak." Sekretaris Gavin langsung bangkit dan berjalan ke arah pintu ruangan kerja Gavin.


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Ada Pak Bagas ingin bertemu dengan Bapak." Sekretaris Gavin melaporkan kedatangan Bagas kepada bosnya.


" Oh, suruh masuk saja," Gavin terdengar menyahuti.


" Baik, Pak." Sekretaris Gavin lalu mempersilahkan Bagas untuk masuk ke dalam ruang kerja Gavin.


" Selamat pagi, Pak Gavin." Saat masuk ke dalam ruangan kerja pemilik hotel Richard Fams itu, Bagas menyapa Gavin yang sedang duduk dengan penuh wibawa di belakang meja kerjanya. Dia pun langsung mendekat dan menjabat tangan pria yang kini menjadi bosnya saat ini.


" Pagi, Bagas. Silahkan ..." Gavin mempersilahkan Bagas untuk duduk di depannya.


" Terima kasih, Pak Gavin." Setelah mendapat ijin duduk, Bagas pun akhirnya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja bosnya itu.


" Ada apa, Bagas? Apa ada masalah dengan tugas kamu di hotel?" tanya Gavin menanyakan keperluan Bagas pagi-pagi menemuinya.


" Tidak, Pak Gavin. Masalah pekerjaan bisa saya atasi." Bermodalkan pernah memimpin perusahaan besar, tentu tidaklah sulit bagi Bagas menduduki jabatannya saat ini, walaupun jenis usaha yang dikelalola olehnya berbeda.


" Lalu ada apa, Bagas?" tanya Gavin penasaran.


" Maaf sebelumnya, Pak. Apa saya mempunyai kewenangan di sana untuk mengambil keputusan memindah tugaskan karyawan di sana?" tanya Bagas kemudian.


" Kenapa? Ada apa memangnya? Apa ada karwayan yang bermasalah?" Gavin menanggapi dengan heran, karena Bagas adalah orang baru tapi berencana memindahkan tugaskan pegawainya.


" Sebenarnya ada apa, Bagas?" Gavin semakin merasa penasaran akan apa yang terjadi di salah satu hotelnya yang kini dikelola oleh Bagas.


" Begini, Pak. Maaf, bukannya saya mencampurkan urusan pekerjaan dengan masalah pribadi. Tapi ... kebetulan Executive Assistant saya di sana adalah orang yang dulu pernah dekat dengan saya, Pak. Bukan saya tidak bersikap profesional, tapi ... saya merasa tidak nyaman harus satu lingkup pekerjaan dengan dia." Walau merasa tidak enak hati membawa masalah pribadi dengan pekerjaan,, namun Bagas merasa hal ini tidak dapat diabaikan saja oleh Bagas.


" Apa kamu takut tergoda kembali dengan mantan kamu itu, Bagas?" Untung saja Gavin dapat mengerti, walaupun dia mengartikan jika Bagas takut tergoda kembali dengan matan kekasih Bagas itu.


" Tidak, Pak! Bukan seperti itu! Elma, Executive Assistant di sana itu tidak menyukai Indhira, karena saat itu saya meninggalkan dia demi Indhira. Saya hanya tidak ingin keberadaan dia akan mengusik Indhira, jika sampai dia tahu saat ini saya telah menikah dengan Indhira. Saya hanya ingin melindungi Indhira dari orang-orang yang berusaha menyakitinya, Pak. Karena itu, mungkin lebih baik saya memindahkan Elma dari sana." Bagas menjelaskan alasannya ingin memutasi Elma.


" Baiklah, saya mengerti maksud kamu, Bagas." Gavin menganggukkan kepala tanda memahami tujuan Bagas. Lagipula, Gavin tentu tidak ingin ada orang yang menyakiti Indhira, karena itu dia bisa mengerti permintaan Bagas.


" Nanti saya coba pindahkan dia ke hotel saya yang berada di Tangerang. Karena saya mendapat laporan di sana memang butuh tenaga untuk diperbantukan Manager di sana." Secara kebetulan ternyata di salah satu hotel Gavin sedang membutuhkan staf ahli untuk dipekerjakan di sana.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2