SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Membuat Orang Menderita


__ADS_3

Sementara itu ketika dalam perjalanan pulang menuju kantornya, Adibrata banyak merenungkan apa yang dikatakan oleh Bagas tadi. Sungguh dia tidak menyangka anaknya itu tidak menyimpan rasa dendam sedikit pun kepadanya. Bagas justru akan membantunya, putranya itu bahkan menegaskan akan berusaha membuat Angel menggugurkan niatnya melayangkan perceraian kepada dirinya.


Betapa malu rasanya dia membandingkan sikap anaknya yang bijaksana dengan sikapnya sendiri yang terkesan arogan dan selalu memaksakan kehendak. Anaknya itu sangat mengutamakan kepentingan keluarga, sementara dirinya lebih mementingkan sikap egoisnya sendiri.


Adibrata mendengus seraya mengusap kasar wajahnya. Seketika itu juga dia merasa dirinya begitu bo doh telah menyia-nyiakan anaknya yang sebenarnya membuat dirinya bangga. Dari sikap dan ucapan yang ditunjukkan oleh Bagas tadi, benar-benar menandakan putranya itu seorang anak yang sangat bertanggung jawab dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak.


Adibrata juga menyesal telah melukai hati Angel. Sejujurnya dia sangat iri melihat istrinya itu bisa sangat dekat dengan anak dan menantunya, sementara dia selalu memasang jarak karena sikap arogannya.


Adibrata melihat sikap Indhira saat melihatnya tadi. Wanita itu terlihat ketakutan hingga bersembunyi di belakang Angel. Hal itu menegaskan jika wanita itu masih merasakan trauma atas kekerasan dan penghinaan yang pernah dia lakukan pada Indhira. Tapi lihatlah, wanita itu seakan sudah merubah putranya menjadi sosok yang lain. Sejak pertama datang ke kantor setelah kepergian Angel hingga tadi di rumah sakit, Bagas menunjukkan sikap yang santun, hormat dan sangat perhatian kepadanya juga Angel.


Dia berpikir, apakah selama ini dia telah salah menilai Indhira? Harus dia akui, sikap bijaksana Bagas sangat terlihat dalam mengatasi permasalahan yang dia hadapi saat ini. Dan jika bukan karena pertolongan putranya itu, entah bagaimana dia akan menghadapi Angel nantinya.


Mobil yang dikendarai Agus melintas di depan jalan sekolah Satu Nusa Satu Bangsa. Adibrata memandangi sekolah yang banyak dia bantu pendanaannya selama ini, hingga menjadi salah satu sekolah favorit.


" Gus, putar balik ke sekolah Kartika." Tiba-tiba Adibrata menyuruh Agus untuk memutar arah kembali menuju sekolah Kartika.


" Baik, Tuan." Agus pun mencari arah agar mobilnya bisa memutar balik ke sekolah Kartika.


Adibrata turun dari mobil setelah Agus memarkirkan mobil di pekarangan sekolah Kartika. Dia berjalan menuju ruangan Pak Marcel yang masih menjabat sebagai kepala sekolah di sana.


Tok tok tok


" Selamat siang, Pak Marcel." sapa Adibrata dengan mengetuk pintu ruangan kepala sekolah yang terbuat dari kaca.

__ADS_1


" Selamat siang, Pak Adibrata." Pak Marcel yang sedang fokus dengan pekerjaannya dibuat tersentak dengan kemunculan Adibrata secara tiba-tiba. Pak Marcel langsung bangkit dan menghampiri Adibrata.


" Mari silahkan masuk, Pak. Ada apa gerangan Pak Adibrata tiba-tiba berkunjung kemari?" tanya Pak Marcel. Dia merasa heran karena kemunculan Adibrata di sekolah itu. Tidak biasanya Adibrata bertandang ke sekolah itu sendiri. Biasanya jika ada perlu, Adibrata akan ditemani oleh Pak Leo sebagai pemimpin yayasan yang menaungi sekolah itu, atau dia dan Pak Leo lah yang diminta datang ke kantor Adibrata.


" Tidak ada apa-apa, Pak Marcel. Saya hanya kebetulan lewat depan sekolah ini saja," sahut Adibrata lalu duduk di sofa dalam ruangan sekolah itu.


" Bagaimana dengan nilai pelajaran Kartika, Pak Marcel? Apa ada mata pelajaran yang kurang dipahami oleh putri saya itu?" tanya Adibrata menanyakan perkembangan Kartika dalam mengikuti pembelajaran di sekolahnya.


" Kartika tidak ada masalah, Pak Adibrata. Dia seperti kakaknya, mudah menerima pelajaran dengan cepat." Pak Marcel menuturkan bagaimana Kartika dalam menerima materi yang diajarkan di sekolah.


" Syukurlah jika begitu ..." sahut Adibrata. " Oh ya, Pak Marcel, apa kakaknya Kartika pernah datang kemari menemui Kartika?" tanya Adibrata, dia yakin jika Bagas pernah menemui Kartika di sekolah ini, jika tidak, tidak mungkin anak perempuannya itu sering bertemu dengan Bagas. Dan hal itu yang terlewatkan dari pengawasan anak buahnya.


" Hmmm ..." Pak Marcel sulit untuk menjawab, karena dia curiga jika Adibrata sudah mencium soal Bagas yang pernah berkunjung menemuinya. Dia sangat mengenal karakter Adibrata yang keras, dan jika dia mengatakan yang sebenarnya, sudah dapat dipastikan bagaimana murkanya Adibrata kepada dirinya.


" Hmmm, iya, Pak Adibrata. Bagas memang pernah datang menemui Kartika." Akhirnya Pak Marcel berani berkata jujur setelah Adibrata mengatakan tidak mempermasalahkan kedatangan Bagas ke sekolah itu.


" Bersama istrinya?" tanya Adibrata kembali.


" Hmmm, i-iya, Pak." Dengan ragu Pak Marcel menjawab.


" Bagaimana putra saya itu menurut Pak Marcel?" tanya Adibrata ingin mengetahui pendapat Pak Marcel tentang Bagas.


" Bagas masih humble seperti dulu. Meskipun lama kuliah di luar negeri sikapnya tetap santun terhadap kami guru-guru di sini, dia sangat rendah hati." Pak Marcel memaparkan apa yang dia lihat dari Bagas saat datang menemuinya.

__ADS_1


" Iya, pola pikirnya juga sudah sangat dewasa dan bijaksana." Tanpa sadar bibir Adibrata mengatakan rasa kagum atas sikap anak sulungnya itu.


" Benar, Pak. Pak Adibrata sangat beruntung mempunyai anak seperti Bagas," ucap Pak Marcel.


Adibrata melirik kepada Pak Marcel lalu bertanya, " Oh ya, Pak Marcel, soal Indhira, memangnya bagaimana dia selama sekolah di sini dulu?" Dulu Adibrata tidak pernah perduli apapun yang dikatakan oleh Pak Marcel dan Pak Leo soal sosok Indhira ketika dia meminta mengeluarkan Indhira dari sekolah itu.


" Indhira, dia sebenarnya anak yang tertutup, tidak mempunyai banyak teman. Tidak banyak bertingkah dan sangat rajin dalam belajar serta selalu mendapat nilai yang baik. Prestasi nilai pelajaran dia hanya setingkat di bawah Bagas, Pak." Pak Marcel menerangkan bagaimana sosok Indhira yang dia tahu.


" Soal kehidupan pribadinya? Orang tuanya?" Entah mengapa kini Adibrata seakan ingin tahu lebih banyak soal sosok Indhira yang selama ini dia benci.


" Setahu saya dia yatim piatu, Pak. Dia tinggal di rumah orang tuanya ditemani oleh Tante dan Om nya. Namun, meskipun tinggal di rumah orang tuanya sendiri, dia justru diperlakukan buruk oleh Om dan Tante nya itu." Pak Marcel menceritakan apa yang dia dengar dari Bu Tika tentang kehidupan Indhira.


" Apalagi ketika ketika kasus video itu terjadi, Om dan Tante nya itu justru mengusir Indhira dari rumah orang tua Indhira sendiri, Untung saja sahabatnya masih mau menolong Indhira, sehingga Indhira tidak terpuruk saat itu karena mendapatkan serangan masalah bertubi-tubi." lanjut Pak Marcel yang salah menduga jika Indhira keluar dari rumah itu karena diusir.


Adibrata menarik nafas dalam-dalam. Dia berpikir jika keluarga Indhira sangat kejam telah mengusir Indhira dari rumah orang tua Indhira. Lalu, bagaimana dengan dirinya sendiri? Dia pun bahkan rela mengusir Bagas karena keegoisannya. Dia tidak memikirkan jika sikapnya selama ini sudah membuat orang menderita.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2