
Di balkon kamar hotel, Angel sedang menerima telepon dari teman-teman arisannya, yang mengajak bertemu karena ingin membahas rencana mengadakan kocokan arisan bulan depan di Madrid, Spanyol sekaligus healing ke negeri matador itu.
" Kayaknya saya tidak bisa datang, Bu Dini. Soalnya saya ada keperluan yang tidak bisa ditinggal." Angel menolak tawaran temannya yang mengajak bertemu esok petang.
" Eh, tumben sekali Bu Angel tidak bisa ikut hadir, biasanya Bu Angel paling rajin kalau kumpul-kumpul." Jika tidak menemani suaminya pergi tugas, Angel memang selalu rajin kumpul dengan teman-temannya.
" Maaf, Bu Dini. Saya ada keperluan soalnya." Kembali Angel beralasan.
" Tapi, Bu Angel setuju tidak, rencana kocok arisan diadakan di Madrid? Sekalian kita jalan-jalan, Bu." tanya Bu Dini menanyakan persetujuan dari Angel sebagai salah satu anggota yang ikut dalam arisan itu.
" Saya ikut suara terbanyak saja, Bu Dini." Angel memilih mengikuti anggota lainnya, meskipun dia sendiri tidak tahu akan ikut atau tidak pergi ke Madrid.
Sejujurnya, setelah bertemu kembali dengan Bagas dan mengenal sosok Indhira, minat Angel berkumpul dan berpergian
dengan teman-temannya mulai menyusut. Sekarang ini Angel justru menikmati perannya sebagai seorang Mama mertua dan calon Oma bagi cucu pertamanya itu.
" Oke, berarti saya anggap persetujuan dari Bu Angel sebagai satu suara yang setuju, ya!?" tanya Bu Dini memastikan.
" Iya, Bu Dini." sahut Angel tidak ingin ambil pusing soal tempat yang akan dipilih.
Setelah selesai berkomunikasi dengan Bu Dini, Angel mematikan panggilan teleponnya. Dia lalu masuk ke dalam kamar kembali, namun pendengarannya menangkap pembicaraan antara Bagas dan Indhira.
" Belum, Yank. Nanti aku bicarakan dulu dengan Mama,"
Kalimat yang keluar dari mulut Bagas membuat Angel merasa penasaran.
" Bicara apa, Bagas?" Dengan kening berkerut Angel berjalan mendekat ke arah Bagas dan Indhira.
" Mama?" Bagas bangkit lalu mempersilahkan Mamanya duduk di samping Indhira.
" Kalian sedang membicarakan apa? Kelihatannya serius sekali," tanya Angel kembali menatap Bagas dan Indhira bergantian.
" Hmmm, kami sedang membicarakan kemungkinan rencana tinggal di rumah Papa." Bagas menjawab rasa panasaran Angel.
__ADS_1
" Kalian ingin tinggal di rumah Papa? Memangnya Papa memperbolehkan kalian tinggal di sana!?" Angel terkesiap saat mendengar rencana Bagas. Dia tahu sikap suaminya selama ini kepada Bagas dan Indhira seperti apa? Dia menjadi saksi saat Adibrata membiarkan Bagas pergi karena menentang keinginan Adibrata.
" Tadi Papa telepon aku, Ma. Papa meminta kita kembali ke rumah," jelas Bagas.
" Kita?" tanya Angel dengan kening semakin berkerut.
" Iya, Ma. Aku, Mama dan Indhira. Papa menyuruh kita semua pulang ke rumah." Bagas memperjelas kalimatnya.
" Mama tidak mau!" Angel dengan tegas menolak.
" Sekalipun aku dan Indhira setuju pulang ke rumah Papa?" Bagas memberikan pancingan agar Mamanya mau pulang. Walaupun sebenarnya, Bagas sendiri lebih senang tinggal berdua di rumah sederhana mereka nantinya. Namun, demi menyatukan kembali orang tuanya, dia pun rela melakukan hal tersebut.
Angel mendengus kasar. Dia baru merasakan bahagia hidup bersama Bagas dan Indhira, tentu dia tidak ingin berpisah lagi dengan anaknya itu.
" Kenapa kamu kasih pilihan sulit seperti ini, Bagas?" Angel memijat pelipisnya. " Kenapa kamu tidak menolak saja permintaan Papa kamu itu!? Mama bisa beli rumah yang besar dan layak untuk kita, untuk Mama, kamu, istri kamu dan adik kamu juga bisa tinggal bersama kita. Tidak usah kembali ke rumah itu!" Angel tetap bersikukuh menolak kembali pulang ke rumah Adibrata.
" Lalu kita akan meninggalkan Papa sendirian di rumah, gitu, Ma?" tanya Bagas berharap Mamanya masih mempunyai rasa iba kepada Adibrata.
" Ma, kemarin Bagas sudah bilang, kan? Papa akan hancur jika kita meninggalkannya. Apa Mama tidak kasihan melihat Papa hancur?" Bagas mencoba meyakinkan Mamanya untuk bisa memaafkan apa yang sudah Papanya berbuat, bukan karena dia juga seorang laki-laki hingga membenarkan perbuatan Papanya itu. Dia hanya ingin menolong sang Papa. Sebagai anak, sewajarnya dia membantu Papanya itu untuk bangkit dari keterpurukan. Apa yang terjadi pada Papanya saat ini dan kelak akan berpengaruh pada dirinya.
" Mama tidak bisa kasih keputusan sekarang, Bagas. Mama butuh waktu untuk berpikir." Angel tidak bisa secepatnya menjawab keinginan suami dan anaknya yang memintanya kembali ke rumah.
" Aku mengerti, Ma. Mama butuh waktu berpikir. Aku harap keputusan yang Mama ambil adalah yang terbaik untuk semuanya." Bagas hanya bisa berharap Mamanya dapat membuat keputusan seperti yang dia inginkan.
" Aku minta maaf, ya Ma. Karena Mama ingin menemani kami, Mama jadi tidak ikut Papa ke Hong Kong, hingga hal itu terjadi. Seandainya Mama mendampingi Papa, mungkin Papa bisa terselamatkan." Bagas merasa bersalah.
" Tidak, Bagas. Kalian tidak bersalah. Papa kamulah yang bersalah. Seharusnya kalau Papamu sayang sama Mama, mau Mama menemani atau tidak, Papamu tidak akan tergoda dengan wanita lain!" Angel merasa semua itu mutlak kesalahan suaminya yang tidak tahan dengan godaan wanita lain.
***
Setelah menjelang Isya, Bagas membawa Indhira ke cafe roof top di hotel. Mereka benar-benar ingin menikmati waktu berdua, karena selama Angel bersama mereka, mereka benar-benar tidak dapat menikmati waktu berduaan saja.
Sambil memandang lampu yang berkelip di langit kota Jakarta, Bagas duduk berangkulan dengan Indhira. Dia tidak mempedulikan jika saat ini menjadi pusat perhatian pegawai cafe, kebanyakan dari mereka hanya senyum-senyum sendiri melihat kelakuan bos mereka yang seperti ABG yang sedang kasmaran. Mereka juga tidak usil menggunjingkan Bagas atau menganggap Bagas memanfaatkan posisinya sebagai General Manager di sana, karena semua fasilitas yang dinikmati oleh Bagas semuanya dia bayar menggunakan uang tabungannya.
__ADS_1
" Mas, tidak malu dilihat karyawan Mas?" Meskipun Bagas terlihat cuek, tidak demikian dengan Indhira. Seperti biasanya, dia selalu malu-malu jika harus berinteraksi in tim dengan suaminya di depan umum.
" Biarkan saja, Yank. Mereka tahu kita ini suami istri." Bagas mengacuhkan orang yang memperhatikan mereka.
" Oh ya, apa perut kamu masih sakit, Yank?" Bagas mengusap perut Indhira.
" Sudah tidak kok, Mas." jawab Indhira.
" Yank, kita sudah seminggu tidak hubungan, aku kebelet, nih! Ngamar, yuk!" bisik Bagas menyeringai. Bagas memang tidak pernah punya kesempatan berdekatan lama dengan Indhira karena Mamanya selalu menguasai Indhira. Bahkan dia harus rela menahan kebutuhan biologisnya selama beberapa hari ini.
" Mas, jangan keras-keras! Nanti kedengaran orang!" protes Indhira, meminta agar suaminya itu tidak membicarakan hal yang berhubungan dengan urusan ranjang.
" Ini belum keras, masih lembek, kok!" Bagas mengarahkan tangan Indhira ke celananya tepat di atas alat vi talnya itu.
" Astaghfirullahal adzim!" Bola mata Indhira membulat melotot ke arah Bagas yang dia anggap sudah berlebihan bercandanya. Dia pun segera menarik tangannya dari atas alat tempur suaminya itu meskipun tertutup celana, namun dia malu jika saat itu ada yang melihatnya.
" Hahaha ..." Bagas tertawa senang karena berhasil membuat wajah istrinya bersemu.
Bagas lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. " Ikut, yuk!" ajaknya.
" Ke mana?" tanya Indhira.
" Ngamar," sahut Bagas mengerlingkan matanya dengan senyuman di sudut bibirnya.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1